
Elisa yang kemarin diantar pulang oleh Hansel, mulai ingat jika Ella kemarin berkata padanya bahwa sekilas melihat Ibunya datang ke pesta pernikahan.
"Mama, Bibi!" panggil Elisa yang keluar dari kamarnya. Sekarang sudah pukul 09.20 pagi dan benar-benar tak ada siapa pun yang dia temukan di rumahnya yang mewah.
"Ish, di mana sih, Mama!" rutuknya kesal. Baru saja mau ke dapur untuk menanyakan pada Bibi pelayan, Tn. Vian masuk ke rumah yang baru saja pulang dari tugas pertemuannya dengan perusahaan yang lain. Namun Tn. Vian hanya melewati Elisa, masih kecewa dengan Ny. Chelsi dan berdampak pula pada Elisa. Elisa hanya menunduk lesu lalu berjalan ingin ke dapur. Namun baru juga mau masuk, tiba-tiba Tn. Vian memanggilnya.
"Elisa!"
Elisa berbalik melihat Ayah angkatnya berjalan menghampirinya. "Di mana Ibumu?" Elisa malah melihat ke atas.
"Jadi Mama tidak ada di rumah?" pikir Elisa.
"Elisa, kenapa diam saja? Jawab, Papa!"
"Aku juga tidak tahu, Pa."
"Aish, benar-benar! Dia pasti pergi lagi tanpa memberi izin dariku!" gerutu Tn. Vian berjalan ingin keluar. Elisa segera menahannya.
"Papa, mau kemana?" tanya Elisa ingin tahu.
Tn. Vian tetap berjalan tak menjawabnya, terlihat kekesalan di wajahnya dan meninggalkan rumahnya lagi. Elisa mendengkus kesal melihat tingkah Ayah angkatnya yang menyebalkan. Setelah masuk ke dalam dapur, Elisa melihat Bibi pelayan berjalan sedang mengangkat tumpukan pakaian kotor.
"Bibi!" panggil Elisa mendekatinya.
"Ya, Non. Ada apa?" tanya Bibi meletakkan tumpukan cuciannya ke dalam keranjang.
Elisa mulai bertanya, "Di mana Mamaku?" Kedua mata Elisa seakan serius menatap Bibi pelayan, hingga wanita paruh baya ini sedikit ketakutan.
"Itu, Non. Nyonya keluar untuk menghadiri wawancara."
"Untuk apa lagi Mama hadir ke sana? Mama kan sudah tak punya kontrak kerja lagi," ucap Elisa semakin mendidih merasa kesal, bisa-bisanya Ibunya dengan mudah pergi begitu saja, padahal jelas-jelas kemarin pernikahan Ella, tapi Ibunya benar tak datang sama sekali.
"Saya juga tidak tahu, Non." Bibi pelayan hanya menunduk.
"Ck," decak Elisa meraih gelas lalu mengambil air, meneguknya hingga habis.
"Kalau begitu Bibi lanjut cuci dulu, Non. Permisi." Tunduk Bibi pelayan segera pergi dengan keranjangnya. Elisa dengan kesal meletakkan gelas itu ke meja dengan keras lalu berjalan keluar dari dapur dan melihat foto pernikahan Ibunya dengan Tn. Vian yang tergantung di atas TV. Pernikahan mereka sekarang mulai goyah, gara-gara kebohongan Ny. Chelsi yang tak mau jujur sama sekali.
"Pasti wawancara Mama disiarkan di TV. Aku harus tahu, apa lagi yang ingin dia sampaikan," cetusnya menyalakan TV dan benar saja Ny. Chelsi melakukan wawancara dan berkata pada siaran perdananya kali ini.
"Aku mulai sekarang baik-baik saja, semua job yang aku batalkan memang aku sengaja tak terima. Aku mulai ingin menjadi diriku sendiri, mulai hari ini aku akan lebih serius melakukan kewajiban seorang Istri untuk suamiku dan Ibu yang baik untuk-"
Perkataan Ny. Chelsi langsung tak berlanjut sebab Elisa semakin kesal lalu mematikannya. "Ingin melakukan kewajibannya sebagai Istri dan Ibu yang baik? Kenapa sih, Mama tidak jujur dalam wawancara ini dan malah berbicara omong kosong!"
