
Ella sekarang sedang menyiapkan sarapan untuk Devan dan Maysha yang kini sedang duduk di kursi mereka masing-masing. Ella meletakkan sarapan Devan dan bubur instan Maysha. Tapi, saat mau meletakkan bubur Maysha. Maysha tiba-tiba bicara membuat Ella terkejut.
"Bun-nah, apa icu meyah-meyah?" tanya Maysha menunjuk bekas merah di lehernya. Tanda cupan Devan ternyata masih belum hilang atas kejadian kemarin malam.
Ella segera menutupnya dengan tangannya sendiri lalu melihat Devan yang kini tersenyum puas melihat Ella yang sedang menahan malu.
"Ini-ini gigitan nyamuk." Ella hanya bisa mencari alasan. Devan tertawa dalam hatinya melihat Ella sedang menutupi fakta.
"Hah? Nyamuk?" Maysha bingung karena tanda itu terlalu besar jika nyamuk yang mengigitnya.
"Ahaha, Maysha. Kamu makan saja. Tidak usah tanya soal itu." tawa Devan menyentuh kepala Maysha agar tak membahasnya lagi. Maysha mengangguk mengerti lalu makan sarapannya.
Ella dengan sangat malunya hanya duduk saja lalu makan sarapannya juga. Kali ini ia tak sadar tanda cupan Devan masih saja terlihat oleh Maysha. Padahal, lehernya sudah dibalut syall.
Setelah sarapan, suara bel pintu terdengar. Maysha yang selesai makan langsung turun dari kursinya lalu berlari keluar dari dapur menuju ke sumber suara. Maysha senang melihat Hansel datang ke Villa Devan.
"O-om," Maysha lompat ke arah Hansel. Untung saja Hansel dengan sigap dapat menangkap Maysha.
"Maysha, di mana Pamanmu dan Nona Ella?" tanya Hansel.
"Di dapuy, O-om." jawab Maysha menunjuk ke arah dapur. Hansel pun menggedong Maysha lalu pergi ke dapur. Tapi baru saja mau masuk, Hansel berhenti setelah melihat Devan sedang mendekati Ella yang lagi membereskan cucian piring.
"O-om, kenapa beyhenci?" tanya Maysha.
"Hm, itu. Sepertinya kita ke mobil saja tunggu mereka." jawab Hansel mengacak-acak gemas rambut Maysha lalu pergi dari tempatnya menuju keluar ke arah mobilnya. Memberi peluang pada Devan untuk mendekati Ella.
Ella yang lagi berdiri sibuk membereskan cucian piring tiba-tiba dikagetkan dengan Devan yang memeluknya lagi dari belakang.
"Tuan, ada apa?"
Pertanyaan Ella tidak dijawab, melainkan Devan malah turun mencium tengkuk Ella.
"Ahhh"
__ADS_1
"Jangan lakukan lagi, Tuan." Ella menjerit, ia sudah tak mau melakukannya. Tapi tak sangka, Devan terang-terangan mengecupnya.
Devan melakukan ini hanyalah pelampiasan saja. Ia sebenarnya merindukan tunangannya yang sedang dirawat di luar negeri. Berkeinginan Ella adalah tunangannya yang dia peluk sekarang.
"Aku-aku merindukanmu, El." kata Devan membuat Ella terdiam.
"El? Siapa itu? Apa itu aku?" Ella mulai bertanya-tanya dalam hatinya.
"Tuan, mohon lepaskan saya." Ella mencoba melepaskan tangan kekar yang merangkulnya. Tanpa meminta dua kali, Devan melepaskan Ella.
"Cuci piring itu cepat, aku hari ini punya rapat yang penting!" ujar Devan sedikit membentak lalu pergi meninggalkan Ella. Ella sedikit terkejut melihat Devan kembali jutek.
"Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia tiba-tiba berubah lagi?" pikir Ella sedikit kecewa. Ella segera membereskan pekerjaannya.
Devan kini di dalam mobil bersama Hansel dan Maysha sambil menunggu Ella yang belum keluar-keluar.
"Presdir, ini adalah berkas-berkas yang sudah aku dapatkan saat menggeledah rumah Nona Ella. Berkas itu adalah catatan hak waris yang ternyata jatuh kepada Nona Ella." Hansel mulai bicara untuk memecahkan keheningan di dalam mobil. Devan mengambilnya lalu melihatnya, membaca dengan teliti.
"Ini ... jadi dia adalah pewaris asli rupanya." gumam Devan.
"Ada apa?" tanya Devan menyimpan berkas itu.
"Ini soal Nona Ella, apakah ada tanda-tanda Nona Ella mulai hamil?"
