Inikah Cinta

Inikah Cinta
107


__ADS_3

"Aku ingin sendiri,tolong tinggalkan aku sendiri." ucap Nita pada Juan.


"Baiklah,nanti malam aku kesini lagi." jawab Juan agak kecewa.


"Nanti malam juga aku masih ingin sendiri. Maaf." jawab Nita kembali datar dengan pandangan berpaling dari Juan. Meski Juan merasa kecewa karena terus mendapat penolakan dari Nita secara tiba-tiba,tapi ia berusaha memahami. Mungkin karena ia masih sakit dan masih canggung dengannya.


"Baiklah. Kalau kamu butuh sesuatu langsung hubungi aku." jawab Juan yang masih ragu untuk meninggalkan Nita. Sungguh,ia dibuat bingung dengan perubahan sikap Nita yang sangat tiba-tiba itu. Pasalnya hingga mereka sampai di rumah sakit, dan hingga kakek dan nenek Kim pulang,Nita masih terlihat ramah dan masih mau menatapnya dan tersenyum sekilas. "Apa mungkin itu cuma pura-pura karena ada kakek dan nenek?" tanya Juan dalam hatinya sambil berjalan menuju mobilnya.


Nita yang kini sendiri di ruang perawatan nya pun merasa sepi, dipandanginya langit-langit di kamar berwarna putih itu. Masih terngiang di telinga nya suara ibunya yang menelfon nya dalam keadaan sakit dan kembali menanyakan keputusan nya atas lamaran tuan David. Ia masih bingung harus berkata apa pada ibunya. Jika hari ini tidak ada kejadian itu,mungkin ia akan dengan terpaksa menerima nya. Walaupun pasti ia akan menyakiti hati Niko. Tapi itu yang terbaik,karena ia tahu keluarga Niko tak mungkin mau menerima nya. Apa lagi jika Niko harus pindah keyakinan. " Tapi, bagaimana dengan Juan? Bukankah ia juga non muslim Lalu,apa yang telah kita lakukan hari ini jelas itu tidak benar. Walaupun ia mencoba menerapkan tata cara Islam."


Badannya yang lemah terasa makin tak bertenaga dan tak bersemangat karena memikirkan nya. Hingga tiba-tiba ia dikejutkan dengan seseorang yang menerobos masuk ke ruangannya tanpa aba-aba.


"Nita.!! apa yang terjadi padamu? hosh..hosh.." seru Niko begitu ia membuka pintu dan langsung menuju Nita. Dengan nafas memburu serta keringat mengucur karena berlari,dan wajah putih nya yang terlihat khawatir.


"Niko? bagaimana bisa kamu tahu aku disini?" tanya Nita.


"Seharusnya kamu menjawab ku dulu. Kau tahu? betapa khawatir nya aku? Jika aku tidak menghubungi ke kantor Juan,mungkin aku tidak akan pernah tahu. Kenapa kamu tidak memberitahu ku?" cecar Niko.


"Ah,itu. Bukan apa-apa,aku hanya kelelahan jadi kamu tidak usah khawatir. Lihatlah,aku sehat kan?" jelas Nita sambil bergaya menunjukkan otot lengannya layaknya binaraga.


"Cih, sudah lah. Aku tidak akan mempan di tipu. Mana ada orang sehat yang dirawat di rumah sakit. Kau pikir aku tidak tahu? Kamu sampai harus dirawat di sini karena Juan kan? dia pasti menyuruh mu mengerjakan pekerjaan rumah tanpa henti sepulang kerja kemarin kan? hingga kamu sakit begini. Dasar pria itu, harus dikasi pelajaran." ucap Niko dengan menggebu.


"Ish,sudah ku bilang bukan. Ini cuma kelelahan biasa kok. Salahku yang terlalu semangat bekerja. Hehe"


Niko terdiam sambil serius menatap mata Nita seolah sedang mencari kejujuran di sana. Begitu juga Nita yang juga memilih diam karena jelas sebenarnya ia sedang berbohong pada Niko. Jantung nya dag dig dug tak karuan takut Niko sadar kalau Nita sedang berbohong.


