Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 54 : Menahan Sakit


__ADS_3

"Bun-nah," panggil Maysha pada Ella yang diam terus dari tadi. Ella menunduk melihatnya, hanya senyum kecil yang dia perlihatkan siang ini. Maysha mulai jenuh menonton kartun kesukaannya dan ingin tidur siang.


"Kenapa, Sha?" tanya Ella mengelus kepala Maysha.


"Bun-nah, Maysha mawu bobo." Maysha merengek sambil mengusap pinggir matanya mulai menguap. Ella mengerti dan segera berdiri menggendongnya.


Langkah kaki Ella menaiki tangga ingin membawa Maysha ke kamarnya, namun berhenti sebentar di depan kamar Elisa. Hening dan sunyi tak ada suara sedikitpun yang dia dengar dari dalam kamar. Ella menunduk mulai sadar dan menahan rasa di dalam hatinya. Rasa bersalah telah menyakiti perasaan sesama kaum perempuan.


"Maafkan aku,"


Ella hanya berucap dua kata dari mulutnya lalu kembali berjalan ke kamarnya membawa Maysha yang sudah sangat mengantuk. Ella membuka pintu, berjalan ke arah ranjang lalu membaringkan Maysha dengan hati-hati.


"Bun-nah," panggil Maysha begitu kecil. Ella duduk di dekatnya lalu dengan lembut mengelus kepala Maysha.


"Hm ... kenapa, Sha?" tanya Ella tersenyum.


"Bun-nah, jangan peygi lagi. Maysha cidak mawu," kata Maysha meraih tangan Ella yang dari tadi mengelus rambutnya.


"Tidak kok, Bunda tidak akan pergi lagi," kata Ella tersnyum. Senyum yang terlihat dipaksakan, dirinya juga tak tahu apakah ucapannya bisa bertahan untuk tetap tinggal di sisi Devan, sementara Elisa nampak bersikap acuh tak acuh padanya dan mungkin membencinya.


"Sekarang, Maysha tidur ya."


Ella kembali mengelus lembut kepala Maysha. Tapi, Maysha menggelengkan kepala dengan raut sedih merindukan seseorang.


"Cidak bisa, Bun-nah,"


"Eh, kenapa tidak bisa?" tanya Ella heran.


"Mom-my, Maysha lindu Mom-my," lirih Maysha menjawab dan seketika itupun Ella berhenti mengelus kepala Maysha. Ella mulai juga memikirkan Ibu dan adik tirinya, tapi yang lebih dia pikirkan sekarang adalah Ibu kandungnya juga.


"Maysha jangan sedih. Mommy, pasti akan kembali jemput Maysha," hibur Ella tersenyum. Kedua mata Maysha mulai berair.


"Mom-my pelgi. Cinggalin Maysha, Bun-nah," Maysha mulai terisak. Kerinduannya seperti kemarin merindukan Ibu kandungnya. Ella segera memeluk Maysha, mengelus punggung anak kecil ini agar tak menangis kembali. Tetesan bening kembali jatuh dari mata Ella. Kasihan melihat Maysha dan juga dirinya.

__ADS_1


"Tidak kok, Mom-my Maysha kan lagi sibuk. Mom-my pasti kembali." Ella mencoba menghibur kesedihan Maysha. Sangat mirip dengannya saat dirinya ditinggal pergi oleh Ibu kandungnya ketika dirinya masih kecil seperti Maysha yang sekarang dititipkan kepada Devan.


Kedua orang tua Maysha memang sedang bermasalah hingga menitipkan anaknya ke Devan. Hanya Ella yang bisa menenangkan Maysha sekarang, apalagi sifat lembut Ella kini berhasil membuat Maysha tertidur siang ini.


Ella berdiri membuang nafas berat lalu mengusap pinggir matanya yang basah. Ella berjalan keluar dan perlahan menutup pintu kamar tak ingin mengganggu tidur siang Maysha. Ella berdiri dan bersandar ke pintu mulai terisak.


"Apa aku memang jahat harus bernasib begini?"


Ella menepuk dadanya berkali-kali menahan sakit. Ingatan masa kecilnya saat Ibu kandungnya mencampakkan dirinya yang menangis saat ditinggal pergi. Masih belum rela Ibunya pisah dengan Ayahnya. Hanya ingatan itu yang terus berputar di kepala Ella. Apalagi kalimat yang keluar dari mulut Ibunya selalu terngiyang-ngiyang di kedua telinganya.


"Maaf, Ibu harus pergi sayang."


Ella mengusap kasar wajahnya mencoba mengatur nafasnya lalu dengan perlahan pergi dari kamarnya. Ella berjalan seorang diri lalu berhenti di depan kamar Elisa.


"Apa dia belum keluar juga?"


Ella ingin membuka pintu melihat keadaan Elisa. Takut jika terjadi sesuatu padanya. Tapi, Ella kembali menarik tangannya lalu pergi dari tempatnya. Ella menuruni tangga dan melihat ke arah dapur melihat tak ada yang berubah sedikitpun.


"Apa dia belum turun makan siang?"


"Semoga saja dia mau makan," Ella berharap dirinya akan diizinkan masuk ke dalam kamar Elisa. Setelah cukup untuk Elisa, Ella pun menaiki tangga menuju ke kamar Elisa.


