Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 100 : Debay Twins [Tamat]


__ADS_3

Setelah kejadian lima hari yang lalu, Ella akhirnya mulai tenang kembali, ditambah Elisa juga sudah dalam pemulihannya dan setiap hari ditemani oleh Aline. Awalnya Elisa agak risih tapi berkat Ella akhirnya mau juga menerima Aline sebagai adik tiri.


Hanya dalam dua minggu saja ini, Elisa akhirnya sembuh dan sudah dapat keluar dari rumah sakit, hingga Ny. Chelsi punya waktu untuk mengunjungi makam mantan suaminya dulu bersama Elisa dan Aline. Serta tak lupa mengunjungi makam Bu Kalista.


Hanya saja, sayangnya Ella yang lagi ada di rumah sakit tak bisa ikut dengan kondisinya yang lagi hamil, apalagi ia harus rutin diperiksa demi kesembuhan dirinya dan sang calon debay [Dedek Bayi]. Tapi Ella tak kuatir sama sekali, karena Devan selalu ada untuknya dan menemaninya setiap saat. Kesempatan ini adalah waktu yang sangatlah berharga bagi keduanya. Dukungan Devan membuat Ella yakin bisa sembuh dari sakitnya.


Hari demi hari telah berlalu, bulan demi bulan silih berganti dan keluarga Tn. Raka dan Tn. Vian sudah akur kembali. Bahkan hubungan Ny. Chelsi dan suami keduanya sudah mulai membaik setelah kejadian penculikan yang terjadi pada tujuh bulan yang lalu.


Kini Rafa juga tidak lagi memikirkan hubungan Devan dan Ella akibat dirinya begitu sibuk pada pendidikannya kali ini. Zeli yang dulu jengkel pada Ella, sudah menerima kehadiran Ella sebagai kakak Iparnya.


Sekarang tepatnya di malam tahun baru. Semua orang telah berkumpul di mansion Tuan Raka, keculi Devan dan Ella yang ada di rumah sakit karena masa lahiran Ella sudah dekat dan dianjurkan untuk tinggal di rumah sakit oleh Dokter beberapa hari yang lalu, jadi keduanya tak bisa merayakan tahun baru di mansion Ayahnya.


"Kamu kenapa?" tanya Ella bingung melihat Devan yang ketakutan. Nampak lelaki ini sedang memikirkan resiko Ella yang akan melakukan cesar bila sudah waktunya. Apalagi Ella dinyatakan mengandung baby twins. Meski sudah sembuh dari TBC, Devan tetap kuatir.


"Semua akan baik-baik saja, kamu jangan begini dong. Aku kan ikut takut juga." Ella kembali bicara, menenangkan Devan yang duduk di sampingnya.


"Huft, baiklah. Semua pasti akan berjalan lancar." Kata Devan menghela nafas dan yakin Istri serta anaknya akan selamat nanti. Tak mau terjadi sesuatu pada Ella, tak mau kehilangan orang yang sangat dia sayang.


Kini di mansion Tn. Raka terlihat begitu ramai sekarang dan sangat meriah pada perayaan sambutan tahun baru kali ini. Sangat jelas, dua keluarga ini berkumpul nampak bercanda gurau, ditambah Maysha tertawa melihat petasan yang dimainkan oleh Rafa dan Zeli. Tapi tidak untuk Ny. Mira yang murung memikirkan anak keduanya, saudara kembar Devan. Tn. Raka hanya memeluknya, mencoba menenangkan Istrinya.


"Sayang, Putri kita sudah bahagia di sana. Kau tak usah bersedih terus menerus begini." Hibur Tn. Raka melihat dua mata Istrinya yang berkaca-kaca ingin menangis.


"Hm, aku hanya kasihan pada cucu kita." Kata Ny. Mira melihat Maysha yang masih tertawa bersama Rafa dan Zeli.


"Semuanya akan berlalu, semua akan baik-baik saja sayang." Sekali lagi Tn. Raka hanya bisa menenangkannya.


Tiba-tiba suara Elisa yang dari dalam mansion membuyarkan suasana meriah ini.


"Mama!" teriak Elisa bersama Aline memanggil Ny. Chelsi.


"Kenapa, Sa?" tanya Ny. Chelsi mendekatinya.


"Ella mau lahiran, Ma!" Tunjuk Elisa pada ponselnya.


"Tadi Hansel hubungi kami kalau malam ini Ella akan melahirkan secara cesar." Jelas Aline ikut bicara. Raut wajahnya begitu senang mendengar kabar gembira ini. Begitupun yang lainnya hingga akhirnya acara ditinggalkan dan langsung berangkat ke rumah sakit.


