Inikah Cinta

Inikah Cinta
78


__ADS_3

"Kau tidak mau berfoto?" tanya Niko pada Nita yang sedari tadi terlihat hanya mengambil foto pemandangan yang ada di pantai itu.


"Aku gak begitu suka difoto, Foto pemandangan ini sudah cukup,aku cuma akan menunjukkan nya pada ibuku saja.he" jawab Nita masih fokus sambil memotret dengan ponselnya.


Sett...cekrik...


Niko tiba-tiba menarik Nita kepadanya dan mengambil foto Selfi mereka berdua,tak hanya satu namun beberapa kali karena ia tahu saat ini Nita sedang terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba menarik Nita dalam dekapannya.


Saat ini mereka tengah bertemu pandang. Nita tak mengedipkan matanya sedetikpun,kedua tangannya berada di dada bidang Niko,menjadi pembatas diantara mereka.


(Oh tuhan,ampunilah dosaku kali ini yang dengan sengaja menikmati pemandangan indah wajah tampan nan manis di hadapanku saat ini. Namun sungguh, ciptaan mu ini begitu sempurna.) batin Nita yang terpukau melihat Niko yang tersenyum begitu dekat dengan nya.


(hah? sedekat ini? astaghfirullah) Nita mulai tersadar dan mencoba melepaskan diri dari Niko.


"Ehem..ehem..se..sepertinya di sebelah sana lebih bagus." gumam Nita yang sedang salah tingkah,kemudian dengan segera berjalan mendahului Niko menuju area lain.


Seketika pipinya bersemu merah karena malu,dan tak tahu harus bersikap bagaimana.


Set..


"Ikuti aku.!" ucap Niko sambil menggandeng tangan Nita dan membawanya berlari mengikutinya.


Demi apapun,saat ini Nita merasa waktu seharusnya berhenti di momen seperti ini. Seperti yang diceritakan di novel romansa. Jika mereka sepasang kekasih maka itu akan terasa sangat manis dan romantis. Tapi ini bagai mimpi Cinderella di siang bolong. Alias gak nyambung dong.


**


Disisi lain, seseorang tengah mengamati Nita dan Niko dari kejauhan.


"Mereka ada di Jeju tuan." ucap orang itu pda orang yang berada di seberang telepon nya.


**


"Masih jauh?" tanya Nita yang sudah mulai kelelahan.


"sebentar lagi." Jawab Niko.


"Sebenarnya mau kemana si?" tanya Nita penasaran.


"Ini dia." ucap Niko sambil menunjukan sebuah kafe kecil di hadapan mereka.


"Hah?" Nita heran melihat tempat itu. Terlihat biasa saja,tapi kenap Niko antusias sekali mengajaknya kemari.


"Ayo." Niko mengajak Nita masuk dalam kafe itu.


"Krincing" bunyi gantungan pernak pernik yang digantung di depan pintu,sehingga jika dan siapapun yang masuk pasti akan berbunyi.

__ADS_1


"Selamat datang" sambut seorang wanita paruh baya yang berada di dalam kafe itu.


"Halo,apa kabar?" sapa Niko pada wanita itu. Kemudian dia memeluk Niko penuh kasih sayang.


"Ya ampun,lama sekali kau tidak kemari. Anak nakal,harusnya aku yang bertanya padamu apa kau baik-baik saja." ucap wanita itu yang kemudian mencubit hidung Niko. Terlihat akrab seperti ibu dan anak.


Nita memilih diam melihat keakraban dua orang di hadapannya.


"Sepertinya aku tidak perlu bertanya kabarmu, aku yakin kau sangat baik kan?" ucap wanita itu lagi sambil mengarahkan pandangannya pda Nita dan berjalan mendekati nya. Nita pun membalasnya dengan tersenyum ramah.


"Halo" sapa Nita.


"Anak manis,siapa namamu?" tanya wanita itu.


"Ah,saya Nita. Senang bertemu dengan anda nyonya." jawab Nita.


"Tidak perlu sungkan,panggil aku ibu saja. Choi Mina,itu namaku." ucapnya sambil menggenggam tangan Nita kemudian memeluknya juga.


"Ayo,duduklah." ajak ibu Choi. Kemudian dia pergi membuat kan minuman untuk Nita dan Niko.


"Apa kau sering kesini?" tanya Nita sambil dia melihat-lihat kafe itu.


"Ya,ibu Choi dulu bekerja dengan keluarga ku. Tapi setelah suaminya meninggal dia lebih memilih membuka kafe ini." jawab Niko.


"Ooh,apa beliau tinggal sendiri?" tanya Nita lagi.


"Hem,apa dia gak kesepian? kenapa tidak ikut tinggal bersama anaknya saja,kan dia bisa terhibur oleh cucunya nanti."


