Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 59 : Ella Menghilang?


__ADS_3

Pintu kamar mandi dibuka oleh Devan dengan handuk yang membalut setengah tubuhnya. Roti sobek Devan semakin menggoda mata. Tapi, anehnya di dalam kamar cuma Devan saja seorang diri. Devan terkejut lalu melihat jam dinding masih pukul 15.27 sore.


"Di mana, Ella?" gumam Devan segera ke arah lemarinya untuk memakai pakaian. Handuk miliknya jatuh ke lantai memperlihatkan tubuhnya yang gagah membelakangi ranjangnya. Devan memakai celana dan baju lalu berjalan ke arah luar kamar. Ada sedikit kerutan di kening Devan. Kesal karena Ella pergi dari kamarnya, padahal tadi sudah janji akan menemaninya setelah mandi.


"Ish, kenapa dia malah pergi!" ketus Devan berjalan ke arah kamar Maysha. Tapi, setelah membuka pintu kamar, cuma Maysha saja yang masih tertidur di atas kasurnya.


"Ke mana dia sekarang?"


Devan mulai cemas, mengira Ella menghilang dari villanya. Devan menuruni tangga mencari sana-sini dan tak menemukan Ella juga. Rasa cemasnya meningkat lalu masuk ke dapur. Tapi sama sekali tak ada tanda-tanda istrinya.


Devan mendongak melihat ke atas ke arah kamar Elisa. Devan buru-buru lari menaiki tangga menuju ke kamar Elisa. Devan segera mengetuk pintu.


"Elisa, buka pintunya!" ujar Devan memanggil Elisa.


Elisa yang lagi rebahan santuy sedang memikirkan cara untuk menghancurkan pernikahan Devan dengan Ella langsung terkejut mendengar Devan memanggilnya. Elisa segera membuang pikirannya jauh-jauh lalu berdiri dengan senyum manisnya. Mengira Devan pasti datang mau minta maaf dan mau ikut dengannya ke rumah Ibunya.


Namun ternyata senyumnya sirna seketika melihat Devan langsung menerobos masuk ke dalam kamarnya. Mata Devan mencari-cari sesuatu.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Elisa langsung memeluknya dari belakang. Devan melepaskan Elisa lalu melihatnya serius.


"Katakan, di mana Ella?"


Elisa terkejut mendengar Devan sedang mencari musuhnya. Apalagi sangat terkejut melihat Devan malah seakan menuduhnya telah menyembunyikan Ella.


"Aku tak tahu dia di mana." Elisa melipat kedua tangannya di depan dadanya. Begitu acuh tak acuh pada urusan Ella.


"Elisa, jangan bohong. Pasti kamu yang sembunyikan Ella, kan?" ujar Devan menepuk kedua bahu Elisa.


"Iiih, bukan aku!" tepis Elisa kesal dituduh sembarangan.

__ADS_1


"Aku tidak berbohong, apalagi sembunyikan dia. Kamu jangan asal tuduh, Devan!" lanjut Elisa berteriak sedikit.


"Ck, ya sudah." Devan hanya mendecak dan mengabaikan Elisa. Elisa tak terima, dan segera berdiri menghalangi jalan Devan.


"Setelah kau menuduhku, kau hanya pergi begitu saja tanpa minta maaf padaku? Segitu pentingnya kah perempuan itu dariku, Dev? Aku dan kamu sudah enam tahun bersama. Kenapa kamu malah berubah bersikap begini padaku!" ujar Elisa menepuk dadanya. Sakit rasanya dicampakkan.


"Itu sudah berlalu dan itu hanyalah masa lalu. Kini kau harusnya mengerti Elisa. Aku dan kamu tak berjodoh!" ungkap Devan membuat Elisa terkejut lalu pergi dari kamar. Elisa berteriak di dalam kamarnya, meluapkan emosinya. Kesal mendengar ucapan Devan.


"Aku benci padamu, Devan! Kalau begini aku tak harusnya pulang dan lebih baik mati saja!" pekik Elisa masuk ke dalam sprainya melanjutkan amukannya.


Devan menghela nafas, berat juga rasanya harus berkata seperti itu pada Elisa. Tapi, kini pikirannya masih teralih pada Ella yang tak nampak batang hidungnya. Devan kembali ke kamarnya. Sama sekali tak ada Ella di dalam kamar. Devan ingin mengambil laptopnya di atas meja untuk mengecek CCTV villa-Nya, tapi tiba-tiba kakinya menendang sesuatu.


