
"Mama mau kemana?" tanya seorang anak perempuan kecil berambut pendek dengan wajah imutnya kepada Ibunya yang sedang buru-buru menuruni tangga.
"Ara, kamu diam di sini ya. Mama lagi sibuk hari ini, Ara mainnya sama Kak Shella ya, sayang." kata wanita muda berumur 26 tahun dengan penampilannya yang siap untuk menghadiri konsernya. Ia bernama Chelsi Adelia. Seorang penyanyi amatiran yang berhasil menjuarai sebuah audisi gemilang penyanyi generasi baru.
"Tapi, Ara mau sama Mama. Ara boleh ikut?" mohon anak kecil itu bernama Ara. Umurnya sudah empat tahun lebih dan sangat manja pada Ibunya.
"Maaf, sayang Mama harus pergi." Chelsi menyentuh kepala Ara dan keluar segera untuk hadiri konser debut pertamanya. Chelsi terpaksa meninggalkannya demi mencapai cita-citanya yang sudah lama ia impikan untuk menjadi seorang bintang terkenal.
Ara menangis ditinggal pergi oleh Ibunya. Ara segera naik ke lantai atas dan mulai mengamuk di kamarnya. "Hiks, Mama pergi lagi." Tangisnya memenuhi kamarnya sendiri.
Pintu kamar Ara terbuka kembali, seorang anak perempuan cantik berambut panjang masuk ke dalam kamar dan menghampiri Ara. Raut wajahnya terlihat sedih melihat adiknya menangis lagi.
"Huft, pasti setiap hari nangis terus," keluhnya berjalan ke arah Ara. "Ara, berhentilah menangis," ucapnya duduk di dekat Ara. Ia bernama Shella. Kakak kandung Ara yang berumur enam tahun lebih.
"Kak Shella. Mama pergi lagi, katanya mau main sama Ara, tapi Mama pergi," isak Ara mengusap kedua matanya. Shella mengelus rambut Ara dan segera memeluknya. Menenangkan adik kecilnya.
"Kamu jangan cengen, Ara. Mama pergi kan untuk kerja," ucap Shella sambil mengusap kedua mata adiknya.
"Sekarang, kita ke bawah saja. Kakak akan kasih kamu permen di bawah. Kakak punya tempat rahasia, Papa pernah simpan permennya di dapur." Ucapan Shella membuat Ara langsung berhenti menangis setelah mendengar kata permen. Shella tersenyum melihat adiknya diam. Shella pun keluar bersama Ara.
Kedua anak perempuan ini menuruni tangga bersama lalu masuk ke dapur. Terlihat keduanya sedang sibuk meraih laci lemari yang agak tinggi dari Shella. Namun Shella tak putus asa demi menenangkan Ara yang mulai ingin menangis lagi.
Shella segera menggeserkan kursi plastik yang sedikit rusak lalu berusaha naik segera dan membuka laci. Perlahan meraih botol yang berisi permen jelly. Namun masalah kembali terjadi, kaki kursi malah goyang dan membuat Shella jatuh bersama botol hingga pecah berkeping-keping.
"Astaga, kakiku, ssht," ringis Shella kesakitan pada kakinya yang terkilir. Ara terkejut dan segera duduk di dekat Shella yang meringis kesakitan di lantai sambil memegang kakinya.
"Kak Shella, baik-baik saja?" lirih Ara bertanya sambil melihat Shella.
"Tidak apa-apa, ini tidak sakit kok. Ara jangan nangis ya." Shella mencoba menahannya sambil mengelus rambut Ara lalu menoleh ke samping. Terkejut melihat permen berhamburan kemana-mana. Tapi Shella lebih terkejut melihat Ara malah nekat mengambil permen itu.
"Ya ampun, Ara!" pekik Shella segera berdiri dan meraih tangan Ara agar menjauhi pecahan botol.
"Ara! Jangan ke situ dek! Kamu tidak lihat ada kaca di sana!" bentak Shella memarahi Ara. Sangat kuatir, bila adiknya terkena beling kaca. Ara yang polos hanya bisa menunduk, baru kali ini menerima amarah kakaknya. Shella kini sadar dan segera memeluknya.
"Maafkan, kakak. Jangan nangis ya, dek." Shella mulai perlahan menangis. Kini dirinya tak tahu cara menghibur adiknya. Apalagi Ara kini diam saja setelah dibentak.