Tapi baru saja beberapa menit pergi, seorang wanita muda datang dengan keadaan sedikit kacau. Terlihat cantik memiliki rambut pendek dan tinggi tubuh yang ideal. Wanita muda ini berjalan sempoyong masuk ke dalam mansion. Pandangannya mencari seseorang.


"Loh tumben nih rumah sepi banget, di mana Mami dan Papi serta lainnya?" pikirnya mencari-cari.


"Aaaaaa, Non-nona Dean?" teriak salah satu pelayan mengenalinya dan hampir pingsan dibuatnya.


"Astaga, Bibi!" kagetnya mendengar teriakan pelayan di mansion itu. Pelayan sedikit ketakutan dan perlahan mendekatinya.


"Non, ini beneran Non Dean kan?" tanya Bibi pelayan menunjuknya.


"Yaialah, Bi! Memangnya aku ini hantu?" Tunjuknya pada dirinya sendiri.


"Bukannya, Nona sudah meninggal?"


"Apa, meninggal?" kagetnya sekali lagi.


"Ya, Non. Anda dikabarkan meninggal dalam kecelakaan pesawat." Jelas pelayan itu menggaruk kepala berpikir dirinya tak salah info.


"Ahahaha, mana ada. Aku ini masih hidup dan soal kecelakaan itu aku tidak ikut naik," tawa Dean terdengar lucu dirinya dianggap sudah meninggal.


"Tapi kenapa Nona tidak ikut naik pesawat dan kenapa baru pulang ke sini?" tanya Bibi pelayan ingin tahu sambil megelus dada merasa lega.


"Ini gara-gara aku dirampok saat jalan ke bandara. Eh jadinya aku tidak bisa pulang ke sini dan terpaksa kerja di New york, Bi. Aku jadi pelayan di sana cukup lama demi cari biaya. Aku juga selalu menghubungi orang-orang di sini, tapi panggilanku malah ditolak. Apa karena nomor asing jadi tak ada yang mau mengangkatnya?" jelas Dean panjang lebar.


"Pantas saja sering ada nomor asing yang masuk ke sini, ternyata itu dari Non Dean."


"Ya, Bi. Sekarang, kenapa mansion ini sepi? Yang lain pada kemana, Bi?" tanya Dean melihat kopernya.


"Em, itu semuanya ke rumah sakit Non,"


"Apa, rumah sakit? Siapa yang sakit Bi? Mami atau Papi atau Maysha?" tanya Dean kaget kembali.

__ADS_1


"Itu ... Kakak Ipar, Non."


"Eh, maksudnya Elisa?"


"Bukan Non, itu Nona Ella adiknya Non Elisa. Non Maysha juga ada di rumah sakit."


Dean menggaruk kepala, tak mengenal Ella. Tapi mendengar putrinya ada di sana, ia pun berniat pergi ke rumah sakit.


"Ya sudah, bawa koperku ke kamarku, Bi. Aku ke rumah sakit dulu." Kata Dean pergi lalu mencari taksi sambil melihat ponsel baru yang dia beli, ingin menghubungi suaminya tapi rada-rada kesal juga pada suaminya. Bibi hanya geleng-geleng kepala melihat Dean pergi ke rumah sakit lalu melihat jam dinding sudah pukul 11.30 malam. Bibi pun naik ke lantai atas membawa koper Dean.


Kini di rumah sakit, semua orang sudah berkumpul. Mereka terkejut melihat Devan mondar-mandir di depan ruang operasi.


"Mama, apa Istriku akan baik-baik saja di dalam? Aku takut terjadi sesuatu padanya dan juga calon bayiku," ucap Devan menunjuk pintu.


"Tenanglah, semua pasti berjalan dengan lancar. Mama juga seperti Ella dulu, melahirkan secara cesar." Jelas Ny. Mira menenangkan putra sulungnya yang begitu cemas. Tn. Raka dan yang lainnya menghela nafas ikut mencemaskan Ella.


Elisa yang melihat mereka hanya menunduk, berharap hal yang sama. Takut dengan ucapan Ella waktu itu, namun tiba-tiba sebuah tissu diberikan untuknya. Elisa melihat Hansel memberinya tissu itu.


"Terima kasih," lirih Elisa menerimanya.


"Sama-sama, Non Elisa. Semua pasti berjalan dengan lancar." Kata Hansel tersenyum. Elisa menunduk tersipu saja.


Tiba-tiba suara petasan begitu meriah akhirnya terdengar cukup jauh. Devan melihat jam tangannya sudah pukul 12.00 malam lalu beralih ke 12.01 malam. Tahun baru akhirnya telah tiba bersamaan suara tangis bayi dari dalam ruangan. Kedua mata Devan melihat pintu ruangan terbuka dan segera mendekati Dokter.