"Apa susahnya coba mengakui Ella, dia juga anak Mama! Kenapa Mama malah bersikeras dengan pendiriannya!" rutuk Elisa menunduk, menyembunyikan raut sedihnya. Semua beban pikiran mulai memenuhi isi kepalanya. Apalagi hubungannya dengan Devan yang benar-benar sudah putus belum bisa dilupakan.
"Apa tidak ada kebahagian untukku?"
"Kenapa bisa sekacau ini!"
Elisa menyapu air matanya lalu naik ke atas masuk ke dalam kamarnya. Mulai diam-diam menangis seorang diri, menyembunyikan wajahnya di balik bantal dan memikirkan Ella yang pasti bahagia dengan lelaki yang pernah singgah di hatinya. Ia hanya bisa Ikhlas menerima kenyataan ini.
.
__ADS_1
.
Pukul 15.36 Sore, di mansion Tn. Raka.
Ella dan Devan terlihat sudah siap-siap ingin berpergian sore ini bersama Maysha. Terlihat begitu semangat berpamitan pada Tn. Raka dan Ny. Mira.
"Kami pergi dulu, Mi." Pamit Devan pada Ibunya. Begitupun Ella ikut berpamitan dan tersenyum pada mertuanya, tak lupa Maysha dengan senang mencium pipi Neneknya lalu memeluk Kakeknya.
"Pipi, Mimi. Maysha mau pelgi dulu ya sama Bunda." Tingkahnya semakin menggemaskan. Keduanya hanya tertawa kecil lalu melihat anak, menantu dan cucu pertamanya berjalan ke arah mobil. Tn. Raka hanya berdiri melihatnya, tidak seperti Ny. Mira melambai tangan pada Maysha di dalam mobil yang duduk di atas pangkuan Ella.
"Dadah, Mimi!" teriak Maysha balik melambai. Mereka pun pergi berlalu meninggalkan mansion ingin ke rumah Tn. Vian untuk berkunjung dan berharap hubungan dua keluarga ini bisa akur sediakala.
Hanya beberapa menit berlalu, mobil Devan telah sampai ke rumah Pamannya. Devan keluar duluan lalu memutari mobil depan menuju ke pintu lainnya, membuka pintu mobil untuk sang Istri dan keponakannya.
"Em, kamu tidak usah seperti tadi," ucap Ella agak aneh diperlakukan barusan.
Devan menyentuh puncak kepala Ella dan mengelusnya sebentar. "Memangnya salah kalau suami baik pada Istrinya sendiri?" tanya Devan tersenyum smirk melihat Ella tersipu malu. Malu dirinya bagaikan Tuan putri dibukakan pintu mobil.
"Ihihihi, pipi Bunda kenapa melah?" tawa Maysha pada gendongan Ella dan mencolek pipi gadis itu.
"Em, tidak. Mana ada." Kata Ella mengalihkan pandangannya.
"Pfft, tidak usah malu-malu. Sekarang kita masuk," tarik Devan mulai berjalan namun Ella tak bergerak sedikitpun.
"Kenapa tidak jalan?" lanjut Devan bertanya heran.
"Itu ... aku takut menemui Mama."
"Loh, kenapa? Kalian kan sudah lama tidak bertemu, pasti Mama akan senang dengan kehadiran kita yang berkunjung ke sini, jadi sekarang kita-" ucap Devan berhenti dan heran melihat Ella ketakutan. Memang Ella tak pernah bercerita jika sikap Ibunya kepadanya tidaklah baik.
"Eits, bentar," Devan segera menahannya. "Jelaskan padaku, apa yang membuatmu tiba-tiba berubah seperti ini?" lanjut Devan bertanya. Ella semakin menunduk sedih, lalu meraih tangan Devan menatapnya sendu.
"Sebenarnya, Ibuku tidak menginginkanku, dia tidak mau diriku. Jika aku ke sini pasti dia akan mengusirku."
"Loh, kenapa begitu? Kamu kan putrinya juga, sayang. Harusnya dia senang melihatmu datang ke sini." Kaget Devan benar-benar tak sangka sudah tahu kegundahan hati Istrinya semakin parah.
"Tapi, apa Ibuku akan-"
"Ssst," desis Devan menyentuh bibir Ella dengan jari telunjuknya.
"Tidak usah cemas, ada aku yang akan meluruskan masalah ini. Kau dan Maysha cukup berdiri di sampingku saja." Devan tersenyum menenangkan Ella yang gemeteran. Ella pun yakin dan semakin menggenggam tangan Devan. Cemas, dirinya pasti akan diusir seperti dulu. Ketiganya pun masuk namun dicegat lagi oleh dua penjaga.
