Inikah Cinta

Inikah Cinta
106


__ADS_3

Dengan perlahan Juan melangkah kan kakinya mendekati ranjang dimana Nita tengah terbaring di sana. Terlihat tengah memandangi nya dengan pandangan seolah menanyakan apa yang terjadi padanya,Juan sangat mengerti itu.


Juan mengatur dirinya sambil duduk di sisi sebelah kanan Nita dengan sedikit canggung.


"Nita,aku tahu kamu pasti kebingungan kenapa kamu bisa begini? apa yang terjadi? benar begitu kan?. Kedip kan mata mu satu kali untuk menjawab iya." ucap Juan,lalu melihat respon Nita. Dan terlihat,ia mengedipkan mata nya sekali.


"Baiklah,akan ku jawab singkat. Jadi,dokter park mengatakan kalau kamu baru saja memakan sejenis obat perang*ang dalam makanan mu,namun sepertinya kamu punya alergi dengan kandungan dari obat itu. Serta ditambah dengan kondisi tubuhmu yang memang sedang tidak baik,sehingga membuat kondisimu seperti ini. Seperti yang kamu tahu tadi dokter sudah berusaha memberikan pertolongan untukmu,tapi karena mereka hanya menyiapkan pertolongan pertama untuk nenek sehingga mereka hanya bisa memberikan pertolongan pertama untukmu." Juan kembali melihat ekspresi wajah Nita dengan pandangan nya yang masih penuh tanda tanya dan kebingungan.


"Kami tidak mungkin membawamu ke rumah sakit karena kamu harus segera ditolong supaya tidak terjadi kelumpuhan sekunder lebih lama. Dengan cara memanaskan suhu tubuhmu dari luar. Em,bukan dengan selimut atau kompres air hangat. Jadi,itu..argh,maaf dengan berhubungan layaknya suami istri." jelas Juan yang sebenarnya terasa tak nyaman mengatakan nya pada Nita. Dan,sudah pasti reaksi Nita yang mendengar nya pun pasti kaget, terbukti dengan matanya yang terbelalak dan mulai berkaca-kaca.


"Maaf Nita,,aku minta maaf. Bukan aku tak bisa menolaknya. Namun,dalam waktu 15 menit suhu tubuhmu harus naik. Tadi sudah ku sebutkan alasannya. Jadi, ku mohon maafkan aku. Aku hanya berniat menolong mu. Dan tak ingin terjadi sesuatu pada mu karna kesalahan ku. Juga, orang-orang tahu kalau aku suamimu. Terlepas dari kesepakatan kita,tapi untuk kali ini tolong anggaplah aku suamimu untuk waktu tidak lebih dari satu jam." kemudian Juan menggenggam tangan Nita dengan lembut, berharap ia mengerti maksud nya.


Dengan bola mata uang berkaca-kaca dan berat,Nita mengedipkan matanya lagi.


Juan berdiri dari duduknya,ia berjalan ke arah kamar mandi dan sesaat ia sudah keluar dengan hanya memakai handuk yang melilit di pinggang nya. terlihat jelas tubuh bagian atasnya yang pasti bagi sebagian besar wanita,itu sangat mengagumkan. Tak terkecuali Nita. Namun,ia tak punya waktu untuk menikmati pemandangan itu. Pikirannya kacau dengan apa yang dikatakan Juan tentang nya. Tiba-tiba detak jantungnya terasa berdetak lebih kencang dan dadanya terasa sesak. Membuat nya agak sulit bernafas.


"Ku mohon,tenangkan dirimu. Aku akan berusaha selembut mungkin. Karena ini juga pertama kali buatku." ucap Juan,yang sempat membuat Nita tak percaya mendengar nya.


"Bismillahirrahmanirrahim" ucap Juan dengan sedikit terbata. Ini membuat Nita makin tak percaya dibuat nya. Ternyata Juan tak asal-asalan dalam melakukan nya. Ia seolah tahu adab dalam berhubungan suami istri. Dikecupnya lembut kening Nita,kedua pipi,hidung,hingga bibir dan dagunya. Kecupan yang terasa sangat manis jika itu benar-benar dilakukan oleh sepasang suami istri yang saling mencintai. Nita mengedipkan mata nya,dan menghembuskan nafas nya untuk menenangkan dirinya.


