
"Haruskah aku menganggap serius perkataannya tadi? atau mungkin itu hanya rencananya saja untuk membuat ku percaya, kemudian meminta ku bersandiwara lagi seperti dulu? Tapi,apa mungkin dari sorot mata itu ada kebohongan? hah, kenapa aku sibuk memikirkan hal yang aneh sih. Biarkan saja lah." batin Nita,sambil pandangan nya menatap ke luar dari jendela bus di sebelah tempat nya duduk.
Dan di sisi lain, Juan yang tengah mengendarai mobil nya pun tak berbeda dengan Nita. Ia tengah memikirkan Nita,bagaimana caranya untuk meyakinkan Nita akan kesungguhan nya. Hingga dering ponselnya menghentikannya.
"Halo." jawab Juan.
"Gawat!! Juan,barusan nenek Kim tiba-tiba mengalami serangan jantung. Untungnya tim dokter segera menanganinya, sehingga nenek berhasil melewati nya." jelas Liem di seberang telepon.
"Apa?!! Lalu bagaimana kondisinya sekarang?" jawab Juan yang sedikit terkejut,namun masih bisa mengendalikan dirinya agar tetap tenang. Mengingat neneknya masih hidup.
"Beliau sedang tidur sekarang. Namun dokter berkata bahwa hal ini bisa saja sewaktu-waktu terjadi lagi, apa lagi jika nenek sedang memikirkan sesuatu secara berlebihan atau sedang terlalu sedih."
"Syukurlah,tetap kabari aku apapun yang terjadi di sana." pinta Juan. Kemudian hendak mematikan telefon nya.
"Tunggu!" cegah Liem.
"Ya" jawab Juan dengan sangat singkat.
"Maaf,aku harus mengatakan ini,tadi aku juga bertemu dengan kakek. Sebelumnya maaf jika perkataan ku terkesan lancang."
"Langsung pada intinya saja.!"
"Ehem, ijinkan aku berkata layaknya aku sahabat mu. Jadi kakek berkata padaku bahwa nenek mengkhawatirkan mu yang belum menikah dan bahkan tidak dekat dengan wanita,jadi beliau.." Belum selesai Liem berkata,Juan sudah menghentikan nya.
"Cukup! Aku sudah mengerti. Aku akan secepatnya menangani masalahku. Kau tangani semua disitu dengan tetap memberikan semua informasi padaku." ucap Juan.
"Baiklah. Tapi aku tidak bisa lebih dari sebulan. Tolonglah Ju,aku benar-benar ingin mati jika aku harus mengerjakan semua ini sendiri."Keluh Liem.
"Cek rekening mu."
"Hah? ap..apa??!" Liem terkejut dengan apa yang dikatakan Juan.
"Tut.." Juan langsung mematikan teleponnya.
"Hei!!" Liem memanggil Juan, namun percuma karena Juan telah mematikan telefon nya. Bersamaan dengan notifikasi dari rekening Liem yang menunjukkan Juan telah mentransfer sejumlah uang untuk nya.
"Hah? haish,astaga Juan!! Kalau melihat angka ini bagaimana mungkin aku bisa mengeluh dan tak menuruti maumu.Hahh,pria itu benar-benar membuat ku gila karena membuat ku memiliki banyak uang tapi tak bisa menikmati nya.Hiks." keluh Liem antara senang dan juga sedih di saat yang sama.
Kembali ke Nita yang saat ini masih di bus menuju minimarket tempat nya bekerja,hingga tiba-tiba ia dikejutkan dengan sebuah mobil yang tiba-tiba melaju bersebelahan dengan bus yang dinaikinya. Mobil itu selalu mengiringi bus nya, terlihat jelas bahwa mobil itu tak ada niatan untu mendahului ataupun mengalah dari bus nya. Hingga membuat pengendara di belakang merasa tak sabar dan membunyikan klakson agar diberi jalan. Supir bus pun sudah merasa jengkel dibuatnya. Begitupun para penumpang yang mulai riuh bertanya-tanya ada apa dengan si pengendara mobil itu. Sebagian mengira itu mobil penjahat yang berniat merampok mereka,tapi sebagian lagi menyangkal. Karena tidak mungkin mobil perampok sebagus itu. Pasti itu mobil salah satu pejabat yang akan menilang bus itu karena mungkin melanggar aturan lalu lintas. Tapi mereka juga ragu,karena lebih mungkin seharusnya polisi yang mengurusi hal pelanggaran lalu lintas. Lalu siapa dia?? semua bertanya-tanya. Hingga akhirnya semua bersorak saat pengendara mobil itu membuka cup mobilnya dan muncullah sosok pria yang sangat tampan lengkap dengan kacamata hitamnya.
"Waaahh,mimpi apa aku semalam bisa lihat pria setampan itu???" seri seorang wanita yang duduk di kursi depan Nita.
"Oh, Tuhan,jadikan dia jodohku." seru lainnya.
"Bagaimana mungkin ada pria se sempurna itu di negara ini?" gumam seorang pria muda.
