
"Lho,ini bukan jalan ku pulang kan?!" tanya Nita sedikit panik melihat ke kanan dan ke kiri jalanan yang sedang dilewatinya karena mobil yang dilajukan Juan berada di jalan menuju apartemen nya.
"Tepat sekali" jawab Juan singkat dan santai.
"Hei,aku tinggal di rumah kak Jiwo bukan di apartemen mu!" ucap Nita dengan berusaha menahan kesalnya pada Juan.
"Mulai hari ini selama di Seoul kamu hanya akan tinggal di apartemen ku. Dan aku tidak suka dibantah. Bukankah kau sudah setuju? jadi menurut lah kalau kau mau restoran itu kembali pada pria menyebalkan itu." ucap Juan dengan tegas dan pandangan tetap fokus pada kemudinya.
"Huhhh,semoga kamu melajang seumur hidup dan tidak akan ada wanita yang mau menikah dengan mu" gerutu Nita saking kesalnya pada Juan.
"Aku dengar." ucap Juan.
"Ya,aku tahu kau tidak tuli." jawab Nita.
"Dan jika tidak ada wanita yang mau menikah dengan ku maka orang pertama yang ku tuntut pertanggung jawabannya adalah (KAU)." Ucap Juan dengan menatap tajam pada Nita saat mengucapkan kata terakhir itu.
"Ap..apa? enak saja. Itu resiko pria galak,ketus,judes,dingin,menyebalkan sepertimu. Kenapa jadi aku yang harus tanggung jawab? aneh..." jawab Nita tak mau kalah.
"Karna kau yang mengutukku.!" jawab Juan.
"Haiisshh,iya..iya..aku cuma bercanda kok. Jangan dianggap serius begitu.he..he..he.." senyum pura-pura terlihat jelas di wajah Nita.
"Dalam setiap kisah nenek sihir yang mengutuk putri, pasti kutukan itu akan kembali padanya.Kutukan itu dengan sendirinya akan membebaskan sang putri,kau tahu kenapa? karena putri cantik tak layak untuk hidup sendiri tanpa pangeran. Nah,karena aku pangeran maka kau tahu kan? kutukan mu itu gak akan mempan padaku,karena sudah pasti akan ada putri cantik jelita yang akan menjadi pasanganku. Kau paham?" ucap Juan sambil sedikit terukir senyum jahil di bibirnya saat ia telah mengucapkan kata-kata itu.
"Cih,sombong sekali pria yang mengaku tampan satu ini.Lebih baik aku tidur,dari pada kupingku panas karena mendengar kesombonganmu." ucap Nita dengan langsung memalingkan wajahnya menghadap luar kaca mobil itu dan langsung memejamkan matanya.
"Dan kalau akhirnya gak ada putri yang mau dengan pangeran tampan sepertiku maka aku pastikan posisi putri itu akan digantikan olehmu!" ucap Juan lagi yang sukses mengejutkan Nita.
Uhuk..uhuk...uhukk...
"Astaghfirullah ya Allah ampunilah dosaku,jangan kau hukum aku dengan mendapatkan suami seperti ini ya Allah. Lebih baik berikan aku suami yang baik,ramah,dan sopan seperti Niko.amin"
ucap Nita dengan sedikit mengeraskan suaranya.
Cetakkkkkk
"Awww,apaan sih? kenapa main jitak-jitak- jidat seeaknya,sakit tahu!!" omel Nita pada Juan yang tiba-tiba menyentil dahinya.
"Nah,itu supaya kamu sadar dari mimpi konyolmu menikah dengan Niko. Huh,jangan mimpi terlalu rendah dong.! Sudah pasti lebih baik denganku daripada dengannya kan?"
"Hah,sudahlah aku capek. Cepat sedikit nyetirnya! aku pengen cepat-cepat istirahat di apartemen neraka mu itu.huft"
"Aku pastikan kamu akan segera betah di apartemen itu. Jadi, selamat menikmati kegantengan ku selama 3 hari kedepan.hahaha" ucap Juan bermaksud meledek Nita.
"Terserahlah. Eh,mana ponselku?" tanya Nita yang tiba-tiba teringat dengan keberadaan ponselnya.
"Ups aku lupa tuh!" jawab Juan.
"Juannnn..please,jangan bercanda. Gak lucu tahu! jadi dimana ponselku?" bentak Nita.
"Dengan syarat kamu tidak akan kabur dari apartemen ku minimal 3 hari kedepan.!" ucap Juan.
"IYA" Jawab Nita dengan sangat kesal dan jutek,karena sudah tidak sabar ingin segera mendapatkan ponselnya.
"Tuh ada di laci." jawab Juan.
Tanpa ba bi bu,Nita langsung membuka tempat yang di tunjukan Juan barusan. Tanpa memperdulikan Juan yang tengah memperhatikan nya,Nita langsung mengaktifkan ponselnya dan berniat mengirim pesan pada Niko.
