Inikah Cinta

Inikah Cinta
85


__ADS_3

Tok...tok..tok...


"Juan!! Nita!! apa kalian masih tidur? ini nenek,maaf nenek harus mengganggu kalian,ada hal penting yang harus kalian ketahui secepatnya. Juan?!" tutur nenek dengan suara agak keras di sela-sela ia mengetuk pintu kamar Juan.


Sementara Nita masih tidur pulas,hanya Juan yang sayup-sayup mendengar panggilan nenek di balik pintu hingga ia pun membuka matanya.


"Juan! maaf. Bisa buka pintunya sebentar?" ucap nenek lagi.


"Ah,iya nek. Aku sudah bangun. Sebentar." jawab Juan sambil beranjak dari tempat tidurnya. Baru tiga langkah ia berjalan,ia melihat sekilas Nita yang masih tidur di sofa.


"Duh,gawat kalau nenek melihat Nita tidur disana" batin Juan. Kemudian dengan cepat ia mendekati Nita dan berusaha membangunkannya dengan menepuk pipinya pelan dan menggoyangkan lengannya sambil memanggil namanya agar ia bangun dan pindah tidur di kasur.


"Eugh,apa sih?" gumam Nita dengan mata masih tertutup.


"Hei! Dengar,nenek ada di depan pintu. Ayo cepat kamu pindah ke kasur,kalau tidak nenek bisa melihatmu dan pasti curiga karena kita tidur terpisah. Ayolah cepat bangun!!" jelas Juan yang masih sambil berusaha membangunkan Nita dengan menarik tangannya.


Mendapatkan perlakuan itu dari Juan,sontak Nita pun terbangun dan membelalakkan matanya lebar-lebar walau pikirannya masih belum sempurna.


"Hah? apa? siapa?" tanya Nita yang sudah terduduk dari tidurnya.Sebenarnya ia sudah mendengar semua penjelasan Juan tadi,namun ia masih kurang yakin dengan pendengarannya saat ia tengah tertidur.


"Iih,cepat pindah ke ranjang,nenek ada di depan pintu. Jangan sampai dia mengetahui kalau kita tidur terpisah." jelas Juan lagi sambil membantu nita menegakkan badannya.


"Apa??!! i..iya..iya.." jawab Nita yang terkejut dan diburu-buru. Ia pun langsung berdiri dan berlari menuju ranjang dengan membawa selimut dan bantal yang dipakainya tadi. Namun karena tergesa-gesa dan belum sepenuhnya sadar dari tidurnya menjadikan Nita kurang hati-hati,hingga ia pun tak sengaja menabrak kaki meja yang ada di depannya.


"Aouww!!" pekik Nita sambil memegangi lutut nya namun tetap mencoba menahannya.


"Ceroboh!" gumam Juan.


Tok tok tok


Nenek kembali mengetuk pintu kamar Juan.


Mendengar itu,Nita langsung menjatuhkan badannya di ranjang Juan dan menahan rasa sakit di kakinya.


Melihat Nita sudah siap di posisinya dan berpura-pura tidur,sekarang Juan mengatur nafasnya dan membukakan pintu untuk nenek.


"Selamat pagi nek,maaf aku bangun kesiangan." ucap Juan begitu pintu terbuka dan ada Nenek Kim di hadapannya sekarang.


"Haish,nenek pernah muda. Namanya pengantin baru itu wajar bangun siang. Siapa tahu setelah ini nenek akan dapat cucu buyut. Wah senangnya." ucap nenek yang sebelumnya terlihat mencuri pandang ke dalam kamar dimana terlihat Nita masih tertidur.


"Ah,nenek bisa saja. Ada apa nek? bukankah tadi nenek bilang ada hal penting?" tanya Juan.


"Ah iya,nenek sampai lupa. Juan,nenek bru melihat artikel berita tentangmu. Lebih baik kau cepat cek dan bertindak. Karena nenek yakin setelah ini pasti deretan direksi menyebalkan akan menyudutkanmu di forum." jelas nenek.


Tanpa mau menunggu lama, Juan langsung menanggapi apa yang dikatakan nenek Kim.


"Baik nek,nenek tidak usah khawatir. Aku akan mengurus semuanya." jawab Juan.


"Nenek percaya padamu. Lagipula berita itu bohong,kau tinggal konfirmasi dan menunjukkan pada direksi tentang kebenaran pernikahan mu maka semua akan beres." ucap nenek dengan menepuk pundak Juan memberikan dukungan.


"Ya" jawab Juan singkat.