"Apakah dia malaikat?"
Para penumpang makin bertambah kagum dan penasaran. Apalagi ketika dia membuka kacamata nya dan menoleh ke bus itu. Melemparkan senyum menawannya dan melambaikan tangan.
"Waowww" semuanya dibuat terperangah olehnya.
"Juan?? sedang apa dia?" batin Nita yang juga terkejut melihat Juan. Namun dia berpura-pura tak melihatnya dengan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan nya.Namun Juan yang melihat Nita yang sudah melihatnya pun tak mau kalah. Ia mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Nita.
"Astaga,dasar genit." gumam Nita,kemudian mengalihkan pandangannya ke depan.
Cekiiitt..
__ADS_1
Bus tiba-tiba mengerem. Membuat supir dan para penumpang nya terkejut.
"Hei!! Kau mau mati ya?!!" bentak pak Supir pada Juan dengan mengeluarkan kepala nya dari jendela sebelum ia membuka pintu kemudi namun Juan sudah langsung naik ke bus dari pintu penumpang.
"Mohon maaf mengganggu perjalanan kalian semua. Tapi aku akan bertanggung jawab." ucap Juan yang saat ini sudah berdiri di bagian depan di dalam bus.
"Hei anak muda.! Kau buta ya?! Apa yang kau.." Belum selesai pak supir itu mengomel,Juan sudah meletakkan segepok uang di telapak tangan si supir. Hingga membuat supir bus itu melotot dan mulut nya menganga melihat uang sebanyak itu di tangan nya.
"Apa itu cukup untuk mengganti rugi? Dan membayar ongkos semua penumpang ini?" tanya Juan pada pak supir dan hanya dijawab dengan anggukan oleh pak supir,tanda setuju.
"Kalian semua lihat kan? ongkos kalian sudah ku bayar. Mohon maaf atas ketidak nyamanan nya."
"Horeee" sorak para penumpang kegirangan dengan tindakan Juan.
"Sekarang, ijinkan saya membawa istri saya turun dari bus ini." ucap Juan. Sontak semua penumpang pun langsung terdiam. Mereka kembali terkejut dan Bertanya-tanya siapa wanita diantara mereka yang dimaksud oleh Juan. Hingga mereka mengarahkan pandangan mereka pada Juan yang sudah mulai berjalan menuju barisan belakang penumpang dan berhenti tepat di barisan dimana Nita duduk.
Nita menundukkan kepalanya, bermaksud menyembunyikan wajahnya dari Juan dan semua penumpang di bus itu.
"Maaf nyonya,wanita yang duduk di sebelah anda itu istri saya." ucap Juan pada seorang ibu-ibu yang duduk di sebelah Nita. Ibu itu pun menoleh pada Nita.
"Mbak,ini benar suaminya?" tanya ibu itu karena melihat Nita terus menunduk seolah tak mau melihat ke arah Juan.
"eh,anu. itu..itu..bukan" jawab. Nita dengan gagap karena merasa terpojok semua mata mengarah pada nya.
"Sayang,maaf. Aku terlambat mengantar mu karena tadi perutku sedikit sakit. Ayo sekarang ikut dengan ku." ucapan Juan makin membuat Nita merasa tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Ini foto pernikahan kami." Juan menunjukkan sebuah foto di ponselnya pada penumpang di bus itu,dimana di foto terlihat jelas Juan dan Nita memakai gaun pengantin.
"Tin...tin..tin..." bunyi klakson dari luar bus makin riuh menandakan sudah terjadi kemacetan panjang akibat ulang Juan.
"Mbak,lebih baik sekarang anda ikut dengan suami mbak aja deh. Daripada kita ditilang polisi nanti karena telah menyebabkan kemacetan!" Tegur pak supir bus dan ditambah dukungan yang sama dari penumpang lainnya juga.
"Suaminya romantis bangettt itu mba."
"Seneng banget dapat suami kaya gitu."
"Harmonis selalu ya mba."
"Nak,jangan cepat marah karena hal sepele. Ikutlah suamimu."
Komentar para penumpang yang tak mampu direspon oleh Nita,selain ia pasrah mengikuti ulah Juan.
"Ayo sayang.." ucap Juan,kemudian menggandeng Nita turun dari bus dan membawanya menaiki mobilnya dan melanjutkan perjalanan.
Beberapa saat kemudian di dalam mobil.
"Bisakah kau melepaskan tanganmu?" ucap Nita pada Juan. Karena sedari tadi ketika Juan masuk ke mobilnya hingga sekarang,Juan terus saja menggenggam tangan Nita. Awalnya Nita hanya pasrah karena para penumpang bus masih melihat mereka. Namun saat ini mereka sudah Jauh dari bus tadi. Kenapa Juan masih saja menggenggam tangan nya?.
"Bagaimana kalau aku jawab tidak mau?" jawab Juan sambil mengemudikan mobilnya.
"Huft,aku bisa lepas sen..di...ri." Ucap Nita sambil berusaha melepaskan tangan nya dari Juan,namun ternyata Juan menggenggam nya erat hingga ia tak mampu melepaskan nya.
