Inikah Cinta

Inikah Cinta
109


__ADS_3

Setahun berlalu,kini Nita tinggal di desa kecil di kota Y, sebuah desa di dekat pegunungan berjarak hampir satu jam dari pusat kota. Selama ini ia sengaja tinggal berpindah-pindah untuk menghindari Juan. Walau ia tak yakin kalau Juan masih mencari nya, namun tidak ada salahnya berjaga-jaga pikirnya.


"huft,aku lelah sekali" gumam Nita yang masih terbaring di tempat tidur nya sambil melihat ke arah jendela kamarnya yang terlihat masih gelap karena hari masih subuh.


Nita masih enggan beranjak dari tempat nya, namun hati dan pikiran nya berkata lain. Matanya sudah enggan di pejamkan lagi,dan pikirannya pun teringat pekerjaan nya. Andaikan ia bisa menikmati hari dengan bersantai barang sehari saja. Tapi,itu hanya andaikan. Kenyataan nya dia harus secepatnya beranjak dari tempat tidur nya kalau tidak mau sampai telat sampai ke tempat kerjanya.


Setelah sholat subuh dan bersiap,ia segera pergi ke tempat kerjanya yang berada di tengah kota tempat nya tinggal sekarang. Tak lupa ia minta ijin pada orang tuanya.


"Pak,Bu..Nita berangkat dulu ya." sambil mencium tangan kedua orang tua nya yang sudah duduk di meja makan.


"Lho,kamu gak sarapan dulu nak?" tanya ibunya.


"Nanti aja Bu,ini dah telat." Jawab Nita yang terlihat terburu-buru sambil meraih sepotong gorengan yang ada di meja makan.


"Tunggu!!" cegah ayahnya,dan Nita pun menghentikan langkahnya.


"Bu, bungkus kan saja untuk bekalnya." lanjutnya.


Ibunya dengan cekatan mengambil kotak makan dan mengisinya dengan nasi dan lauk sederhana yang sudah ia masak. Lalu memasukkan nya dalam tas ransel yang dipegang Nita.


"Terima kasih Bu." ucap Nita, dijawab anggukan oleh ibu dan ayahnya.


Dengan penuh semangat Nita mengayuh sepeda nya menuju halte bus yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumahnya. Dari sana,ia harus naik bus hingga ke terminal yang terdekat dengan tempat nya kerja.


Ia bekerja di sebuah minimarket mulai jam 7 pagi hingga jam 3 sore. Setelah itu ia akan melanjutkan nya dengan kerja part time di sebuah restoran cepat saji tak jauh dari sana hingga pukul 8 malam. Dan itu ia lakukan setiap hari Senin hari tanpa libur. Walaupun sebenarnya setiap hari Sabtu hanya setengah hari dan Minggu nya libur, namun ia lebih memilih menggantikan pekerjaan rekannya untuk bekerja. Ia tak suka saat di rumah di akhir pekan. Karena ibunya akan mengenalkan nya dengan anak para sahabatnya untuk dijodohkan. Yang paling membuat nya malas adalah ayahnya yang hanya bisa diam dengan tindakan ibunya,seolah mendukung. Memang si,itu demi kebaikan nya dan itu karena mereka mengkhawatirkan nya. Jelas saja,di usia nya saat ini umumnya sudah mempunyai seorang anak,bahkan temannya ada yang sudah punya dua anak. Ibunya sudah ingin menimang cucu darinya. Tapi bagi Nita, ia masih belum berkeinginan untuk menikah. Apalagi dengan kejadian yang sudah menimpa nya. Sekedar untuk berpacaran pun ia tidak mau,ia lebih memilih menjaga jarak dengan rekan pria nya. Karena ia tidak mau terkesan memberikan harapan, yang malah akan mengecewakan jika dia tahu kondisinya.


"Silahkan datang kembali." ucap Nita pada pelanggan yang datang di minimarket itu.


"Nit,hari ini Toni gak bisa berangkat. Keluarga nya ada hajatan katanya. Jadi nanti toko tutup lebih awal saja setelah jam nya kamu selesai ya. Oh iya,biar kamu gak kerepotan sejam lagi kita beberes. Karena saya juga ada janji dengan istri saya." jelas pak Yudi pemilik minimarket itu.


"Lho,ini baru jam 12 siang pak. Berarti jam 1 kita tutup?" tanya Nita.


"Iya,kamu bisa pulang dan istirahat lebih awal."


"Tapi saya sudah menerima layanan pesan antar ini pak,untuk jam 2 siang. Gak jauh sih,hanya ke perumahan elit di Jalan Aster itu."


"Duh, batalkan saja gapapa Nit. Bilang saja petugas pengantar nya sedang kosong." perintah pak Yudi.


"Mm,gapapa pak. Biar nanti saya saja yang antar,bisa sekalian pulang."


"Lho,kamu kan gak ada motor? mau naik bis? kamu bawa barang lho. Pesanannya banyak gak?"


"Iya pak, gapapa. Nggak terlalu banyak kok,lagian kalau dibatalkan takutnya ngefek ke pelanggan yang lain. Apalagi tadi Check out pesanan nya di jam 9 pagi."


