
"Ternyata masakan pak direktur enak juga ya,kelas hotel bintang 5" ucap Nita sambil mengunyah makanannya.
"Itu memang jauh lebih baik dari masakan mu" jawab Juan datar.
"Oh,itu aku tahu. Tapi apa kau tahu kalau daging ayam ini terlalu asin?" jawab Nita.
"Aku bahkan tidak menaruh banyak garam. Lidahmu rusak kali." jawab Juan dengan ketus.
"Hai,tuan direktur yang sombong. Bagaimana kau tahu rasanya kalau dari tadi kau hanya mengaduk-aduk makanan yang ada di piring mu itu. Aneh.." ucap Nita yang menyadarkan Juan yang sedang sibuk dengan pikirannya sedari tadi.
"Huft,gak usah cerewet. Lebih baik cepat kau habiskan saja makananmu.!" tukas Juan ketus.
"Baiklah,aku tidak keberatan menghabiskan semua makanan enak ini" jawab Nita dengan girang sambil mendekatkan semua hidangan di meja itu padanya. Melihat itu,Juan pun heran.
"Hei,apa perutmu cukup untuk makan semua ini??" tanya Juan tak percaya.
"Dari pada mubazir,kasian makanan ini sudah di masak. Lagi pula yang masak juga gak mau memakannya jadi lebih baik ku makan saja." jawab Nita santai.
"Siapa bilang aku gak mau makan? aku juga lapar kok. Sini,kemarin ayamnya!." pinta Juan.
"Yeee tadi bilangnya nggak mau. Sekarang malah maksa." ledek Nita. Namun dengan begitu Juan mulai memakan makanannya.
"emm,pak direktur. Sepertinya aku sudah lebih baik sekarang. Makan ku juga sudah banyak. Itu...Em...bolehkah aku.." ucap Nita yang beberapa kali terhenti karena ragu untuk mengatakannya.
"TIDAK BOLEH!!" Juan langsung menjawabnya dengan tegas.
"Hah?? hei,aku belum menyelesaikan kata-kata ku!" sanggah Nita yang merasa tak terima dengan respon Juan.
"Aku sudah tahu apa yang akan kamu katakan." ucap Juan dengan tampang dingin nya.
"Huft,sok tahu.! Memangnya apa yang akan aku katakan hah?!" tanya Nita dengan sinis.
"Kau ingin kembali ke rumah kak Jiwo kan?" jawab Juan.
(hah? bagaimana dia tahu? apa mungkin dia mendengar isi hatiku? apa dia punya kemampuan sakti begitu?) gumam Nita dalam hati,dengan ekspresi terkejut.
"Sudahlah,urungkan niatmu itu. Kakek dan nenek akan kemari menjenguk mu,jadi lebih baik kau tetap disini." tambah Juan lagi.
"Ap..apa? kakek dan nenek akan kesini? kapan? mereka tahu apartemen ini?" tanya Nita yang masih tak percaya.
"Tidak ada yang mereka tidak tahu tentang ku. Bahkan aku yang dulu sempat menumpang di asrama mu juga mereka tahu. Haish orang tua itu entah punya mata-mata berapa banyak hingga semua gerak gerik ku selalu diketahui nya. Kadang aku merasa aku tidak punya ruang untuk menjaga hal yang bersifat pribadi." tutur Juan dengan sedikit mengeluh.
"Tapi kan itu bukan rumah orang lain? Niko juga ada di sana. Dia menungguku,dia pasti khawatir dengan ku. Setidaknya biarkan aku berpamitan dulu dan menjelaskan kenapa aku harus disini. Yah setidaknya bukankah untuk 3 hari?"
"Siapa bilang hanya tiga hari?" tanya Juan.
"Hei,jangan bercanda deh. Kan waktu kemarin kau yang bilang kalau aku disini tiga hari kedepan. Cih masa lupa sih??" sanggah Nita.
"Dan kau sendiri yang bilang kalau selama di Seoul kau akan tinggal disini. Jangan sok pura-pura amnesia. Makanya jangan hanya fokus dengan ponsel mu." ucap Juan yang sontak mengingatkan Nita dengan jawabannya yang asal kemarin.
"Astaghfirullah, Nita bisa-bisa nya kamu ceroboh.!" gumam Nita menyalahkan dirinya sendiri dengan menepuk jidatnya.
Melihat itu Juan hanya berekspresi datar dengan senyuman sinis.
"Sudah ingat? nah sekarang kau sudah tahu harus bagaimana kan? aku sudah selesai, aku ke ruang kerjaku. Kalau kau sudah selesai makan kau boleh kembali ke kamar dan beristirahat lah lagi agar otak mu lebih jernih. Piring-piring ini biarkan saja,nanti ku bereskan. Semoga betah disini." ucap Juan sambil melemparkan tatapan dan senyuman sinis meledeknya pada Nita sebelum ia pergi meninggalkan Nita yang terlihat kesal di tempat duduknya.