"Maaf, untuk apa kalian datang kemari?" tanya penjaga dengan tegas dan menatapnya sinis. Devan sedikit kesal melihat penjaga itu tak menghargai kedatangannya sama sekali. Jelas-jelas dirinya dulu bisa masuk tanpa dicegah seperti sekarang.
"Aku keponakan Tuan Vian. Dia pamanku, aku datang ke sini untuk mengunjunginya. Apa kalian keberatan!" Devan memperlihatkan kartu identitasnya lalu menatap sinis ke penjaga. Sontak kedua penjaga itu segera sadar jika orang yang berurusan dengan mereka adalah generasi penerus perusahaan Welfin. Seorang Presdir di masa depan sekaligus Tuan muda.
"Maaf, Tuan muda. Kami baru-baru ini dipekerjakan dan tidak mengenali anda. Maaf atas ketidak sopanan kami." Kedua penjaga langsung membungkuk gemeteran.
"Cih, menyebalkan!" umpat Devan segera melewati mereka bersama Maysha dan Ella yang lagi diam-diam menatapnya lalu berjalan di dekat Devan.
"Dia kalau serius begini agak menakutkan, tapi dia cakep juga sih," batin Ella menunduk lalu tersentak langsung berhenti mendengar suara wanita berbicara dari arah belakangnya. Ketiganya langsung berbalik.
"Untuk apa kalian ke sini?" tanya Ny. Chelsi yang baru saja turun dari mobil taksi. Wanita ini berjalan dengan angkuhnya mendekati Devan dan Ella. Maysha turun dari gendongan lalu bersembunyi di belakang Ella, ketakutan melihat Ny. Chelsi nampak ingin marah. Begitupun Ella mundur sedikit lebih mendekati Devan. Ketakutan pada dirinya mengingatkan Ny. Chelsi dulu membentak dan mengusirnya tanpa balas kasihan.
__ADS_1
"Tante, aku kemari untuk berkunjung dan aku sudah tahu Tante pasti mengenali Istriku sekarang. Kalian punya hubungan darah, tapi mengapa anda tak datang ke pesta pernikahan kami?" Devan mulai serius mengajaknya bicara di luar rumah.
Ny. Chelsi menatap sinis ke Ella lalu berjalan dengan sombongnya melewati pasangan ini.
"Pulanglah, kalian tidak diterima di rumah ini." Ucapan Ny. Chelsi membuat Ella dan Devan terkejut mendengar sebuah sambutan yang amat menyakitkan. Devan mulai geram melihat tingkah mertuanya yang menyebalkan dan segera ingin menahan Ny. Chelsi. Tapi Ella menggelengkan kepala padanya. "Lebih baik kita pulang saja." Kata Ella memohon tak mau hal ini menjadi bertambah parah.
"Tapi sayang, ini tidak boleh dibiarkan. Aku ingin tahu, apa alasan dia mengusir kita?" ucap Devan tak mau pulang.
"Tidak usah pedulikan, Mamaku tidak menyukaiku dan membenciku. Lebih baik kita pulang, kasihan Maysha berdiri terus di sini." Mohon Ella sekali lagi melihat Maysha ketakutan di dekatnya.
Mendengar ucapan istrinya, Devan dengan kesal ingin sekali lagi berbicara pada Ny. Chelsi, tapi tak disangka Ny. Chelsi berhenti di depan pintu utamanya sedang mengepal tangan setelah mendengar ucapan Ella. Ny. Chelsi langsung berbalik melihat ketiganya dan berkata dengan angkuhnya.
"Itu benar, aku tidak menyukainya dan sangat membencinya. Apalagi aku tak punya anak sepertinya!" Tunjuk Ny. Chelsi pada Ella. "Pergilah, sebelum aku usir kalian paksa!" geram Ny. Chelsi tak main-main.
Ella terdiam membisu dirinya sekali lagi tidak dianggap oleh Ibu kandungnya. Sungguh perkataan itu menyayat relung hatinya.
"Apa ... apa salahku, Ma?" tanya Ella lirih dengan mata berkaca-kaca, menahan tangisnya.
