Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 72 : Berani Merayu


__ADS_3

Ella yang masih marah belum henti-hentinya dirayu oleh Devan. Beda dengan Hansel yang sekarang sibuk di rumahnya untuk mulai penyelidikannya. Memakai penampilan bagaikan Detektif saja. Menyiapkan alat-alat pendengarannya agar tak melewatkan sedikitpun informasi yang akan dia dapatkan dari alat perekam itu nanti.


Hansel keluar dari rumah, menuju ke arah mobil lalu masuk ke dalam. Mulai menyalakan mesin dan segera melaju untuk menemukan informasi tentang kehidupan masa lalu Ny. Chelsi yang pasti mempunyai rahasia yang disembunyikan dari publik.


Sibuk melihat ke depan, suara notif muncul di layar ponselnya. Hansel meraih ponselnya lalu membuka passwordnya. Hansel terkejut melihat notif wawancara tentang kondisi Elisa di You_Tube Hansel membukanya dan menonton wawancara Ny. Chelsi.


Terlihat Wanita ini berkata, "Semuanya baik-baik saja, kondisinya mulai membaik. Hanya saja, dia harus dirawat beberapa hari di rumah sakit. Saya sedih dan takut kehilangannya, cuma dia putriku satu-satunya." Itulah yang didengar oleh Hansel. Begitu terkejutnya setelah mendengar ucapan Ny. Chelsi.


"Cuma satu-satunya?"


"Jika begitu, apa Ella bukan putrimu juga?"


Bukannya penasaran, Hansel malah kesal melihat ekspresi tak bersalah Ny. Chelsi yang tentunya sedang berakting nangis nampak mengusap pinggir matanya di channel tersebut. Kini Hansel semakin ingin tahu mengapa Ella tak dianggap oleh Ny. Chelsi.


Seharusnya Ny. Chelsi bisa mengatakan jika dirinya masih punya satu gadis yang ia telantarkan. Bahkan perkiraan dari Hansel, seharusnya Ny. Chelsi bisa mengunjungi kematian mantan suaminya dulu sekaligus dapat mengambil Ella ikut bersamanya. Tapi, ternyata Ny. Chelsi sama sekali tak memikirkan Aradella, putri bungsunya yang polos ini.


Kini Hansel sudah menemukan info sedikit dari yang dia rangkum sendiri. Menemukan jika Elisa bukanlah anak kandung dari Tn. Vian, melainkan anak angkat yang kini dijadikan anak tiri setelah menikahi Ny. Chelsi. Namun yang membuat Hansel penasaran yaitu memikirkan bagaimana Ny. Chelsi dan Elisa bisa bersama Tn. Vian. Hansel segera melaju mobilnya menuju ke rumah sakit, menanyakan langsung kepada Elisa.


"Harusnya, Nona Elisa saat pertama kali bertemu Ella bisa mengenalinya. Tapi, kenapa Nona Elisa sama sekali tak menyadari jika Ella adalah adiknya? Apa Nona Elisa amnesia?"


Hansel berhenti tepat di depan rumah sakit dan segera turun. Berjalan masuk mencari ruangan Elisa. Hansel menanyakan pada suster yang lewat.


"Oh, ruangannya ada di sana, Pak!" Tunjuk suster itu ke ruangan Vip Elisa yang tak jauh dari Hansel.


"Terima kasih, Suster."


"Sama-sama, Pak." Suster itu pamit lalu pergi. Hansel pun kembali berjalan ke arah ruangan Elisa. Namun, baru saja mau masuk. Kedua matanya dikejutkan dengan seseorang yang nampak misterius berdiri di dekat Elisa yang lagi tertidur.


"Hei!" teriak Hansel mengagetkannya.


"Siapa kau!" ujar Hansel masuk ingin menangkapnya, tapi orang itu yang berpenampilan tertutup langsung menendang kursi ke arah Hansel hingga lelaki ini gagal menangkapnya. Hansel segera ingin keluar mengejarnya. Tapi, kakinya terhenti setelah mendengar suara Elisa yang bangun.