"Ya Allah,jika ini kehendak mu. Maka aku pasrah kan hanya kepada mu. Engkau yang maha pengasih dan penyayang untuk semua hamba mu." ucap Nita dalam hatinya.


Darahnya mulai terasa menggelitik dalam tubuhnya,detak jantung berdetak cepat.


"Baiklah,untuk kali ini. Ku anggap pria ini adalah suamiku. Suami sah ku secara hukum. Semoga aku tidak salah memutuskan." batin Nita.


Tak bisa ditutupi ada rasa malu dalam diri Nita,hingga terlihat pipinya memerah. Membuat Juan yang melihatnya pun dibuat terkesima. "Manis" gumamnya. Ya,suhu tubuh Nita sudah mulai memanas. Walau sebenarnya dalam dirinya ia sudah merasa panas dari awal.


Di tengah kegiatan dua insan yang tengah menyatukan dirinya,di hotel kakek dan nenek Kim masih belum tenang dengan kondisi Nita. Nenek Kim yang terus meremas jari jemari nya. Kakek Kim yang duduk dengan kaki yang bergetar sambil sesekali mengetukkan jarinya pada pegangan kursi. Hingga ia memutuskan meraih ponselnya dan menelfon dokter park.


"Bagaimana?" tanya kakek Kim. Sedangkan nenek Kim yang duduk di sebelahnya pun ikut melihat ke arah kakek Kim dengan pandangan tanda tanya juga.


"Kami sudah membawa sampel makanan yang dimakan nyonya muda ke laboratorium,dan kita juga sudah menyiapkan segala sesuatunya di rumah sakit. Dan kita sudah menyiagakan petugas di dekat rumah tuan muda. Mereka sudah siap menerima tugas dari tuan muda. Anda tidak perlu khawatir tuan besar." jawab dokter park.


"Baiklah, lanjutkan tugasmu." ucap Kakek Kim, kemudian menutup sambungan telepon nya.


"Butuh berapa lama anak nakal itu melakukan nya sih.? atau jangan-jangan dia tidak bisa melakukannya?" nenek Kim yang terlalu khawatir mulai tak sabar menunggu kabar dari Juan.


"Kau percaya kan pada nya saja. Aku yakin dia masih laki-laki sejati untuk hal ini. Bahkan mungkin kalau beruntung,kita bisa dapat cucu buyut kan?" ucap Kakek Kim menenangkan nenek Kim.


"Aa iya,. Kau benar.! Kenapa aku harus khawatir ya? aish,wanita tua ini memang sudah lambat berpikir. Kalau begitu,ayo kita doakan saja semoga kita berhasil dapat cucu setelah ini.haha" ucap nenek Kim dengan penuh semangat.

__ADS_1


"ah,,I..iya.." jawab kakek Kim yang agak bingung dengan respon istrinya. Niatnya hanya untuk menenangkan istrinya, tapi malah disangka serius. "Ah,wanita ini cepat sekali berubah suasana hatinya." batin kakek Kim yang kemudian berbaur dengan nenek Kim dan berdoa bersama dengan tulus.


**


"Aku akan bertanggung jawab dengan apapun yang terjadi setelah ini. Aku berjanji." ucap Juan sebelum ia menyatukan miliknya pada Nita. Setelah nya ia pun terkejut,karena ternyata ini juga pertama kali nya untuk Nita. Dibarengi dengan sedikit teriakan kecil darinya saat miliknya menyatu dengan Juan. Terasa menyakitkan dibawah sana dan juga hati dan pikirannya,hingga ia memejamkan matanya untuk menahannya.