"Gimana, Dok? Istri saya baik-baik saja kan?" tanya Devan pada Dokter lalu melihat suster membawa keluar dua bayi kembar.


"Selamat ya, Pak. Bayinya sehat dan lucu-lucu." Kata Suster lalu pergi untuk memeriksa kondisi sang bayi kembar. Sebagian orang ikut pada suster untuk melihat lebih lama dua anak kecil ini dan meninggalkan Devan, Elisa, Hansel, Ny. Mira dan Chelsi serta Tn. Raka dan Tn. Vian. Hanya Rafa, Zeli dan Maysha serta Aline yang pergi bersama suster tadi.


"Bagaimana istriku, Dok?" Sekali lagi Devan bertanya.


"Adik saya baik-baik saja kan, Dok?" ucap Elisa ikut bertanya.


Suasana semakin menegangkan membuat mereka takut dengan kondisi Ella.


Dokter pun menghela nafas lalu tersenyum. "Dia baik-baik saja, operasinya berjalan lancar. Dia hanya butuh banyak istirahat sekarang, kalian tidak usah cemas." Jelas Dokter lalu melihat pintu terbuka.


"Sayang," ucap Devan akhirnya melihat istrinya. Ella hanya tersenyum tangannya digenggam oleh Devan.


"Hei, kau menangis?" lirih Ella ingin tertawa melihat Devan.


"Tidak, aku ini malah senang melihatmu lagi."


"Ahaha," tawa Ella mencubit pipi Devan. Sangat lucu melihat rasa cemas di mata suaminya.


"Ella," panggil Elisa masuk ke ruang rawat Ella bersama Hansel.


"Gimana perasaan kamu?" lanjutnya bertanya.


"Hm, baik-baik saja. Terima kasih sudah datang," jawab Ella melihat Elisa dan ingat saat itu Elisa melindunginya. Jika tidak, mungkin dirinya dan debay tak akan selamat. Elisa tersenyum mengangguk lalu menoleh ke arah pintu, melihat semuanya datang bersama suster yang membawa dua bayi mungil.


Suster meletakkan dua bayi itu di dekat Ella. Terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Devan dan Ella saling tatap lalu tersenyum bersama, merasa senang akhirnya menjadi orang tua. Tapi tidak untuk Ny. Mira yang ingat kembali pada putrinya.


Namun tiba-tiba Maysha teriak memanggil seseorang hingga semua yang hadir kaget melihat wanita muda tak asing berdiri dengan ngos-ngosan di dekat pintu dan perlahan mengatur nafasnya.


"Fiuhh ... akhirnya ketemu juga," ucapnya melihat semua orang terdiam mematung kecuali Ella yang tak tahu siapa wanita ini.


"Eh, kalian kenapa?" tanya Dean kebingungan.


"Aaaaaaa, ada mayat hidup Kak!" teriak Zeli memeluk Rafa yang masih diam terkejut.


"Astaga, di mana?" Dean celingak-celinguk mencari apa yang diteriaki Zeli.


"Yeees, Mommy sudah pulang." Girang Maysha lari memeluk Ibunya.


"Hihi, sini malaikat kecil Mommy sudah besar ya." Jongkok Dean memeluk putri kecilnya membuat semua orang kaget kembali melihat Maysha benar-benar memeluk Ibunya.


"Ini-ini kamu Dean?" tanya Devan berdiri untuk memastikan saudara kembarnya bukan hantu jadi-jadian.

__ADS_1


"Yaialah, masa alien." Ketus Dean melihat tatapan semua orang bagaikan melihat penampakan saja. Devan mencubit pipi adiknya lalu menjitak kepala Dean.


"Wei, ini apa-apa sih. Kenapa semua pada diam dan kau malah menjitak kepalaku!" celetuknya kesal. Devan tertawa kecil dugaannya benar.


Ny. Mira berjalan dan langsung memeluknya. Ternyata putrinya masih hidup. Dean pun paham satu hal, mereka benar-benar menganggapnya sudah tiada. Dean menghela nafas dan mulai menjelaskan jika dirinya dirampok dan terjebak di New York tanpa biaya sedikipun. Semua orang merasa lega mendengarnya. Ella yang di sana tertawa kecil melihat Maysha begitu girang pada Ibunya. Namun kali ini, suasana kembali canggung melihat Dean mendekati Ella.


"Apa kau Ella?" tanya Dean melihatnya lalu melihat Elisa. Devan pun mendekati adiknya lalu menjelaskan dari awal hingga akhir masalah ini. Dean sedikit terkejut lalu menepuk kepala belakang kakaknya.


"Ahaha, kau ini memang lebih brensek ya dari pada suamiku. Bisa-bisanya kau suka sama dua bersaudara ini. Jadi pengen ku tendang kau keluar angkasa!" cetus Dean menyilangkan tangan, kesal melihat saudaranya. Tapi Devan lebih kesal pada saudarinya.