"Ya sudah lah, terserah kamu saja. Tapi tetap jam 1 toko tutup ya." perintah pak Yudi, kemudian ia pergi ke ruangan nya.


"Baik pak." jawab Nita.


Ting...


"Nit,aku dilamar.hihi" sebuah pesan masuk dari Desi.


"Wah, selamat ya Des. Semoga lancar sampai hari H nanti ya." balasnya.


"Nanti malam acara tunangan nya."


"Kalau gitu kamu harus bersiap dong."


Drrrtt


"Halo,kenapa malah telfon? aku masih kerja nih." Ucap Nita.


"Aku gak sabar.! kamu pulang jam berapa? nanti malam datang ke rumah ku." jawab Desi.

__ADS_1


"Seperti biasa. Kenapa si?"


"Ya elah,kan tadi aku dah bilang kalau aku dilamar,ya nanti malam acara tunangan ku. Sekalian menentukan tanggal pernikahan ku. Dan,kamu wajib datang dong." jelas Desi dengan memaksa.


"Hmm,iya iya. Aku usahakan." jawab Nita.


"Pokoknya harus. Oke.! Awas aja kalau gak datang, nanti aku marah."


"iya..iya.."


"Ya sudah,sampai nanti. Ingat,aku tunggu lho.Bye." ucap Desi, kemudian mematikan telefon nya.


Beberapa saat kemudian pak Yudi pamit pulang terlebih dahulu. Setelah menutup toko,Nita sholat dhuhur dan bersiap mengantarkan pesanan ke jalan Aster. Dengan membawa sebuah kardus ia naik ojek menuju ke sana.


"Makasih ya pak." ucap Nita pada kang ojek itu.


"Sama-sama mbak." kemudian ojek itu pun pergi.


"Wah,memang gak salah sih ini dibilang perumahan elit. Dari gerbang masuk dah keliatan rumahnya bagus semua. Tapi ini bener kan alamat nya? kok rumahnya gak keliatan dari depan? gerbang nya tinggi banget sih." gumam Nita sambil melihat alamat yang tertera di ponselnya.


"Benar kok, Perumahan aster nomor.13."


Kemudian,ia berjalan menuju pintu dan memencet tombol bel yang ada di sana.


"Selamat siang,ada yang bisa kami bantu?" ucap seorang security yang membuka satu sisi pintu gerbang itu.


"Iya,maaf pak. Saya dari minimarket,mau mengantar pesanan atas nama ibu Minah. Benar, ini rumahnya?" jawab Nita.


"Benar. Silahkan masuk."


"Oh,gak dititipkan ke bapak saja? ini sudah dibayar transfer kok. Soalnya saya buru-buru."


"Maaf mbak,saya gak boleh meninggalkan tempat kerja saya selain waktu istirahat." jelas security itu.


"Wah,gila si ini. Dah kaya rumah orang kaya luar negeri aja. Jarak dari gerbang ke rumah nya lebih dari 500 meter. Huft,bisa makin langsing nih kalau tiap hari kayak gini. Tinggal pulang aja harus jalan kaki sejauh ini. Eh,tapi orang kaya kan naik mobil pasti.Orang kaya mah bebas." gumam Nita yang sudah kelelahan berjalan kaki dengan membawa barang.


Sesampainya di depan pintu,ia mencet bel. Menunggu beberapa saat.


"Rumah sebesar ini kok sepi banget sih? pada kemana orangnya?" gumam Nita. Pasalnya sudah memencet bel 2X belum juga ada yang keluar membuka pintu.


Drrrtt


"Halo.." Jawab Nita. Temenin aku treatment." ucap Desi.


"Rempong amat si Des.? Mending kamu bantu ibumu masak di rumah."


"Itu dah diurus ibuku,ini malah ibuku yang suruh. Katanya biar aku terlihat lebih cantik. Dah ah, pokoknya kamu ke sini." tut.. Pinta Desi,yang langsung mematikan telefon nya lagi.


"Benar-benar deh anak itu." gumam Nita, kemudian menoleh. Dan tak menyadari kalau seseorang sudah berdiri di depan pintu menunggu nya.


"Ah,maaf Bu. Selamat siang,saya dari minimarket mau mengantar pesanan atas nama Bu Minah. Benar?" ucap Nita.


"Gapapa mba. Benar,saya Minah. Saya yang minta maaf malah, karena mbak nya jadi lama menunggu. Tadi saya sedang tanggung goreng ikan jadi takutnya gosong." jelas Bu Minah.


"Ah, gapapa Bu. Kalau begitu,ini pesanannya Bu. Ini tanda terima nya juga tolong di tanda tangani. Mau di cek dulu?" jelas Nita.


"Eh,anu mba. Maaf merepotkan lagi,ini tangan saya kena minyak panas tadi. Boleh minta tolong di bawakan ke dalam? Mohon maaf sekali." ucap Bu Minah yang terlihat tidak enak.


Nita yang melihat lengan Bu Minah yang terlihat jelas merah karena cipratan minyak itu pun langsung mengiyakan permintaan Bu Minah.