"Maaf.." kata itu,kembali terlontar dari mulut Juan,Wanita dibawah nya yang telah memberikan mahkota berharga yang ia yakin telah dijaganya selama ini. Dalam hatinya ia bahagia,dan ia yakin kalau hatinya telah memilih Nita sebagai wanita yang layak ia cintai. Ya,Kini ia telah yakin kalau ia telah jatuh cinta pada wanita di bawahnya ini. Hingga sekilas senyum terukir di wajahnya,dengan sesekali tetap mendaratkan kecupan-kecupan lembut di setiap sudut wajah Nita. Hingga ia merasakan kedua tangan Nita mulai memeluknya erat,dan tubuh Nita pun mulai menunjukkan reaksi dari gerakannya.


"Syukur lah,, seperti nya aku berhasil." ucap Juan dengan suara yang tersengal dan keringat mulai membasahi tubuhnya yang atletis itu.


"Ju.." ucap Nita. Lidahnya sudah terasa tak lagi keu untuk berbicara.


"Katakan" pinta Juan.


"A..ku.." ucap Nita yang masih terbatas.


"Jangan dipaksakan, tunggu sedikit lagi hingga lidahmu terasa sudah tak lagi kaku." ucap Juan,kemudian ******* bibir dan memainkan lidahnya dalam mulut Nita.


Tiba-tiba Nita mendorong tubuh Juan. Hingga Juan pun terkejut,apakah ia terlalu kasar? pikirnya.


"Cukup..Sudah cukup Juan" ucap Nita yang terdengar sudah lancar.


Juan pun berniat langsung menyudahi nya,namun ternyata hasrat dalam dirinya tak bisa diajak kompromi lagi. Kepalanya sudah terasa berat karena sudah menahannya sejak tadi. Ya,hampir satu jam ia melakukannya. Otaknya sudah tak bisa lagi berpikir jernih.


"Aku tahu ini tidak benar,tapi kenapa tubuhku seolah membenarkan ini? biar bagaimanapun otak ku menolak ini. Tapi hatiku?kenapa? ada apa denganku?" Nita yang tengah berperang dengan dirinya sendiri, hingga itu hilang begitu saja bersamaan dengan pencapaian keduanya.


Untuk beberapa saat Juan masih terdiam dengan pandangan mata sayu namun jelas menelisik melihat wajah Nita. Kemudian ia merebahkan dirinya di sisi Nita yang pasti sedang kacau. Juan mengatur dirinya sesaat, kemudian ia duduk di tepi ranjang dengan membelakangi Nita.


"Apa kau menyesal?" tanya Juan.


"Tidak apa-apa" jawab Nita.


"Bagaimana dengan tubuhmu?" tanya Juan canggung.


"Kurasa sudah kembali normal" jawab Nita.


"Syukur lah..Jangan dulu dipaksa bergerak,mungkin akan terasa sakit. Aku akan membantumu berpakaian nanti." ucap Juan yang telah memakai lagi handuknya.


"Em,tidak perlu. Kurasa aku bisa sendiri. Aku akan langsung mandi." jawab Nita yang berniat langsung beranjak dari tempat tidur nya.


"Aah" pekik Nita yang tiba-tiba merasakan sakit dan kaki di bagian bawah miliknya serta pinggangnya. Juan yang mendengarnya pun terkejut dan langsung mendekati Nita.

__ADS_1


"Apa ada masalah?!!" tanya Juan yang terlihat jelas kepanikan nya.


Nita yang tak nyaman dengan situasi nya pun memilih merebahkan lagi tubuhnya.


"Ah, seperti nya aku masih harus tiduran sebentar lagi." jawab Nita menutupi keadaan nya.


"Baiklah kalau begitu,kau istirahat dulu. 30 menit lagi kita ke rumah sakit untuk melanjutkan pemeriksaan mu." Jelas Juan,kemudian pergi memasuki kamar mandi.


Sepeninggal Juan,Nita menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil menghela nafasnya panjang,kemudian memegangi kepalanya yang masih terasa sedikit berat.


"kenapa harus seperti ini? seandainya aku tidak mau menuruti keinginan Juan,pasti tidak akan begini. Tapi jika mengingat dulu,kini ia sadar kalau tak ada yang perlu di sesali. Mungkin ini sudah takdir." batin Nita.


