Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 83 : Saling Membutuhkan


__ADS_3

Setelah perdebatan kemarin, tentunya Devan masih dikurung di dalam kamar. Devan kembali mengamuk seorang diri, ingin pergi tetapi setiap jendela dipagari besi. Hanya dedaunan yang dapat dilihat Devan.


"Aaaargh!" racau Devan kesal bercampur sedih. Sudah kehilangan Istrinya, sekarang harus menikahi Elisa yang tidak lagi dicintainya. Devan duduk di tepi ranjang menatap tajam ke arah pintu yang terkunci rapat-rapat.


"Aku tak mau menikahinya! Aku tidak lagi mencintai Elisa! Aku-aku," lirih Devan diantara teriakan kesedihannya.


"Aku hanya mencintai Istriku saja, tolong buka pintunya!" pekik Devan kini menggedor-gedor pintu kamarnya. Hidungnya mulai memerah menahan tangisnya. Ingin meluapkan jika dirinya sedang amat bersedih.


"Mami, tolong buka pintunya. Aku ingin mencari istriku, dia tidak boleh pergi dariku." Devan menunduk di balik pintunya, sedih karena gagal tak menemukan Ella sama sekali. Rasa kecewa menyakitkan hatinya. Gadis yang telah menjadi candunya sudah meninggalkannya sekarang.


Suara isakan Devan yang tak jelas perlahan membuat Ny. Mira tak tega. Apalagi pagi ini hanya suara amukan Devan yang terdengar di dalam mansionnya.


"Sayang, kita lepasin Devan ya. Aku tidak tega melihatnya seperti itu." Ny. Mira yang lagi berdiri di ruang tamu membantu suaminya memasang dasi dan mulai membujuk Tn. Raka.


"Tidak bisa, dia harus renungkan ucapannya kemarin." Tn. Raka tetap menolak.


"Tapi, sayang-"


"Sudah, aku harus ke rumah Vian mau bahas pernikahannya. Kamu jagain dia, jangan sampai meninggalkan mansion ini." Tn. Raka tersenyum manis pada sang istri dan tak lupa mencium keningnya lalu berjalan ke pintu utama, keluar ke arah mobil ingin pergi ke rumah Tn. Vian pagi-pagi ini.


Fokus memandang suaminya, tiba-tiba Zeli datang mengejutkannya. "Mih, Zeli pergi sekolah dulu ya!" salam Zeli meraih tangan Ibunya dan tak lupa mencium punggung tangan Ibunya.


"Eh, sudah mau berangkat?"


"Ya nih, Mih. Zeli udah mau telat nih, dah Mih!" lambai Zeli lari keluar mengejar Tn. Raka ingin ikut bersama Ayahnya.


Ny. Mira hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat putri bungsunya tergesa-gesa. Baru juga berbalik, Rafa memanggilnya.


"Mih!" panggil Rafa menuruni tangga dengan cepat lalu mencium pipi Ibunya. Inilah kelakuan Rafa, memiliki sifat lembut pada Ibunya dan juga adiknya kalau gak nyebelin sih.


"Eh, Rafa juga buru-buru ya?" tanya Ny. Mira melihat Rafa sedang memperbaiki dasinya.


"Ya, Mih. Rafa pergi dulu ya." Rafa lari keluar ke arah motornya yang sudah tak terpakai selama dirinya di LN. Rafa melaju meninggalkan mansion. Kini pelayan kembali terlihat mengerjakan tugasnya. Tidak seperti Ny. Mira yang kini naik untuk melihat cucunya yang dibawa oleh Devan kemarin. Merasa kasihan pada dua anak kembarnya yang sekarang punya masalah masing-masing.


Maysha berjalan dengan kaki kecilnya, pergi keluar kamar lalu tersenyum melihat Ny. Mira berjalan ke arahnya. Maysha lari ingin memeluk Neneknya.


"Mihmi!" panggil Maysha. Ny. Mira tertawa geli dipanggil begitu. Anak kecil ini pun digendong olehnya.


"Wah, cucu Mimi dah bangun ya, udah cantik lagi." Ny. Mira mengelus dan memuji cucunya.

__ADS_1


"Hihi, kaca Bun-nah, halus bangun pagi, Mihmi." Maysha tertawa cekikikan lalu menunduk lesu.


"Mihmi, Maysha mawu Bun-nah. Maysha mawu, hiks." Isak tangis mulai terdengar dari Maysha. Ny. Mira terkejut dan sedikit heran siapa yang disebut cucu imutnya.


