
"Sekarang, maukah kau ikut pulang denganku?" tanya Devan membuat Ella terdiam. Diam karena bingung untuk memutuskannya. Takut jika kepulangannya nanti akan membuatnya sakit lagi.
"Aku-aku," Ella terbata-bata sambil menunduk. Devan tersenyum, tahu jika Ella masih bimbang untuk pulang bersamanya. Merasa kehadiran Elisa akan membuatnya terluka.
"Hm, baiklah. Kau tidak usah pulang bersamaku malam ini, tapi aku janji akan menjemputmu besok pagi. Jadi-" Devan mengelus kepala Ella lalu mengeluarkan boneka hijau berbetuk biawak yang lucu lalu memberinya pada Ella.
"Ini-ini, kan?" Ella terkejut melihat Devan memberinya hadiah lagi. Devan tersenyum membuat Ella meneteskan air mata tak sangka kejutan malam ini begitu banyak untuknya.
"Ella, aku bukanlah pria romantis yang ada di drama-drama di TV yang bisa beri kamu coklat, cincin, atau berlian. Aku hanya bisa memberimu boneka biawak ini. Karena kau suka panggil aku biawak, jadi aku belikan khusus untukmu. Apa kau suka?" tanya Devan kuatir jika Ella akan menolaknya. Ingin memberi hadiah yang menarik untuknya.
"Aku tak suka," ucap Elle menggelengkan kepala. Devan terkejut lalu menunduk merasa dugaannya benar. Tapi, Ella merebut boneka biawak itu lalu memeluk Devan.
"Aku suka bonekanya kok. Tapi, aku lebih menyukaimu, Tuan." Ungkap Ella melihatnya sambil tersenyum.
Senyum Devan merekah mendengarnya, Devan mengacak-acak rambut Ella dengan lembut lalu membalas memeluknya.
"Syukurlah,"
"Terima kasih, Tuan biawak," ucap Ella membuat Devan terkejut kembeli lalu tertawa geli mendengarnya.
__ADS_1
"Sama-sama, bebek manisku." Centil Devan pada hidung Ella. Ella cemberut dicentil begitu saja. Apalagi panggilannya malah membuatnya sedikit kesal.
"Kok, bebek manis?" tanya Ella melihat Devan.
"Hm, memangnya kenapa?" Devan malah bertanya balik.
"Tidak kok, cuma aneh saja. Sejak kapan biawak berpasangan dengan bebek?" ucap Ella mulai berpikir. Devan tertawa lepas mendengarnya lalu mendekati wajah Ella.
"Sejak ... aku kenal denganmu, Ella."
Cup!
Elle membola dikecup bibirnya. Devan segera lari ke arah anak-anak panti melihat Ella ingin meletus. Malu dicium di depan anak-anak panti.
"Pffft, ahahaha ...." tawa Devan merasa bebek tak mampu mengejar biawak. Begitupun anak-anak panti ikutan tertawa melihat mereka bertengkar tak terima dengan nama panggilan masing-masing, apalagi tingkah keduanya begitu lucu saling kejar mengejar satu sama lain.
Ting!
Satu pesan masuk membuat Devan berhenti berlari dan hampir ditabrak oleh Ella. Untungnya, Devan segera mendekap Ella dalam pelukannya.
__ADS_1
"Tuan, ada apa ini?" tanya Ella melihatnya. Devan tak menjawab dan hanya tersenyum. Devan pun membuka pesan dari Hansel.
[Maaf, Presdir. Lebih baik anda segeralah pulang. Nona Elisa sudah dari tadi menunggu anda pulang. Sekarang, saya sedang menenangkan Maysha juga yang dari tadi menunggu anda kembali ke Villa]
Kata pesan Hansel membuat Devan terdiam langsung. Devan pun melihat Ella lalu membalas Hansel.
[Baiklah, katakan padanya aku ada di jalan sekarang]
Devan menutup ponselnya lalu menyentuh wajah Ella. Tersenyum pada istrinya. Ingin rasanya membawa pulang Ella, tapi melihat Elisa menunggunya pasti akan membuat kekacauan nanti jika Ella pulang bersamanya malam ini.
"Tuan, apa kau akan pulang sekarang?" tanya Ella menebaknya.
"Benar, Maysha menungguku. Jadi, apa kau akan tetap di sini malam ini dan tak mau ikut bersamaku pulang, Ella?" tanya Devan memastikannya.
"Aku akan tetap di sini, sampai Tuan datang besok pagi menjemputku. Aku tak ingin membuat tunangan Tuan emosi melihatku pulang dengan anda malam ini. Jadi, pulanglah Tuan. Dia pasti menunggumu," ucap Ella tersenyum menyembunyikan kesedihannya. Ingin rasanya Devan tinggal lama lagi, tapi Ella sadar ada wanita lain yang menunggu suaminya pulang malam ini. Devan memeluk Ella merasakan malam ini hanya mereka berdua saja.
"Aku janji, aku akan menjemputmu besok pagi. Malam ini aku akan memutuskan pertunanganku dengannya. Aku tak mau jauh-jauh darimu lagi, Ella. Jadi, jika kau rindu padaku setelah ini, kau boleh peluk sesuka hatimu boneka biawak ini dan maaf, aku harus meninggalkanmu sementara malam ini di sini."
Ella tersenyum mengangguk paham setelah mendengarnya. Meski sebenarnya, Ella juga tak tega pada tuangan Devan. Tapi, ini terbaik agar ia bisa bersama dengan Devan tanpa adanya orang ketiga. Mungkin ini memang egois, tapi kali ini ia tak mau melukai perasaannya lagi.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku pergi dulu," ucap Devan mulai berjalan menuju ke arah mobilnya. Sakit rasanya harus meninggalkan Ella malam ini seorang diri di panti asuhan. Begitupun Ella merasa ini menyakitkan membiarkan Devan pulang ke Villa dengan satu atap bersama wanita lain. Ella melambai pada Devan yang mulai melaju pergi meninggalkan panti asuhan.
Seketika itupun, Ella memeluk boneka biawaknya menyembunyikan air mata yang mulai menetes dari kedua matanya. Ingin rasanya memeluk suaminya lagi dan seterusnya.