"Kalau begitu, seminggu ini kau tetap di apartemen ku. Tidak usah kembali ke rumah kakak dari pria menyebalkan itu." ucap Juan lagi.
"Iya,iya. Bawel" jawab Nita cepat sambil mengetik pesan pada Niko. Sebenarnya ia tak begitu mendengar kan apa yang dikatakan Juan barusan.
Send
"Beres,yahh aku sudah lega sekarang" ucap Nita setelah mengirim pesan pada Niko.
DERRTT
Pesan balasan dari Niko. Nita segera membacanya dan untuk beberapa saat mereka saling bertukar pesan. Benar-benar Nita seolah menganggap tak ada Juan di sebelahnya yang dari tadi sudah menahan amarahnya karena melihat Nita yang tengah asyik bertukar pesan dengan pria lain di hadapannya sendiri.
__ADS_1
"Tahan Juan,tahan. Kau sudah memegang kunci sekarang. Huh,lihat saja nanti kau Niko,kali ini ku biarkan kau. Tapi tidak untuk lain kali." batin Juan dengan meluapkan amarahnya pada benda bundar yang sedari tadi dikendalikan nya untuk mengendarai mobilnya. Ia memegang kuat benda itu. Menumpukan amarahnya pada telapak tangannya.
"Turun! Kita sudah sampai" ucap Juan pada Nita yang entah sejak kapan sudah membuka pintu di sampingnya dan berdiri di depan sana dengan tegas dan terlihat sangat menakutkan.
Dengan bingung,Nita pun menuruti perkataan Juan.
"Dasar penipu,katanya sakit. Tapi sekarang kau sudah sehat bugar? tanya Juan.
"Ya,aku sudah sehat. Jadi,bisakah kau sedikit menggeser tubuhmu? aku mau lewat." Ucap Nita yang langsung keluar dari mobil dan secepatnya berjalan mendahului Juan, Ia berjalan dengan menghentakkan kakinya karena sebal pada juan.
"Duh,kenapa pusing ini belum juga pergi sih.! huft" gumam Nita saat berada di dalam lift. Sesekali ia memijat pangkal hidungnya dan sedikit dahinya. Hingga tiba-tiba tubuhnya sedikit terhuyung dan ia langsung memegang tembok lift itu.
Grebb
Dengan sigap Juan meraih Nita dari belakang dan memegangi pundaknya.
"Kenapa?" tanya Juan.
"Gapapa,hanya sedikit pusing" jawab Nita agak lemas.
"Masih bisa ditahan? beberapa detik lagi sampai di lantai apartemenku."
"Iya,aku tahu. Kau tenang saja." jawab Nita.
Ting
Lift berhenti di lantai apartemen Juan.
"Lebih baik kau ke kamar saja. Istirahat disana." ucap Juan dengan menunjuk kamarnya untuk ditempati Nita.
"Iya" lagi-lagi Nita menjawab dengan jutek .
"Benar-benar keras kepala" gumam Juan.
Tiriririnnggg
"ada apa?" tanya Juan.
"Aku tidak tahu harus bagaimana. Tanpa sepengetahuan ku,Dewan direksi baru saja mengadakan pertemuan tertutup. Berdasarkan info yang saya dapat, beberapa dari mereka akan menyerahkan sahamnya pada tuan Aichi selaku pemegang saham terbesar ke 2 setelah anda."
"Apa alasannya?" tanya Juan.
"Aku belum tahu pasti,yang jelas kau harus segera bertindak. Sepertinya aku merasa ada yang tidak beres dari tuan Aichi. Tapi..."
"Tapi apa Liem" tanya Juan penasaran.
"Tapi,aku punya firasat tidak baik jika tuan Aichi sudah mulai bertindak. Kau harus siap-siap." jelas Liem.
"Baik,aku mengerti. Tolong awasi terus. "
"Baik" jawab Liem kemudian mematikan telefon nya.
Juan Beranjak ke dapur dan membuatkan bubur serta beberapa makanan dan jus untuk Nita yang saat ini tengah tertidur di kamar Juan.
Drrrrttt
Ponselnya kembali berdering,dan kali ini dari kakek Kim.
"Ya kek,ada apa?" tanya Juan.
"Bagaimana keadaan Nita?" tanya kakek.
"Dia baik-baik saja. Sekarang sedang tidur. Kalian tidak usah khawatir." jawab. Juan.
"Syukurlah. Nenek sangat khawatir dan ingin menjenguk nya."
"Tidak usah,aku bisa merawatnya." ucap Juan tegas.
"Dasar kau anak nakal. Untuk apa kau mempersulit nya seperti ini? restoran itu tak mahal sama sekali. Apa susahnya kalau langsung diberikan saja sih. Jangan macam-macam dengan Nita kalau kau tidak mau nenek marah padamu!" ucap kakek Kim memperingatkan Juan.
__ADS_1
"Yang cucunya itu aku atau Nita sih? kok kakek malah mengancam ku?" keluh Juan.
"Aku tidak masalah kehilangan cucu sepertimu yang nakal,kalau penggantinya adalah Nita. Sangat tidak buruk,justru aku dan nenek akan sangat diperhatikan oleh nya. Tidak seperti kamu yang hanya sibuk bisnis dan mengejar cinta buta dari wanita yang nggak jelas." sindir kakek pada Juan.
"Intinya saja,ada apa kakek menelfonku begini? bukan hanya ingin bertanya keadaan Nita kan?" ucap Juan langsung mengarah pada hal yang menurutnya lebih serius.
"Tuan Aichi,dia ingin menjodohkan anak perempuan nya denganmu. Kakek pikir ini tidak buruk. Dia gadis yang baik,kakek pernah bertemu sebelumnya dengannya. Jadi datanglah ke perjodohan Sabtu ini." jelas kakek.
"Ada lagi?" tanya Juan seraya tak mempedulikan apa yang barusan dikatakan kakek Kim.
"Hei anak nakal,kau belum menjawab? kau bisa datang ke perjodohan kan?" tanya kakek Kim meminta kejelasan pada Juan.
"Kalau tidak ada hal penting yang mau dikatakan lagi aku tutup telfonnya kek." ucap Juan tak menjawab pertanyaan dari kakek.
"Kau belum menjawab" tanya kakek dengan nada lebih tinggi.
TUT
Juan langsung mematikan telfonnya dan meletakkan ponselnya di atas meja makan sambil membuang nafas kesal. Kemudian ia menuju kamar untuk membangunkan Nita karena sudah waktunya makan siang dan minum obat.
Ceklek
Juan membuka pintu kamar dan duduk di sisi ranjang dimana Nita tengah tertidur dengan wajah yang sedikit pucat dan lemah. Keningnya berkeringat,dan Juan mengambil tisu lalu mengelap keringat yang ada di kening Nita.
Juan sempat ragu untuk membangunkan Nita,namun ia tetap membangunkan dengan menepuk pipinya perlahan.
"Nita.."
"Nita,bangun. Makan siang dulu lalu minum obat."
"ehm..eh.." Nita mengerjapkan matanya dengan berat.
"Aku tidak ingin makan" ucap Nita dengan lemah.
"Kau harus makan agar cepat sembuh" ucap Juan.
"Badanku terasa lemas sekali Juan,untuk hari ini tolong biarkan aku tidur ya" jawab Nita lagi masih dengan lemahnya.
"Mau ku gendong atau kau bangun sendiri?" tawar Juan lagi.
Mendengar itu sebenarnya Nita masih malas untuk beranjak dari tidurnya,namun dia tahu kalau Juan tak main-main dengan ucapannya.
"Huuuffft...baiklah" jawab Nita parah seraya bangun dari tidurnya.
"Tapi,bisa nggak aku makan disini saja? aku masih merasa pusing.Please" ucap Nita memohon.
"Hei,kau lupa kalau kau sedang di kamarku? aku tidak mau ada seekor semut pun di kamarku." jawab Juan.
"Hemmm,iya iya." Nita beranjak dan perjalan lemas menuju ruang makan. Melihat Nita yang lemas,Juan mendekat dan hendak menggendong nya.
"Hei..hei..mau apa kau???" tanya Nita yang panik karena Juan mendekatinya.
"Mau menggendong mu." jawab Juan dengan santainya dan berada pada posisi siap mengangkat tubuh Nita.
"STOP!! Gak usah. Gak usah gendong. Aku bisa sendiri." ucap Nita cepat untuk mencegah tindakan Juan. Setelah itu dia pun menguatkan dirinya untuk berlari dan duduk di kursi ruang makan.
"Huffft,, selamat" gumam Nita sambil mengelus dadanya untuk menormalkan jantungnya.
"BAGUS" ucap Juan sambil menarik kursi di hadapan Nita dan menduduki nya.
Merekapun makan dengan tenang,tak ada sepatah katapun yang terucap. Terlebih Nita yang saat itu sedang sangat tidak ***** makan namun harus dipaksa makan agar tidak kena hukuman oleh Juan yang sudah mau memasak untuknya. Ingin muntah pun ditahannya untuk memastikan semua makanan yang dimakannya benar-benar tertelan. Juan yang melihat nya sebenarnya merasa kasihan namun disisi lain ia merasa lucu dengan ekspresi menyedihkan Nita. Dan ia tak sepenuhnya bersalah juga dengan memaksa Nita menghabiskan makanannya. Karena dengan begitu dia akan cepat pulih.
"Maafkan aku Nita" ucap Juan dalam hatinya
****
AUTHOR
Selamat membaca semuanya,semoga kalian semua suka dengan episode ini. Jangan lupa LIKE dan komen untuk kemajuanku ya. THANK YOU..🙏🙏❤️❤️❤️
__ADS_1