
"Selamat pagi" sapa Nita pada Juan yang sudah duduk siap di ruang makan. Tampak sudah tersaji rapi menu sarapan di atas meja itu. Entah apa tapi Nita tahu kalau penampilan nya begitu menggugah selera.
Juan yang sejak tadi asyik dengan tablet nya pun mendongak memandang Nita yang baru saja menyapanya. Masih terlihat raut lelah di wajahnya. Belum terlalu siang untuknya bangun pagi itu menurut Juan. Baru pukul 06.30. Nita terlihat kikuk dengan menggaruk kepalanya yang terlihat tak gatal,hanya salah tingkah saja karena merasa bersalah telah terlambat bangun dan tak menyiapkan sarapan pagi.
"Bagaimana tidurmu? nyenyak?" tanya Juan. Namun malah membuat Nita makin merasa tak nyaman.
"Nye.. nyenyak. Em..itu..maaf. Aku..bangun ke.." ucapan Nita terhenti saat Juan tiba-tiba tak mempedulikan nya.
"Duduklah.! Aku sudah menyiapkan sarapan pagi ini." perintah Juan datar.
"Iy..iya. Terima kasih." Jawab Nita yang langsung menarik kursi untuknya duduk di hadapan Juan sesuai dengan makanan yang sudah tersaji disana.
Denting pisau dan garpu Juan lebih dulu terdengar, sepotong demi sepotong ia memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan santai. Sebelum ia melihat Nita yang hanya menatap makanan di hadapannya.
"Apa ku tidak suka?" tanya Juan.
"Ah,tidak. Bukan begitu,ini terlalu sayang untuk dipotong. Bentuknya sangat rapi dana menarik. Rasanya ingin menyimpan nya saja dan tak percaya kalau ini makanan.he" jawab Nita polos.
Juan menyunggingkan senyum smirk nya mendengar jawaban Nita.
"Hei,itu hanya omelette. Bukan makanan yang istimewa,makanlah sebelum perutmu berbunyi karena kelaparan." perintah Juan dengan nada yang mulai santai.
"Baiklah,terima kasih." jawab Nita,lalu mulai memotong omelette di hadapannya dan memakannya.
"Waaahhh,,ini sungguh omelette??" tanya Nita tak percaya.
"Ya,kenapa? apa rasanya tidak enak?" jawab Juan yang terlihat akan mengambil piring berisi omelette yang sedang di makan Nita.
Dengan cepat Nita menggeleng kan kepalanya dan mencegah Juan mengambil piringnya.
"Lebih dari enak! ini sangat enak. Aku bahkan tak menyangka ini hanya omelette. Ini pakai campuran apa saja? terus kenapa rasanya bisa seenak ini? semua perpaduan telur,daging dan semuanya menyatu pas. Gurih,sausnya ini terbuat dari bahan apa saja? aku baru pernah makan yang seperti ini." jelas Nita detil dengan ekspresi wajah sumringah tanda ia benar-benar memuji kelezatan makanan yang sedang ia makan.
"Tidak usah berlebihan. Kalau kau suka aku bisa membuatnya setiap hari." ucap Juan datar,dan menganggap ekspresi Nita berlebihan.
"Wuuah aku sih seneng banget kalau tiap hari bisa makan ini." jawab Nita dengan mulut yang masih mengunyah makanannya dengan lahap.
"Kalau aku tidak sibuk." timpal Juan.
"uhuk,kau serius??" tanya Nita tak percaya kalau Juan benar-benar akan membuatkannya setiap dia ada waktu. Juan hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makannya.
"Terima kasih." tambah Nita.
Mereka pun menikmati sarapan pagi dengan tenang.
"Biar aku yang mencucinya!" ucap Nita,mencegah Juan yang akan membawa piring bekasnya makan menuju wastafel cuci piring.
"Baiklah." jawab Juan,lalu menaruh lagi piring yang dipegangnya di atas meja lalu melangkah pergi,biasanya dia pasti menuju ke ruang kerjanya mengerjakan semua pekerjaan nya disana. Sebenarnya waktu liburnya dua minggu hanya sebagai kedok untuk menutupi pernikahannya saja agar terlihat sama dengan pernikahan pda umunya yang ada bulan madu di awal pernikahan dan sedang mesra mesranya. Kenyataan nya ia tetap mengendalikan pekerjaan di perusahaan nya dari rumah.
"Ah,tadi bibi menelfon. Dia bertanya apakah kamu sudah membuka hadiah darinya." ucap Juan yang baru ingat pesan dari bibi Jeon.
__ADS_1
"Owh,itu..sebenarnya tadi sebelum keluar kamar aku sudah membukanya. Tapi.." jawab Nita ragu untuk mengatakannya.
"Kenapa?" tanya Juan menelisik.
"Em,itu..ternyata isinya 2 tiket liburan ke Jepang." jawab Nita.
"Ooh,bagus dong." jawab Juan acuh.
"Tapi,,apa boleh kalau tidak dipakai?" tanya Nita ragu.
"Kenapa? bukankah baik untukmu,bisa jalan-jalan juga tidak selalu dirumah." ucap Juan.
"Em, sebenarnya aku tak masalah harus dirumah. Sungguh! jadi, apa ini kalau ku kembalikan saja pada bibi gimana?"
Juan mengerutkan keningnya,tak mengerti dengan maksud Nita.
"Terserah kamu saja." jawab Juan,kemudian pergi masuk ke ruang kerjanya.
"Tapi bagaimana kalau mereka tahu kalau aku dan Juan sama sekali tidak pergi bulan madu? ah,biarkan saja. Selama mereka tidak tahu maka aman." gumam Nita.
***
Drrrt.. Drrrt.. sebuah pesan masuk ke ponsel Juan. Tertera nama Denis di sana.
Kedua bola mata Juan membulat sempurna melihat isi pesan itu. Diraihnya dengan cepat kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja dan dengan tergesa-gesa keluar dari rumah,menuju alamat yang tertera di pesan yang dikirimkan oleh Denis.
Brakkk
Melihat Juan berjalan dengan cepat,Nita pun penasaran ada apa gerangan yang membuat Juan seperti itu.
"Mau kemana?!" tanya Nita dengan suara keras agar mudah di dengar Juan. Namun sia-sia karena Juan sama sekali tak menjawab ataupun melirik ke arahnya walau sekilas. Hingga ia telah keluar dari rumah dan melajukan mobilnya dengan cepat.
"Wah,kemana dia? apa ada sesuatu yang sangat penting? kenapa wajahnya terlihat sangat serius dan khawatir begitu? apa mungkin kakek atau nenek sakit? ah,kalau itu pasti asisten Song atau sekretaris Liem sudah menyuruh orang untuk menjemput ku juga. Jadi mungkin ada urusan penting mengenai pekerjaannya. Huft dasar manusia gila kerja, bisa-bisa nya dia bertahan hidup dengan segala pekerjaan yang menumpuk dan hampir tidak pernah istirahat. Hanya saat ini saja dia lebih banyak waktu untuk dirinya. Ah biarkan saja lah.." ucap Nita dalam pergumulan batin nya.
***
Juan memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana yang tak asing lagi baginya. Rumah yang dulu sering sekali dikunjunginya. Rumah yang memiliki begitu banyak kenangan masa kecilnya bermain bersama teman kecilnya Namun saat ia mulai melanjutkan pendidikannya di luar negeri ia tak pernah lagi mengunjungi rumah ini. Selain karena pemiliknya memang sudah lebih dulu meninggalkan rumah ini dan tinggal di luar negeri juga. Sejak itu rumah itu hanya dirawat oleh seorang penjaga yang ditugasi oleh sang empunya.
Dengan jantung yang berdegup kencang,aliran darah yang seolah berhenti, berbagai pertanyaan muncul di kepalanya. Antara otak yang memaksa mengingat dan mempedulikan tempat itu dan si empunya dan antara hati yang terasa bimbang untuk memulai merasakan lagi keinginan seperti dulu atau tidak.
Kakinya melangkah berat menuju pintu masuk rumah itu. Hingga akhirnya ia sampai persis di depan pintu dan mulai menekan bel. Sesaat kemudian terdengar suara yang sangat ia kenal dan sangat ia ingin dengar selama ini. Ya itu adalah suara dari pemilik asli yang begitu menenangkan. Setidaknya kali ini otak dan hatinya masih bisa menebak dengan benar siapa wanita di dalam rumah itu.
Ceklek
Pintu terbuka dan memunculkan sesosok wanita yang sama persis dengan yang ada di angannya saat ini.
DEG
Jantung mereka seolah berhenti berdetak bersamaan. Keterkejutan di antara keduanya tak bisa dipungkiri lagi. Keduanya sama-sama ingin berlari untuk memeluk tubuh satu sama lain meluapkan kebahagiaan atas pertemuan mereka. Namun tak ada satupun dari mereka yang memulainya terlebih dulu.
__ADS_1
Kedua mata mereka berkaca-kaca siap meneteskan air mata kebahagiaan dan kerinduan.
"Juan?"
Juan mengangguk pelan.
"Aku tidak salah menebak kalau kau Yuri kan?" tanya Juan dengan suara bergetar.
"Benar,ini aku. Maafkan aku" jawab Yuri.
"Ssssttt" ucap Juan dengan menutup mulut Yuri dengan satu jari telunjuk nya. Kemudian dia menghamburkan dirinya memeluk Yuri erat.
Tangis haru keduanya pecah,bersyukur bisa bertemu. Bersyukur Yuri bisa lolos dan baik-baik saja. Bersyukur karena ia bisa mengungkapkan perasaan nya dengan benar pada Yuri.
DEG
Tiba-tiba Juan merasa ada yang salah dengan tindakan nya. Ia melepaskan pelukannya pada Yuri.
Seketika wajah nya terlihat bingung dengan dirinya. Hingga Yuri menyadarkan nya dengan mempersilahkan ia masuk.
"Masuk dulu."ajak Yuri dan Juan menjawab dengan menganggukkan kepalanya dan mengikuti Yuri masuk ke rumah.
Di sebuah ruangan,Yuri dan Juan saling bertukar cerita satu sama lain. Termasuk Yuri yang sudah mengetahui perasaan yang selama ini dipendam Juan terhadapnya. Ia hanya ingin melihat keteguhannya sehingga berpura-pura belum mengetahuinya. Hingga Juan merasa tarik ulur perasaan nya oleh Yuri dan mengira itu karena ia yang belum bisa menyatakan dengan jelas perasaannya.
"Sebenarnya aku sudah di Korea cukup lama. Awalnya aku ingin langsung menemui mu,tapi.." ucap Yuri ragu dengan raut wajah sendu.
"Tapi?" tanya Juan penasaran.
"Saat itu aku melihat berita pernikahan mu yang beredar di media. Ah,maaf. Seharusnya aku ikut berbahagia atas pernikahan mu,bukannya seperti ini. Maaf,sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk." jelas Yuri.
"Tidak perlu! tidak perlu minta maaf. Justru akulah yang seharusnya minta maaf. Sungguh,aku sama sekali tidak berniat untuk dengan mudah melupakan mu. Semua ini karena keadaan. Aku sudah berusaha mencarimu. Namun,takdir baru mempertemukan kita sekarang. Dan..ku rasa ini belum terlambat." jelas Juan dengan memegang tangan Yuri.
"Apa maksudmu?" tanya Yuri tak mengerti karena melihat ada sesuatu yang di sembunyikan Juan.
Hingga akhirnya Juan pun menceritakan pernikahannya dengan Nita. Dan pernikahan mereka akan berakhir dalam tiga bulan. Dia pun memohon agar Yuri mau menunggu hingga saat itu.
Yuri merasa sakit mendengar pengakuan dari Juan. Walau ia sudah tahu kebenaran pernikahan Juan dari media,namun ketika mendengar nya langsung dari Juan rasanya lebih menyakitkan. Tapi,karena itu juga bagian dari kesalahannya di masa lalu,maka dengan terpaksa ia mengiyakan permintaan Juan untuk menunggunya. Kali ini ia harus memperjuangkan cintanya,ia tak mau berbuat ceroboh lagi.
Tangis sedih dan bahagia pun kembali pecah diantara keduanya.
"Terima kasih Yuri,terima kasih." ucap Juan.
"Hem" jawab Yuri dengan menganggukkan kepalanya dan senyum di wajahnya.
Juan mengecup kening Yuri dan kembali memeluknya.
****
AUTHOR
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN NYA YA..SEMOGA KALIAN SUKA DENGAN EPISODE INI..🌻🌻🌻🌻❤️❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