"Hanya saja,nenek ingin kau secepatnya bertindak. Nenek sudah tidak sabar melihat wajah mereka menciut karena malu sudah menyebar kan berita bohong hingga cucuku ini kesusahan." ucap nenek lagi yang terlihat sudah tak sabar.


"Baiklah,aku masuk dulu." ucap Juan seraya meminta ijin nenek untuk menutup kembali pintu kamarnya yang kemudian direspon nenek dengan menganggukkan kepalanya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Cepatlah bersiap,nenek tunggu di meja makan." pinta nenek.


"Em" jawab Juan sambil menutup pintu.


"aughh sakitnya.." keluh Nita pecah begitu Juan menutup pintu. Ia memegangi tungkai kakinya yang terasa sakit karena tadi menabrak meja.

__ADS_1


"Aku mandi dulu." ucap Juan sambil sekilas melihat Nita yang sedang mengeluh sakit sambil pergi menuju kamar mandi.


"ish,dasar manusia es. Aku begini juga gara-gara kamu tau!" balas Nita pada Juan namun orang yang dituju sudah berada di dalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian semua sudah berada di meja makan dan sudah selesai dengan sarapan pagi nya.


"Juan,kau sudah memberi tahu Nita?" tanya kakek Kim yang sontak membuat Nita melihat pada Juan dengan ekspresi penuh tanya di wajahnya. Namun Juan hanya diam dan terus sibuk dengan tablet di tangannya.


"Hei, kakek bertanya padamu." ucap Nita setengah berbisik sambil menyikut lengan Juan yang duduk di sebelahnya.


Juan tak bergeming,dan hanya menjawab acuh dengan pandangan masih fokus pada layar tablet nya itu.


"Ya" Jawab nya.


"Ah, sudah kok kek." jawab Nita pada kakek Kim.


"Oh, baiklah. Kalau begitu nanti nenek akan menjemputmu kalau kau sudah siap." ucap kakek.


"Hem? ya?" Nita kembali menengok pada Juan karena ia bingung apa maksud dari perkataan Kakek.


"Tidak usah,aku yang akan mengurusnya." ucap Juan.


Mendengar itu Nita pun hanya dapat menunjukan senyum nya pada kakek.


"Baiklah,kalau begitu kami pergi lebih dulu." ucap kakek yang sudah beranjak dari duduknya.


"Jaga Nita ya," ucap nenek.


"Cucuku, terima kasih ya. Bersabarlah sedikit dengan kelakuan anak nakal itu,karena nenek tahu betul kalau dibalik sikapnya yang nakal itu dia selalu bertanggung jawab." ucap nenek lagi sambil mengelus rambut Nita.


"Aduuh ini mereka dari tadi lagi ngomongin apa sih? kok aku sama sekali gak mengerti." batin Nita. Namun ia hanya menunjukkan senyum ramah nya pada kakek dan nenek Kim.


"Tidak usah mengantar,kau tunggu Juan saja." ucap nenek dan diangguki oleh Nita.


"Huft,Juan. Bisa jelaskan dulu,ini tu mau ada apa dan aku harus gimana?!" tanya Nita dengan kesal sambil sedikit menggebrak meja di hadapan Juan.


"Nanti kau akan tahu." jawab Juan dengan tatapan mata tajam seolah memberitahu kan pada Nita kalau ia tidak suka dengan cara Nita menggebrak meja.


"Apa-apaan dia,kenapa wajahnya terlihat garang begitu? bukankah seharusnya aku yang marah karena dibuat bingung? kok ini kebalik sih?" batin Nita.


"Ayo kita berangkat." ucap Juan yang sudah berdiri dari duduknya.


"Hei,kau belum menjawab." ucap Nita.


"Ikut saja,nanti juga kau akan tahu." jawab Juan acuh.


"Huft,hobi banget buat orang kesal." gumam Nita namun sangat jelas didengar Juan.


Nita pun akhirnya berjalan mengikuti Juan,hingga saat ini mereka sudah berada di mobil Juan.


"Hei!! kenapa kamu duduk disitu?" tanya Juan tak suka melihat Nita duduk di bangku belakang nya.


"Hem? kenapa? apa aku salah?" tanya Nita dengan santainya.


"Pindah sini.!" perintah Juan sambil menunjuk kursi di sebelah kemudinya.


"Ah sama saja,yang penting aku sudah mengikuti mu. Lagi pula disini lebih luas dan leluasa untuk meluruskan kaki ku." bantah Nita.


"Hitungan ke 3 tidak pindah ke sini maka kau akan menyesal." ancam Juan.


