
Nita,kakek dan nenek Kim sudah duduk mengitari satu meja makan.
Nita mengambilkan beberapa lauk untuk kakek dan nenek Kim. Mereka terlihat bahagia dan begitu menikmati makan malam itu.
"Asisten Song,apa anak nakal itu masih belum menyelesaikan pekerjaannya?" tanya kakek Kim. Yang dimaksud nya adalah Juan.
"Ah,seharusnya sudah selesai tuan." jawab asisten Song yang berdiri tak jauh dari kakek Kim.
Sebenarnya Nita agak kurang nyaman dengan situasi ini,ia tak biasa makan sendiri sementara ada pelayan dan asisten Song yang hanya berdiri di sekitarnya tanpa ikut menikmati makanan bersama. Namun mereka menolak ajakan kakek Kim tadi.
"Apa kau sudah bertemu dengan Mimi?" tanya kakek Kim lagi.
"Sudah tuan,semua pesan tuan juga sudah saya sampaikan pada nona Mimi." jelas asisten Song lagi.
"Syukurlah." ucap kakek Kim. Kemudian melanjutkan makannya.
"Kalian mau tambah lagi?" tanya Nita.
"Sudah cukup Nita,kita sudah tua dan tak baik untuk makan terlalu banyak. Seharusnya kau yang tambah lagi Nita, makanlah yang banyak agar kau cepat pulih." tutur nenek Kim.
"Ah,aku juga sudah sangat kenyang nek. Perutku sudah tak mampu lagi diisi hehe." jawab Nita.
"Bagus..Kita senang melihat mu sehat dan bahagia. Semoga kami bisa melihat mu menikah suatu hari nanti ya.Karena itu,dimana pun dan dengan siapa pun kau menikah maka kau harus memberi tahu kami. Yah.." tutur nenek Kim yang duduk di sebelah Nita sambil mengusap lembut pipi Nita.
"ehm..itu..tentu.Karena itu kalian harus banyak makan supaya selalu sehat,dan aku akan sangat senang jika ada kalian di hari pernikahan ku nanti." jawab Nita dengan senyum.
"Siapa yang akan menikah?" tanya seseorang yang baru datang dengan suara Barito nya. Sontak yang berasal ruang makan itu pun menoleh ke sumber suara.
Terlihat Juan tengah berjalan memasuki ruang makan itu.
"Maaf kek,nek aku sedikit terlambat." ucapnya lagi sambil menarik kursi di hadapan Nita dan menduduki nya.
"Haish anak ini benar benar membuat ku sebal saja. Hei dari mana saja kau baru datang? apa kamu tidak melihat jam?" omel kakek Kim yang terlihat tak senang karena Juan yang datang terlambat.
"Bukankah kakek tahu kalau aku ini sibuk? dan lagi aku juga tak hanya sibuk di perusahaan ku saja tp di K grup jg." ucap Juan sambil mengambil makanan yang ada di hadapannya.
"Hei,apa kau tidak sempat makan juga?" tanya nenek yang melihat Juan langsung menyantap makanan nya.
"Lebih tepatnya belum dari pagi." jawab Juan yang tengah mengunyah makanannya.
"Makanya cepatlah menikah agar ada yang mengurus mu dengan baik." ucap kakek Kim.
"Aku sudah dewasa kek,aku bisa mengurus diri sendiri jadi kakek tidak perlu mendesak ku untuk menikah. Itu tidak penting. Yang terpenting adalah bisnis." sangkal Juan dengan dingin.
"Dasar anak nakal.!!" maki nenek Kim sambil tiba-tiba memukul kepala Juan dengan sumpit.
__ADS_1
"Awww!!! nek.!! apa salahku?" Rajuk Juan pada nenek Kim. Sebenarnya pukulan nenek Kim tak sakit sama sekali,hanya saja ia senang mencari perhatian dan bermanja dengan neneknya itu.
