
"Brukkk"
Dengan lemas dan lelah,Nita menjatuhkan tubuhnya di kasur di kamarnya. Sesaat ia memandang langit-langit kamarnya. Kamar ukuran 3X4 itu terasa sempit saat ia teringat kejadian tadi siang. Ia khawatir suara yang di dengarnya di rumah aster itu adalah benar milik orang yang ia kenal. Orang yang tidak ingin ditemuinya selama setahun ini.
"Huft,mungkin hanya halusinasi ku saja. Lebih baik sekarang aku mandi,terus tidur." gumam Nita,yang langsung bergegas bangun dari tempat tidur nya kemudian menuju kamar mandi.
"Buk.!!! buk!!" teriak Nita memanggil ibunya yang sedang menonton TV di ruang keluarga di rumah itu.
"Apa si Nit?? malam-malam begini teriak gitu. Kamu cah wedok lho, gak enak di dengar tetangga."
"He,maaf. Itu,tolong ambilkan handuk ku di kamar dong Bu." jawab Nita dari kamar mandi yang hanya mengeluarkan sedikit wajahnya dari balik pintu.
"Ya ampun,(sambil menggelengkan kepala) di usia segitu masih aja lupa bawa handuk dan baju ke kamar mandi." jawab ibunya heran.
Nita hanya nyengir bak anak kecil.
"Nih,pastikan ini yang terakhir kamu lupa bawa handuk ke kamar mandi. Bahaya tahu! biasakan bawa handuk dan baju. Lagi pula ada kamar mandi di kamarmu kenapa mandi di kamar mandi ini sih?" omel ibunya.
"Makasih Bu,cuma pengen aja. Bisa mandi sambil dengerin ibu sama bapak ngobrol di ruang TV." jawab Nita dari dalam kamar mandi. Setelah melilitkan handuk di tubuhnya,ia pun keluar dan berjalan menuju kamarnya.
"Nita!!!" panggil ibunya yang terlihat kaget melihat anaknya sendiri. Hingga Nita pun sempat kaget mendengarnya.
"Ya Bu? ada apa si bu? tadi bilang nya jangan teriak-teriak." jawab Nita santai.
"Huft,anak ini benar-benar deh. Dah,mulai besok kamu dilarang mandi di kamar mandi ini. Ini khusus buat tamu aja. Kamu dilarang mandi di sini, apalagi kalau gak sekalian bawa baju ganti.!" omel ibunya.
"Memangnya kenapa Bu?" tanya Nita tak mengerti.
"Astaga,kalau kamu keluar dari kamar mandi ini hanya pakai handuk begitu,terus ada yang lihat gimana? dah sana cepat masuk kamar.!" tegas ibunya.
"iya...iya..." jawab Nita,kemudian pergi ke kamarnya.
******
"Pak,ibu khawatir dengan anak kita."
"Anak kita yang mana?"
"Nita lah pak, bapak gimana sih?"
"Iya,bapak pikir siapa. Kan anak kita bukan hanya Nita.
__ADS_1
"Kita sudah tua pak, Nita belum menikah. Bahkan dia terlihat tak mau dekat dengan pria manapun. Ibu khawatir kalau dia jadi perawan tua pak.hiks" bulir air mata mulai menggenangi pipi wanita 60 tahun itu.
"Bu, bapak tidak mau memaksa Nita. Biarkan dia memilih pria yang ia suka. Bapak yakin dia gak akan jadi perawan tua kok. Lagi pula ibu kan tahu,dia sudah pernah menikah."
"Pak,bapak itu kayak gak tahu aja. Pernikahan nya dulu kan hanya sebatas kerjaan. Mana bisa itu disebut menikah. Buku nikah dari KUA juga gak ada. Ibu belum pernah lihat tuh,emang bapak pernah lihat? dan apa bapak pernah menikahkan anak kita? tidak kan? sudah lah,ibu capek. Ibu tidur duluan. Jangan lupa matikan TV nya.!"