Devan menunduk dan terkejut melihat dua pasang kaki di bawah ranjang. Devan memutar bola mata jengah, ternyata yang dicari-cari di sana-sini sedang bersembunyi di bawah ranjang. Devan berjongkok melihat Ella tertidur sedikit mendengkur.


"Apa dia tidur di sini dari tadi?" pikir Devan langsung memegang kaki Ella.


"Ella, bangun! Sampai kapan kau akan tidur di sini!" ujar Devan lagi mulai greget melihatnya keasikan tidur.


"Astaga, apa dia sengaja ingin membuatku kesal? Kenapa dia begitu bodohnya malah tidur di lantai? Sedangkan ada kasur empuk yang bisa ditiduri?" pikir Devan geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu Ella.


Devan menyentuh dagunya mulai memikirkan sesuatu lalu berdiri dan mengambil satu dokumen. Devan membuat sebuah terompet lalu berjongkok kembali.


"Gempa, Ella! Ada gempa! Cepat bangun woi, bebek!" teriak Devan berhasil membangunkan Ella. Kedua mata Ella membola dan langsung terbentur ke ranjang.


Tak!


"Au-" ringis Ella kesakitan kepalanya terbentur cukup keras. Devan terkejut dan segera menarik kaki Ella agar istrinya keluar dari bawah ranjang.


"Tu-tuan?" ucap Ella juga terkejut melihat Devan berjongkok di dekatnya.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?" tanya Devan meraih kepala Ella melihat apakah ada benjolan atau tidak. Ella segera duduk, sungguh malunya Devan melihatnya tidur di bawah ranjang.


"Ehehe, aku tidak apa-apa, Tuan." Ella cengengesan.


"Aduh!" ringis Ella dicentil keningnya oleh Devan yang kesal dari tadi.


"Ma-maf, Tuan jangan marah. Tadi saya tak mau mengganggu Tuan jadi-jadi saya lebih baik tidur di bawah saja." lanjut Ella terbata-bata begitu takutnya akan menerima amarah Devan.


"Ah!" jerit Ella malah diangkat oleh Devan. Terkejut melihat dirinya langsung dijatuhkan ke atas ranjang.


"Bisakah kau tidak membuatku cemas hari ini! Jika kau mau tidur kau harusnya tidur di kasur, jangan malah asik tidur di lantai sambil meluk guling. Kau kan bisa memelukku!" ucap Devan seakan marah. Tapi raut wajahnya terlihat lucu di mata Ella. Merasa Devan sedang cemburu pada guling.


"Ehehehe, bukannya waktu itu Tuan melarangku sendiri untuk tidak menyentuh kulit Tuan sedikitpun?" Ella cengengesan sambil memainkan dua jari telunjuknya. Devan tersenyum lalu meraih tangan Ella dan meletakkannya ke bahu kirinya.


"Jadi, jika aku izinkan, apa kau akan melayaniku sore ini, My Baby Sweet?" tanya Devan mulai merayu Ella sambil memainkan rambut hitam pendek Ella. Ella deg-degan mendengarnya, jantungnya berdebar-debar mendengar kata melayani untuk Devan, apalagi panggilan sayang untuknya.


"Ti-tidak, maksudku ... aku mana mungkin memeluk Tuan, apalagi melakukan itu ber-bersama Tuan sore ini," ucap Ella kembali terbata-bata begitu mendebar-debarkan kalimat Devan.


"Ahahaha, kau sungguh lucu. Bukan kah itu memang kewajibanmu sekarang?" tawa Devan mengelus wajah Ella yang merona luar biasa.


"Jadi mari kita lakukan pemanasan sekarang, Ella," ucap Devan memegang tangan kiri Ella. Wajah mereka mulai begitu dekat.



Ella yang tadi membayangkan dirinya bercinta dengan Devan langsung sadar setelah melihat Devan membuka bajunya, benar-benar ingin bercinta sore ini. Kedua mata Ella melebar melihatnya.


"Ah, Tuan!"


Ella berteriak kecil menutup kedua matanya. Seluruh tubuhnya seketika merinding sampai di ubun-ubun kepala.

__ADS_1


__ADS_2