Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 97 : Jadi Buronan


__ADS_3

Sekarang Devan sudah menemukan keinginan Istrinya. Begitu berseri-seri dengan kresek di tangannya dan tak sabar bagaimana raut wajah Ella yang akan melihat pizza pesananannya sudah datang.


Devan segera menghubungi Ella, ingin tahu apakah Elisa masih ada di ruangannya atau tidak. Karena entah kenapa, Devan sedikit risih pada Elisa, hanya tak ingin Elisa melihat perhatiannya dengan Ella. Tak mau ada rasa cemburu yang ditimbulkan oleh wanita yang pernah berurusan dengannya soal cinta.


Namun alangkah terkejutnya, mendengar suara deringan ponsel Ella ada di dekatnya. Tepatnya di tanah yang ditutupi rumput-rumput liar yang sedikit panjang. Devan mengambil ponsel itu. "Loh, ini ponselnya kenapa bisa sampai sini?" Devan sedikit kaget lalu segera berlari ke ruangan Ella.


Ternyata benar, ruangan Ella kosong. Devan menjatuhkan pizza-Nya lalu pergi ke toilet, namun sama sekali tak ada tanda-tanda Istrinya. Devan langsung lari mencarinya.


"Apa dia diculik Elisa?"


Pikiran Devan tertuju pada mantan kekasihnya, mengira Elisa yang membawa Ella pergi.


"Jika dia yang membawanya, harusnya memberiku izinku dulu!"


Amarah mulai terlihat di wajahnya. Devan mulai berburuk sangka pada Elisa. Dengan cepat, langsung pergi ke kantor polisi untuk melaporkan hal ini sekaligus menghubungi Hansel.


"Halo, Hansel. Apa tugasmu sudah selesai?" tanya Devan. Suaranya terdengar begitu panik.


"Ya, Presdir. Baru saja aku menyelesaikannya. Untuk apa Presdir menghubungiku?"


"Apa kau punya nomor Elisa?" Devan malah bertanya balik.


"Punya, tapi untuk apa dengan nomor Nona Elisa?"


"Aku ingin kau melacaknya sekarang juga! Dia sudah membawa pergi Ella, jadi tugasmu bawa anak buahmu untuk menangkapnya." Suara Devan meninggi membuat Hansel amat terkejut.


"Baik, Presdir." Hansel mematikan panggilannya lalu segera menghubungi anak buahnya dulu, baru setelah itu akan menghubungi nomor ponsel Elisa yang masih dia simpan di kontaknya. Sementara Devan segera melaju ke kantor polisi.


Alangkah terkejutnya setelah Devan sampai ke kantor polisi dan tak menemukan Viona.


"Tunggu, di mana wanita yang dibawa ke sini dua minggu yang lalu, Pak?" tanya Devan ingin tahu.

__ADS_1


"Oh, dia sudah bebas hari ini. Ayahnya datang melepaskan." Pak polisi memberi keterangan pembebasan Viona yang tak punya bukti dan hanya sebuah tuduhan palsu.


"Kenapa malah dibebaskan? Sudah jelas-jelas dia pernah mencekik Istriku, Pak! Dia hampir membunuh Istriku!" Devan mencoba menahan emosinya.


"Maaf, Pak. Kami tak bisa mengasal memberi hukuman pada seseorang yang tak punya bukti kuat. Jika benar, maka berikan bukti rekaman bila dia memang bersalah." Pak polisi tetap dalam keputusannya. Devan kesal lalu keluar tak bisa mengandalkan polisi setempat di kotanya.


Hatinya tergerak untuk pergi ke rumah Viona sambil menunggu kabar dari Hansel. Hanya beberapa saat saja, Devan sudah sampai. Bahkan kini langsung mengetuk pintu. Seorang lelaki membuka pintu. Ayah Viona kaget melihat Devan datang ke rumahnya.


"Untuk apa kau kemari?"


"Aku mencari Viona, apa dia ada di dalam?" tanya Devan balik sambil melirik ke dalam.


"Ya, dia dari tadi hanya di dalam kamar. Memangnya kenapa?"


Pertanyaan Ayah Viona diabaikan begitu saja, Devan malah langsung menerobos masuk membuat Ayah Viona kaget dan mulai marah.


"Hei, Devan!" teriaknya pada Devan yang lagi bergegas naik tangga dan pergi mencari kamar Viona. Kedua matanya langsung berhasil menemukan kamar itu, papan nama Viona terpampang jelas di depan matanya. Dengan cepat, Devan memutar gagang pintu. Namun pintu kamar terkunci.


