Inikah Cinta

Inikah Cinta
75


__ADS_3

Semburat cahaya matahari pagi perlahan menembus tirai jendela kamar,menerobos masuk menerangi kamar dimana Nita masih berada di pembaringannya. Lebih tepatnya kamar milik Juan di apartemen nya. Sejak ia sakit dan menempati kamar itu, membuatnya tak tahu harus menempati kamar mana di apartemen itu. Apalagi kemarin ia hanya mengikuti kemauan Juan saja dengan kondisi yang sangat rumit. Sementara Juan,lebih senang menghabiskan waktunya di ruang kerjanya.


Pagi itu,setelah sholat subuh Nita kembali membaringkan badannya di kasur berharap bisa memejamkan matanya sejenak. Namun itu sia-sia,karena ia sama sekali tidak bisa menidurkan dirinya. Hingga hanya terasa pegal di matanya dan membuat kepalanya pusing. Hingga dengan terpaksa ia memutuskan untuk bangun dan langsung pergi mandi kemudian ke dapur untuk memasak. Tapi, sesampainya disana sepertinya ia tak perlu untuk masak lagi. Karena di atas meja makan sudah tertata rapi makanan yang sungguh terlihat menggoda. Seperti ha dimasak dan ditata dengan sungguh-sungguh.


"Waaaahh, terlihat enak sekali??" gumam Nita.


"Selamat pagi, Nita." Sapa Juan yang berada di belakang Nita. Terlihat sudah rapi dengan setelan jas nya.


"ah,pagi Juan. Ini..ini darimana makanan sebanyak dan sebagus ini? Kau membelinya dimana? Cepat sekali sudah sampai sepagi ini." tanya Nita sambil menarik kursi dan menduduki nya.


"Apa kau suka?" tanya Juan yang juga mengambil duduk di hadapan Nita.


"Tentu,ini terlihat seperti masakan di hotel berbintang. Luar biasa sekali,pasti harganya mahal ya?" tanya Nita lagi sambil tangannya mulai menyiapkan makanan untuknya makan.


"Syukurlah,ini aku yang memasaknya." jawab Juan,seketika mengentikan Nita dari kegiatannya menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Waah, luar biasa. Sungguh aku tak menyangka ternyata kamu punya kemampuan memasak yang sangat baik. Membuatku terkejut saja. Hemm ini enaakkk sekali. Ini juga, yang ini juga. Seperti sihir, aku sedang memakan makanan enak hasil masakan Juan,bos ku dan seorang direktur K group. Orang pasti tak akan percaya kalau kau bisa memasak seenak ini." tutur Nita sambil mengunyah makanannya.


"Hemm,sejak kecil aku terbiasa sendiri. Hingga saat SMA aku memutuskan untuk tinggal sendiri,sehingga aku lebih suka masak untuk ku sendiri dari pada harus selalu membeli. Karena terkadang aku sudah lapar. Terlebih saat aku mulai kuliah di luar negeri. Jadi aku cukup mampu menilai masakanmu." jelas Juan dengan sedikit senyum membuat suasana pagi terasa santai.


"Yah, kalau kau sudah bisa masak seenak ini kenapa juga masih memintaku untuk memasak buatmu? padahal masakanmu biasa saja,jauh dari ini. Sungguh ini enak sekali, aku jamin kalau disuruh makan makanan seenak ini setiap hari juga tak akan ada satu orangpun yang menolak." ucap Nita dengan mulut penuh dengan makanan.


"Kalau kau mau aku tidak keberatan memasak setiap hari untukmu." jawab Juan yang juga sambil mengunyah makanannya.


"Waah,apa kau serius dengan ucapan mu pak direktur? tentunya aku akan sangat terharu nanti.haha"


"Kenapa tidak? kalau diminta,walau sibuk akan ku sempatkan masak." jawab Juan dengan santai.