"Huft, baiklah. Apa kau sudah makan?"


"Aku belum ingin makan apapun Nik." jawab Nita,namun Niko hanya diam dan memasang ekspresi cemberut.


"Cih,hei.! itu gak lucu tahu. Sudah gak cocok kau memasang ekspresi begitu di usiamu sekarang.Wee" sanggah Nita dengan meledek Niko.


"Hmm,kau ini memang Ratu menyebalkan yah? Oke, kalau begitu sekarang apa yang kamu inginkan? Apapun itu pasti akan aku kabulkan.Ayo, minta dong??"


"Haha,memangnya kamu jin nya Aladin?"


"Nah,gitu dong. Setidaknya aku bisa melihat wajahmu yang lebih cerah dengan sedikit tertawa,yah..walaupun aku bukan Aladin,tapi akan aku usahakan mengabulkan permohonan mu wahai kurcaci."


"Pfft,,hei,aku tak sekecil itu untuk disebut kurcaci tahu!!"


"haha,maaf. Aku cuma bercanda kok."


"Tidur.!"


"hah? maksud mu kamu mengajak ku tidur gitu?" tanya Niko antusias.


"haish,bukan!! tapi aku mau tidur. Jadi,lebih baik kamu cepat pulang wahai om jin." jawab Nita dengan memasang ekspresi senyum namun datar seolah mengusir Niko secara halus.


"Hiks,wahai kurcaci cantik,tolong ganti permintaan mu dong. Aku masih ingin disini menemani mu. Please." rayu Niko.


"No..No..Lagi pula yang mulia kurcaci cantik ini sedang lelah dan kau tahu sekarang aku sedang di rumah sakit,maka tandanya aku disuruh istirahat. Kau tahu kan?"

__ADS_1


"Huft,baik lah. Aku akan pergi. Kalau butuh sesuatu kau harus memberitahu ku. Jangan abaikan telfon ku ataupun pesan dariku. Kalau kamu tidak ingin aku langsung lari ke sini." jawab Niko dengan terpaksa.


"Hoamm" jawab Nita dengan berpura-pura menguap ngantuk.


"5 menit lagi deh.?" Niko masih berusaha memohon pada Nita. Namun hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Nita.


"Oke,Aku menyerah. Ah,ini aku bawa kue stroberi, makanlah nanti begitu kamu sudah bangun." ucap Niko sambil meletakkan sebuah paper bag di atas meja.


"Sekali lagi,aku selalu mendukung mu. Jangan kau tanggung sendiri semua beban mu. Datang lah padaku kapanpun kau mau. Kau mengerti kan?" jelas Niko yang kali ini terlihat serius namun penuh perhatian. Nita menjawabnya dengan mengangguk.


"Kalau begitu,aku pergi dulu.Selamat beristirahat." ucap Niko, kemudian pergi meninggalkan Nita sendiri di kamar itu.


Saat Nita akan merebahkan tubuhnya, tiba-tiba ponsel nya berdering.


"Halo,siapa ini?"


"Hei,wanita jal*ng. Kau pasti hafal dengan suara ini kan?" jawab seseorang di seberang telfon.


"Yuri?" tanya Nita.


"Ya,ini aku. Apa kau terkejut?"


Nita mengepalkan tangannya begitu mendengar pengakuan Yuri, amarah di dada nya seakan membuncah,ingin sekali menjambak dan memukul wanita cantik namun licik itu.


"Puas kau hah?!!" ucap Nita dengan amarahnya.


"Hahaha,itu lah hukuman untuk mu. Bagaimana rasanya? kira-kira pria beruntung mana di jalanan yang berhasil menci**pi mu?" ejek Yuri,seolah puas dengan apa yang terjadi pada Nita.


"hahaha,ini peringatan dariku untuk terakhir kalinya. Segera tinggalkan Juan kalau kau tidak mau aku bertindak kejam pada keluarga mu. Kau pasti tahu kalau ibu mu sedang sakit kan? Lebih baik kau menjadi anak berbakti dan rawat lah dia. Cih.." ucapan Yuri dengan penekanan penuh ancaman.