__ADS_1
"Astaga,,bodoh..ceroboh kau Nita..sekarang bagaimana caraku bilang pada Niko kalau aku akan tinggal disini? huft" keluh Nita dengan memegang kepalanya. Makanan nya belum habis,namun ia sudah tak berniat untuk menghabiskan nya. Rasanya sudah tak berselera untuk makan lagi.
"Ah aku punya ide. Setelah tiga hari pasti Juan akan kembali ke kantor,nah saat itu biar aku pergi saja ke rumah kak jiwo. ha..ha..kau tidak sebodoh itu Nita..hihi" gumam Nita dalam hatinya sambil tersenyum.
"Ok sekarang ayo bereskan meja makan ini dulu.Semangat!" ucap Nita menyemangati dirinya sendiri.
Sementara Nita tengah mencuci piring-piring kotor di dapur,di ruang kerja Juan tengah memikirkan bagaimana cara mengatasi tuan Aichi. Dia adalah salah satu pemegang saham terbesar di K grup. Jika dia sudah berkeinginan maka tidak ada yang bisa menolak,karena hampir semua keinginannya selama ini adalah demi kebaikan K group. Sementara Juan belum lama mendapat kepercayaan di sana. Makin Bingung lagi karena kakek Kim juga mendukung ide dari tuan Aichi itu. Namun demikian tuan Aichi adalah orang yang bijak. Ia tidak akan memaksakan keinginan yang bersifat pribadi jika memang ada solusi lain.
"Ya,jika saja ada Yuri pasti aku akan mudah menolak rencana perjodohan ini dengan sopan dan akan ku sampaikan bahwa aku akan menikah dengan nya. Tapi masalahnya sekarang adalah,Yuri belum juga ditemukan. Bahkan aku tidak tahu kapan dia akan kembali. Sementara jika sampai hari Sabtu aku tak memberikan jawaban maka mau tidak mau aku harus mau menerima perjodohan ini jika aku tidak mau terjadi sesuatu dengan K group. Terutama hukuman dari kakek. Hah,kepalaku pusing." gumam Juan yang sedang duduk bersandar di kursi kerjanya dengan memijit keningnya yang terasa pusing.
*
"Nita,bagaiman keadaanmu?" tanya Niko di telefon. Ya saat ini Niko dan Nita tengah berkomunikasi melalui telefon.
"Aku sudah lebih baik. Kau tidak usah khawatir." jawab Nita.
"Huft,syukurlah. Kau tahu aku khawatir sekali denganmu. Belum lagi aku yang tidak boleh menemui mu,sungguh itu benar-benar membuatku tak tenang." tutur Niko.
"Maafkan aku Nik, sudah membuat mu khawatir." jawab Nita dengan tidak enak hati pada Niko.
"yah,sudahlah tak apa. Yang penting sekarang kamu baik-baik saja. Lagi pula kau seperti itu gara-gara aku,justru aku yang seharusnya minta maaf padamu." jawab Niko.
"Tidak,bukan salahmu. Ini kan kemauanku. Jadi jangan merasa bersalah begitu" sanggah Nita.
"Hah,kau ini. Ngomong-ngomong apa aku boleh menjengukku sekarang?" tanya Niko.
"Aku tidak yakin itu,karena tiga hari ini setahuku Juan tidak akan pergi ke kantornya. Dia hanya akan merawat dan mengawasi ku di rumah. Alasannya karena kakek dan nenek Kim akan datang menjenguk ku kemari,jika sampai dia tidak dirumah maka dia yang akan kena masalah. Huft,aku tak mengerti dengan hubungan kakek nenek dengan cucu mereka itu. Kok malah aku yang jadi ikutan terkekang begini sih." ucap Nita dengan sedikit mengeluh.
"Hemm,mau bagaimana lagi. Setiap keluarga pasti punya keunikan tersendiri.Tapi disisi lain bukan hanya kamu yang tidak nyaman Nit,tapi aku juga. Aku tidak yakin bisa bertahan tidak mengkhawatirkan mu untuk tiga hari. Baru sehari saja rasanya sudah sangat menyiksaku. Aku tak bisa tidur nyenyak karena memikirkan mu. Parahnya adalah aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi kekhawatiran ku ini,karena aku tak bisa menemui mu langsung."
"Bagaimana kalau itu serius?" ucap Niko yang sontak membuat Nita terdiam beberapa saat.
"Maksudnya?" tanya Nita tak mengerti.
"Maksudnya adalah bagaimana kalau aku serius mengkhawatirkan mu seperti kekasihku" jelas Niko.
"Hah? ya..ya..i..itu wajar si. Aku tahu kepribadian mu sangat baik dan kau berhati lembut juga pada setiap orang,jadi wajar saja.." jawab Nita yang ucapannya terpotong karena Niko.
"Aku serius!" ucap Niko dengan lebih meninggikan nada bicaranya. Dan Nita hanya terdiam karena terkejut dan tak tahu harus berkata apa lagi. Nita bukan wanita yang sebodoh itu untuk tak mengetahui arti dan maksud pembicaraan Niko. Namun ia tak mau salah menilai dan berucap.
