
"Argh! Sial, aku hampir tertangkap," desis Viona murka di dekat motornya sudah gagal mencelakai Elisa. Niatnya ingin membunuh satu persatu orang-orang yang dia benci.
Apalagi Viona juga punya dendam kepada Elisa yang dulu sering mencaci dirinya tak berguna sama sekali. Hanya menyusahkan Devan saat restorannya hampir jatuh bangkrut dan untungnya Devan dengan baik hati malah membantunya.
"Ini semua gara-gara lelaki sialan itu, kenapa sih dia selalu muncul!" Viona greget kepada Hansel. Sangat kesal, sudah dua kali diciduk saat ingin berbuat jahat. Viona menaiki motornya lalu pergi entah kemana dengan emosi yang masih menyelimutinya.
Dalam perjalanan, wanita ini sekilas tak sengaja melihat mobil Devan. Viona buru-buru mengikutinya. Penasaran, kemana tujuan mobil itu melaju dan ternyata malah berhenti di sebuah warung biasa di tepi jalan. Viona tersenyum lebar, bahagia melihat Devan turun dari mobilnya. Tapi saat Viona turun dari motor dan ingin membuka helm-Nya, kedua matanya sedikit melebar. Terkejut melihat Ella dan Maysha ikut turun. Apalagi, tak sangka Devan membuka pintu mobil untuk Ella.
"Sial!" umpat Viona menggertakkan giginya. Semakin kesal melihat Ella berjalan bertiga dengan Devan bersama Maysha ingin makan malam.
"Tidak bisa dibiarkan, lama-lama cewek genit itu makin bikin aku kesel saja. Apa sih bagusnya dia!" desis Viona meletakkan helm-Nya ke motor lalu berjalan ingin ke arah Devan yang kini duduk bersama Ella dan Maysha di satu meja.
"Sekarang kamu duduk sini, aku akan memesan makanan dulu." Devan berdiri dari kursinya, tapi Ella ikut berdiri dan menahan Devan.
"Bentar dulu,"
"Hm, kenapa?" Devan berbalik melihatnya.
"Itu, lebih baik aku saja pergi. Tuan kan orang berkuasa di kota ini, lebih baik Tuan duduk saja." Ella menunduk, sedikit takut jika makan malam ini akan mempermalukan Devan yang sudah diajak makan ke tempat kecil itu. Warung kecil yang nampak ramai akan pengunjung dari pengendara motor.
"Pftt," tawa Devan kecil lalu menyentuh dan mengelus rambut Ella. Tak lupa juga tersenyum pada istrinya.
"Santai saja, aku dulu sudah terbiasa makan seperti ini bersama Ibuku dan lagian juga tak ada yang mengenalku di sini," ucap Devan menunjuk kecamata hitamnya.
"Jadi, kamu duduklah kembali." Devan berkata sambil tersenyum.
"Bener, nih?"
"Ya, dong. Demi istriku biar tidak ngambek, aku rela pergi makan kemana saja, asalkan makannya bersamamu." Devan mulai menggombali Ella.
"Pfft, ya sudah ... kamu pergi sana!" Ella tertawa kecil mendengarnya lalu mendorong Devan pergi. Devan berhenti lalu melirik Ella yang sedang salting. Malu dengan ucapannya barusan.
Devan geleng-geleng kepala lalu bergumam, "Hm, dia lama-lama makin gemesin. Jadi pengen pulang bikin Debay lagi bersamanya." Devan kembali berjalan masih menahan tawanya. Sementara Ella kembali duduk dan melihat Maysha yang sibuk dengan ponsel Ella.
Namun, baru juga beberapa saat saja Devan pergi, seseorang berbicara pada Ella yang tak lain adalah Viona yang kini sedang berdiri sambil menyingkan tangan.
"Ckckck, ternyata kehidupan gadis miskin begini ya, sudah berhasil merebut lelaki orang dan sekarang malah membodohi Devan dengan makan bersamanya di tempat kotor ini. Apakah tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan? Seperti merayu lelaki lain?" Viona mulai lagi mencibir Ella.
Ella menoleh, sangat mengenal suara yang sangat tak asing baginya. Ella menatapnya serius dan tak sangka wanita pembawa rusuh ini malah bisa-bisanya ada di warung yang sama dengannya.
"Hm, anda siapa?" tanya Ella berlagak tak kenal.
"Hahaha, apa kau sedang berpura-pura amnesia?" tawa Viona terdengar lucu.