"Aku juga dari awal tidak tahu, Wei! Kau jangan asal simpulkan cerita begitu saja!" kesal Devan menyilangkan tangan.


"Sudah tak masalah, kau tidak usah marah. Aku salut, kau sangat hebat sampai-sampai bisa punya anak dua sekaligus tahun ini." Kata Dean mendekati Ella lebih dekat dan melihat dua bayi yang amat menggemaskan.



"Aku tidak masalah siapa yang dinikahi Devan, jadi ku harap kita bisa saling kenal dan lebih akrab lagi, Ella." Kata Dean melihat jari-jari kecil dua keponakannya.


"Te-terima kasih." Ucap Ella gugup ditatap oleh Dean.


"Ya sudah, aku ke sini cuma mau ketemu putriku saja dan untuk Mami sama Papi maaf sudah buat kalian kuatir selama ini, jadi sekarang bisakah kita pulang?" ucap Dean melihat Maysha lalu menggendongnya. Ny. Mira dan Tn. Raka tentu akan pulang malam ini. Membiarkan Devan sendiri yang menjaga dan menemani Ella. Keduanya pun pamit pada Devan dan Ella lalu pergi bersama anak-anak mereka.


Kini tinggal Ny. Chelsi dan Tn. Vian serta Elisa, Aline dan Hansel.


"Kalau begitu, Mama pulang juga. Kamu baik-baik di sini ya sayang." Kata Ny. Chelsi mengelus rambut Ella.


"Em, terima kasih Ma."


Ny. Chelsi tersenyum lalu pamit bersama Tn. Vian diikuti Aline.


"Aku tidak bisa tinggal, kamu hubungi aku kalau ada apa-apa ya," ucap Elisa pada Ella. Ella mengangguk paham lalu tersenyum melihat Elisa pergi bersama Hansel untuk mengantar wanita ini.


Kini di ruang rawat hanya Devan dan Ella. Keduanya begitu bahagia melihat dua bayi mereka.


"Sekarang kau mau kasih nama apa untuk anak kita?" tanya Ella mengelus dua pipi anaknya yang tertidur.


"Em, bentar. Aku mikir dulu," ucap Devan mulai berpikir. Ella tertawa kecil lalu berbicara.


"Bagusnya mungkin Devino dan Devina."


"Hm, kenapa kau kasih nama begitu?"


"Karena kamu sering sebut nama Debay, jadi anak sulung kita namanya Debay Vino alias Devino dan anak kedua kita Debay Vina alias Devina. Jadi aku singkat jadi Devino dan Devina. Gimana, bagus gak?" tanya Ella melihat Devan.


"Em, bagus tuh. Ternyata kau pintar juga memilih nama untuk anak kita, ahaha," tawa Devan lalu mencium kening Istrinya.


"Jadi sekarang Debay Vino dan Debay Vina malam ini jangan rewel ya. Jangan buat Mama kalian susah tidur nanti sama jangan ganggu Papa berduan sama Mama kalian ya." Lanjut Devan mengelus pipi kedua anaknya. Ella tertawa kecil melihat Devan mengajak dua Debay Twinsnya bicara. Malam ini sangat berharga untuk keduanya. Kelahiran dua anaknya bertepatan lahirnya tahun baru, dimana awal kebahagiaan itu baru dimulai.


Sebuah pelengkap hidup dan bukti atas perjalanan cinta mereka memberikan sebuah anugrah yang akan mereka jaga bersama-sama. Memberi cinta dan kasih sayang sepenuhnya untuk masa depan keluarga kecilnya. Aradella, gadis yang awalnya dijual ke pelelangan, akhirnya dapat merasakan kebahagiaan itu dari Devan dan keluarga kecilnya. Tangis pilu tak terdengar kembali melainkan tangis kedua bayi mungilnya sekarang. Semoga kehidupan di masa depan tak ada lagi kesedihan.


Terima kasih buat kalian yang selalu dukung Aradella. Semoga kita dapat mengambil hikma dari kisah ini. Buang negatifnya, ambil positifnya. Saya selaku penulis memohon maaf sebesar-besarnya bila ada kesalahan dan terima kasih banyak atas dukungannya. Love you all. Sampai jumpa di cerita berikutnya.


Like dan Komen ya^^


Yuk berteman dengan Author di


Instagram :@asti.amanda24


Facebook :Asti Amanda


Follow me, folback you


...Mampir yuk ke musim 2๐Ÿ˜‰...


...cerita elisa dan hansel, rafandra, aline dan baby twins๐Ÿ˜Š...


__ADS_1


__ADS_2