"Aku serius dengan perasaan ku. Kau sudah berhasil membuatku merelakan nya, mendiang Hyujin. Aku berhasil mengisi hatiku lagi dengan wanita lain. Dan aku tidak main-main dengan perasaanku. Aku yakin aku sudah jatuh cinta padamu Nita." jelas Niko.
Mendengar itu,Nita tak bisa berkata-kata lagi. Lidahnya kelu untuk berucap. Ia tak percaya kalau kata-kata itu akan lolos dari mulut Niko. Ia tak memungkiri kekaguman nya pada sosok Niko yang ramah dan baik,serta sangat terlihat perhatian pada wanita. Ia tak menyangka kalau perhatian Niko padanya ternyata lebih dari sekedar teman. Nita tidak tahu harus senang atau tidak dengan pernyataan cinta dari Niko. Hingga suara Niko menyadarkan nya dari keterkejutan nya.
"Kau tak harus menjawabnya, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Kau telah berhasil memenangkan hatiku, Nita. Hemm,kalau begitu kau beristirahatlah lagi. Tak perlu terlalu dipikirkan, kondisimu belum begitu baik. Kalau ada kesempatan pasti aku akan langsung menemui mu." ucap Niko ramah.
"Ah..i..iya" jawab Nita yang sedikit tergagap karena ia masih terkejut.
"Eh aku ada kejutan untukmu!" ucap Niko antusias.
"Hah? apa?" tanya Nita penasaran.
"Kau bisa keluar ke balkon?" tanya Niko.
"hah? kenapa?" tanya Nita heran.
__ADS_1
"Cobalah,kau keluar saja dulu." ucap Niko menegaskan lagi.
"Baiklah" jawab Nita sambil membuka pintu keluar ke balkon kamar itu.
"Aku sudah di luar" ucap Nita.
"Ya,aku sudah tahu" jawab Niko.
"Hah? maksudnya apa sih? kejutan apa sih?" tanya Nita yang penasaran dengan maksud Niko.
"Haha,aku senang. Aku bisa melihatmu sekarang." jawab Niko.
"Hei,aku gak mengerti. Apa sih?" tanya Nita yang merasa aneh dengan Niko.
"haha,tengoklah ke kanan. Aku ada di unit sebelah apartemen mu." jelas Niko.
"Hah?" gumam Nita tak percaya dan langsung mengedarkan pandangannya dan tepat saat ia menengok ke sebelah kanan ia melihat Niko yang tengah tersenyum manis padanya sambil melambaikan tangan. Nita membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Halo,hah akhirnya aku bisa melihatmu" ucap Niko masih di telefon nya karena jarak yang tidak terlalu dekat sehingga memerlukan telefon untuk medianya.
"Astaga, bagaimana bisa?" tanya Nita tak percaya.
"Bisa dong,setidaknya aku berada dekat dengan mu. Tak lebih dari 20 meter kan? hehe" jawab Niko dengan tersenyum.
Nita pun hanya membalasnya dengan senyuman juga yang terlihat sangat menenangkan hati bagi Niko.
"Terima kasih" ucap Nita.
"Tak perlu berterima kasih. Aku akan berusaha menjagamu dari dekat. Ya sudah,jangan terlalu lama di luar. Angin nya terlalu kencang. Masuklah,dan beristirahat lah." ucap Niko.
"Baiklah,aku masuk dulu." jawab Nita.
"Eits,satu lagi." ucap Niko menghentikan langkah Nita.
"ya?"
"Lihat sini" pinta Niko.
Saat Nita melihat ke arah Niko,ia makin terkejut karena Niko melingkar kan tangannya di atas kepalanya membentuk bentuk hati. Sungguh,ini hal romantis yang baru pernah ia rasakan selama ini. Rasa yang membuncah dalam hatinya,namun entah kenapa ia tak mampu langsung membalas pernyataan Niko. Ia hanya mampu tersenyum senang melihat Niko dan apa yang dia lakukan untuknya.
"Kau harus tahu kalau aku mencintaimu" ucap Niko lagi setelah ia menurunkan tangannya karena meletakkan ponselnya di telinganya lagi. Nita hanya membalasnya dengan senyuman.
"Masuklah" ucap Niko.
"Terima kasih" ucap Nita,kemudian ia melangkah kembali masuk ke kamar setelah ia mematikan telefon nya dengan Niko. Begitupun dengan Niko.
Di kamar Niko,ia membaringkan tubuhnya dan melihat ke langit-langit kamarnya. Hatinya tengah merasa lega dan bahagia karena ia telah meluapkan perasaannya pada Nita. Ia tenang telah menyatakan cinta nya pda Nita. Dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya,ia kembali membuka layar ponselnya dan mengganti nama nomor ponsel Nita dengan nama kesayangan nya untuk Nita. "My Darling". Niko tersenyum melihat nama yang telah ia ketik untuk menandai nomor ponsel Nita.
***
AUTHOR
Alhamdulillah wasyukurillah,semoga aku dan kalian semuanya selalu diberikan kesehatan supaya aku bisa selalu up dan kalian setia membaca karyaku.Amin
Tetap dukung aku ya,,klik LIKE nya jangan lupa.🤗
__ADS_1
THANK YOU.🙏🙏