"Hiks, Mama, Papa. Kak Shella, Ara lapar." Ara akhirnya menangis juga. Shella mengusap matanya lalu kembali tersenyum.
"Ya sudah, kamu duduk di kursi sana dulu," Shella menunjuk kursi di dekat meja makan.
"Kakak mau sapu pecahan ini dulu ya, dek." Lanjut Shella mengambil sapu. Ara hanya menurut saja dan berjalan ke kursi lalu duduk melihat Shella sibuk membersihkan permen dan pecahan botol.
Sibuk menatap kakaknya, Ara serta Shella terkejut mendengar suara lelaki memanggilnya dari arah pintu. Kedua anak ini menoleh ke sumber suara.
"Shella, Ara. Kalian di sini buat apa, Nak?" tanya seorang pria berumur 30 tahun. Bernama Shan Darhan. Seorang pekerja kuli bangunan serta Ayah kandung dari kedua anak kecil ini yang kerap di panggil Pak Shan baru saja pulang dari pekerjaannya.
Senyum Ara melebar seketika melihat Ayahnya pulang. Kini Shella panik dan buru-buru menyapu pecahan botolnya. Pak Shan tersenyum melihat putri bungsunya lari ke arahnya. Kedua kaki kecil Ara sangat lucu ketika berjalan.
"Papa!" panggil Ara begitu riang. Pak Shan tertawa kecil lalu menggendongnya. Akan tetapi, kini kedua matanya tertuju pada Shella yang membelakanginya.
"Shella, kamu lagi apa?"
Shella terdiam lalu berhenti menyapu. Pak Shan heran dan segera menghampiri putri sulungnya. Kedua mata Pak Sam melebar melihat pecahan kaca serta perman berhamburan.
"Shella, kenapa bisa pecah begini?" tanya Pak Shan membalikkan putrinya. Shella menunduk dan mulai menangis.
"Maaf, Shella tadi tidak sengaja jatuhin, Pah," lirih Shella mulai terisak. Pak Shan berjongkok lalu memeluk Shella.
"Tidak apa-apa, jangan menangis," ucap Pak Shan tersenyum melihat dua putrinya baik-baik saja. Pak Shan hanya bisa memahaminya jika kedua putrinya tadi berusaha mengambil permen yang dia simpan.
"Sekarang kalian berdua duduk di sana saja. Biarkan Papa yang bersihkan ini." Pak Shan mengelus kedua kepala anaknya lalu menunjuk ke arah kursi. Shella dan Ara hanya menurut saja.
Kini Pak Shan sudah menyelesaikan masalah kedua anaknya. Sekarang Pria ini berjalan ke arah lemari lalu terkejut melihat isi lemari kosong. Tujuannya barusan ingin menyiapkan makan siang untuk kedua anaknya dan dirinya. Tapi sekarang, raut wajah Pak Shan langsung berubah drastis. Marah, pada istrinya yang tidak menyediakan apa-pun untuknya makan siang. Padahal Pak Shan berharap, kali ini istrinya serius dalam mengurus keluarga kecilnya.
"Papa, Ara lapar." Rengek Ara di dekat Pak Shan. Shella pun juga meminta sama halnya dengan Ara.
"Papa, aku juga lapar. Apa ada makanan di situ?" tanya Shella sedikit takut melihat Ayahnya diam saja.
Pak Shan melihat kedua putrinya dan cuma diam tak menjawab pertanyaan Shella. Pak Shan berjalan dengan amarahnya, tahu jika istrinya pasti pergi lagi tanpa memberitahunya.
"Chelsi, apa aku tidak penting lagi bagimu! Setidaknya, beri tahu aku jika kau pergi!" decak Pak Shan menaiki tangga menuju ke kamarnya. Ara meraih tangan Shella. Takut dengan ekspresi Ayahnya yang ingin marah-marah lagi.
__ADS_1
"Kakak, Ara takut."
"Tidak apa-apa dek, yok sini kita ke kamar kakak. Tadi, kakak habis sekolah sempat beli roti, mungkin masih ada di dalam tas kakak." ucap Shella menarik adiknya menaiki tangga. Shella yang sebagai kakak hanya bisa berusaha memberi rasa aman pada adiknya. Sikapnya yang perhatian, membuat Ara begitu sayang pada kakaknya. Bahkan sekarang, Ara menggenggam kuat tangan Shella. Takut kakaknya akan pergi juga seperti Ibunya.
"Ara, kamu kenapa?" tanya Shella terkejut melihat adiknya gemeteran.