"Hei,pak Dirut. Jangan asal berucap. Man bisa kau masak setiap pagi kalau ku sendiri sudah super sibuk begitu. Cih aneh.." timpal Nita.


"Kau bisa buktikan nanti,(berhenti sejenak sebelum ia melanjutkan kata-katanya) kalau kau jadi istriku." ucap Juan santai namun terdengar serius,bahkan sangat serius.


"Uhuk..uhuk.." Nita yang tengah mengunyah makanannya pun dibuat tersedak mendengar perkataan Juan barusan. Juan menyodorkan minum padanya dan ia pun meminumnya dengan cepat.


"Pelan-pelan" ucap juna lagi.

__ADS_1


"Hah,Juan. Please,jangan bercanda sepagi ini deh." ucap Nita yang sudah menormalkan keadaannya.


Drrrt..drrrt..


"Pagi nek" ucap Juan menjawab telepon yang sepertinya dari nenek Kim.


"Baiklah." Juan kemudian menutup telfonnya.


"apa itu tadi nenek Kim?" tanya Nita dsn dijawab dengan anggukan kepala oleh Juan.


"Ehem,bolehkan aku mengatakan sesuatu? Tapi mungkin ini akan sedikit membuatmu tidak nyaman." jelas Juan.


"Ha? kabar buruk seperti nya aku tak mau mendengar,walau mungkin terpaksa harus tahu sih." masih dengan melanjutkan makannya.


"Aku tidak tahu ini disebut kabar baik atau buruk. Mungkin bagi orang lain ini adalah berita baik,tapi bagi kita mungkin ini agak membingungkan." jelas Juan.


"Yah,jangan buat aku penasaran begini dong." ucap Nita yang tak sabar ingin tahu maksud dari pembicaraan ini.


"Telan dulu makananmu." pinta Juan,dan Nita menurut saja dan menghentikan aktivitas makan nya,bersiap mendengar apa yang akan di katakan Juan.


"Ehem,Minggu depan kita menikah.Nenek sudah menyiapkannya." ucap Juan dengan cepat,namun sukses membuat Nita terpaku seketika. Dan menutup mulutnya yang reflek melongo saking terkejutnya.


"Aku tahu,kau pasti terkejut. Namun ini di luar dugaan ku. Ku pikir kemarin hanya dengan mengakui kita menjalin hubungan kekasih saja sudah cukup menutup mulut media. Tapi,aku tidak tahu kalau ternyata kakek dan nenek begitu gembira dengan pengakuanku kemarin." jelas Juan,yang kemudian sedikit menundukkan kepalanya merasa bersalah pada Nita.


"Mau kemana?" tanya Juan yang melihat Nita beranjak dari duduknya dengan ekspresi yang rumit.


"Biarkan aku sendiri." jawab Nita,kemudian menuju ke kamar mengambil tas dan ponselnya kemudian berjalan keluar apartemen. Juan membiarkan Nita pergi,ia berfikir memang bukan saatnya mencegah Nita. Dia butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri setelah semua situasi yang diciptakan oleh nya.


Sebenarnya bukan hanya Nita yang terkejut dengan tindakan tiba-tiba kakek dan nenek Kim, dirinya pun sama. Namun disini yang diuntungkan adalah Juan,hatinya yang masih kacau oleh Yuri tak begitu jadi masalah buatnya. Berbeda dengan Nita yang tak mendapat keuntungan apapun. Ini murni Nita bagaikan dewa penolong bagi Juan ,kakek dan nenek Kim,K group dan Niko serta Desi.


**


Nita tengah duduk sendiri di sebuah taman tak jauh dari apartemen Juan. Pandangan kosongnya tertuju pada sebuah kolam tak jauh dari tempatnya duduk. Dia melihat seorang anak perempuan yang tengah asyik mengejar kupu-kupu yang berterbangan di dekatnya,ibu dan ayahnya juga turut ambil bagian bersama anak kecil itu. Mereka terlihat begitu bahagia, ada sedikit rasa iri dalam hati Nita. Dia menghembuskan nafas dari mulutnya seraya menguatkan dirinya sendiri.