"Hm, kau? Hansel, apa yang kau lakukan di sini?" Elisa terkejut dan segera duduk. Nampak Elisa sedikit takut dikunjungi oleh Hansel. Takut diapa-apakan olehnya. Hansel hanya mendesis kesal tak bisa mengejar orang misterius itu lalu masuk mendekati Elisa.


"Eh, berhenti! Kau mau apa!" teriak Elisa deg-degan.


"Nona Elisa, anda tidak perlu takut. Kedatangan saya ke sini tidak ingin macam-macam. Saya hanya ingin bertanya satu hal padamu atau mungkin beberapa pertanyaan yang bisa membuatmu bingung."


Hansel mulai menjelaskan kedatangannya sambil berdiri di dekat brankar Elisa dengan catatan di tangannya bagaikan Detektif yang sedang mengintrogasi.


Apalagi tatapan Hansel begitu serius pada Elisa. Elisa mengerutkan dahinya mulai tertarik. Tapi sedikit takut dengan keseriusan Hansel.

__ADS_1


"Oh, jika begitu katakan apa yang ingin kau tanyakan dan juga cepatlah, aku tak mau kau berlama-lama di sini." Elisa berkata acuh tak acuh tanpa melihat Hansel. Hansel hanya membuang nafas melihat sikap angkuhnya Elisa.


"Baiklah, pertanyaanku, Nona Elisa apakah kau amnesia?" tanya Hansel mulai serius lagi.


"Eh, tentu saja tidaklah! Ingatan aku baik-baik saja, tidak pernah amnesia!"


"Benarkah?" tanya Hansel memastikan.


"Ya, ialah. Kau pikir aku lagi bercanda?" kata Elisa menatapnya.


"Jika begitu, apa kau bisa ceritakan padaku masa lalu saat kau masih kecil?"


"Tunggu dulu," ucap Elisa turun dari brankarnya.


"Kenapa kau datang-datang kemari dan malah bertanya soal pribadiku. Apa kau tahu, ini itu privasiku. Kau tak usah perlu tahu." lanjut Elisa berdiri di depan Hansel. Jarak keduanya sedikit mulai dekat. Hansel mundur sedikit melihat Elisa yang mendekatinya. Apalagi wanita ini mulai lagi emosi.


"Nona Elisa, tenanglah. Saya hanya ingin-"


"Keluar!" Tunjuk Elisa ke arah pintu membuat Hansel berhenti bicara.


"Maaf, Nona. Tujuan saya ke sini belum-"


"Kelaur gak! Keluar!" teriak Elisa segera mendorong punggung Hansel ke arah pintu. Tapi bukannya keluar, Hansel malah menutup pintu ruangan lalu memojokkan Elisa ke pintu. Elisa terkejut dipojokkan oleh Hansel.


"Nona Elisa, dengarkan saya dulu. Saya ke sini cuma ingin tahu, apakah Nona Elisa punya adik?" tanya Hansel seketika membuat Elisa diam. Rasa takutnya sirna dan berganti menjadi murung.


"Nona Elisa, jawablah!"


"Aku-aku tidak tahu," lirih Elisa menunduk sambil menggenggam tangan kirinya.


"Maksudnya?" Hansel tak paham. Bukan jawab ini yang ingin dia dengar.


"Aku bilang ... aku tidak tahu! Jadi menyingkarlah dariku!" ujar Elisa yang kini menatap serius Hansel.


"Tidak! Nona harus jujur pada saya. Katakan, apa kau dulu punya adik bernama Ara?"


Seketika, kedua mata Elisa melebar lalu tiba-tiba denyutan terasa di kepalanya. Elisa meringis kesakitan dan kemudian menatap Hansel dengan geram.


"Pergi! Aku tak tidak tahu siapa itu, Ara!" teriak Elisa mendorong Hansel.


"Huft, baiklah. Maaf sudah mengganggu, Nona." Hansel menunduk dan mengabaikan Elisa. Hansel meraih ganggang pintu lalu mulai membukanya. Akan tetapi, baru saja sedikit terbuka, Elisa malah mendorong pintu hingga kembali tertutup. Hansel terkejut dan berbalik melihat Elisa.

__ADS_1


Brak!