"Salahmu? Tentu saja kau punya salah! Kau tak sadar kalau lelaki yang di sampingmu harusnya jadi suami Elisa! Tapi kau malah merebutnya!" geram Ny. Chelsi dengan amarahnya. Devan yang tak kalah marah, ia segera berbicara. Tak tega melihat Ella menunduk gemeteran setelah mendengarnya.
"Cukup, Tante! Harusnya Tante tidak usah mengungkitnya! Elisa sudah tidak akan mempermasalahkan hubungan kami! Tante lebih baik minta maaf-" ucap Devan berhenti akibat Ella berbicara padanya.
"Ku mohon, tidak usah dilanjutkan. Kita-kita pulang saja." Mohon Ella sudah tak tahan berhadapan dengan Ibunya. Ucapan Ibunya membuatnya merasa bersalah kembali.
Devan mendecak melirik sinis ke Ny. Chelsi lalu melihat Ella.
"Baiklah, kita pergi dari rumah ini! Aku sudah tak sudi menginjakkan kaki kemari." Kata Devan menarik Ella dan Maysha pergi dari rumah itu. Marah tidak dihargai sama sekali oleh Ny. Chelsi. Mobil Devan pun pergi meninggalkan rumah Tn. Vian.
Ny. Chelsi masuk lalu menutup pintu, menunduk dan mulai menangis.
"Kenapa ... kenapa aku bisa-bisanya berkata seperti itu. Kenapa aku tak bisa berani mengatakan ini, aku sudah tak sanggup," lirih Ny. Chelsi menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit di dalam. Ia sudah berbohong atas ucapannya pada Ella dan Devan, padahal di dalam lubuk hatinya ia ingin memeluk putri keduanya yang sudah terlihat baik-baik tidak seperti awal pertemuannya.
Ny. Chelsi mengusap kasar wajahnya, lalu naik ke tangga menuju ke kamarnya. Namun tak sangka, Elisa berpapasan dengannya.
"Mama dari mana saja?" tanya Elisa dari dalam kamar dan sudah dari tadi menunggunya pulang.
"Mama habis wawancara, mulai hari ini Mama tak lagi aktif di dunia hiburan. Mama hanya ingin fokus-"
"Fokus?" ucap Elisa memutuskan ucapan Ibunya.
"Heh, fokus apa, Ma? Fokus keluar keluyuran di luar sana?" lanjut Elisa merasa konyol mendengar omong kosong Ibunya. Ny. Chelsi tentu kaget Elisa berpikir lain tentang dirinya, padahal niat Ny. Chelsi ingin fokus menjadi dirinya sendiri untuk merawat keluarganya.
"Mama belum berhenti bicara, kamu jangan asal memutuskannya, Elisa!" ujar Ny. Chelsi kecewa.
"Halah, Mama munafik! Aku tak peduli sama sekali! Harusnya Mama kasih tau ke publik, jujur dengan identitas Mama yang sebenarnya! Bukan malah mengabaikan hal ini!" Kata Elisa mulai emosi.
"Elisa! Apa ini sikapmu kepada Mama? Mama dari dulu tak pernah begini padamu!" geram Ny. Chelsi ingin menampar Elisa, tapi terhenti tak mau mengulangi kedua kalinya.
"Apa? Mama mau tampar? Ayo, Ma. Tampar saja!" Tepuk Elisa pada pipinya. Ny. Chelsi menurunkan tangannya lalu berjalan melewati putrinya. Masuk ke dalam kamar mengabaikannya tak mau berdebat lagi.
"Mama egois! Harusnya Mama berkata jujur, bukannya munafik seperti ini!" teriak Elisa pada pintu kamar Ibunya.
"Aku tahu kok, Ma. Kemarin Mama pasti datang ke pesta Ella, tapi kenapa Mama tidak menemuinya? Apa salahnya, Ma!" Sekali lagi emosi Elisa meluap lalu pergi dari tempatnya. Kesal bercampur kecewa dengan tingkah Ibunya yang gengsi.
__ADS_1
Ny. Chelsi hanya menunduk di kursi riasnya, mulai kembali menangis. Tangis bahagia sudah melihat pernikahan Ella dan tangis kecewa atas dirinya. Benar apa yang dikatakan Elisa, ia Ibu yang munafik. Tidak mau mengakui Ella tapi masih mau datang diam-diam ke pesta pernikahan putri keduanya.
"Maaf, maafkan Mama. Mama hanya tidak tahu cara meminta maaf."