"Tempat ini penuh kenangan nya dengan suami nya. Mereka bertemu disini,dan saat itu lah mereka mengikat janji saling mencintai." jelas Niko.


"Waahh luar biasa,dia beruntung sekali mereka bertemu pasangan yang sama-sama setia dan saling mencintai. Irinya.."


"Bukankah kau juga sudah menemukannya?" tanya ibu Choi yang sudah berada di belakang Nita dengan membawa nampan berisi minuman dan bubur kacang beserta camilan lainnya.


"Wah,biar saya bantu Bu." Nita beranjak dari duduknya dan mengambil isi nampan yang dibawa ibu choi dan menyajikannya di meja. Setelahnya mereka duduk bersama.


"Cinta sejati mu sudah berada sangat dekat denganmu. Ibu bisa merasakannya." ucap ibu Choi sambil mengusap pundak Nita lembut.


"Ah,ibu bisa saja. Aku masih sendiri." jawab Nita salah tingkah. Pasalnya sejak Bu Choi datang dan berkata cintanya sudah dekat,pandangan Niko terarah padanya.


"Apakah aku juga sama Bu?" tanya Niko.


"Ah anak ini, selalu saja terobsesi degan cinta sejati." jawab ibu Choi.


"Tapi aku serius bertanya Bu." ucap Niko memelas.

__ADS_1


"Anakku,kau anak yang baik. Cintamu selalu ada di sekeliling mu karena kebaikanmu, percayalah kalau akan segera menemukan cintamu yang sebenarnya." jelas ibu Choi.


"Terima kasih ibu." jawab Niko dengan senyum sumringah,merasa pertanyaannya sudah terjawab.


"Aamiin,semoga semua yang dikatakan ibu bisa menjadi terbaik untuk saya dan juga Niko. Terima kasih banyak ibu Choi." ucap Nita.


"Ayo dimakan nanti buburnya dingin."


Mereka menikmati pertemuan mereka dengan sangat nyaman. Niko sudah lega,karena setelah Hyeji meninggal dia berjanji pada ibu Choi kalau dia akan membawa wanita yang mampu mengisi hatinya lagi setelahnya. Bukan tanpa alasan,ibu Choi memiliki kemampuan untuk meramal. Disamping dia sudah menganggap Niko seperti anak nya sendiri karena dia merawat Niko sejak kecil.


Sejak SMA banyak wanita yang mendekati Niko karena ingin memanfaatkan kekayaan keluarganya saja,lantaran Niko baik hati dan merasa tidak enak jika menyaki perempuan maka dia memperlakukan wanita dengan ramah,namun hal itu justru dianggap sebagai perlakuan istimewa pada orang tersayang. Namun setelah mengalami kerugian yang cukup besar karena tindakan ramahnya justru berbalik penipuan oleh teman wanitanya maka sejak saat itu dia berusaha menjaga jarak dengan wanita. Hingga pertemuannya dengan Hyeji di kafe itu dan bu Choi pun menilai baik padanya,dan itu terbukti bahwa Hyeji tulus padanya. Hanya tuhan berkehendak lain,walau pada awalnya Bu Choi sudah mengingatkan untuk selalu ikhlas dengan semua ketentuan Tuhan apapun yang terjadi nanti. Tapi Niko tak mengira cinta Hyeji akan dibawanya hingga mati. Dan saat ini,Niko berharap Tuhan menentukan jalan yang lebih baik lagi untuknya dan Nita.


Drrt...


"Halo" jawab Nita,pada Desi yang menelepon nya.


"Ah iya, baiklah. Kalau begitu aku mengusulmu saja. Sampai nanti."


"Dari siapa?" tanya Niko.


"Desi,katanya dia sudah ada di dekat rumahmu." jawab Nita.


"Oh,kalau begitu ayo kita pulang." ajak Niko.


"Buru-buru sekali,ah sebentar. Ini bawalah," Bu Choi memberikan bingkisan untuk Nita.


"Apa ini Bu?"


"Sudah,terima saja. Dan ini syal untuk kalian berdua. Ingatlah untuk mampir kesini suatu saat nanti. Karena kalian sudah ibu anggap anak ibu sendiri. Niko,berhentilah bersedih. Karena ibu tahu kau tak selemah itu."


"Aku menyayangimu Bu Choi." Niko memeluk Bu Choi.


"Dan ini juga buatmu. Berikan ini pada kekasihmu nanti." Bu Choi menaruh sesuatu di tangan Niko.


"Tentu,terima kasih banyak Bu." ucap Niko.


"Kita pamit dulu,sampai jumpa lagi." pamit Nita dan Niko bersamaan.


Niko menggandeng tangan Nita dan membawakan bingkisan dari Bu Choi.


Nita merasa tidak nyaman dengan tindakan Niko,namun dia bingung bagaimana menolaknya.


***


AUTHOR

__ADS_1


🤗🤗🤗


__ADS_2