
Dengan gontai dan lemah Nita berjalan mendahului Juan sambil menenteng kedua high heels nya. Juan yang dari tadi melihat nya pun hanya bisa menggelengkan kepala aneh dengan tindakan Nita. Dia mengeluh dingin dan gak enak badan tapi malah melepas alas kakinya, katanya ia kesulitan berjalan memakai high heels. Lebih cepat nyeker, karena sudah sampai di rumah.
"Hei,ini papperbag mu." ucap Juan mengingatkan Nita sambil menyodorkan tangannya.
"Ah, untuk mu saja." jawab Nita acuh,dan langsung pergi ke kamarnya.
"hei!" panggil Juan lagi, tapi Nita tak menggubris nya.
Juan membawa papperbag bersama nya ke kamarnya.
Malam pun berganti pagi. Waktu menunjukkan pukul 06.30 pagi. Juan sudah siap pergi ke kantor. Namun begitu sampai di ruang makan, tidak ada tanda-tanda Nita disana.
"Dasar pemalas." gumam Juan,lalu pergi berangkat ke kantor.
Hingga malam, Juan baru pulang dari kantor. Ia memasuki rumah sambil melonggarkan ikatan dasinya. Ia menuju dapur, diraih nya sebuah gelas dan menuangkan air putih ke dalamnya. Setelah itu ia menoleh ke meja makan dan semua sudut, di meja makan terlihat kosong. Tak ada apapun. Ia pun membuka kulkas, hanya berisi bahan makanan dan camilan serta minuman siap saji. Padahal biasanya jika ada Nita di rumah pasti ia akan menemukan makanan aneh buatannya.
"Ish, wanita itu terlalu sibuk berkencan hingga lupa mengurus rumah. Cih" gumam Juan. Lalu berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Setelahnya ia duduk bersender di ranjangnya sambil membaca buku. Selain gila kerja, Juan juga sangat suka membaca buku. Itulah sebabnya kemampuan otaknya tak perlu diragukan lagi. Hanya kepribadian nya saja yang menyebalkan bagi sebagian besar orang yang mengenalnya. Angkuh dan sangat keras dengan para karyawan di perusahaan nya. Sehingga walaupun ketampanan nya sangat memikat namun itu hanya bisa dijadikan hiburan mata bagi karyawan yang melihat nya. Tanpa berpikir untuk bisa memiliki nya.
"Huft,," Juan menghembuskan nafasnya lesu,kemudian memijat pangkal hidungnya yang mancung menambah rupawan berada di wajah itu. Terlihat jelas ia merasa lelah dan bosan. Dipandanginya langit-langit kamarnya. Warna abu monokrom khas maskulin bahwa pemilik kamar itu adalah pria.
"Aneh, Kenapa terasa sepi. Hemm,apa cuma perasaan ku saja ya? Ah, kok tumben suara cewek udik itu seharian gak terdengar? bayangan nya melintas juga aku tak melihatnya. Haish,pergi kemana sih wanita itu?" gumam Juan lalu beranjak dari ranjangnya lalu keluar kamar dan mengetuk kamar Nita.
tok..tok..tok..
"Hei,apa kau di dalam?" tanya Juan di sela-sela ketukannya di pintu. Namun tak ada jawaban.
__ADS_1
Karena berpikir mungkin Nita sudah tidur,akhirnya ia berlalu menuju ruang tengah dan menyalakan TV,namun sekilas ia melihat jam di dinding menunjukkan pukul 11.00 malam. Sejenak Juan berpikir, biasanya jam segitu Nita masih entah sedang melakukan apa di kamarnya. Tapi kenapa hari ini tak terdengar suara apapun? Karena penasaran, Juan pun memutuskan kembali ke kamar Nita dan langsung membuka pintu kamarnya yang kebetulan tidak dikunci.
"Astaga,kau benar-benar sudah tidur?" tanya Juan sambil berjalan mendekati Nita yang tengah terbaring di ranjang nya dengan selimut menutupinya hingga dada.
"Hei, kau baik-baik saja?" tanya Juan yang tiba-tiba terlintas khawatir karena wajah Nita terlihat pucat dengan keringat di dahinya. Cekungan hitam pun mulai terlihat di bawah lingkaran matanya.
"Astaga! panas sekali. Nita, kau bisa mendengarku?? hei,bangunlah!! Sejak kapan kamu sakit?! haish" Juan cemas, dan mulai panik melihat keadaan Nita.
Tanpa pikir panjang, Juan langsung membopong Nita untuk membawanya ke rumah sakit.
"Sakitt.." gumam Nita dengan mata yang masih tertutup.
"aku tahu" jawab Juan singkat.
"Turunkan aku" pinta Nita dengan suara lemah dan berusaha turun, namun Juan menolak. Ia mengeratkan tanganya.
Suasana hening sejenak, hingga akhirnya Nita kembali bersuara dengan lemahnya.
"Lepaskan aku,aku tidak mau ke rumah skit.Aku ingin di sini saja." pinta Nita dengan suara lemah namun dari sikapnya bisa di pastikan kalau ia benar-benar tidak ingin kemana-mana.
"Huft,dengan syarat kamu harus menuruti kata-kata ku.!" ucap Juan tegas. Nita hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
Dengan terpaksa Juan membaringkan lagi Nita di ranjangnya, lalu ia menelfon seorang dokter untuk memeriksa Nita. Tak butuh waktu lama, dokter pun datang dan memeriksa keadaan Nita.
"Sejak kapan dia seperti ini Ju?"tanya dokter Jeha, yang merupakan teman semasa SMA nya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, aku baru menemukan nya begini setelah aku pulang dari kantor.
"Astaga,suami macam apa kau ini.? Ck..ck.." timpal dokter Jeha.
"Hei.!!" Juan tidak terima dengan ucapan Jeha.
"Masih saja pemarah. Hemm, begini. Jadi istri mu ini sepertinya terlalu lelah dan sedang ada yang mengganggu pikirannya. Di samping itu, pola makan yang kurang teratur juga memicu asam lambungnya naik. Dan kulitnya mulai terlihat Ruan merah, sepertinya istrimu juga punya alergi dingin. Yah, Ju kurasa kau harus memberi waktu istrimu untuk beristirahat, aku tahu kalian pengantin baru, tapi terlalu berlebihan juga tidak baik untuk fisik. Kau mengerti maksudku kan?" jelas Jeha sambil sedikit menyunggingkan senyum meledek pada Juan.
"Jaga mulutmu.! kau pikir aku pria dengan gairah sexs tinggi begitu?!! hah,,kurasa kau lama tidak kena pukulanku ya?! apa kau mau coba sekarang,Hem??!!" ucap Juan dengan sangat datar namun penuh penekanan.
"Santai bro" jawab Jeha dengan santai.
"Cepat selesaikan tugasmu lalu cepat lah pergi dari sini. Jangan sampai kau menguji kesabaran ku." perintah Juan yang masih kesal dengan Jeha.
"Yah, aku sudah selesai. Ini berikan obat ini padanya, usahakan agar dia makan walau satu sendok. Karena ususnya bisa bermasalah kalau dia tidak makan apapun. Oh iya, sebaiknya kau ganti juga bajunya dan juga sprei serta selimutnya. Pakaikan pakaian yang hangat namun ringan. Alerginya bisa bertambah buruk kalau dia makin kedinginan. Oh iya, jangan lupa cek suhu tubuhnya satu jam sekali. Kau bisa laporkan perkembangan nya padaku. Tapi jika malam ini demamnya tidak turun maka ku sarankan bawalah dia ke rumah sakit. Ada perawat di sana yang akan menjaganya lebih baik darimu.hehe" jelas Jeha dengan diakhiri senyum mengejek pada Juan.
"Ada lagi??" tanya Juan.
"Em,cukup. Oke, aku pergi. Daahh" ucap jeha sambil bersiap pergi. Sampai di depan pintu ia kembali menoleh pada Juan.
"Ah iya, tentu saja. Olahraga malam kalian harus libur dulu untuk saat ini. Oke!" jeha kembali meledek Juan.
"Bedebah ini benar-benar " gumam Juan dengan pandangan tajam pada Jeha. Namun Jeha hanya membalasnya dengan gelagat tawa sambil berjalan keluar dari rumah Juan.
Setelah Jeha pergi, Juan mulai melakukan apa yang diperintahkan oleh Jeha, walau ia bingung bagaimana cara mengganti pakaian Nita. Sementara Nita dalam kondisi yang entah sadar atau tidak. Dia terlalu lemah untuk merespon semua perkataan Juan. Akhirnya dengan terpaksa dan hati-hati ia membuka baju Nita dengan mata sedikit tertutup dan mengganti nya dengan yang baru. Lalu menggendong Nita pindah ke kamarnya karena sprei kasur Nita harus diganti yang baru.
__ADS_1
Dengan sabar ia membuatkan bubur untuk Nita dan menyuapinya walau hanya dimakan satu sendok, setelahnya Nita membaringkan tubuhnya kembali di kasur. Benar-benar terlihat sangat pucat dan lemas. Juan mengambil kursi dan meletakkan nya di sisi ranjang dan menunggui Nita sambil sesekali mengecek suhu tubuh Nita setiap satu jam sekali hingga pukul 05.00 pagi. Ia masih mengirim pesan perkembangan kondisi Nita pada Jeha.
"Syukurlah, demamnya sudah reda." gumam Juan saat mengecek suhu tubuh Nita pukul 6 pagi. Merasa sudah lega, Juan pun merebahkan kepalanya di sisi tubuh Nita yang tengah tertidur, hingga tanpa disadari ia pun tertidur di sana.