Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 29 : Malu-malu Kucing


__ADS_3

...🌷|| Beri like dan vote ||🌷...


"Emh," Ella menggeliat merasa ada sesuatu yang dia rasakan pada keningnya. Sentuhan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Hangat dan lembut.


Devan sadar, jika Ella menyadari tindakannya. Devan segera berdiri normal sebelum Ella bangun dari tidurnya. Ternyata benar, Ella sadar dan melihat dirinya berdiri sendirian.


"Astaga, Presdir."


Ella langsung berdiri dari sofa. Begitu kagetnya melihat Devan masuk ke dalam kamarnya. Apalagi kini hanya mereka berdua dalam satu ruangan.


"Pres--presdir, mau apa ke sini?" Ella terbata-bata.


Devan tak menjawabnya dan malah memojokkan Ella ke dinding. Begitu dekat membuat jantung Ella kembali berdebar-debar.


"Apa-apa tadi, dia yang mencium keningku?" pikir Ella menatap kedua mata Devan, baru sadar akan sentuhan tadi.


Devan mendengarnya, bahkan sudah tahu jika perempuan ini pasti akan menebaknya. Tapi sekarang, Devan penasaran satu hal dari Ella.


"Jawab aku," kata Devan membuat Ella menelan ludah saja.


"Jewab--jawab, apa?" Ella semakin terbata-bata ditatap oleh Devan.


"Apa kau mencin--mencintaiku?"


Spontan Ella terperanjak mendengar Devan memberinya pertanyaan ini. Ella menunduk lalu menggenggam tangannya sendiri.


"Saya-saya mana mungkin mencintai, Presdir. Itu akan melanggar perjanjian kontrak kita." jawab Ella terdengar kecil, bahkan sedikit gemeteran.


Devan berdiri normal tak memojokkan Ella lagi. Ada rasa sedikit kecewa di dalam hatinya setelah mendengarnya.


"Aku terlalu banyak berharap darinya, aku telalu kepedean terhadapnya," pikir Devan membelakangi Ella.


"Baguslah, jika kau tak mencintaiku. Sekarang, ikut aku turun ke bawah." lanjut Devan meliriknya sinis lalu pergi duluan dari kamar Ella.


Ella menunduk kembali, menahan rasa yang ada di hatinya. Tubuhnya sedikit gemeteran, tak kuasa mengatakan yang sebenarnya.


"Ya Tuhan, apa aku boleh mencintainya? Sedangkan diriku ini begitu sangat menyedihkan?"

__ADS_1


Ella sedih, sangat sedih akan dirinya sendiri. Pernikahan tanpa cinta ini perlahan membuatnya terluka. Terluka tak kuasa menahan rasa yang semakin menjadi-jadi. Ella menutup wajahnya agar tak menangis. Pelukan tadi sore membuatnya tenang, tapi sekarang Devan kembali cuek padanya.


Ella mengusap wajahnya. Mencoba mengubur perasaannya agar tak terluka lagi. Tapi luka kecil itu semakin perlahan melebar di dalam hatinya. Begitupula, Devan yang lagi berdiri di depan kamar. Lelaki ini menggenggam kuat tangannya. Rasa kecewanya sedikit bertambah setelah tahu Ella tak mencintainya. Devan pun turun untuk melihat Maysha.


Setelah merasa tenang, Ella keluar dari kamar lalu turun ke lantai bawah. Alangkah kagetnya, melihat Ibu tirinya sudah datang dan sekarang berdebat kepada Devan.


"Kalian keluarlah dari rumahku!" ujar Bu Kalista geram melihat pintu rumahnya dirusak lagi. Mengusir kasar Devan pergi dari rumahnya. Melawan Presdir jutek ini sendirian. Melihat Bu Kalista begini, Maysha jadi takut lalu memeluk Hansel.


"O-om, May-maysha cakuh!"


"Tidak usah takut, ada Deddy mu di sini." kata Hansel tertuju pada Devan. Maysha mengangguk saja di dekat Hansel dan masih memeluknya.


"Ck, rumahmu?" Devan tersenyum miring sambil mendecak.


"Ya, ini rumahku. Kalian pergilah dari sini!" ujar Bu Kalista meinggikan suaranya.


Ella datang lalu berkata, "Tidak!" tolak Ella kini berdiri di dekat Devan.


"Kau, anak sialan! Beraninya datang lagi ke rumahku! Apa kau datang untuk mempermalukan diriku! Se ... karang, kau dan mereka pergilah dari sini!" Bu Kalista menunjuk Ella semakin geram.


Devan pun meraih pinggang Ella jatuh ke pelukannya lalu melihat tajam Bu Kalista.