"Taruh di sini saja mba." pinta Bu Minah,dan Nita pun menuruti nya.


"Ini tanda terima nya tolong ditanda tangani dulu Bu." ucap Nita setelah meletakkan pesanan Bu Minah. dan Bu Minah langsung menandatangani nya.

__ADS_1


"Mba, sebentar. Ini saya sudah siapkan jus jeruk. Di minum dulu, sambil istirahat ya." pinta Bu Minah yang sudah menyiapkan segelas jus dan sepiring kue di meja makan di sana.


"Duh,ibu terima kasih banyak." jawab Nita sambil menarik kursi lalu duduk dan meraih jus dan meminumnya.


"Siapa yang datang bi?" tanya seorang pria dengan berbahasa Inggris.


"uhuk.." Nita yang sedang minum tiba-tiba tersedak mendengar suara pria tadi,sekilas ia mengingat pemilik suara itu.


"Oh,ini petugas pengantar barang dari minimarket tuan. Saya yang pesan." Jawab Bu Minah dengan bahasa Inggris juga.


"Ooh.." jawab pria itu sambil berjalan pergi meninggalkan Bu Minah. Seperti nya ia sedang sambil ber telefon.


"Kamu gapapa mba?" tanya Bu Minah pada Nita.


"Gapapa Bu. Maaf, tadi saya sedikit terkejut pas sedang minum." Jawab Nita.


"Wajar mba,ah itu tadi pemilik rumah ini. Alias majikan saya. Dia baru datang kemarin." jelas Bu Minah.


"Oh gitu. Orang Inggris ya Bu?" tanya Nita.


"Bukan, katanya orang Jepang atau Korea gitu mba. Ini juga saya baru pertama kali ketemu. Beliau baru pertama kali ke sini. Biasanya saya cuma mengurus rumah ini tanpa majikan. Paling asisten nya aja yang datang ngecek seminggu sekali. Eh,ini kue nya silahkan dicicipi mba." Jelas Bu Minah yang membuat Nita merasa curiga.


"Ah,sudah cukup Bu. Ini saya buru-buru sudah ditunggu teman. Kalau gitu saya pamit ya Bu. Terima kasih jus nya." ucap Nita yang langsung bergegas pergi dari rumah itu.


Ia melangkah kan kaki nya dengan cepat, sesekali ia juga berlari. Ia ingin cepat meninggalkan rumah itu,karena takut kekhawatiran nya benar. Tanpa ia sadari seseorang dari balkon lantai dua melihat nya.


"Sudah mba?" tanya pak security di gerbang saat Nita sampai di sana lalu membuka pintu gerbang nya untuk Nita. Dan Nita mengangguk ramah sambil tetap berjalan melewati nya. Setelah di luar, nafasnya baru terasa lega. Namun ia tetap tak mau berlama-lama di sana. Ia segera berlari agar cepat menjauh dari rumah itu.


"Bi Minah,siapa wanita tadi?"


"Itu petugas pengantar dari minimarket tuan." jawab Bu Minah.


"Siapa Namanya?"


"Duh, saya gak tahu tuan."


"Sial.!! apa wanita tadi sudah pergi? cepat kejar dia!!" perintah nya pada security rumah itu.


Bi Minah yang mendengar nya pun di buat bingung. Pasalnya tuan nya baru saja berbicara dengan bahasa Indonesia yang terdengar cukup fasih. Dan lagi,ada apa dengan mbak petugas minimarket itu? Bi Minah bertanya-tanya dalam hati. Masih ditambah lagi tuan nya itu langsung berlari keluar rumah seolah tak sabar menunggu.


"Apa dia sudah kenal seseorang disini? padahal kan ini pertama kali beliau datang ke kota ini." gumam Bu Minah.


"Dimana dia?!"


"Maaf tuan Juan,saya kehilangan jejak nya. Seperti nya dia sudah langsung naik kendaraan umum begitu keluar dari area perumahan ini." jawab pak Toni.


"Sial.!! cepat cari tahu semua tentang dia.!! Saya tunggu di ruang kerja saya.!!" perintah Juan yang terlihat kesal,lalu pergi meninggalkan pak Toni yang juga dibuat bingung dengan tuan nya itu.


Pak Toni pun gerak cepat mencari tahu tentang Nita. Ia bertanya dengan Bi Minah dan mengecek CCTV di gerbang utama Perumahan aster itu,kemudian melaporkan nya pada Juan.


"Baiklah. Kau boleh pergi." perintah Juan pada pak Toni.


"Baik tuan."


"Bi Minah,besok buat pesanan lagi ke minimarket itu. Buat agar wanita itu yang mengantar lagi."


"Baik tuan." jawab Bu Minah.


"Satu lagi,buat agar dia mengantar di jam 5 sore." tambah Juan lagi.


"Baik tuan." kemudian Bu Minah meninggalkan ruangan itu.


"Nita,aku yakin itu kamu. Akhirnya,aku menemukan mu setelah satu tahun." gumam Juan dengan melihat layar ponsel nya yang terpampang foto Nita di sana.

__ADS_1


__ADS_2