"Kakak," lirih Ara melihatnya.
"Kakak tidak akan tinggalin Ara, kan?" lanjut Ara mulai menangis. Shella menghela nafas lalu mengelus rambut adiknya.
"Tidak kok, kakak kan di sini sama Ara."
"Kak Shella, Ara takut." Tangis Ara memeluk kakaknya.
"Tidak usah takut, kakak akan tetap di sini sama Ara."
"Kak, janji ya!" Ara mendongak sambil memberikan jari kelingkingnya.
"Ya, janji jari kelingking." Shella tersenyum dan membalasnya.
Ara mengusap kedua matanya mulai tenang. Kedua anak ini pun berjalan kembali ke arah kamar mereka. Namun baru saja ingin melewati kamar ayahnya, keduanya terkejut mendengar suara Pak Shan yang marah-marah dan membentak seseorang. Seketika itupun, Ara memeluk Shella sambil menutup matanya. Ini yang ditakutkan Ara setiap hari. Ketakutan mendengar pertengkaran Ibu dan Ayahnya tiap hari. Shella hanya bisa menunduk dan mengepal tangan sedikit kesal melihat pertengkaran ini. Apalagi kasihan pada adiknya.
"Bisakah kau lebih menghargaiku, Chelsi!" bentak Pak Shan.
"Kau setidaknya izin padaku dulu, bukan malah pergi begitu saja dan meninggalkan dua putri kita! Apa kau tahu, mereka kelaparan gara-gara kau sibuk dengan karirmu ini! Makanan saja kau lupa sediakan untukku! Setidaknya, mengertilah sedikit. Kau ini wanita yang sudah berkeluarga. Hal yang paling utama itu adalah anak-anak kita!" Jelas Pak Shan marah-marah dalam panggilannya.
Chelsi yang lagi sibuk diwawancarai di studionya langsung mematikan panggilan dari suaminya. Bukannya minta maaf, Chelsi malah kesal.
"Ck, dia kenapa sih!" decak Chelsi kesal.
"Lagian juga ini kesempatanku menjadi bintang. Seharusnya kau berterima kasih padaku, jika aku sukses di karirku ini, kau tak usah susah-susah jadi kuli bangunan! Dasar!" umpat Chelsi menyimpan ponselnya lalu lanjut wawancara. Chelsi mulai mengatakan semua yang ditanyakan oleh mereka, dari nama asli dan semua favoritnya. Tapi, yang membuatnya jadi diam melihat salah satu seorang lelaki tak asing hadir di debutnya kali ini.
"Luar biasa, ternyata Nona Chelsi begitu ramah. Perkenalkan aku Vian Marchela." ucapnya mengulurkan tangan. Chelsi terkejut melihat Vian. Lelaki yang dikenal sebagai Presdir yang sukses di kota ini dan juga tentunya ganteng apalagi masih jomblo.
"Aku-aku,"
"Ahaha, santai saja. Ngomong-ngomong, aku suka penampilanmu waktu itu, kau sangat cantik dan sekarang kau luar biasa. Jika dibolehkan mau kah kau dinner bersamaku malam ini?" tawar Vian tersenyum.
"Namaku, Chelsi Calisca. Aku-"
"Apa kau masih single?" tanya Vian sedikit menebaknya. Chelsi menunduk, kini tak dapat menjawabnya.
"Oh maaf, sepertinya Nona Chelsi sudah berkeluarga, jika begitu-"
"Eh, tidak. Aku masih single, Tuan Vian. Anda tidak usah formal padaku." ucap Chelsi sedikit malu-malu.
"Ahaha, baiklah kalau begitu. Aku tak sabar menunggu malam tiba. Tetaplah semangat, dan tampillah dengan sempurna!" ucap Vian memberi semangat lalu pergi ke arah pengusaha lainnya. Chelsi duduk kembali dan melihat ponselnya. Foto keluarga kecilnya di walpapernya segera diganti dengan foto lain. Hati Chelsi nampak berbunga-bunga sudah berbicara pada Vian yang sangat dia kagumi. Sikap ramah dan style Vian membuatnya terpesona.
Tidak seperti Pak Shan yang sekarang semakin marah diabaikan oleh istrinya sendiri. Pak Shan duduk di tepi ranjang lalu membuka kacamatanya. Wajah tampannya mulai terlihat, tapi raut wajahnya mulai murung.