"Kita pernah bertemu dua kalinya,"
"Oh benarkah? Seingatku, aku tak pernah bertemu kutu rusuh sepertimu," cibir Ella balik.
__ADS_1
"Kau!" geram Viona tak terima dijuluki kutu rusuh.
"Ck, awalnya aku pikir kau ini pembantu, ternyata calon pelakor yang berani merebut lelaki wanita lain. Apa tidak ada lelaki yang bisa kau rayu selain Devan?"
Plak!
Ella menampar wajah Viona. Amarahnya memuncak dirinya disebut pembantu, apalagi pelakor. Padahal awalnya, itu semua salah paham dan Ella juga tak tahu jika Devan punya tunangan. Tapi, Viona malah berkata seperti itu padanya.
"Nona, lebih baik jaga mulut anda. Saya istri Presdir Devan, bukan pembantu apalagi pelakor. Yang pelakor itu adalah anda, yang masih genit mengejarnya."
Perkataan Ella membuat Viona terkejut, tak sangka gadis yang terlihat lemah punya keberanian menamparnya dan mencaci dirinya.
"Apa kau bilang, ha!" bentak Viona mulai ingin mencakar Ella tapi langsung dihentikan oleh Devan.
"Apa yang kau lakukan di sini?" ujar Devan berhasil meraih tangan Viona, menghentikan tangannya yang gatal ingin melukai Ella. Viona kaget dan segera menepis Devan.
"Huh, tentu saja mau makanlah. Tapi, karena kebetulan ada kamu, bagaimana kalau kita makan bersama?" Viona merangkul lengan Devan. Tapi dengan cepat ditepis oleh Devan lalu merangkul pinggang Ella yang diam masih memendam kekesalan. Viona semakin tak karuan melihat pasangan ini.
"Sayang, lebih baik kita pulang saja," ucap Devan lembut pada Ella sambil menyisir poninya.
"Tapi, kita-"
"Sssht," desis Devan meletakkan jari telunjuknya ke bibir Ella.
"Kita makan di rumah saja, di sini ada kecoa gatal. Takutnya nanti kamu sakit kalau dipegang-pegang sama dia." Devan tersenyum dan menyindir Viona. Ella melihat Viona lalu mengangguk ke Devan.
"Baiklah, kita pulang saja. Malam ini sangat dingin, takutnya Maysha sakit juga." Ella tersipu dan memeluk Devan sambil melirik Viona. Viona semakin mengepal tangan, marah melihat kemesraan Devan dan Ella yang sengaja diperlihatkan olehnya.
"Dasar sialan! Awas saja, aku akan buat hubungan kalian hancur!" umpat Viona berbalik dan pergi dengan kaki yang dihentakkan-hentakkan.
"Bun-nah, Maysha mawu makan." Rengekan Maysha mulai membuyarkan keheningan di dalam mobil. Devan melihat Maysha lalu mengelus kepala anak kecilnya ini yang sedang duduk di pangkuan Ella.
"Kita makan di rumah, jadi tidak usah merengek seperti itu." Maysha cemberut mendengar ucapan Devan lalu mendongak ke Ella.
"Bun-nah,"
"Hm, kenapa?" tanya Ella tersenyum manis.
"Maysha lindu Mom-my dan Dejhi." Maysha menunduk, merindukan kedua orang tuanya. Ella terdiam sebentar lalu dengan lembut mengelus kepala Maysha. Dirinya juga merindukan Ayahnya yang sudah pergi duluan. Dalam diamnya, Ella tak sengaja menangis. Sangat jelas air matanya turun tanpa sengaja.
"Bun-nah, nangis?" tanya Maysha seketika membuat Devan menoleh ke arahnya. Terkejut melihat Ella mengusap kedua matanya.
"Kau baik-baik saja?" Kali ini Devan yang bertanya saking cemasnya.
"Ha, itu. Tidak, ini tadi sedikit kelilipan." Ella berbohong sambil tersenyum manis. Devan balik tersenyum lalu mengacak-acak rambut Ella sedikit dan kemudian fokus mengemudi. Ella menunduk sedikit melihat Maysha menatapnya sedih. Nasib Maysha sama halnya dengan dirinya. Yang sekarang ditinggal karena masalah pribadi kedua orang tuanya.
Sesampainya di villa. Devan sendiri yang kini memasak. Menunjukkan ahlinya dalam meracik makanan bersama Ella. Bahkan sekarang Ella sibuk menggoreng tumisan bawang, tapi yang membuatnya sibuk sekarang adalah Devan yang sedang memeluknya dari belakang. Katanya mau bantu Ella, tapi ternyata malah ambil kesempatan untuk memeluknya kali ini.