Hansel semakin terkejut, kali ini bukan Elisa yang dipojokkan tetapi dirinya yang dipojokkan oleh Elisa yang kini mengunci dirinya. Begitu sangat dekat bahkan hanya sejengkal tangan saja. Hansel meneguk siliva sedikit deg-degan.


"Nona Elisa, anda baik-baik saja?"


Elisa tak menjawab, melainkan kini meracau kesal di depan Hansel sambil menunduk di depan Hansel.


"Kau, sudah datang mengganggu tidurku dan kau malah ingin pergi begitu saja sekretaris Hansel?"


"Nona Elisa, lebih baik lepaskan saya. Posisi kita bisa mengakibatkan salah paham nanti." Hansel ingin mendorong Elisa, tapi kedua matanya tertuju pada oppai milik Elisa yang tentunya mencuci mata suci Hansel. Tak henti-hentinya meneguk siliva dan deg-degan melihat tindakan Elisa yang bagaikan ingin melecehkannya saja. Hingga Hansel tak berani menyingkirkan Elisa dari depannya.


"Ha? Lepas? Setelah kau buat aku kesal begini, kau malah ingin pergi begitu saja?" cibir Elisa menatap Hansel semakin dalam.


"Ya sudah, katakan apa maumu, Nona Elisa?" tanya Hansel memperbaiki kacamatanya yang oleng gara-gara oppai Elisa yang besar.


Elisa mendekatkan dirinya, semakin dekat membuat jantung Hansel dag-dig-dug bagaikan sedang dikejar kuda liar. Aroma tubuh Elisa yang wangi mulai masuk ke hidung Hansel. Apalagi kedua mata mereka tak henti-hentinya saling menatap. Hansel tersentak dikala tangan kanan Elisa meraba dada kirinya. Bahkan kedua mata Hansel melebar mendengar bisikan Elisa di telinganya.


"Jika kau mau, mohon temani aku malam ini, sekretaris Hansel."


Bisikan Elisa membuat Hansel merinding dan merona. Bisa-bisanya wanita ini begitu berani merayunya. Apalagi oppai Elisa menempel ke dadanya.


"Apa kau mau?" bisik Elisa sekali lagi. Hansel tak tahan, nafas Elisa begitu menggoda di telinganya. Hansel dengan terpaksa mendorong Elisa agar tak terpancing lalu dengan wajah merona langsung membuka pintu lalu keluar pergi jauh-jauh.


"Pfft, ahahaha." Elisa tertawa melihat Hansel yang malu-malu kucing. Elisa mengunci ruangannya lalu duduk di brankarnya sambil melihat tangannya yang tadi meraba dada Hansel.


"Ternyata, dia polos juga. Dari luar terlihat tegas, tapi aslinya ... ternyata dia bagaikan anak kucing saja. Wajahnya benar-benar ingin meledak. Ahahaha." Elisa semakin tertawa sendirian lalu tiba-tiba menangis. Baru kali ini ia tertawa lepas. Baru kali ini hatinya kembali tenang. Tapi, pikirannya mulai teralih pada pertanyaan Hansel.


"Apa aku punya adik? Kenapa Hansel bertanya soal itu?"


"Bukannya Papa bilang aku tak punya, dan harusnya Hansel tau itu. Tapi, kenapa aku merasa ada yang tidak beres?"


Elisa berbaring lalu melihat jam dinding di ruangannya sudah pukul 19 malam. Elisa menghadap ke samping lalu menyentuh kepalanya memikirkan kembali pertanyaan Hansel.


"Ara? Apa aku beneran punya adik? Jika punya, pasti ada diingatanku. Tapi, aku tidak ingat apa-apa punya adik bernama Ara."


"Sejak kecelakaan itu, aku jadi tidak ingat sebagian masa kecilku," keluh Elisa murung ditinggal sendirian di ruangannya lagi.


"Amnesia? Apakah aku pernah amnesia?" desis Elisa malah kesal lalu memejamkan mata. Tak mau lagi berpikir.


"Sepertinya, Hansel memang salah sudah bertanya soal itu."

__ADS_1


"Dasar! Sekretaris Hansel, bikin kesel saja!" umpat Elisa menutup matanya rapat-rapat.


______


__ADS_2