"Segitu pentingnya kah karirmu dari pada keluargamu, Chelsi?" gumam Pak Shan meremas rambutnya lalu melihat ponselnya dan mengirim sebuah pesan. Mengatakan pada teman kerjanya jika hari ini dirinya tak lanjut bekerja. Pak Shan begitu cemas pada dua anaknya jika ditinggal di rumah berdua saja.
"Papa," panggil Shella masuk diikuti Ara di belakangnya.
"Semua baik-baik saja, Pah?" lanjut Shella bertanya. Pak Shan melihat kedua putri cantiknya lalu mengelus kepala Shella dan Ara bergantian.
"Semua baik-baik saja, sekarang kita turun bawah, Papa akan masak untuk kalian." Pak Shan berdiri lalu menggandeng tangan kedua anaknya.
"Papa, Ara mau Mama." Rengek Ara kini duduk di kursinya.
"Sekarang makan dulu, tidak usah bicara!" kata Pak Shan tegas lalu mulai memasak mie instan.
"Ara, kamu diam saja. Tidak usah tanya soal Mama, Mama tidak akan pulang sekarang." ucap Shella.
"Terus, Mama pulang jam berapa, Kak?"
"Tidak tahu." Shella menunduk saja. Ara mengerti lalu diam dan menunduk juga. Kedua anak polos ini hanya bisa makan bersama Ayah mereka saja. Setiap hari di jam siang, pasti hanya bertiga. Ini yang dipikirkan Ara.
Setelah makan siang, Pak Shan menyuruh kedua anaknya untuk tidur. Sementara dirinya, duduk di kursi ruang tamu sambil menonton TV. Tapi, seketika TV dimatikan begitu saja setelah melihat Chelsi tampil. Pak Shan kesal melihat istrinya yang diwawancarai.
"Aku benci dirimu seperti ini, Chelsi!" gerutu Pak Shan naik ke lantai atas meninggalkan remot TV yang dijatuhkan ke lantai. Pak Shan membuka sedikit kamar putrinya dan tersenyum melihat kedua anaknya akhirnya tidur juga. Pak Shan menutupnya lalu bersandar ke pintu.
__ADS_1
"Kau sudah berubah, kau tak seperti ini sebelumnya. Gara-gara audisi itu, kau jadi kurang memperhatikan anakmu sendiri!" Pak Shan menjambak rambutnya lalu pergi ke kamarnya dengan kekesalan luar biasa terhadap istrinya.
Hari mulai petang. Ara yang sibuk memperhatikan Shella sedang mengerjakan PR-Nya, tiba-tiba kedua matanya menangkap poster di bawah TV. Ara merangkak ke bawah meja TV untuk mengambilnya. Kedua mata Ara melihat gambar Ibunya. Ara begitu riang dan segera mendekati Shella.
"Kakak, ini Mama. Ini Mama." Tunjuk Ara pada poster itu. Shella tertawa kecil lalu melihatnya. Shella yang pintar membaca sedikit terkejut melihat poster itu terdapat jadwal tampil Ibunya.
"Wah, Mama akan tampil malam ini. Kita bisa ke studionya nih, Ara." ucap Shella melihat Ara. Ara yang tak tahu maksud studio cuma bisa berteriak riang. Berteriak karena bisa ketemu sama Mamanya.
Shella segera berdiri lalu menarik Ara masuk ke dapur. Shella memberitahukan pada Ayahnya yang lagi sibuk sediakan makan malam.
"Papa, kita boleh ke sini?" Tunjuk Shella. Pak Shan melihatnya dan mulai kesal lagi.
"Tidak boleh," tolak Pak Shan membuat Shella dan Ara terkejut. Ara mulai menangis lalu memeluk kaki Ayahnya.
"Papa, Papa, Ara mau Mama." Rengek Ara menjadi-jadi. Pak Shan mulai kasihan lalu berjongkok di depan anaknya.
"Huft, baiklah. Kalau begitu malam ini kita makan diluar, setelah itu kita pergi melihat Ibumu." ucap Pak Shan mengelus rambut Ara.
"Horee, Ara sayang Papa." Riang Ara memeluk Pak Shan. Shella yang berdiri di sana mulai ikut menangis. Akhirnya bisa melihat penampilan Ibunya secara langsung. Pak Shan pun mengulurkan tangannya lalu memeluk kedua putrinya. Isakan tangis mengisi ruangan itu, isak tangis Shella serta kegembiraan Ara.