"Yah,mungkin ini sudah takdir. Mau bagaimana lagi, aku tak bisa tak mempedulikan orang tua. Mah,mama pasti setuju dengan keputusan ku kan? Setidaknya keinginanmu untuk ku cepat menikah akan segera terwujud ma,walau hanya pura-pura." gumam Nita,sambil tersenyum miris dengan situasi nya sekarang.

__ADS_1


Drrt..Drrttt..


Nita membiarkan ponselnya bergetar tanpa ada sedikitpun keinginan untuk mengecek siapa yang tengah menghubungi nya.


Nita beranjak dari duduknya,namun ketika ia membalikkan badannya ia dikejutkan dengan kedatangan Niko yang tiba-tiba langsung memeluknya erat. Membuat Nita terpaku dan tak bisa berkata apa-apa. Bukannya merasa senang tapi dengan pelukan dari Niko membuat Nita merasa menemukan sandaran untuknya menumpahkan semua beban pikirannya saat itu. Nita menumpahkan tangisnya di pelukan Niko.


"Tak apa,kau boleh meluapkan semuanya. Aku disini,aku akan menemanimu." ucap Niko sambil menepuk lembut punggung Nita dan mengusap kepalanya.


Niko sangat khawatir dengan keadaan Nita. Setelah ia melihat berita di televisi tentang kejadian di hotel A kemarin,ia begitu terkejut. Ia sakit hati, bukan karena Nita yang mungkin memilih Juan,namun karena ia melihat ada keterkejutan dan juga kebingungan dalam ekspresi wajah Nita saat dengan tiba-tiba Juan menciumnya dan mengumumkan bahwa Nita adalah calon istrinya.


Niko merasa bersalah karena meninggalkan Nita sendiri di acara kemarin. Pasalnya setelah ia keluar dari toilet tiba-tiba kak Jiwo menelfonnya dan memberitahukan kalau perusahaan keluarganya sedang dalam masalah. Harga saham nya pun menurun drastis, itu membuat Niko panik. Ia sempat mengirim pesan pada Nita untuk pergi ke perusahaan sebentar dan akan menjemput nya lagi saat acara sudah selesai. Namun ternyata memang situasinya seolah terjadi begitu cepat.


Tak berhenti disitu, setelah nya pun Niko terus menghubungi Nita namun tak diangkat,hingga saat ia melewati taman itu melihat Nita yang tengah duduk sendiri di dekat kolam. Ia langsung berlari menuju Nita,ia tak sabar untuk bisa langsung melihat kondisi Nita secara langsung.


"Bisa lepaskan pelukanmu? aku sudah selesai menangis." ucap Nita yang menyadarkan Niko. Kemudian ia pun melepas pelukannya.


"Apa kau sudah lebih baik?" tanya Niko.


"Hem,beginilah." jawab Nita dengan senyum yang jelas dipaksakan.


"Mau makan es krim?" tanya Niko.


"Emm,aku tidak punya uang untuk mentraktir mu.hehe" jawab Nita.


"Haish,aku masih bos mu jadi ku maisih jadi tanggung jawab ku." ucap Niko.


"Ok,yuk?!" ajak Nita dengan semangat. Niko pun menyambutnya dengan semangat pula dan langsung membawa Nita dalam gandengannya dan berjalan cepat menuju mobilnya.


***


AUTHOR


YUK,KITA DOAIN NITA BIAR DIA SELALU BAHAGIA..πŸ€—


JANGAN LUPA KLIK LIKE,VOTE DAN KASI KOMEN JUGA BIAR AKU SELALU SEMANGAT YA.πŸ™πŸ™THANK YOU..❀️😘

__ADS_1


__ADS_2