Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 32 : Mati Lampu!


__ADS_3

🔞Warning!!


Kedua mata Devan membuat Ella terdiam. Begitu menggoda ingin mencoleknya. Ella sangat kesal karena masih ditindih begitu saja oleh Devan.


"Tu-tuan, tolong menyikirlan dari atas tubuhku."


Ella mencoba mendorong, tapi Devan tak peduli dengan tindakan Ella maupun perkataannya. Bahkan Devan malah membalikkan posisinya. Ella terkejut dirinya kali ini yang menindih Devan, apalagi jubah mandi Ella mulai memperlihatkan belahan kedua dadanya.


"Kau ingin lepas dariku?" Devan menyeringai tipis. Ella segera mengangguk memohon bagaikan anak bebek yang ingin ikut dengan induknya.


"Tu-tuan, saya masuk hanya ingin meminjam kamar mandi. Saya tak bermaksud ingin tidur apalagi bergelut dengan anda." jelas Ella tetap memohon.


"Hm, kau tak usah malu begini. Aku tahu otakmu ini sebenarnya ingin merasakan ...." Devan memeluk erat Ella hingga Ella tersentak merasakan burung Devan mulai aktif menumbuk miliknya.


"Kau pasti ingin merasakan kenikmatan malam ini bersamaku, kan?" Devan berbisik ke telinga Ella. Ella spontan merona dan segera geleng-geleng kepala bukan itu maksud kedatangannya.


"Kau tak usah malu-malu kucing, aku akan lembut dan pelan-pelan bercinta denganmu kali ini." goda Devan mulai menyelipkan tangan kirinya ke bagian paha kanan Ella.


"Aaaah,"


Ella mendesah merasakan dirinya bagaikan kesetrum, begitu geli bercampur nikmat pahanya dielus lembut oleh tangan jahil Devan.


"Tuan, jangan lakukan ini." Ella mencoba untuk menyingkir dari atas tubuh Devan. Tapi tubuh kecilnya tak bisa lepas dari rangkulan tangan Devan yang erat.


"Eh, kau tak ingin lakukan ini?" Devan berhenti mengelus paha Ella.


"Ya, mohon lepaskan aku saja." Ella memohon, tak sanggup lagi. Wajahnya begitu merona membayangkan dirinya berbagi cinta dengan lelaki yang menyebalkan ini.

__ADS_1


Devan tak mendengar permohonan Ella dan malah perlahan membuka tali jubah mandi Ella. Ella spontan kaget, kini kedua dadanya terpampang indah di depan kedua mata Devan. Devan tersenyum melihat dada Ella yang lumayan bisa diremas-remas lagi.


"Kau tak ingin lakukan itu tadi, tapi bagaimana kalau aku melakukan ini padamu."


"Aaaaah,"


Devan sekali lagi membuat Ella mendesah. Begitu indah dan syahdu desahan dari gadis sembilan belas tahun ini. Tak sia-sia Devan mengingkatnya sebagai istri. Ella tak sanggup lagi merasakan tangan Devan mulai kembali meremas lembut dada kirinya.


Melihat Ella mencoba memberontak, Devan dengan cepat membalikkan posisinya. Kali ini dirinya yang menindih Ella. Tubuh kekarnya membuat Ella tak bisa bergerak. Apalagi kedua tangannya dikunci ke atas kepala. Mata Ella mulai berair, dirinya tak sanggup diperlakukan seperti ini. Bahkan tubuhnya tak berdaya ditindih oleh Devan.


Devan kembali menyeringai tipis, memberikan kecupan lembut pada tengkuk leher Ella. Aroma wangi tubuh Ella yang habis mandi membuat Devan malah ketagihan ingin mempermainkan tubuh Ella yang sangat sensitif.


"Ku-ku mohon, hentikan ini," lirih Ella tetap memberontak mendorong dada kekar milik Devan. Tapi, Devan tak peduli dan malah menggigit sedikit bahu Ella membuat gadis ini menjerit kesakitan.


"Aaaaa, Tuan!" Jeritan merdu Ella tetap tak didengar oleh Devan. Lelaki ini malah mulai lagi menyelipkan tangannya ke paha Ella, mengelus lembut dan membisikkan sesuatu.


"Emh ... uh," Ella terperanjak merasakan mulutnya dilummat kembali. Bahkan lebih buas dengan tangan Devan yang mulai bermain pada buah dadanya.


"Aku akan buat kau lebih menikmatinya."


"Aaaaaaah!"