"Argh, sudah ku duga. Dia pasti keluar untuk membunuh Istriku," rutuk Devan ingin keluar kamar, tapi dua matanya tertuju pada foto yang diremas-remas habis. Devan mengambilnya lalu melihat foto itu.


Deg!


"Malam ini kau akan lenyap, Elisa!"


Kalimat itu membuat Devan sungguh terkejut, apalagi foto itu adalah Elisa. Devan segera meminta nomor Viona untuk dilacak.


"Om, berikan nomor Viona padaku."


"Untuk apa?" tanya Ayah Viona yang lagi duduk di sofa belum sadar putrinya pergi tanpa izin.


"Berikan saja padaku, Om."

__ADS_1


Ayah Viona pun dengan terpaksa memberikannya. Setelah itu melacak keberadaannya. Ternyata posisi Viona berada sangat jauh dari tempatnya. Sebuah bangunan bekas pabrik lama. Devan pun tanpa pamit langsung keluar ingin ke sana. Memberi pesan pada Hansel apakah sudah melacak nomor Elisa atau tidak dan memang sekarang lelaki ini sedang berusaha menghubungi nomor Elisa.


Lama menunggu terhubung, akhirnya panggilan itu tersambung. Hansel segera keluar melacak keberadaa ponsel itu sambil keluar dari ruangannya menuju ke anak buahnya yang sudah datang dan sudah berbaris di depan perusahaan. Saatnya mendapatkan Nona Ella kembali.


"Halo, Nona Elisa. Anda sekarang berada di mana?" tanya Hansel yang kini melihat monitor di depannya, melihat pergerakan nomor yang dia lacak. Terlihat sama berada di bekas pabrik lama. Hansel mengirim pesan pada Devan dan ternyata tujuan mereka sama. Kini ada dua kemungkinan jika pelaku kali ini adalah Viona atau Elisa.


"Kak Hansel," jawab Ella terdengar ketakutan. Hansel melebar mendengar suara lirihan Ella.


"Apa yang sedang kau lakukan di sana Nona Ella?" Hansel cemas mendengarnya.


"Aku-aku ke sini datang menyelamatkan Elisa, dia dibawa oleh seseorang. Kau cepatlah kemari, beritahu pada Devan juga. Cepatlah," rintih Ella semakin ketakutan dirinya berada di pabrik minyak yang gelap dan hanya di pancari cahaya dari celah-celah lubang kecil. Sedang mencari keberadaan Elisa.


"Jangan kuatir, tetap di tempatmu. Kami sekarang berada di perjalanan. Tenangkan dirimu." Kata Hansel langsung memberi pesan pada Devan.


[Presdir, Nona Ella baik-baik saja. Sepertinya bukan Nona Elisa yang membawa Nona Ella, melainkan orang lain yang membawa mereka] Pesan langsung terkirim lalu dengan cepat dibalas oleh Devan.


[Segera ke pabrik dan kepung semua sisi pabrik itu. Temukan Ella dengan cepat bila kau sudah sampai di sana, tangkap siapa pun yang bersekongkol atas peristiwa ini] Pesan Devan langsung dibaca.


[Baik, Presdir]


Hansel pun menancap gas, mulai mengebut melewati kendaraan menuju ke pabrik, menemukan buronannya kali ini. Begitupun Devan masih dalam perjalanan. Raut wajahnya semakin mencemaskan Ella, apalagi kondisi istrinya belum stabil sembuh dan sedang hamil.


Sedangkan kini, Ella benar-benar ketakutan berada sendirian di pabrik, ia berhasil mengejar mobil itu. Beberapa kali Ella ingin menghubungi polisi, tapi ketakutannya membuat Ella malah gemeteran tak berani.


"Kak Elisa, kau di mana sekarang,"


Ella tak henti-hentinya menyelusuri tempatnya. Sontak kedua matanya melihat Elisa terikat di lantai, dengan kondisi amat menyedihkan. Ella ingin menghampirinya, tapi seseorang datang tertawa terbahak-bahak di depan Elisa yang masih pingsan habis dipukul.


"Ahaha, akhirnya aku berhasil menangkapmu, Nona Elisa. Wanita yang sungguh malang, malam ini nyawamu akan melayang." Tawanya yang sangat jelas membuat Ella mematung, suara itu mulai mengingatkannya pada seseorang.


"Vi-viona? Apa dia bebas dari penjara?" pikir Ella semakin ketakutan. Dirinya yang pernah dicekik tanpa ampun langsung membuatnya berjongkok takut dan panik luar biasa.

__ADS_1


"Devan, cepatlah kemari. Tolong kami."


__ADS_2