
"ugh.." sambil mengerjapkan matanya,Nita beranjak dari tidurnya. Dilihatnya sekeliling,dan ia langsung bisa menebak dimana ia berada sekarang. Suasana kamar rumah sakit yang sangat tidak ia sukai. Saat ia menoleh ke sisi kanan kamar tepat di sebelah jendela yang tirainya masih tertutup,tampak jelas seorang pria yang sangat ia kenal tengah duduk dengan matanya terpejam. Mungkin ia tertidur sambil duduk di sofa panjang itu hanya dengan menyenderkan kepalanya di senderan sofa.
"Huft" Nita menghembuskan nafas lesu melihat sosok pria tersebut. Ia merasa heran sekaligus sebal dan tak mengerti seperti apa pria itu. Kadang ia bisa bersikap baik, namun tak jarang pula ia bersikap buruk dan semaunya sendiri. Keras kepala itu sudah pasti. Semua tersamar kan oleh wajahnya yang tampan. Bagi wanita di luaran pasti akan sangat merasa beruntung jika bisa menikahinya. Tapi anehnya pria itu yang kini bersikeras menganggap dan ingin orang lain tahu bahwa dirinya adalah suami dari wanita seperti Nita.
"Dasar!!" Nita mengumpat dalam hati nya sambil memandang aneh pada Juan.
"Huft,gak tahu lah." Nita kembali bergumam sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan nya. Jelas ia pasrah dengan semuanya. Kemudian ia turun dari ranjangnya dengan sebelumnya melepas infus yang tertempel di tangan kanannya. Ia pergi menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.
**
Beberapa saat kemudian, Juan yang tengah tertidur di sofa pun terbangun. Ia menguap sekali lalu meregangkan otot tubuhnya dan memijit lehernya sendiri yang terasa pegal karena posisi tidurnya yang kurang nyaman. Pria tampan yang terlihat jelas fisiknya saat ini sangat kelelahan.
Begitu matanya terbuka dan kesadarannya sudah kembali, ia langsung menoleh ke arah ranjang dimana Nita seharusnya ada disana. Namun, betapa terkejutnya ia karena tak mendapati sosok Nita di sana. Ia bergegas mengecek,ranjang yang terlihat sudah rapi dan kamar mandi yang juga kosong makin membuat Juan panik, apa lagi ditambah ia melihat baju pasien yang dikenakan Nita kemarin sudah terlipat rapi dan diletakkan di atas nakkas di samping ranjang pasien.
Pikiran Juan sudah kacau, ia takut Nita pergi atau melarikan diri darinya. Ia tak mau hal itu terjadi.
Diraihnya ponsel dan menekan nomor di ponsel tersebut memerintahkan bodyguard nya untuk mencari keberadaan Nita di stasiun,terminal dan juga bandara. Ia juga menghubungi keamanan rumah sakit untuk menutup akses keluar. Dan menahan jika melihat Nita keluar dari rumah sakit. Setelahnya ia mulai bergegas berlari dari satu lorong ke lorong lain di rumah sakit itu untuk mencari keberadaan Nita,ia memasuki semua kamar dan ruangan di rumah sakit itu berharap Nita ada di salah satu ruangan itu. Wajah yang pucat,khawatir dan sedikit geram mulai dibanjiri peluh di dahinya.Hingga sebuah panggilan masuk di ponselnya menunjukkan dari petugas keamanan dan CCTV rumah sakit memberikan kabar padanya. Nafasnya mulai lega mendengar laporan bahwa sejak subuh tadi belum ada satupun orang yang keluar dari rumah sakit. Dan terlihat seorang wanita sedang duduk di area taman rumah sakit,tapi tak terlihat jelas wajahnya karena tersorot dari bagian belakang. Dan petugas itu melihat Juan berada tak jauh dari sana,sehingga ia langsung menelfon Juan.
"Baik,terima kasih" ucap Juan yang langsung mematikan sambungan telepon nya dan berlari se kencang-kencangnya menuju lokasi yang disebutkan tadi.
Dengan nafas yang masih tersengal,ia melihat sosok wanita yang sangat ia kenal. Ia mendekati nya dan berdiri tepat di belakang nya.
"Nita!" panggil Juan.
"Hem" jawab Nita yang kaget sambil menoleh ke arah sumber suara.
Lega,sungguh lega perasaan Juan saat ini. Wanita yang ada di hadapannya benar adalah Nita. Bergegas ia mendekat dan memeluk Nita erat dari belakang.
Nita yang terkejut hanya tertegun tak mengerti dengan sikap Juan. Namun ia segera berusaha melepaskan pelukan Juan padanya.
