
"Ibu-ibu-ibu." Mulut Ella bergetar memanggil seseorang. Bukan Ibu panti yang dia panggil melainkan Ibu kandung yang Ella rindukan sekarang. Bu panti meneteskan air mata tak tega pada gadis malang ini.
"Nak, Ella. Tenanglah, ceritakan pada Ibu apa yang sudah terjadi padamu, Nak?" Bu panti tak henti-hentinya mengelus punggung Ella. Ella sesugukan lalu melepaskan pelukannya. Mencoba untuk tegar, tapi ancaman Devan membuatnya ketakutan.
"Bu ...." lirih Ella melihatnya dengan mata sembab. Ella meraih kedua tangan Bu panti. Kedua tangannya gemeteran begitupula dirinya.
"Bu, katakan ... katakan padaku, apa salahku selama ini?" Ella bertanya, hatinya sakit ingin hancur berkeping-keping. Bu panti merasa iba dan segera memeluknya.
"Tidak, Nak. Kau tak punya salah, kau anak yang baik. Sekarang, janganlah menangis. Ceritakan pada Ibu apa yang sudah membuatmu begini."
Ella menunduk, hanya bisa diam. Tak sanggup menceritakan dari awal jalan hidupnya yang sekarang ada di genggaman Devan. Takut menceritakan pada Bu panti, takut jika anak-anak panti asuhan terkena batunya.
Ella sesugukan, suaranya sudah habis. Tak dapat menceritakan, apalagi mengucapkan satu kata pun dari mulutnya. Bu panti mengelus rambut Ella mencoba menenangkannya. Anak-anak panti segera menghampiri Ella.
"Kak Ella, kenapa denganmu?" tanya mereka meraih tangan Ella merasa cemas. Ella menatap mereka dan tak menjawabnya. Ella dengan isakannya pergi ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang kotor. Anak-anak panti saling tatap merasa kasihan. Bu panti hanya bisa menyuruh mereka untuk segera tidur.
__ADS_1
Suara tangis Ella pecah kembali, gadis ini duduk lagi di balik pintu. Dirinya yang sudah dibeli tentu tak bisa bebas lagi dari cengkraman Devan. Sangat sulit baginya untuk pergi jauh dari kota ini, apalagi surat warisan Ayahnya masih ada di tangan Devan. Ella melihat bak mandi. Ingin rasanya ia tenggelam ke bak mandi tersebut.
"Hiks, Ayah," rintih Ella mengingat Ayahnya. Mencoba berharap ada seseorang yang bisa membantunya lepas dari Devan. Ingin memohon pada Hansel tapi takut jika Hansel akan terkena deritanya. Tak ingin lelaki baik ini terlibat gara-gara dirinya.
Ella mengusap kasar bekas tanda cupan Devan, ingin menghilangkan tanda itu serta rasa sakit di hatinya. Air matanya belum berhenti turun dari kedua matanya. Ella berdiri dan mulai membersihkan tubuhnya. Dengan tangan gemeteran, Ella mencoba meraih gayung. Begitu tersiksanya batin Ella. Cintanya harus dipermainkan seperti ini.
Tak menunggu waktu lama, Ella keluar hanya bermodal selimut saja yang menutupi tubuhnya. Bu panti yang menunggunya keluar karena kuatir, akhirnya terkejut melihat beberapa tanda cupan di bagian lehernya. Ella menatap Bu panti dan tersenyum, senyuman yang dipaksakan agar Bu panti tak kuatir padanya. Tapi Bu panti sadar, jika Ella sekarang sedang terpuruk. Bu panti memeluk lalu mengelus punggung Ella.
"Nak, Ella. Semuanya akan baik-baik saja."
Kedua kaki Ella turun dari kasur lalu berjalan ke arah pintu. Ella keluar dari kamar dan mencari sesuatu. Ella mengambil tali tembaga di yang kecil di belakang rumah. Ella dengan sesugukan berjalan ke arah pohon. Ella mengambil kursi lalu mengikat tali itu ke dahan pohon yang cukup tinggi. Ella melihat sekeling rumah, tak ada siapa-siapa selain dirinya. Ella mulai memegang tali itu, ingin rasanya mengakhiri hidupnya.
Sekarang, tak ada yang bisa dia pertahankan. Berpikir, jika esok Devan pasti akan mencarinya dan menghancurkan rumahnya. Dari pada disiksa perlahan-lahan, Ella malah ingin mengakhirinya secepat mungkin. Ingin pergi jauh, tapi Ella sadar jika Devan pasti akan menemukannya. Apalagi kekuasaan Devan tak bisa dilawan oleh Ella.
Tapi, baru ingin memasukkan kepalanya ke dalam lingkaran tali. Teriakan anak-anak panti membuatnya berhenti.
__ADS_1
"Kak Ella!" teriak anak-anak panti terkejut, begitupula Bu panti yang dari tadi mencarinya karena tak melihat Ella di sampingnya.
"Ya, Tuhan. Ella!" Bu panti berlari dan segera menarik Ella turun dari kursi. Ella sesugukan di depan Bu panti dan melihat Anak-anak yang ketakutan atas tindakannya.
"Sadar, sadar, Nak!" Bu panti memeluk Ella. Hati Ella begitu pilu menerima batinnya tersiksa.
"Aku-aku ingin pulang, aku ingin pulang, aku ingin ketemu Ayah."
Air mata Ella turun deras di pelukan Bu panti. Ingin rasanya bertemu Ayahnya. Anak-anak mendekati Ella lalu memeluknya.
"Kak Ella, jangan menangis."
Kalimat itu berhasil membuat tubuh Ella lemas tak berdaya. Ella akhirnya berhenti menangis lalu pingsan di pelukan Bu panti. Bu panti terkejut serta anak-anak yang lainnya. Mereka segera membawa Ella masuk ke dalam.
..._______...
__ADS_1