Bapak hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya menanggapi istrinya itu. Saat sudah ngomel memang ngga ada jedanya. Sampai ga ada kesempatan baginya untuk menjawab.
Tanpa mereka ketahui,Nita yang berada di sebelah ruang itu pun mendengarkan nya. Ia tak sengaja mendengar pembicaraan orang tua nya saat ia baru saja sampai di sana karena bermaksud mau menaruh handuk basah ke cucian. Akhirnya ia mengurungkan niatnya,dan kembali ke kamarnya.
Di kamarnya,Nita duduk di kursi meja rias sederhana nya. Ia menghela nafasnya, memikirkan apa yang sedang dikhawatirkan orang tuanya. Ia sedih,tapi ia tak ingin lebih mengecewakan orang tuanya lagi karena masa lalunya. Baginya saat ini bukanlah menikah yang menjadi prioritas nya, terlebih ia sudah merasa tidak ada yang bisa ia banggakan dari dirinya pda pria yang akan menikahinya nanti. Terlebih ia tak mampu mengatakan kalau ia sudah kehilangan kesucian nya. Entah bagaimana jika orang tua nya sampai tahu hal itu. Dan pria baik mana yang akan dengan senang hati menerima nya yang seperti itu. Hingga ia memutuskan untuk hanya fokus pada orang tuanya saja. Ia bertekad merawat dan menemani orang tua nya saja.
"Huft,sudahlah. Yang penting sekarang adalah ibu dan bapak sehat dan baik-baik saja." gumam Nita. Kemudian berjalan menuju tempat tidur nya dan merebahkan dirinya di sana. Ia memilih untuk tidur walaupun sebenarnya kantuk belum juga datang.
Keesokan harinya...
"Maaf pak,saya terlambat." ucap. Nita yang baru saja datang ke minimarket dengan nafas tersengal setelah berlari karena ia bangun kesiangan.
"Tumben kamu telat Nit ? bahkan sangat telat. Ini sudah hampir jam 9 lho. Untung saya tahu kemarin kamu kerja full jadi hari ini saya maklumi. Dah sana cepat bersiap." Jawab pak Yudi.
"Terima kasih banyak pak." jawab Nita,kemudian bergegas bersiap dan mengerjakan tugasnya.
"Mbak,ada DO masuk nih tadi ke perumahan Aster. Tapi kok di note nya minta mbak yang antar,gimana?" tanya Toni pada Nita saat bergantian jaga kasir.
"Coba lihat alamat nya." tanya Nita.
"Ini mba" Toni menyodorkan catatan nya. Dan benar saja,itu alamat yang sama dengan yang ia datangi kemarin.
"Oh,ini kemarin juga pesan DO. terus aku yang antar ke sana. Bu Minah nya baik,mungkin beliau terkesan denganku yang kemarin membantu membawa masuk barang pesanannya." jelas Nita yang sebenarnya sedang merasa aneh,takut kecurigaan nya benar. Tapi ia menepis pemikiran nya,karena bisa saja ia salah mengira.
"Kalau gitu,ini mau diantar mbak apa gimana?" tanya Toni memastikan. Karena sebenarnya itu adalah bagian dari tugasnya.
"Karena hari ini ada kamu,jadi kamu aja dong.Gpp,gak harus aku kok." jawab Nita.
"Oke deh,kalau gitu aku siapkan dulu." jawab Toni yang langsung bergegas menyiapkan pesanan on line para customer dan langsung meluncur menuju masing-masing alamat yang ada.
***
"Ting...tong..." bunyi bel pintu rumah yang sudah sangat dinanti oleh Juan. Dan ia pun langsung membuka sendiri pintu rumahnya, setelah diberitahu security kalau ada petugas minimarket sudah datang.
Ia tak sabar untuk segera bertemu Nita dan memeluknya. Namun, harapan nya sirna saat sosok yang ada di depannya saat ini bukanlah Nita. Melainkan seorang pria muda yang cukup tampan yang sedang berdiri di hadapan nya.