"Manis, Bunda Elisa lagi lagi sakit, nanti kita jenguk," ucap Ny. Mira mulai menuruni tangga.


"Bukan, Maysha Mawu sama Bun-nah ... Bun-nah Ala." Maysha merengek bukan Elisa yang dimaksud tetapi Aradella.


"Bunda Ara?" tebak Ny. Mira membenarkan. Maysha mengangguk. Melihat cucunya yang begitu merindukan sosok Ara membuat Ny. Mira penasaran.


"Ya sudah, kalau begitu manisku ini minum susu dulu ya." Ny. Mira meletakkan Maysha ke sofa di depan TV lalu memanggil satu pelayan untuk membuatkan susu untuk Maysha. Hanya sesaat kemudian, Dot susu Maysha sudah jadi. Ny. Mira menyuruh pelayan itu menjaga Maysha sebentar lalu masuk ke dapur. Mengambil sepiring sarapan dan kemudian naik ke lantai dua ingin membawakan sarapan untuk Devan.


Tok Tok Tok


Suara ketukan tidak dipedulikan Devan yang lagi terbaring di ranjangnya. Devan sekarang lebih memikirkan istrinya dari pada memberontak lagi. Pintu kamar terbuka, Ny. Mira perlahan masuk dan duduk di tepi ranjang lalu meletakkan sarapan di atas meja.


"Devan, bangun. Ini kamu makan dulu, sudah dari semalam kamu tidak keluar makan, bahkan makan malam kamu tidak kau sentuh sedikitpun," ucap Ny. Mira membangunkan Devan sambil melihat piring yang berisi makanan yang sudah basi dari kemarin di atas meja.


"Nak, Mami takut kau sakit. Sekarang, ayo bangun dimakan sarapannya." Sekali lagi Ny. Mira membujuk putra sulungnya. Devan mengepal tangan lalu menarik selimutnya, menutupi seluruh tubuhnya. Tak ingin Ibunya melihat kesedihannya.


"Kalau ada masalah, coba ceritakan sama Mami. Siapa tau, Mami bisa bantu."


Devan bergerak sedikit lalu perlahan bangun dan duduk di tepi ranjang yang beda, membelakangi Ibunya sambil menggenggam liontin milik Ella.


"Loh, kan Elisa ada di rumah sakit. Kamu jangan bilang begitu," ucap Ny. Mira berdiri lalu berpindah duduk di dekat anaknya yang terus-menerus menunduk. Sedih dan sakit rasanya melihat Devan lemah seperti ini.


"Bukan, bukan Elisa yang aku maksud, Mah."


"Eh, terus siapa?" tanya Ny. Mira kaget mendengarnya.


"Dia-dia istriku, Mah. Aku-" ucap Devan langsung melihat Ibunya dengan mata sembabnya.


"Apa, Istri?" Ny. Mira terkejut mendengarnya, apalagi Devan benar-benar menyedihkan sekarang.


"Aku tidak ingin kehilangan dia, aku sangat mencintainya. Tapi aku bodoh, aku tak tahu cara bahagiakan dia. Sekarang aku tidak ingin dia pergi tapi tak bisa-" ucap Devan terhenti lalu menunduk. Tak kuasa menceritakan sosok Ella yang kini penting baginya. Kedua tangannya bergetar tak sanggup memegang liontin Ella lagi. Hanya itu yang sangat penting yang ditinggalkan oleh Ella.


"Devan, jawab Mami jujur. Istri? Siapa yang kau maksud ini?" tanya Ny. Mira serius.


"Dia dan aku sudah menikah, aku diam-diam menikah dengannya. Tapi Mami tolong percaya sama Devan, semua ini tak sengaja terjadi, awalnya cuma salah paham, tapi lama-lama aku mulai nyaman dan mulai mencintainya," lirih Devan melihat Ibunya.

__ADS_1


"Aku memang lelaki bodoh yang sangat bodoh!" lanjutnya menunduk kembali. Ny. Mira menghela nafas, agak sedikit kecewa mendengarnya, tapi dirinya tak mau melihat putranya bersedih seperti ini.


"Coba ceritakan sama Mami, siapa dan bagaimana istrimu itu?" tanya Ny. Mira meminta lebih jelas soal Aradella.


Devan terisak sejenak lalu mengatur nafasnya. "Dia gadis baik, Mah." Devan tersenyum mulai menjelaskan. "Dia bernama Ella, namanya indah seindah hatinya. Dia sangat peduli kepada orang lain tanpa pamrih. Dia istri yang sangat aku rindukan." Devan menunduk lagi, setetes air mata akhirnya jatuh juga. Tak sanggup menahannya dan segera diusap dengan kasar.