"Apa anda tuli? Kenapa masih berdiri di sini? Apa kau sedang menunggu diberi uang oleh kami?" ucap Devan membuat Bu Kalista sudah tak tahan merasa dirinya begitu rendah malam ini.


Bu Kalista menggengam kuat tangannya lalu ingin menyerang Ella. Tapi sayangnya, kedua tangannya malah ditahan tiba-tiba oleh dua polisi yang datang.


"Ini, apa-apaain ini! Lepaskan aku!" ronta Bu Kalista mengamuk.


"Bu Kalista, anda malam ini ditahan atas kasus pelanggaran HAM. Tindakan anda sudah melampaui batas. Anda bahkan menjual putri kandung anda sendiri, jadi ikut kami ke kantor polisi." kata Pak polisi memperjelas tindakan Bu Kalista.


Ella tersetak mendengarnya.


"Aline dijual?"


Inilah yang dipikirkan oleh Ella. Bahkan berpikir, "Bagaimana polisi bisa ikut campur?" Ella melihat Devan. Ekspresi Devan begitu serius melihat Bu Kalista yang ditangkap.


"Dia, apa dia selama ini mengawasi gerak-gerik Bu Kalista?"

__ADS_1


Sekali lagi Devan merangkul pinggang Ella lalu menatapnya dan berbisik, "Ingat, setelah ini kau harus menyediakan hadiah yang bagus untukku."


Ella sedikit terkejut ingat akan kesepakatan ini. Ella menunduk, lalu merona kembali. Pikirannya mulai kemana-mana lagi. Devan yang bisa tahu, hanya menahan tawa.


"Tidak, lepaskan aku! Aku tidaklah bersalah! Kalian salah tangkap orang, kalian harusnya menangkap anak sialan ini!" racau Bu Kalista semakin mengamuk. Pak Polisi tak peduli dengan amukan Bu Kalista, kedua polisi sipil ini menyeret Bu Kalista ikut dengan mereka.


"Anda lebih baik jelaskan di kantor," ucap Pak Polisi lalu melihat Devan.


"Presdir, Devan. Terima kasih atas kerjasama anda dalam mengatasi kasus perdagangan manusia yang tak bertanggung jawab ini." lanjut Pak Polisi membuat Bu Kalista terdiam.


"Pre-presdir? Jadi orang ini pengusaha kaya raya itu?" Bu Kalista kaget sungguh tak percaya dirinya berurusan dengan Devan. Apalagi Ella punya hubungan dengan Presdir Devan.


"Anak sialan! Kau menjebakku!" umpat Bu Kalista semakin marah besar. Devan melirik Pak polisi untuk segera membawa Bu Kalista pergi dari rumah ini. Pak polisi mengerti lalu menyeret Bu Kalista. Bu Kalista tak bisa lagi bergerak setelah diborgol tangannya. Wanita ini pun dibawa pergi malam ini.


"Hiii, Dejhi. May-maysha cakuh!" Maysha lari ke Devan lalu memeluknya.


"Tidak apa-apa. Mak lampirnya sudah pergi. Marsa jangan nangis lagi." ucap Devan mulai lembut kembali dan sedang menenangkan Mausha.


"Bun-nah, cidak apa-apa?" tanya Maysha terlihat cemas. Ella sadar dari lamunannya lalu melihat Devan. Sekarang, tinggal mengurus hak waris agar rumah ini benar-benar jatuh ke tangannya.


"Tidak apa-apa," ucap Ella tersenyum pada Maysha.


"Ter-terima kasih atas malam ini, Presdir." Ella terbata-bata mengucapnya di depan Devan. Devan mendekatkan dirinya pada Ella. Begitu dekat sehingga Ella merona lagi.


"Apa-apa yang ingin dia lakukan sekarang?" pikir Ella menunduk.


"Kau harus siapkan hadiah yang bagus untukku malam ini. Jadi, mari kita pulang sekarang. Urusan rumah ini, Hansel yang akan mengurusnya." bisik Devan pada telinga Ella bahkan menjilat telinga mungil istrinya ini. Ella tersentak, wajahnya merona ingin meletus merasakan sentuhan lembut dari lidah Devan.


"Bun-nah, baik-baik saja?" tanya Maysha polos. Devan tersenyum smirk melihat Ella malu-malu kucing memikirkan hadiah yang bagus untuknya.


"Oh Tuhan, aku ingin pingsan saja malam ini." Ella terdiam mematung saja tak menjawan Maysha saking malunya. Ucapan Devan terdengar menggoda di telinganya.


..._______...


...|| VOTE \= CRAZY UP ||...


__ADS_1


__ADS_2