"hemm.." Nita pun menyerah. Namun Juan hanya menoleh sekilas padanya dengan menunjukkan senyum nya dan mengedipkan matanya untuk menggoda Nita.
"Terserah kamu lah,aku capek." ucap Nita yang sudah kesal karena Juan.
"Lebih baik,kamu duduk manis dan menikmati perjalanan mu. Karena kita masih sedikit jauh." ucap Juan.
__ADS_1
"Apa? masih jauh apanya? ke minimarket hanya tinggal 5 menit juga sampai kok. Memang sejauh apa sih? kamu juga tahu kan?" Nita mencecar Juan,karena merasa aneh dengan perkataan Juan barusan.
"Rahasia." jawab Juan dengan santai.
"Astaghfirullah,sabar..sabar.." gumam Nita. Ia sudah bisa menebak maksud Juan pasti mereka tidak akan menuju ke minimarket. Tapi ia sudah malas berdebat dengan Juan. Akhirnya ia memilih diam dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Ia memilih melihat pemandangan luar daripada harus meladeni Juan.
"Kenapa tangannya terasa hangat? apakah dia sedang sakit atau karena aku yang kepanasan karena dia menggenggam tangan ku dari tadi? ah biarlah". batin Nita yang merasakan genggaman tangan Juan padanya.
Nita melihat pemandangan sepanjang jalan hingga tak terasa ia pun tertidur. Juan yang mengetahui nya pun hanya tersenyum puas karena rencananya berhasil. Sesekali ia mencium punggung tangan Nita.
"Seperti saat ini,aku tidak akan melepaskan mu dari genggaman ku. Kemanapun dan di manapun kamu,pasti aku akan bisa menemukan mu. Karena Nita hanya untuk Juan." gumam Juan.
Samar-samar Nita mendengar perkataan Juan,namun mungkin ia salah mendengar atau hanya ada di alam bawah sadarnya saja.
Satu jam kemudian,mereka sudah sampai di tempat tujuan. Juan memarkirkan mobilnya. Ditolehnya Nita di sebelahnya,terlihat ia masih pulas dengan tidurnya. Juan melepaskan seatbelt Nita. Kemudian dipandanginya lekat-lekat wajah Nita yang tengah tertidur dengan tenang. Hembusan nafas pelan Nita pun terasa menyapu wajah tampan Juan. Hingga pandangan Juan berhenti di bibir tipis Nita yang terlihat manis.
"Kenapa bibir manis ini selalu menyangkal apa yang dikatakan hati dan pikirannya? bahkan yang ia lihat? Sampai kapan kamu akan terus menolak ku? Tapi sebanyak apapun kamu menolak atau bahkan menghindari ku sekalipun,aku akan tetap mengejar mu. Ini janjiku sekarang dan hingga kapanpun." batin Juan.
"Cup" Juan mengecup bibir Nita.
Nita terbelalak karena merasakan apa yang dilakukan Juan padanya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Nita seketika karena Juan masih berada tepat di depan wajahnya.
"Hem? Ini. Kau lihat?" jawab Juan sambil menunjukkan tali seat belt yang dipakai Nita tadi.
"Kamu melepaskan seat belt ku?" tanya Nita yang merasa tak percaya dengan perkataan Juan.
"Lalu,apa yang aku lakukan dengan ini? Hem,apa kau berharap aku melakukan sesuatu padamu?" tanya Juan yang terlihat mulai keluar usil nya.
"Apa maksudmu?" tanya Nita.
Juan segera mendekatkan wajahnya pada Nita.
"Maksudku, apakah sejenis ciuman?
"Ti..tidak kok. Bukan itu,bukan." Jawab Nita gugup.
"Kalau pun tidak benar sekali pun. Karena aku baik,maka aku akan mengabulkan permintaan mu."
"Cup" Juan kembali mendaratkan kecupan di bibir Nita. Tidak mungkin hal itu tidak membuat Nita terkejut.
"Segera lah turun,aku tunggu di depan." ucap Juan, sebelum ia keluar dari mobil meninggalkan Nita yang masih terpaku di tempat duduknya.
Seharusnya ia marah pada Juan,tapi kenapa ia diam saja? ia heran dengan dirinya sendiri. Hingga ia memutuskan turun dari mobil dan mengikuti Juan.
"Hah? Kenapa disini?" gumam Nita yang terkejut dengan apa yang dilihatnya sekarang. Juan hanya menunjukkan senyumnya saat Nita menatap nya seolah menanyakan untuk apa mereka di sana pada Juan. Nita masih kebingungan dan tak mengerti apa maksud Juan sebenarnya.
"Ayo masuk." lagi-lagi Juan yang membawa Nita mengikuti Juan.
****************************************
HAI...
TETAP SETIA KAN?
SEMOGA KALIAN SELALU SEHAT DAN SELALU MENGIKUTI KISAH SELANJUTNYA..
__ADS_1
💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓💓