Inikah Cinta

Inikah Cinta
94


__ADS_3

"Bisa lebih cepat jalannya?" tanya Juan yang berjalan di depan Nita.


"Kau tidak lihat aku bawa koper milik siapa ini hah?! Cih,dasar.! Dimana-mana itu pria yang membawakan barang milik wanita,lhah ini kok malah kebalikannya.Huft" jawab Nita dengan sungut kesal karena kesusahan membawa koper milik Juan. Bukan ukuran kopernya yang besar, sebenarnya itu hanya koper ukuran kecil,ditambah dengan tas nya yang juga tidak terlalu besar. Karena barang-barang miliknya tak banyak. Namun, itu terasa sangat berat bagi Nita, karena ia membawanya dengan menahan rasa jengkel nya pada Juan yang telah dengan seenaknya merampas tas selempang miliknya yang berisi dompet dan identitas nya. Hanya tersisa ponsel yang kebetulan disimpannya di saku jaketnya.


Hancur sudah rencananya untuk kabur dari Juan begitu sampai di Singapura. Ia menyesal,kenapa harus tertidur di saat hampir sampai.


"Ehem, sepertinya ada yang mulai sedikit amnesia ya? aku tidak pernah memintamu membawa barang-barang ku tuh. Kau sendiri yang dengan semangat membawakannya. Jadi ya,aku menghargai kebaikanmu." jawab Juan santai,dengan menunjukan senyum di akhir kalimatnya.


"Astaghfirullah,sabar..sabar.." gumam Nita,melihat tingkah Juan. Niatnya menahan koper milik Juan agar ia punya tawanan,ternyata Juan sama sekali tidak mempedulikan isi dari koper yang dibawanya. Katanya isinya hanya barang-barang tidak penting yang bisa ia beli lagi disini.


Kalau bukan karena ia butuh semua identitas di tasnya,tidak mungkin ia akan mengikuti Juan.


"Biar ku bawakan sayang." ucap Juan yang tiba-tiba mendekati Nita dan meraih tas yang dibawanya sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.


Bukan hanya itu,tanpa meminta izin terlebih dulu,kini Juan langsung main tarik tangan Nita dan menggandeng nya. Siapapun orang yang melihat pasti mengira mereka adalah sepasang kekasih yang sedang bepergian bersama.


Nita dibuat terpaku dan bingung dengan perubahan sikap Juan yang tiba-tiba berubah. Belum ada lima menit yang lalu dia membuat nya kesal karena dibiarkan membawa koper dan tasnya sendiri tanpa terlihat ada niat untuk membantu sedikit pun,tapi kini justru bertindak seolah tidak mau merepotkan nya.


"Wahh, sungguh menakjubkan. Benar-benar luar biasa,aku tak menyangka akan menemui secara langsung orang yang punya kepribadian ganda yang super menyebalkan." gumam Nita,namun tetap terdengar oleh Juan.


"Untuk saat ini kamu bebas mengataiku, yang jelas kalau kamu mau aku mengembalikan tasmu maka kau harus menuruti perintah ku." jawab Juan dengan suara pelan,agar hanya Nita yang bisa mendengar nya.


"Cihh,Ternyata selalu ada maksud tersembunyi dibalik kebaikanmu.Lihat saja nanti,aku pasti bisa lepas darimu.wee" keluh Nita dengan jutek.


"Kita lihat saja nanti.!" jawab Juan sambil berjalan santai.


"Bisa lepaskan tanganku!" pinta Nita.


"Tidak!!" jawab Juan tegas.


"Hah?!" "erghgg" Nita berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Juan,namun sia-sia. Cengkeraman nya sangat kuat,seolah pergelangan tangan Nita sedang diikat dengan borgol. Percuma dia berusaha melepaskan diri,karena tenaganya masih kalah jauh daripada Juan. Hingga akhirnya Nita pun menyerah dan dengan terpaksa mengikuti langkah kaki Juan yang membawanya.


"Kita mau kemana sih?!" tanya Nita tak sabar.


"Bulan madu" jawab Juan datar.


"Ooh,bulan madu." gumam Nita,lalu terdiam sesaat. "Apa?? apa kau bilang tadi?? Bu..bulan madu??? apa aku tidak salah dengar?? hahaha, ternyata selera humormu sangat rendah ya,hah astaga jawaban macam apa itu." tanya Nita tak percaya.


Juan menghentikan langkahnya,hingga Respek Nita menabrak punggung Juan yang tiba-tiba berhenti di depannya.


"Aoww" pekik Nita.


"Duh,maaf sayang. Aku tidak sengaja,mananya yang sakit? coba ku lihat wajahmu." ucap Juan dengan nada ramah penuh perhatian,dan meraih wajah Nita dan langsung memeriksanya.


"Hei!!" tukas Nita yang juga reflek akan menyingkirkan tangan Juan dari wajahnya.


"Ada wartawan yang mengikuti ku,jangan bertingkah. Pura-pura lah mesra." bisik Juan di telinga Nita,sambil pura-pura memeriksa wajah Nita.

__ADS_1


"Hah? mana?" jawab Nita,dan langsung akan mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari kebenaran dari perkataan Juan. Namun Juan langsung mencegah nya karena itu akan menimbulkan kecurigaan.


"Maaf sayang,aku akan lebih berhati-hati lagi." ucap Juan yang langsung membawa Nita dalam pelukannya.


"Diamlah,nanti ku beritahu detail nya. Untuk sekarang,ikuti saja aku.!" bisik Juan lagi.


"Huft,kenapa harus aku sih??!"


"Karena kamu adalah istriku." jawab Juan dengan suara keras,lalu mengecup ujung kepala Nita,dan melepaskan pelukannya.


Tindakan nya sukses membuat Nita salah tingkah,rasa kesal,jengkel dan juga sebal bercampur jadi satu,lantaran ia terpaksa menahannya demi bisa mendapatkan tasnya lagi dari genggaman Juan.


"Ayo,kita sudah ditunggu." ajak Juan,dan kembali menggandeng Nita untuk mengikutinya.


Nita hanya menjawab dengan menghembuskan nafas pasrah.


"Tunjukkan senyummu. Jangan sampai wajah jelekmu terekspose dengan ekspresi kesal." tegur Juan,namun tak digubris oleh juan.


"Itu, mobilnya sudah menunggu kita." ucap Juan sambil menunjuk ke arah sebuah mobil sedan putih yang terparkir di depan pintu lobby bandara.


Mereka telah berada di dalam mobil menuju sebuah hotel yang telah disebutkan oleh Juan sebelumnya.


Nita mengeluarkan ponsel dari saku nya. Ia mengetikkan sebuah pesan untuk Niko. Ia teringat belum memberikan kabar untuk pria yang baru sehari menjadi pacarnya itu.


Melihat Nita asik berkirim pesan,Juan yang tadinya sibuk dengan tablet nya pun merasa penasaran dengan Nita.


"Sedang berkomunikasi dengan siapa?" tanya Juan datar. Nita tak menjawab nya. Merasa diacuhkan,Juan pun kesal dan meraih ponsel milik Nita,namun reflek Nita menyembunyikan nya,memasukkannya dalam saku celana yang dipakainya.


Terlihat sekali wajah Juan yang merah padam menahan amarah,karena baru kali ini ada orang yang berani meledeknya dengan santai.


"Ehem,jika bukan dengan ku maka apapun itu usahakan agar jangan sampai terekspose media." ucap Juan,lalu kembali fokus pada tablet nya, walaupun dengan perasaan yang masih penasaran dengan siapa Nita bertukar pesan sampai terlihat begitu antusias dan bahagia. Namun ia menutupinya,ia tak mau terlihat terlalu ikut campur urusan pribadi Nita. Sebaliknya,Nita yang kini sudah merasa lega karena sudah menceritakan keadaan nya saat ini pada Niko,awalnya Niko terkejut karena Nita bilang sedang bersama Juan. Namun setelah Nita menceritakan,ia bisa mengerti. Dan berencana akan secepatnya menyusulnya ke Singapura dan membantu pengurusan berkas dokumen Nita.


Tak lama kemudian,mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di sebuah hotel.


"Selamat datang tuan" sambut beberapa orang yang memakai seragam staf hotel.


Juan hanya mengangguk sedikit dan berjalan melewati mereka dengan angkuh.


"Cih,sombong sekali." batin Nita,kemudian berusaha dengan sopan membalas sambutan para staf hotel itu dengan memberikan senyumnya dan mengucapkan selamat siang dan mohon ijin melewati mereka.


Mendengar Nita membalas sapaan mereka dengan ramah,para staf pun merasa senang. Mereka menganggap istri Presdir hotel tempat mereka bekerja itu baik dan menghargai mereka. Mereka berharap keramahan istri Presdir bisa menular pada Juan, Presdir mereka. Pasalnya setiap kali ada berita bahwa sang Presdir akan datang berkunjung maka hampir semua bagian staf hotel itu akan merasa tegang dan stress. Ya,itu adalah salah satu cabang hotel milik Juan di Singapura.


"Selamat beristirahat tuan, nyonya. Jika anda butuh sesuatu silahkan hubungi kami." ucap seorang room boy yang mengantarkan Nita dan Juan ke kamar nya.


"Kau boleh pergi." ucap Juan.


"Eh,tunggu. Ini apakah tidak ada kamar lagi untukku?" tanya Nita, membuat room boy itu terlihat bingung.

__ADS_1


Juan yang mendengar pertanyaan Nita pun langsung menginstruksi.


"Sayang,kita hanya berdua buat apa kamar lain lagi? Satu kamar ini cukup luas untuk kita berdua menikmati bulan madu kita kan?" ucap Juan dengan nada lembut sambil merangkul pundak Nita, dan mencengkeram sisi lengannya. Memberikan isyarat agar Nita tidak membuat kesalah pahaman.


"Eh,I..iya,maaf. Maksudku apa kau bisa bawakan makanan dan juga buah-buahan untukku ke sini? aku ingin makan disini saja.he" pinta Nita pada room boy itu.


"Oh,baik nyonya." Jawab room boy itu,lalu pamit undur diri.


"Lepas!!" ucap Nita dengan menyingkirkan tangan Juan dari pundak nya.


"Aku mandi dulu." ucap Juan sambil pergi menuju mandi.


"Terserah kamu saja." jawab Nita,lalu ia berjalan keluar balkon kamar lalu duduk di sebuah kursi panjang santai yang menghadap keluar, menunjukkan indah nya pemandangan di sekitar hotel yang dekat dengan pantai.


"Hufttt,, Indonesia. Kau sudah terlihat di depan mata. Namun kenapa aku kesulitan meraih mu? Bapak,ibu..aku rindu kalian." gumam Nita, yang tak terasa air mata nya menetes di sisi pipinya. Namun dengan cepat Nita menghapus nya. Karena lelah,Nita pun memejamkan matanya hingga ia tertidur di sana. Hingga sayup-sayup suara percakapan di dalam kamar itu membuat Nita terbangun.


Dengan penasaran,ia pun beranjak masuk ke kamar.


"Yuri?" gumam Nita yang terkejut melihat keberadaan Yuri di dalam kamar itu bersama Juan. Terlihat mereka tengah beradu argument masing-masing.


"Ehm,maaf." ucap Nita yang merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah mereka.


"Hei,tunggu!" cegah Yuri.


"Kau tahu,kau bukan siapa-siapa buat Juan. Jadi kuharap secepatnya kamu pergilah dari kehidupan nya. Karena aku, aku lah wanita yang ada dalam kehidupan nya sejak ia kecil.! Kau mengerti maksud ku kan?" ucap Yuri dengan nada kasar penuh amarah.


"Yuri!!" Tegur Juan.


"Maaf,bukannya saya tidak mengerti posisi saya. Namun, cobalah anda tanyakan pada Juan kekasih anda itu. Karena dia lah yang mencegah dan menghalangi kepergian ku. Visa dan semua identitas ku di tahan olehnya. Jika anda bisa meminta nya mengembalikan padaku maka aku akan sangat berterima kasih pada anda." jawab Nita santai. Ia berpikir kebetulan ada Yuri yang meminta nya pergi,sehingga ia bisa dengan mudah meminta Juan mengembalikan tas nya.


"Juan!! apa maksudnya ini?!" tanya Yuri pada Juan.


"Yuri,maaf. Aku sudah menjelaskan semuanya pada mu sebelumnya. Ku harap kau mengerti." jelas Juan.


"Apa? hah,aku tidak mengerti. Bagaimana bisa aku membiarkan kekasihku diberitakan media karena kemesraan nya sedang berbulan madu dengan wanita lain? cih,Juan,aku hanya wanita biasa. Tidak mungkin aku tidak cemburu.!"


Namun Juan hanya diam tak menanggapi ocehan Yuri. Begitu pula Nita. Sebenarnya ia sangat mengerti perasaan Yuri, ia pun tak berniat membuat nya cemburu karena media yang memberitakan Juan dengan nya. Hingga ia heran, sebenarnya apa rencana Juan,hingga dia bersikeras melakukan ini. Kenapa harus dengan nya bukan Yuri.


"Cih,dasar manusia menyebalkan." gumam Nita saat melihat Juan yang tak menghiraukan Yuri yang jelas sedang dibakar cemburu.


"Silahkan kalian selesaikan urusan kalian. Yang jelas aku sudah mengatakan bahwa aku sama sekali tidak menginginkan situasi ini. Aku akan langsung pergi begitu Juan mengembalikan tas ku." ucap Nita,lalu pergi meninggalkan dua orang di sana.


Samar-samar terdengar Yuri meminta Juan mengembalikan tas nya,namun Juan tetap menolak. Bahkan meminta Yuri untuk pergi dan bila perlu kembali ke Korea. Nita hanya menggeleng kan kepalanya,tak mempedulikan mereka.


Ia memutuskan meraih ponselnya dan menekan salah satu nomor disana.


"Halo,Niko.."

__ADS_1


***


JANGAN BOSAN SAAT AKU MENGINGAT KAN KALIAN UNTUK SELALU MENDUKUNG KU DENGAN MEMBERIKAN LIKE YANG BANYAK DAN KOMEN POSITIF YA. POKOKNYA KLIK SEMUA TOMBOL YANG ADA DI BAWAH SINI DEH..🙏🙏🙏🤗❤️❤️ THANK YOU


__ADS_2