"Sudah lah,kamu kan tinggal nyetir saja. Gak masalah aku duduk di depan atau di belakang kan? yang penting kita cepat sampai. Dah cepat jalan." bantah Nita lagi.

__ADS_1


"Baiklah,jangan salahkan aku karena aku sudah memperingatkan mu." jawab Juan dengan menahan kesalnya.


"Em" jawab Nita santai sambil merebahkan dirinya pada senderan kursi dan meluruskan kakinya.


"Enak saja bertingkah santai begitu seolah dia majikan dan aku supirnya.Lihat lah pembalasanku." batin Juan dengan senyum liciknya.


Benar saja,ia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga membuat Nita ketakutan dan beberapa kali kepalanya terbentur kaca jendela mobil dan kursi,ia harus berpegangan erat dan mengendalikan perutnya yang terasa dikocok karena ulah Juan yang ugal-ugalan. Hingga sampailah di depan sebuah tempat.


Nita langsung membuka pintu mobil dan berlari gontai karena pusing dan juga mual. Wajahnya terlihat pucat dan ketakutan,belum lagi kakinya juga gemetar.


"Perlu ku papah?" tanya Juan seolah tak bersalah.


Namun Nita mengabaikan nya dan langsung masuk ke dalam salon itu dan meminta ijin ke toilet.


"Selamat datang tuan" sapa para pelayan pada Juan begitu masuk ke sana, sepertinya sudah menunggu kedatangannya.


Juan menganggukkan kepalanya dan seseorang pun mendekati Juan.


"Kau lihat wanita yang tadi berlari masuk kemari kan?" tanya Juan pada wanita yang sepertinya sudah siap menjalankan tugas dari Juan. Yang merupakan menejer di butik sekaligus salon itu yang merupakan milik Juan.


"Iya tuan." jawabnya.


"Urus dia dengan baik, kurahap tidak lebih dari 30 menit." ucap Juan.


"Baik tuan. Tuan akan menunggu disini atau bagaimana?" tanya nya lagi.


"Aku tunggu." jawab Juan.


"Baik,silahkan anda menunggu di sebelah sana tuan." ucapannya dan mengantar Juan ke tempat tunggu.


Kurang dari 30 menit,Nita sudah siap dengan penampilannya.


"Permisi tuan,kami sudah selesai." ucap menejer itu sambil menggandeng Nita yang sudah berdiri di sebelahnya.


Juan yang sedari tadi sibuk dengan tablet nya sambil menunggu Nita pun langsung beranjak dari duduknya dan menoleh pada Nita.


"Ya.." ucap Juan yang sempat terhenti karena terkejut melihat penampilan Nita.


"ehem..ehem..ya terima kasih." lanjut Juan setelah menyadarkan dirinya.


"Baik tuan." jawab menejer.


Juan langsung berjalan keluar salon mendahului Nita yang masih bingung dan tak nyaman dengan penampilan nya saat ini.


Ia mengenakan dres yang lebih pendek dari kebiasaan nya. Panjang dres hanya sebatas lutut dengan lengan pendek dan sedikit lebih pas dengan body nya. Secara umum itu masih sopan,dengan warna putih yang kontras dengan setelan jas hitam yang dikenakan Juan saat ini. Namun terlihat serasi.


Bukan hanya karena mode baju yang dipakai Nita,namun karena riasan natural di wajah Nita yang tak hanya membuat wajahnya terlihat segar namun juga terlihat berbeda.


"Hei,tunggu aku.!" panggil Nita pada Juan,yang kesal ditinggal Juan. Belum lagi ia saat ini memakai high heels yang sama sekali tak membuat nya nyaman berjalan.


Sebenarnya hanya setinggi 4cm dan itu sudah yang terpendek menurut perias. Karena kalau tidak memakai high heels maka tidak akan cocok dengan penampilannya. Karena terus memaksa akhirnya Nita menyetujui untuk memakainya,walaupun harus kesusahan berjalan.


Melihat Juan yang sudah duduk di mobil,Nita pun memutuskan melepas sepatunya dan langsung berlari menuju mobil dan mengambil duduk di sebelah Juan. Ia tak mau lagi duduk di belakang karena ia tak mau tersiksa lagi oleh ulang ugal-ugalan Juan seperti tadi.


Juan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Nita.


"Huft,wanita itu tidak ada feminimnya sama sekali." gumam Juan yang heran melihat Nita saat berlari tanpa alas kaki.


Merekapun pergi menuju K group.


****

__ADS_1


AUTHOR


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2