"Apa maksudmu kau sudah mengawasi keluarga ku?" tanya Nita sedikit gemetar.


"Yah,kau cukup cerdas menebaknya." jawab Yuri,membuat Nita terdiam sejenak.


"Kau memang jahat nona Yuri. Setelah kau membuat ku kehilangan mahkota ku, sekarang kau ingin menyakiti keluarga ku juga?"


"Itu bayaran yang setimpal karena kau berani mengusik Juan ku. Aku tidak mau dia dekat dengan wanita manapun selain aku. Gara-gara ada kamu juga aku belum bisa mendapatkan nya. Jadi,kau paham kan harus bagaimana sekarang kalau tidak ingin kehilangan ibumu? kau tahu aku sanggup melakukan apapun untuk mendapatkan semua keinginan ku." jelas Yuri penuh ancaman.


"Kau gila Yuri. Kau bahkan membuat pria yang kau inginkan menyentuh ku. Wanita yang kau anggap pengganggu dalam hidup mu. Baik, ambil lah bekas ku." jawab Nita,kemudian mematikan telefon nya.


Air mata tak kuasa lagi di tahn oleh Nita. Ia menangis sesenggukan dalam kamarnya.


Sedangkan Yuri, kepala nya terasa mau pecah begitu mendengar ucapan Nita sebelum menutup telfonnya.


"Apa? apa maksudnya dengan aku membuat pria yang ku inginkan menyentuh nya? apa mungkin? tidak, ini tidak mungkin.Ya, Juan adalah pria yang paling teguh dalam pendirian nya untuk tidak menyentuh wanita manapun sebelum resmi menikah. Jadi tidak mungkin kan dia melakukan sesuatu pada wanita itu?" ucap Yuri dalam ketidak percayaan nya. Dengan tangan yang gemetar dan cemas,ia menelfon seseorang dan menanyakan kebenaran apa yang terjadi pada Nita setelah ia keluar dari rumah Juan.


"Bagaimana? apakah kau berhasil?" tanya Yuri.


"Maaf nyonya, wanita itu tidak keluar rumah setelah anda keluar dari rumah itu. Hanya tuan dan nyonya besar Kim dan tim dokter yang keluar beberapa saat setelah anda. Sehingga kami gagal melakukan nya." jawab pria suruhan Yuri.


Yuri yang mendengar nya seakan dirinya terbakar api yang membara. Ia langsung membanting ponselnya sembarang arah untuk melampiaskan kemarahannya.

__ADS_1


"Tidaakk!!!! aaaa!!!" Yuri berteriak dan mengamuk dengan melempar apapun yang dilihatnya. Ia betul-betul berada di puncak amarahnya.


"Wanita kurang ajar,kau akan menyesal sudah mengambil milik ku." gumam Yuri.


Di sisi lain, Juan yang berada di kantor nya sedang tak bisa fokus. Ia banyak melamun memikirkan Nita.


"Bagaimana pak direktur?" tanya seseorang yang sudah selesai melakukan presentasi di ruangan itu. Saat ini,Juan sedang melakukan rapat di sana.


Semua peserta rapat pun terlihat kebingungan dan bertanya-tanya ada apa dengan Juan. Pasalnya ia tak merespon apapun yang barusan dipresentasikan. Malah terlihat sedang melamun.


"Juan,ada apa denganmu?" bisik Liem sambil menyenggol sedikit lengan nya.


"Ah,maaf. Rapat kita lanjutkan lagi besok." ucap Juan, kemudian para peserta rapat pun langsung meninggalkan ruang rapat dengan penuh tanda tanya,pasalnya sebelum nya Juan tak pernah sekalipun mengabaikan presentasi saat rapat.


"Hei,kau kenapa?! apa yang terjadi padamu hah?! kau gila ya? apa kau tahu,hari ini aku sedetikpun tak bisa hanya sekedar menelan ludah. Gara-gara kau yang datang terlambat,menunda dan membatalkan seenaknya semua jadwal hari ini. Bahkan saat ini kau kembali menambah pekerjaan ku untuk besok? haish." celoteh Liem yang merasa kesal dengan tingkah Juan.


"Berapa kali lipat lelah mu hari ini?" tanya Juan datar.


"Apa? kau tanya berapa kali lipat? cih,kau ini. Aku itu lebih lelah 5 kali lipat dari hari biasanya tahu! aku bahkan membatalkan janji kencan buta ku! huft,sudahlah aku pergi saja." jawab Liem makin kesal.


"Aku naikkan gaji mu 5 kali lipat bulan ini. Dan bonus 5 kali lipat juga bulan ini. Bila perlu,hingga 5 bulan ke depan. Dan ini,pakai kartu ini. Kau bebas memakainya selama 5 kali transaksi hingga nanti malam." ucap Juan sambil menyerahkan kartu kreditnya di tangan Liem kemudian berjalan pergi meninggalkan Liem dengan santai. Liem pun di buat tak bisa berkata-kata lagi mendengar ucapan Juan barusan. Dia melongo dan terkejut dengan tingkah Juan.


"Hah? what? apa yang terjadi padanya? apa kepalanya terbentur? Bagaimana bisa dia malah tersenyum dengan semua keluhan ku? dan apa ini?" ucap Liem dengan melihat Black card di tangan nya.


"Yeay!!!" seru Liem kegirangan.


Tak hanya Liem yang tengah senang, Juan pun merasa demikian. Ia terus menebar senyum sepanjang berjalan keluar dari perusahaan nya. Membuat semua karyawan yang melihatnya pun heran dan terkejut. Karena hampir setiap hari pria itu selalu memasang wajah garang dan tegas. Di tambah dengan postur yang elegan serta prestasi kerjanya yang membuat takjub setiap karyawan.


"Apa aku salah lihat?" para karyawan saling bertanya-tanya dengan apa yang di lihat nya.


Dengan penuh semangat dan bahagia,Juan menuju ke rumah sakit. Ia mengabaikan permintaan Nita tadi siang. Yang jelas, sekarang ia ingin menemui wanita itu. Wanita yang tengah membuat nya serasa melayang karena terus terlintas bayangan wajahnya, bagai bertaburan bunga sakura sepanjang waktunya saat ini. Hingga ia sampai di rumah sakit. Ia berjalan dengan mantap sambil membawa sebuah buket bunga yang cantik yang akan ia berikan untuk Nita, sesekali ia mencium bunga itu sambil terus tersenyum dan membayangkan Nita akan menyukainya.


Dada nya berdebar saat sudah sampai di depan pintu ruang inap Nita. Ia menghembuskan nafasnya untuk mengatur dirinya,lalu membuka pintu dengan penuh keyakinan.


"Nita..." sapa Juan terhenti saat ia melihat ranjang pasien di hadapan nya kosong. Tak ada Nita di sana,bahkan ranjang itu terlihat rapi dengan baju pasien yang sudah terlipat rapi di atasnya.


"Tidak, jangan sampai terulang lagi." Gumam Juan panik karena teringat tindakan Nita sebelumnya. Dengan cekatan ia mengecek kamar mandi hingga balkon,namun tak menemukan keberadaan Nita. Hingga sekilas ia melihat sebuah amplop putih di atas meja. Dengan gemetar,Juan membuka amplop itu dan membacanya.


"Terima kasih untuk semuanya, namun aku harus melupakan semuanya. Tolong, biarkan aku sendiri."


Kalimat perpisahan yang sangat singkat dan sangat mengejutkan bagi Juan. Dengan perasaan hancur ia meremas surat itu lalu berlari keluar berusaha mengejar Nita,mencarinya dan menemukan keberadaan nya.


"Aku tidak akan melepaskan mu" gumam Juan penuh tekad dalam hatinya sambil berlari menuju mobilnya.


****************************************


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Hai,aku kembali menyapa kalian semua. Gimana kabarnya? semoga selalu sehat dan bahagia. Semoga selalu membaca karyaku dan semoga selalu mendukung ku.🤗


Kalian pembaca terbaik

__ADS_1


.👍❤️❤️


__ADS_2