"Dia tidak boleh telat makan, Tuan Devan bilang padaku jika Elisa punya penyakit yang bisa saja kambuh."


Ella melihat pintu kamar Elisa. Gugup mulai deg-degan jika nanti Elisa akan marah padanya. Tapi, Ella juga kasihan melihat Elisa mengurung dirinya. Ella menelan ludah dan mulai mengetuk pintu.


Tok Tok Tok


Tiga ketukan masih terdengar sunyi di dalam kamar. Ella mulai kuatir dan kembali mengetuk pintu. Tapi, sama sekali tak ada suara sedikitpun selain ketukannya.


"Sepertinya aku harus masuk, takutnya Nona Elisa kenapa-napa di dalam."


Ella meraih gagang pintu, perlahan diputar dan dibuka sedikit. Ella deg-degan lagi dan membukanya kembali. Kedua matanya tertuju pada Elisa yang duduk bersandar di atas kasurnya sambil melihat ke arah jendela. Pandangannya terlihat kosong. Melihatnya terpuruk, Ella kembali merasa bersalah.

__ADS_1


"Permisi, Nona. Saya bawakan sepiring makan siang untuk anda. Maaf jika saya sudah mengganggu istirahat Nona," ucap Ella gemeteran berjalan mendekati meja. Namun kedua matanya tertuju pada botol obat-obatan di atas meja.


"Kau?" Elisa terkejut melihat Ella berdiri di dekatnya. Kini Ella sedikit takut jika Elisa akan mengamuk padanya.


"Siapa yang mengizinkanmu masuk, ha!" bentak Elisa berdiri menatapnya tajam.


"Aku-aku cemas pada anda, Nona. Jadi saya masuk saja membawa makan siang untuk anda, saya mencemaskan anda." Ella gelagapan saking ketakutannya mendengar bentakan Elisa. Niatnya baik untuk Elisa, tapi malah dibentak-bentak olehnya.


"Ha?" Elisa mengangkat sedikit bibirnya merasa ini begitu konyol dan bodoh.


"Cemas padaku? Kau cemas padaku?" kata Elisa mendorong bahu Ella sedikit.


"Ternyata benar, kau ini punya keberanian juga. Sudah berani merebut kekasihku dan sekarang kau malah berani masuk ke kamarku!" ujar Elisa menghempaskan piring di tangan Ella.


Prang!


Suara pecahan piring begitu keras dan berhamburan di lantai. Kedua mata Ella melebar melihat Elisa mulai mengamuk. Ella melihat Elisa dan dengan cepat mundur sedikit terkejut melihat Elisa maju lebih dekat padanya.


"No-nona Elisa, tenanglah. Anda tidak boleh marah-marah," ucap Ella tahu ini tidaklah baik untuk kondisinya.


"Ha? Tenang? Kau pikir aku bodoh?" Elisa semakin mendekatinya.


"Aku tentu tak akan makan nasi itu darimu. Bisa saja kau datang untuk meracuniku, agar aku cepat mati dan kau bisa leluasa berduaan dengan Devan, kan?!" ujar Elisa mendorong Ella ke tembok. Ella terkejut, bahunya mulai sakit.


"Tidak, aku tak punya niat seperti itu. Aku hanya ingin kau makan saja, agar Nona tak sakit." Ella mencoba membela dirinya.


"Ahahaha," tawa Elisa merasa ini sungguh lucu.


"Sakit? Kau perhatiaan seperti ini agar aku tak sakit? Kau memang bodoh! Mana mungkin aku sudi menerima rasa kasihan darimu!" Cengkram Elisa pada dagu Ella. Ella mulai meringis sakit melihat Elisa lebih tinggi darinya. Padahal niat Ella baik pada Elisa. Tapi kebencian Elisa semakin merasukinya hingga mulai kasar.


"Dilihat-lihat, kau ini begitu polos dan bodoh. Mungkin kedua mata Devan mulai rabun memilih perempuan untuk dijadikan istri. Kau sungguh menyedihkan! Enyahlah dari kamarku!" Tarik Elisa menghempaskan Ella keluar kamar. Ella terjatuh ke lantai sungguh menyakitkan.


"Kau sungguh wanita murahan!" decak Elisa menutup pintu dengan keras. Ella menunduk di depan kamar. Begitu sakit dagunya hingga tak bisa bergerak sama sekali. Air mata kembali turun dari kedua matanya. Merenungkan ucapan Elisa padanya. Ella sadar diri jika dirinya memang salah, tapi Ella juga mencintai Devan dan tak mau rumah tangganya hancur. Tak ingin berpisah dari Devan. Rasa egois itu memanglah menyakitkan dua wanita ini.

__ADS_1


Ella berdiri dan hanya bisa bersabar dengan keadaannya sekarang disertai tangisnya lalu pergi berjalan ling-lung ke kamarnya. Begitupun Elisa juga memeluk guling menangis kembali di dalam kamar. Merasa dirinya tadi sudah hilang kendali hingga mendorong Ella jatuh ke lantai. Elisa mengusap kedua matanya lalu beranjak berdiri dan kemudian keluar dari kamarnya.


..._______...


__ADS_2