__ADS_1
Ella hanya bisa deg-degan takut Devan akan lebih bertingkah seperti kemarin-kemarin lalu, apalagi cemas melihat Maysha yang senyum-senyum sendiri melihat tingkah Devan sedang merayunya. Takut, jika Maysha berpikiran aneh-aneh di usianya yang masih belita. Nampak kini Maysha duduk manis melihat dua orang ini sibuk berdiri memperdebatkan sesuatu.
Setelah makan malam selesai, Devan naik duluan bersama Maysha ke atas. Membawa Maysha ke kamarnya sendiri dan meninggalkan Ella yang sibuk merapikan meja makan. Setelah itu, Ella mematikan lampu. Saat berbalik, dirinya malah terkejut melihat Devan yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya.
"Ya ampun, aku pikir Tuan sudah tidur!" Kaget Ella melihat Devan sambil mengelus dadanya.
"Pfft, tentu saja belum. Aku tidak bisa tidur tanpa dirimu." Devan memojokkan Ella. Ella cengengesan agak grogi mendengarnya.
"Jika begitu, Tuan mau apa ke sini?" tanya Ella dag-dig-dug. Bukannya dijawab, Devan malah menyeringai tipis lalu mengangkat Ella.
"Ah! Tuan mau apa? Cepat turunkan, aku!" pekik Ella kaget dibawa keluar dari dapur.
"Aku kan tadi bilang, kalau aku tidak bisa tidur tanpamu. Jadi sekarang ayo kita tidur bersama."
Ella semakin terkejut mendengarnya dan memberontak. Takut jika nantinya malah seperti kemarin, bikin debay mendadak.
"Tuan, turunkan aku!" ujar Ella memohon.
"Hm, kalau begitu, aku akan turunkan kalau kau panggil aku, sayang." Sekali lagi Ella terkejut lalu menunduk tersipu mendengarnya. Devan tertawa kecil lalu dengan lembutnya mengecup kening Ella. Tahu, jika istrinya masih malu mengucapkan satu kata itu.
Kini, Ella dan Devan sudah ada di dalam kamarnya. Ella duduk di atas ranjang agak canggung satu kamar dengan Devan. Apalagi sekarang lelaki ini sedang sibuk mengganti pakaiannya. Ella menunduk lagi sambil melihat ponselnya. Gambar foto dirinya bersama Devan dan Maysha tadi sore yang sempat dipotret sebelum ke warung tadi.
"Lucu," gumam Ella tersenyum kecil lalu terkejut, tiba-tiba saja Devan duduk di belakangnya sambil merangkul perutnya. Terlihat Devan ikut tersenyum melihat foto mereka bertiga.
"Cantik," ucap Devan.
"Benarkah?" tanya Ella menoleh melihatnya.
"Ya, sayang. Fotonya cantik, apalagi kamu." Puji Devan tersenyum membuat Ella menunduk. Tentu saja tersipu mendengarnya.
"Ella," panggil Devan semakin merangkulnya.
"Hm, kenapa?" tanya Ella kembali menoleh, tapi Devan tak menjawab melainkan dengan cepat mencium bibir seksi Ella. Ella membola dicium tiba-tiba lagi.
"Malam ini kita bikin debay, gimana?" usul Devan membuat Ella sangat terkejut.
"Tidak, aku tidak mau!" Tolak Ella segera masuk ke dalam seprai. Meninggalkan Devan yang cemberut.
"Aku tidak mau, aku takut!"
"Pfft, apa dia tidak menyukai goyanganku hingga tak berselera melakukan itu bersamaku?" pikir Devan semakin manyun. Devan langsung masuk ke seprai lalu menindih Ella. Mata Ella melebar melihat Devan melucuti pakaiannya. Apalagi Devan berhasil membuatnya tak berdaya lagi.
"Kau mau apa, Tuan?"
"Tentu saja bikin debay lagi, hehehe." Devan nyengir kuda berhasil mengunci Ella.
__ADS_1
"Tidaaaak! Kau sungguh licik, Tuan!" Teriak Ella memenuhi satu kamar, kesal karena belum siap tapi Devan sudah tak sabaran. Untungnya Maysha sudah terlelap hingga tak dapat mendengar suara kegaduhan di kamar sebelah. Sungguh malam yang panjang untuk pasangan ini membuat debay lagi. Apalagi berhasil memenangkan empat ronde sekaligus. Menghabiskan malam indah berdua saja.
...______...