"Belum, dia masih seperti perempuan biasa-biasanya."
"Kalau begitu, jika Nona Ella tidaklah hamil. Apa Presdir akan menceraikannya?" tanya Hansel lagi. Devan terdiam sebentar memikirkannya.
"Presdir, anda sudah punya tunangan. Jika tunangan anda datang kemari. Itu sangatlah berbahaya jika dia tahu anda sudah diam-diam menikah dengan wanita lain. Ini akan beresiko bagi anda apalagi reputasi anda," papar Hansel menjelaskan. Devan kembali terdiam tak menjawabnya.
"Presdir lebih baik segera mengecek Nona Ella sebelum Nona El datang menemui anda." Lanjut Hansel memberi saran.
"Hansel, diamlah. Ini adalah urusanku, kau tak diijinkan mengurus hal-hal pribadiku. Aku sendiri yang akan menyelesaikan masalahku." Devan berkata sambil menatap ke depan, ucapannya terdengar tak ingin Hansel ikut campur.
__ADS_1
"Baik, Presdir." Hansel mengerti dan tidak berbicara lagi. Tak lama kemudian, Ella datang dan segera masuk ke dalam mobil duduk di bagian tengah. Hansel agak terkejut melihat penampilan Ella, apalagi dibalik syall Ella yang membalut lehernya ada tanda cupan yang sedikit terlihat.
"Maaf, aku tadi beres-beres dulu. Maysha tidak marah kan sama aku?" tanya Ella pada Maysha yang duduk di dekatnya.
"Em, cidak. Maysha cidak mayah." ucap Maysha tersenyum manis. Ella hanya tertawa kekeh lalu menyentuh kepala Maysa dengan lembut.
"Dia ...." Devan melirik Ella, ingin rasanya ia mengatakan sesuatu padanya. Tapi, ia juga tak sanggup.
"Argh, menyebalkan!" umpat Devan dalam hati. Hansel hanya bisa diam melihat atasannya ini kebingungan dalam mengambil keputusan. Mobil pun melaju pergi ke perusahaan.
Tak memakan waktu lama, mereka tiba juga di perusahaan. Seperti biasa, Ella merangkul lengan Devan takut menaiki lift. Melihatnya seperti ini, membuat Maysha dan Hansel hanya bisa saling tatap lalu tertawa kecil. Tidak seperti Devan yang sedikit risih, tapi menyenangkan juga.
.
.
Kini Devan sudah tiba di ruangan. Seperti biasa, lelaki ini sibuk dengan pekerjaan. Hanya dia sendirian di ruangannya. Sementara Ella sibuk juga mengawasi Maysha. Namun tiba-tiba saja Hansel memanggilnya, memberikan sebuah berkas untuk diberikan pada Devan.
"Apa aku harus yang memberikannya?" tanya Ella sedikit takut menemui Devan sendirian.
"Ya, Nona. Saya tak bisa memberikannya, pekerjaan saya masih banyak dan tak bisa saya tinggalkan dulu. Jadi, mohon bantuan Nona memberikan ini padanya. Urusan Maysha, saya yang akan mengawasinya sementara ini." jawab Hansel melihat Maysha yang sedang menonton kartun di ponsel milik Ella.
"Ba-baiklah, saya akan ke sana." Ella pamit lalu berjalan ke ruangan Devan.
Sementara Devan, saat pria ini sibuk membaca dokumennya. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Devan melirik siapa yang masuk ke ruangannya. Seketika kedua matanya melebar langsung berdiri melihat seorang wanita muda berjalan ke arahnya sambil tersenyum lalu memeluknya dengan mesra.
"Sayang, akhirnya aku melihatmu hari ini. Aku sangat merindukanmu. Apa kau juga merindukanku?" katanya memeluk erat Devan. Devan menyentuh kepalanya lalu tersenyum semanis mungkin.
"Ya, aku merindukanmu juga sayang." Devan mencubit hidung tunangannya yang sudah datang dari LN. Inilah yang ditunggu-tunggu oleh Devan setelah menghubunginya kemarin malam. Sebuah kejutan dari tunangannya yang sampai lebih awal dari perkiraannya.
Deg!
Detak jantung terdengar di dekat pintu. Ella menggenggam kuat berkas di tangannya. Ada rasa sakit mulai menyelimutinya mendengar obrolan mesra di dalam ruangan di dekatnya.
__ADS_1
"Sayang, siapa dia?"
Ella terkejut, dirinya dilihat dan ditunjuk oleh tunangan Devan. Kini Devan terdiam tak sangka Ella juga datang ke ruangannya. Kini Ella menatap Devan, ialah yang seharusnya bertanya, siapa wanita yang sekarang dipeluk suaminya ini.