"Masih tanya apa salahmu? astaga,apa kau berniat melajang seumur hidupmu hah?? nenek juga ingin menggendong cucu buyut dari mu. Lalu kalau kamu tidak menikah dan melanjutkan keturunan keluarga maka siapa yang akan melanjutkan bisnis kita hah?? Bukan nominal kekayaan nya tapi coba kau pikirkan,ada ribuan karyawan kita yang bergantung hidup di bisnis kita. Mereka menghidupi dan membiayai kebutuhan keluarga,istri,anak mereka dari bekerja di perusahaan kita. Atau...atau jangan-jangan benar gosip kalau kau seorang homo ya? astaga Juan!! nenek sudah tidak bisa lagi berbelas kasih padamu anak nakal." tutur nenek Kim yang terdengar emosi namun mulai putus asa karena ucapannya sendiri,sambil memegangi pelipis karena kepalanya tiba-tiba terasa pusing.
"Nek, tenang dulu. Ini minumlah" ucap Nita sambil memberikan air putih pada nenek Kim untuk menenangkannya.
"Kau lihat kan?!! bisa-bisanya kau Setega itu Juan!" bentak kakek Kim.
BRAKKK!!! Juan tiba-tiba menggebrak meja makan di depannya,sontak mengagetkan semua orang yang ada disana.
"DIAMLAH!!.." ucap Juan dengan nada tinggi,hingga semua orang hanya bisa terpaku kaget dan menutup mulutnya rapat-rapat. Tak terkecuali Nita yang tangan dan kakinya gemetar mendengar bentakan Juan yang terdengar begitu menakutkan baginya. Wajahnya pun memucat dan matanya seolah tak mau berkedip.
"Astaga,kek nek. Kalian tenang lah, tidak usah berpikir berlebihan begitu. Aku pria normal,aku bukan pecinta sesama jenis,dan aku pasti akan menikah dan pasti akan memberikan cucu buyut untuk kalian. Tapi tolong,beri aku waktu. Jangan desak aku dengan si Mimi itu. Aku sungguh tak ada sedikitpun perasaan padanya, aku tidak mau menikahinya hanya karena bisnis. Nenek pasti tidak mau menyakiti hati Mimi karena aku tidak bisa memberikan cinta untuknya kan? aku akui dia gadis yang baik, penurut, pintar dan ceria, namun sejak kecil aku hanya menganggapnya sebagai adik. Tidak lebih dari itu, dan aku tidak berpikir kalau aku akan menikahi adikku sendiri. Dia layak mendapatkan pria yang juga mencintainya. Dan itu bukanlah aku kek, nek. Tolong untuk urusan pernikahanku biarkan aku yang menentukan sendiri. Jangan ikut campur urusan pernikahan dan rumah tanggaku nanti." jelas Juan dengan raut wajah bersalah.
Semuanya masih sama-sama terdiam,hingga beberapa saat kemudian kakek Kim membuka suara.
"Sabtu,hingga Sabtu kau harus sudah membawa gadis pilihanmu. Kalau tidak maka kamu harus menerima dan berusaha mencintai Mimi,walaupun harus diawali terpaksa." jawab kakek Kim.
"Tapi kek.." ucap Juan bermaksud menyanggah namun dipotong oleh kakek Kim.
"Itu berarti satu Minggu dari sekarang. Terserah padamu, namun ini demi kebaikan bersama. Dan kakek harap kamu tidak egois. Kau tahu akibatnya untuk perusahaan kalau beredar kabar bahwa kamu pecinta sesama jenis kan? kakek harap kamu mengerti dan segeralah ambil keputusan yang tepat." ucap kakek Kim yang kemudian beranjak dari duduknya meninggalkan ruang makan itu. Diikuti dengan nenek Kim yang ingin istirahat sebentar karena merasa pusing. Sementara Nita masih terpaku di tempat duduknya karena masih tak tahu harus bagaimana, mulai dari kagetnya yang belum hilang hingga harus melihat perdebatan antara kakek Kim dan Juan yang terlihat begitu menegangkan baginya.
(aku ingin secepatnya pergi dari tempat ini, aku tidak mau berada di situasi seperti ini.hiii menyeramkan. Lebih seram dari film horor) batin Nita.
"Ehem..ma..maaf Juan. Ka..kalau begitu a..aku permisi ke toilet dulu." ucap Nita dengan tergagap karena masih gemetar.
(Bagaimana bisa masalah pernikahan bisa lebih rumit dari masalah bisnis) gumam Juan dalam hati.
**
"Astaghfirullah" ucap Nita setelah ia membasuh wajahnya dengan air dan menarik nafasnya dalam kemudian menghembuskannya untuk menenangkan dirinya. Ia melihat pantulan wajahnya di cermin di hadapannya, wajahnya yang saat ini terlihat hampir polos tanpa make up,hanya terlihat sedikit sisanya,sehingga dengan jelas memperlihatkan ketakutannya.
"Tenang Nit,anggap kau tak pernah melihat kejadian tadi. Ok" ucap Nita pada dirinya sendiri seraya tersenyum lalu pergi menuju ruang makan lagi untuk mengambil tas nya yang tertinggal disana.
"Wah,kemana Juan? syukurlah sudah tidak ada disini." gumam Nita,setelah sampai di ruang makan dan mengambil tasnya yang ada di kursi tempat nya duduk tadi.
"Tuan muda sudah ke kamarnya non. Apa mau saya panggilkan?" tanya Suli yang tadi mendengar gumamman Nita.
"Ah,tidak tidak. Tidak usah,biarkan saja dia. Aku tidak ada keperluan dengannya kok. hehe" jawab Nita cepat mencegah Suli.
"Baik nona" jawab Suli,kemudian dia melanjutkan membereskan meja makan itu.
"Eh,maaf Suli. Kalau kakek dan nenek dimana ya?" tanya Nita ragu.
"Tuan dan nyonya besar juga sudah berada di kamarnya. Apa lagi tadi nyonya besar sempat pusing sehingga barusan saya langsung mengantarkan obat pada beliau,jadi kemungkinan saat ini beliau sedang beristirahat." jelas Suli.
__ADS_1
"Oh begitu, ya sudah kalau begitu aku pamit pulang dulu ya. Kalau kakek dan nenek Kim mencari ku tolong sampaikan kalau aku pulang dulu. Mereka tidak usah khawatir. Istirahat saja dan jaga kesehatan " ucap Nita.
"Baik nona, akan saya sampaikan." jawab Suli sambil membungkuk kan badannya sedikit untuk menghormati Nita.
"Terima kasih Suli. Kalau begitu saya pergi dulu, ah jangan diantar juga. Biar asisten Song juga istirahat. Aku bisa pulang sendiri,aku sudah memesan taksi on line kok." ucap Nita.
"Sama-sama nona. Kalau begitu hati-hati dijalan nona" jawab Suli.
"Baiklah" ucap Nita.
Setelah itu Nita pun berjalan menuju pintu keluar rumah itu hingga melewati gerbang dan ia berdiri di tepi jalan menunggu taksi yang sudah dipesannya.
Tin..tin..
Suara klakson mobil mengagetkannya. Hingga mobil itu berhenti tepat di hadapannya dan kaca mobil pun terbuka. Nita pun sedikit melirik melihat siapa yang ada di dalam mobil itu.
"Surprise!!" ucap Niko dari dalam mobil dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Niko??" ucap Nita yang tak percaya ada Niko di hadapannya.
"Ya,ini aku. ayo masuklah." ucap Niko.
Nita pun tersenyum juga dan tanpa berpikir panjang ia pun membuka pintu mobil Niko dan mengambil duduk di kursi samping Niko yang tengah memegang kemudi.
"Sabuk pengaman mu" ucap Niko sambil meraih sabuk pengaman Nita dan memasangkan nya.
(UPS,ini terlalu dekat) gumam Nita dalam hati saat wajah Niko terlihat begitu dekat dengannya.
KLEKK
"Selesai,yuk kita jalan" ucap Niko yang langsung memegang kemudinya kembali dan melajukan mobilnya.
Sementara seseorang tengah melihat semua itu melalui layar laptop memantau sisi TV di rumah itu. Ya,siapa lagi kalau bukan Juan yang tengah berada di meja kerjanya sambil melihat situasi rumah itu.
Grrtttt
Rahang Juan mengeras, matanya tajam menatap rekaman CCTV di hadapannya itu,serta tangannya mengepal menahan marah karena tidak suka melihat kedekatan Nita dan Niko.
Juan yang dengan santai memasuki ruang makan rumah utama kakek dan nenek kim.
****
AUTHOR
__ADS_1
SELAMAT BERMALAM MINGGU SEMUANYA,SEMOGA "INIKAH CINTA" BISA MENEMANI MAlAM MINGGU KALIAN. JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN NYA HA. THANK YOU.🙏🤗