Jeritan Ella terdengar lagi saat Devan kembali memainkan triknya. Gairah Ella semakin menggebu-gebu melihat Devan semakin menjadi-jadi. Begitupula Devan yang malah keasyikan memainkan beberapa bagian titik sensitif milik Ella. Nafas Ella semakin memburu, kedua matanya kembali berair tak tahan dengan sentuhan dan kelembutan yang diberikan Devan.


Devan membalikkan tubuh Ella dan menindihnya. Kali ini tangannya mulai bermain pada kedua gumpalan lemak yang lebih menggoda untuk diremas dari pada gunung kembar milik Ella. Hawa panas semakin membara melihat tubuh Ella yang menggiurkan dan menggoda mata.


Devan kembali mengecup dan memberi tanda cupan pada punggung Ella. Kini gairah Devan mulai meningkat ingin lebih dari ini.

__ADS_1


"Tu-tuan, cu-cukup hentikan."


Ella masih sempat berbicara ingin menyadarkan Devan agar tidak melanggar aturan kontrak yang tak seharusnya melakukan hubungan intim di atas ranjang. Tapi Devan, tak dapat mendengarnya, apalagi nafas Devan sekarang ikut memburu merasa gelora cinta semakin bergejolak ingin merasakan tubuh Ella. Akibat keasyikan ingin mempermainkan Ella, malah mengakibatkan dirinya ingin bercinta sungguhan membagi cinta malam ini.


Ella menutup matanya mulai pasrah dirinya melayani Devan. Devan membalikkan tubuh Ella kembali menghadap padanya. Dengan cepat tanpa ijin dari Ella, mulut mungil menggoda Ella kembali dicium, dilummat, bahkan Devan mengulumnya dengan lembut. Ella tak bisa lagi menolak, ia juga menikmati permainan Devan. Kedua tangannya merangkul leher Devan dan membalas mencium Devan.


"Aaaah ... um,"


Ella menggeliat dadanya kembali dimainkan, apalagi Devan beberapa kali menepuk-nepuk lembut pantat gumpalan lemak yang semakin tergoda. Kali ini gairah keduanya mulai capai ke puncaknya. Ingin rasanya lebih dari ini. Ingin rasanya memasukkan burung miliknya ke dalam sangkar yang begitu didambakan. Klimaks mulai mencapai puncak, Ella menjerit dengan desahannya. Ingin rasanya memiliki dan menyerahkan tubuhnya pada Devan. Tapi, saat Devan mau membuka handuknya, tiba-tiba saja lampu kamar malah mati mendadak.


Devan melepaskan Ella dan sadar jika sekarang aksinya harus terpaksa dihentikan karena takut jika Maysha menangis gara-gara mati lampu. Devan buru-buru mengatur nafasnya lalu beranjak berdiri dan segera menyalakan korek api. Mencari penerangan dan segera memakai celana. Devan melihat Ella yang sedang bersembunyi dibalik sprai. Begitu malunya malam ini, Ella hampir menyerahkan dirinya. Devan tersenyum smirk lalu pergi melihat Maysha.


Detak jantung Ella masih terpacu, dirinya menekuk lutut di dalam sprai sedang menahan malu. Hampir saja, Devan tahu dirinya masih perawan. Jika tadi dilanjutkan, mungkin Devan akan marah melihat Ella yang masih perawan. Tapi untungnya, malam ini Tuhan masih berpihak padanya. Gara-gara mati lampu, aksi bercintanya dihentikan langsung.


Setelah perasaannya kembali normal. Ella keluar dari sparai lalu memperbaiki jubah mandinya. Berjalan keluar menggunakan arahan dinding di dekatnya. Langkah Ella dituntun ke kamarnya kembali. Ella pun berhasil menemukan gagang pintu kamarnya dalam kegelapan itu.


Ella segera membukanya, dan ternyata benar dirinya berhasil menemukan kamarnya sendiri yang kini hanya diterangi oleh lilin dan lampu senter ponsel milik Devan. Tapi pemilik ponsel tak terlihat di dalam kamar, dan hanya Maysha yang tertidur pulas di atas ranjangnya.


Ella menutup kamarnya dan berjalan ke arah ranjangnya, namun tiba-tiba saja, seseorang merangkulnya dari belakang.


"Apa kau merindukanku hingga datang ke sini?"


Ella tersentak menelan ludah, ternyata Devan bersembunyi dibalik pintu dan sekarang mulai kembali menggodanya untuk melanjutkan kegiatan bercintanya malam ini. Mungkin kini pikiran Devan untuk menceraikan Ella sirna gara-gara keasyikan mempermainkan Ella.


..._____...


...Like dan Vote untuk upload berikutnya✔️...

__ADS_1


...Atau beri hadiah sebanyak-banyaknya😍...


__ADS_2