Ny. Mira tersenyum mendengarnya, lalu bertanya, "Kalau begitu, sekarang dia di mana?"


"Dia-dia sudah meninggal." Jawaban Devan sontak membuatnya kaget. "Apa, meninggal? Bagaimana bisa?"


"Dia di makan buaya, aku benci buaya itu!" decak Devan tiba-tiba ingin marah.


"Astaga, bagaimana bisa begitu?" Sekali lagi Ny. Mira kaget. Devan hanya terdiam saja, sudah cukup baginya untuk berbicara. Ny. Mira kini mengerti, pasti ada masalah rumit yang sudah terjadi hingga gadis yang dicintai Devan sudah meninggal.


"Ya kalau begitu, kamu makan ya. Soal itu jadikan pelajaran, lain kali jangan membuat istrimu sakit hati. Setelah kau nikahi Elisa, baik-baiklah padanya." Ny. Mira mulai menasehati sambil menepuk bahu Devan. Sontak, Devan berbalik. Bukan karena ditepuk, tapi tak setuju dengan ucapan Ibunya.


"Tidak, aku hanya akan menikahi Istriku!" Tolak Devan mulai lagi mengamuk.


"Oke, oke. Mami paham, tapi dia sudah meninggal. Sekarang, kamu lupakan dia dan jangan lagi telat makan. Kamu harus sehat bugar di acara pernikahanmu dengan Elisa," ucap Ny. Mira lalu keluar dari kamar Devan dan kemudian menguncinya.


"Aaargh!" racau Devan mulai lagi.


"Percuma, percuma Mami tahu semua ini! Kau sudah pergi, meninggalkan aku yang setengah gila ini! Setiap aku bernafas hanya bisa memikirkanmu, Ella!" Devan meracau di dalam kamar. Begitu susah untuk move on pada istrinya. Satu nama ini 'Aradella' sudah melekat di hati dan pikirannya.


"Apa kau baik-baik saja di sana, sayang?" lirih Devan menyentuh layar ponselnya, sedikit tersenyum melihat foto Ella di wallpapernya. Devan berdiri mulai bergumam.


"Setiap langkahku, aku hanya memikirkanmu. Setiap nafasku, hanya untuk dirimu. Kenapa, kenapa buaya itu memakanmu!" racau Devan menjatuhkan dirinya ke sofa.


"Kau selalu di hatiku, sayang." Devan perlahan mencium liontin milik Ella lalu menutup kedua matanya, tapi linangan air mata tak sanggup tertahan hingga akhirnya tumpah membasahi wajah tampannya.


Sama seperti halnya dengan Ella sekarang yang duduk sendirian di apartemen Rafa. Gadis ini sedang menekuk lututnya, memikirkan suaminya juga yang pastinya akan menikahi Elisa.


"Aku merindukanmu, apa kau juga sama?" Ella menenggelamkan wajahnya diantara dua lututnya. Perlahan mengusap kedua matanya yang sudah berair dari tadi. Apalagi kini dirinya tak tahu harus bagaimana. Kedua kakinya mulai berdiri lalu Ella melihat ke arah TV. Ingin menonton, berharap dapat menghilangkan kegalauannya.


Namun baru saja menyiarkan sebuah acara TV. Ella terkejut langsung menjatuhkan remote TV melihat Tn. Raka berdiri dengan Tn. Vian di sebuah konferensi pers. Mengatakan jika kedua anak mereka akan segera dinikahi.


"Dia, apa dia Ayahnya Tuan Devan?"


"Benar, aku tak ada apa-apanya dibandingkan dengan Kak Shella. Aku hanya anak yang diterlantarkan yang tak dianggap oleh Ibunya sendiri. Kau sangat cocok Tuan dengan kakakku."

__ADS_1


Ella mematikan TV lalu berlari ke balkon apartemen. Menatap pagi yang indah tapi tak seindah hatinya yang terpuruk. Ella mulai terisak lalu berteriak sekencang mungkin.


Entah apa yang dia teriakkan sekarang, yang jelas ini cukup membuatnya tenang. Bersamaan pula dengan Devan yang berteriak meracau di dalam kamarnya. Keduanya saling memandang ke langit lalu menyentuh dada mereka. Setetes air mata kembali turun bersamaan dari mata kanan mereka. Tahu jika sekarang keduanya saling membutuhkan satu sama lain.


__ADS_2