__ADS_1
"Selamat siang pak,saya dari minimarket. Mau antar pesanan DO atas nama Bu Minah." ucap Toni begitu pintu dibuka. Wajah Juan sontak berubah karen kecewa.
"Dimana wanita kemarin?" tanya Juan to the poin.
Toni sempat heran mendengar nya.
"Ah,dia sedang tugas di toko pak. Karena tugasnya memang berjaga toko. Sedangkan untuk pengantaran itu bagian saya.
"Oh,taruh di sana." jawab Juan jutek sambil menunjuk meja di sisi pintu dan masuk ke dalam rumah meninggalkan Toni begitu saja. Toni pun bingung karena belum mendapatkan tanda tangan penerimaan.
"Pak,ini belum ditanda tangani." ucap Toni. Namun diacuhkan oleh Juan. Hingga Bu Minah yang berada tak jauh dari sana pun bergegas menghampiri.
"Saya Minah mas,sini mana yang harus saya tanda tangani?"
"Oh,ini Bu." Toni menyodorkan secarik kertas dan langsung ditanda tangani oleh Bu Minah.
Sementara di minimarket,Nita yang sedang menunggu pelanggan,ia sambil merapikan pajangan barang-barang di sana. Hingga seorang pelanggan pria datang.
"Selamat datang di toko kami ,Selamat berbelanja." sapa Nita dengan ramah dan melanjutkan aktivitasnya merapikan barang di meja kasir. Ia tak menyadari siapa pria yang ada di hadapannya barusan. Dia adalah Juan,ia sengaja langsung mendatangi minimarket itu karena rencananya mendatang kan Nita ke rumah nya gagal. Ia memakai topi dan masker serta kacamata untuk menutupi wajahnya. Benar saja, sepertinya Nita tak dapat mengenalinya.
Juan merasa sangat bahagia. Akhirnya ia menemukan keberadaan Nita tanpa sengaja. Setelah setahun ia memerintahkan orang untuk mencarinya namun tak ada satupun yang memberikan kabar yang baik. Hingga,ia sendiri yang menemukan nya saat ini. Sebenarnya ia ingin langsung memeluk erat Nita,namun ia menahannya. Karena pasti Nita akan berusaha kabur lagi dari nya. Ia ingin mendekati nya lagi dengan perlahan. Hingga ia benar-benar bisa mendapatkan hatinya. Ia tak mau gegabah.
"seratus ribu pak." ucap Nita saat sudah selesai membungkus belanjaan Juan.
Juan yang sedari tadi terus memperhatikan Nita tanpa berkata apa-apa hanya menyodorkan sebuah kartu kredit pada Nita.
"Ah,maaf pak. Bisa bayar dengan tunai saja? " ucap Nita. Tak sengaja tatapan mata mereka bertemu. Keduanya pun untuk sesaat terpaku.
"Deg.." sesaat Nita terpaku karena terlintas bayangan Juan di hadapannya. Namun ia segera menepisnya,begitu mendengar suaranya.
"ehm..ini" ucap Juan, setelah mengatur suaranya agar berbeda. Karena ia menyadari sepertinya Nita melihat sesuatu yang aneh dari dirinya.
"Baik,ini belanja nya. Terima kasih banyak dan selamat datang kembali." ucap Nita ramah.
Juan pun langsung keluar dari sana. Dan masuk ke mobilnya kemudian membuka topi dan maskernya. Senyum puas mengembang di wajah tampannya.
"Jalan..." perintah nya pada supir sambil ia terus memandangi mini market dimana ada Nita di dalamnya dan masih terlihat jelas dari luar karena dinding yang terbuat dari kaca.
Hal itu terus dilakukannya setiap hari hingga satu minggu.
***************************************""JANGAN LUPA VOTE DAN LIKE YA,BIAR AKU SEMANGAT..
__ADS_1
🙏🙏🙏❤️❤️❤️🤗🤗🤗🌷🌷🌷😘😘