"Eh..Ka.. kamu kenapa? Le..lepaskan!" pinta Nita.
"Sebentar..sebentar saja." pinta Juan dengan nafas yang masih memburu.
Mendengar itu, Nita pun tak ada pilihan lain. Ia diam membiarkan Juan memeluknya beberapa saat.
"Apa sudah cukup?!" tanya Nita, menyadarkan Juan dan Juan pun melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Nita datar dengan mengalihkan pandangan nya dari Juan. Melihat itu, Juan tak langsung menjawab. Ia duduk di samping Nita seraya menghembuskan nafasnya lega.
"Sejak kapan kamu disini?" tanya Juan.
"Hemm, tak lama setelah aku bangun dan beribadah." jawab Nita singkat dan matanya menatap jauh ke depan nya.
"Jam berapa kamu bangun? Kenapa tak membangunkanku?"
"heh?" Nita melirik sekilas pada Juan dengan pandangan heran.
"ehem,bagaimana kondisimu?" Juan mencoba mengakrabkan diri dengan Nita.
"Yah, seperti yang kamu lihat." jawab Nita.
Juan terdiam sejenak mendengar jawaban Nita,sungguh saat ini Juan benar-benar merasa menyesal dengan tindakannya pada Nita. Ia tak menyangka Nita bisa bersikap seperti saat ini. Seolah mempertegas bahwa tidak ada sesuatu yang penting dengan Juan,dan ia telah membangun dinding pemisah diantara mereka.
"Apa yang kau lihat? apa matamu tidak perih melihat ke arah matahari? bukankah ini sudah cukup panas."
Nita menghembuskan nafasnya untuk mengatur emosinya dengan pria yang ada di sebelah nya saat ini. Pria arogan yang tertutup topeng kesempurnaan fisiknya.
"Huft,ya kau benar. Aku sedang melihat matahari. Mataku memang perih melihat cahaya matahari itu,tapi inilah tujuanku. Aku ingin membuat mataku perih agar aku bisa menangis. Namun entah kenapa, mataku tak mau membantuku mewujudkan keinginan ku. Cih,menyebalkan sekali. Ku pikir aku pemilik kedua mata ini, ternyata mereka punya pemilik lain. Yaitu kehendak Allah. Allah tak berkehendak mereka menitikkan air mata,maka aku tidak bisa menangis walau aku berusaha keras membuat mataku perih agar bisa menangis. Yah,mau bagaimana lagi." ucap Nita,sekilas menoleh pada Juan lalu kembali menatap ke depan lagi.
"Baiklah,sudah makin panas. Lebih baik kita masuk. Sarapan dulu. Kamu pasti belum makan kan?" ucap Juan yang beranjak dari duduknya seraya mengajak Nita dengan meraih tangannya.
"Pergilah! aku masih ingin disini." jawab Nita sambil melepaskan tangan nya dari Juan.
"Apa kamu masih marah padaku?" tanya Juan sambil memposisikan tubuhnya menghadap Nita,dengan pandangan mata serius menatap nya.
"Tidak" jawab Nita tegas.
"Lantas, kenapa kamu bersikap acuh begitu?" Nita menoleh dari pandangan Juan dengan melihat sisi lain.
Juan meraih kedua tangan Nita, mengarahkan nya ke dirinya "Maaf,,,aku minta maaf" ucap Juan spontan dengan kepala sedikit tertunduk,layaknya anak kecil. Juan terlihat takut dan sedih karena telah melakukan kesalahan.
Nita pun merasa risih dengan tindakan Juan.
"Argh,sudah lah.! Ayo ke kamar." ucap Nita dengan melepaskan tangannya dari Juan dan langsung melangkahkan kakinya cepat meninggalkan Juan.
__ADS_1
Juan tak langsung mengikuti Nita. Ia memperhatikan langkah Nita dari belakang hingga beberapa meter meninggalkan nya. Ia tahu Nita sangat jengkel padanya,namun wanita itu terlihat jelas menahan jengkelnya, bahkan ia tetap berkata tidak marah dan tetap menjawab pertanyaan Juan padanya dengan biasa tanpa marah-marah. Mungkin Nita berpikir tidak ada gunanya menunjukkan amarahnya pada Juan,karena ia akan tetap kalah dari Juan. Justru bagi Juan, sikap Nita telah membuat Juan kalah darinya. Ia yang sampai mau pantang menyerah untuk membujuk Nita agar membantu nya. Padahal bisa saja ia meminta wanita lain. Namun, hatinya lebih memilih Nita. Dengan ataupun tanpa kesediaan darinya.