Perlahan-lahan suara itu mulai menghilang, semua gambaran masa kecil Aradella perlahan muncul di otaknya. Sebuah gambaran, pertama kalinya dirinya ingin pergi ke konser Ibunya langsung. Ella mulai membuka mata dan melihat dirinya berada di dalam kamarnya. Ella duduk dan melihat Hansel berdiri bersama Maysha.
"Bun-nah," lirih Maysha memanggilnya dan naik ke ranjang dibantu oleh Hansel. Ella tersenyum lalu mengelus kepala Maysha yang duduk di dekatnya. Begitu senang melihat Maysha seperti melihat dirinya dulu.
"Ella, apa kau baik-baik saja?" tanya Hansel duduk di tepi ranjang. Meski Dokter sudah datang memeriksa Ella, Hansel tetap kuatir pada gadis ini.
"Baik, Kak Hansel." Senyum Ella pada Hansel.
"Huft, baguslah. Kau begitu lama pingsan, dan ternyata Ibumu adalah Ny. Chelsi, penyanyi yang sekarang ini sukses di karirnya. Pasti tadi kau terkejutkan?" tanya Hansel menebaknya.
"Hm, benar. Aku tak sangka, Ibuku adalah dia. Sejak Ibuku pergi, aku sudah tak ingat wajahnya. Bahkan aku lupa kalau punya kakak. Maaf, sudah buat Kak Hansel cemas." Ella menunduk mulai murung lagi.
"Oh ya, Ella. Kalau boleh tau, apakah ini kakak yang kau maksud?" Tunjuk Hansel pada foto keluarga Ella yang ada di tangannya.
"Benar, dia kakakku, namanya Shella. Tapi, dia sudah lama meninggal."
"Ha? Meninggal? Benarkah itu?" kaget Hansel nampak tak percaya.
"Benar, dia meninggal dalam insiden kebakaran," jawab Ella gemeteran.
"Semua ini salahku, jika saja aku saat itu tidak merengek pada Ayahku, Kak Shella dan Ibuku tidak akan pergi meninggalkanku." Ella mulai menangis mengingatnya.
"Jika begitu, kenapa Ibumu pergi?" tanya Hansel lagi. Begitu penasaran masalah di keluarga Ella.
"Itu karena Ibu dan Ayahku bertengkar, lalu bercerai gara-gara menyalahkan Ayahku sebagai pembunuh Kakakku yang sudah membawa kami keluar pada malam itu." Jelas Ella semakin gemeteran.
"Apa mungkin Shella itu benar Nona Elisa? Tapi, Ella bilang kalau Shella sudah meninggal. Sepertinya, aku harus selidiki ini," gumam Hansel dalam hati semakin penasaran.
"Ya sudah, aku pulang dulu. Kamu tenangkan dirimu, Ella. Sekarang, kau tak sendirian lagi. Jadi tidak usah pikirkan masa lalumu." ucap Hansel tersenyum lalu berbalik ingin keluar dari kamar.
"Tunggu Kak Hansel,"
"Ya ada apa?" tanya Hansel berhenti lalu melihatnya.
"Apa Tuan Devan sudah pulang?"
"Sepertinya belum, kau tunggu saja. Mungkin nanti dia akan pulang." ucap Hansel lalu melihat jam sudah pukul 16.00 Sore. Ella cuma diam melihat Hansel yang pergi dari kamarnya lalu keluar dari villa untuk ke rumah sakit ingin menyelidiki Ny. Chelsi.
Ella mengusap kedua matanya dan melihat Maysha yang diam di dekatnya. Maysha tersenyum lalu memeluk Ella. Ella membalas pelukannya lalu sedikit terkejut mendengar ucapan Maysha yang kembali mengingatkannya pada Shella.
"Bun-nah, jangan nangis lagi ya."
"Hm, tidak kok. Bunda tadi cuma kelilipan. Sekarang, kita turun bawah dan nonton TV. Siapa tau ada kartun baru buat Maysha." Usul Ella. Maysha mengangguk senang lalu turun dan berlari-lari riang menuju keluar kamar. Ella hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya dan segera mengikutinya meninggalkan kotak kayu yang tadi dibawa Hansel dan sekarang ada di atas meja riasnya.
...______...
Note : Berisi 2586 kata, maaf bila kepanjangan🤧😅🙏
Yuk seperti biasa, beri like dan vote ya, supaya author semangat lanjutkannya🤗terima kasih sudah setia baca. Di sini author cuma mau hibur kalian, semoga terhibur ya. Maaf bila ada kata salah🙏
__ADS_1