Dengan perlahan ia memaksakan diri beranjak dari tempat tidur nya, memunguti bajunya satu persatu dan berjalan perlahan menahan sakit menuju kamar mandi lain di rumah itu.


Beberapa saat kemudian Juan telah siap dan sudah menghubungi kakek serta dokter. Ia duduk di ruang tamu menunggu Nita keluar dari kamarnya. Sambil memainkan ponselnya,ia terus memikirkan kejadian tadi, hingga tanpa sadar ia menyunggingkan senyum di wajah nya.


"Haruskah aku berterima kasih pada Yuri yang tanpa ia sadari ia telah menciptakan situasi tadi? ataukah ini memang takdir? Ah,yang jelas saat ini aku merasa lega dan bahagia. Aku pastikan kalau aku tak akan melewati Nita,demi apapun." batin Juan.


"Apakah kita benar-benar harus ke rumah sakit? kurasa aku sudah baik-baik saja." tanya Nita yang tiba-tiba muncul di hadapan Juan.


Juan yang terkejut melihat Nita pun tak langsung menjawab,dipandanginya dulu sosok wanita di hadapan nya kini. Dia sosok wanita dengan penampilan biasa, baju biasa dengan model sederhana yang dipakainya,serta wajah polos tanpa riasan yang justru mampu memikat hati nya. Bahkan saat ini ia dibuat kagum dan terpesona olehnya.


"Juan!" panggil Nita yang menyadarkan Juan dari lamunannya.


"Ah,iya..ya,jadi kamu tetap harus ke rumah sakit untuk memeriksa alergi yang kau miliki dan menghindari efek lain dari obat itu. Aku akan dimarahi kakek dan nenek jika mengabaikan keselamatan mu." jelas Juan.


"Huft,baiklah kalau begitu. Ayo.." jawab Nita lalu mempersilahkan Juan untuk berjalan lebih dulu. Juan yang awalnya sempat tak mengerti pun akhirnya menuruti nya. Ia berjalan santai keluar rumahnya. Hingga ia tersadar saat sudah berada di sisi mobil dsn membuka pintu penumpang dan mempersilahkan Nita untuk naik ke mobil,namun ia baru tahu kalau Nita tertinggal jauh darinya. Terlihat Nita masih berada di depan pintu rumah, berjalan tertatih sambil sesekali memegangi perutnya dan tangan satunya berpegang pada dinding.


"Astaga.." gumam Juan yang terkejut,kemudian berlari menuju Nita dan langsung menggendong nya ala bridal tanpa menunggu ijin dari Nita. Membawanya ke mobil dan mendudukkannya serta memasang kan sabuk pengaman juga.


"Maaf,." lagi-lagi Juan meminta maaf.


"cih,banyak sekali kata maaf yang kamu ucapkan hari ini hei pak direktur." ucap Nita.


"Baiklah,aku tak akan mengatakan nya lagi." jawab Juan dengan ekspresi canggung dan terlihat bersalah,layaknya anak kecil yang tengah meminta maaf pada ibunya karena telah melakukan kesalahan.


"Sudahlah,anda tidak ada salah apapun. Jadi, berhentilah meminta maaf.Aku sungguh tidak apa-apa. Dan aku benar-benar paham situasinya." jelas Nita, membuat Juan lebih lega.


"Jadi,bisa berangkat sekarang?" tanya Nita lagi.


"Ah,tentu." jawab Juan sambil tersenyum.

__ADS_1


****************************************


Terima kasih pembaca setiaku. Sampai titik ini aku sangat-sangat bersyukur ternyata aku bisa lolos kontrak untuk pertama kalinya di NT ini. Sungguh,hal yang sangat tak terduga olehku. Aku yang masih banyak kekurangan ini sungguh sangat membutuhkan dukungan dari semuanya,tak terkecuali kalian. Jadi,mohon terus baca karyaku dan kaos masukan agar lebih baik lagi. Jangan lupa klik VOTE dan LIKE biar aku makin semangat ya.🙏🙏🎊


__ADS_2