"Manis" gumam Juan saat melihat Nita tersenyum saat berpapasan dengan seorang perawat di rumah sakit itu yang sedang membantu seorang nenek berjalan. Tak hanya itu, Nita pun terlihat membantu mengambil kan mainan seorang anak kecil yang tengah digendong oleh ayahnya. Hingga menggendong bocah laki-laki yang dituntun oleh ibunya yang tengah hamil besar dan kesulitan untuk membopong anaknya. Nita menemani ibu itu hingga masuk lift, yang ternyata tujuannya sama dengannya. Lantai 4 rumah sakit itu. Ibunya sedang sakit, sementara suaminya sedang mengurus biaya rumah sakit.
Juan seolah terhipnotis oleh semua tindakan Nita, wanita yang sederhana, baik dan mungkin terlalu baik, hingga tak peduli siapapun orangnya ia akan membantu nya. Senyum tipis terlukis di wajahnya saat tiba-tiba anak kecil yang sedang digendong Nita seolah mengajaknya berbicara. Bocah laki-laki usia belum genap dua tahun, terlihat lincah di gendongan Nita.
"Sini,biar kamu digendong paman saja." ucap Juan seraya meraih bocah itu dari gendongan Nita. Seketika anak itu langsung diam sambil menatap wajah Juan yang tenang. Mungkin si dia ketakutan. Tak hanya anak itu, Nita pun terkejut karenanya.
"Wah, kalian pasti pasangan pengantin baru ya? belum punya anak? hihi,,kakak ini bisa jadi tanda kalau kalian akan segera punya momongan. Suami anda terlihat sudah lihai menenangkan anak kecil. Anda beruntung memiliki nya. Suami saya walau sudah akan punya dua anak tapi dia masih kewalahan menenangkan si kakak ini. Dia terlalu aktif dan cerewet." celoteh si wanita hamil,yang merupakan ibu dari bocah laki-laki yang tengah digendong Juan. Mendengar itu, Nita pun segera menyanggahnya.
"Ah,,Bu..bukan..bukan begitu nyonya. Anda salah paham. Kami bukan seperti yang anda kira." Nita mencoba menjelaskan.
"Sayang,kau dengar itu?" ucap Juan sambil mendekatkan dirinya pada Nita.
"Hah??" Nita tidak mengerti maksud Juan.
"Istriku memang pemalu, dia belum pernah pacaran sebelumnya, sehingga aku harus banyak mengajarinya. Anda doakan saja semoga kita segera diberi momongan sesuai dengan ucapan anda barusan." tambah Juan pada wanita itu.
"Ap..apa??!!" Nita makin dibuat bingung dengan perkataan Juan barusan. Namun tidak ada kesempatan baginya menyela pembicaraan dua orang itu untuk menjelaskan yang sebenarnya,hingga akhirnya Nita hanya bisa memilih diam hingga pintu lift terbuka dan mereka berpisah di sana.
Nita yang masih sebal pun langsung bergegas meninggalkan Juan dan masuk ke kamar rawat nya. Dia langsung mengambil minum dan memakan makanan yang tersedia di sana dengan menahan kekesalan nya.
Ia tak mempedulikan Juan yang masuk dan memperingatkan dia agar pelan-pelan memakan makanannya. Namun ia tak peduli, ia ingin melampiaskan kesalnya pada makanan. Sehingga ia makan dengan cepat agar cepat habis sehingga makin cepat pula ia keluar dari rumah sakit itu dan mencari cara lain untuk kabur dari Juan dan pulang ke Indonesia.
"uhuk..uhuk...uhuk..." Nita tersedak dan Juan pun membantunya. Hingga tak sengaja pandangan mereka bertemu saat memberikan minum pada Nita.
Deg...
"Ehem..ehem..sudah. Terima kasih." ucap Nita sambil langsung mengalihkan pandangannya.
"Sama-sama,makan pelan-pelan saja." sahut Juan yang sebenarnya juga merasa kikuk dengan situasi tadi.
Nita melanjutkan makan dengan lebih tenang, dan Juan hanya duduk memperhatikan Nita.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh
__ADS_1
...hallo semuanya, setelah sekian lama disibukkan oleh kegiatan realitas yang banyak menguras energi dan pikiran, akhirnya hari ini aku come back. Mohon maaf karena telah mengecewakan kalian dalam penantian yang panjang. Aku sangat menghargai kesetiaan dan kesabaran kalian, semoga kalian dan saya selalu sehat dan bahagia. Semoga kedepan situasi saya lebih mudah terukur dan pasti. Semoga episode ini cukup mengobati kerinduan kalian pada Nita dan Juan. Semoga aku lebih banyak inspirasi dan lebih banyak waktu untuk menyusun episode episode selanjutnya....
Thank you....❤️❤️🤗🤗