
Setelah mengetahui semua, Elisa sekarang duduk bersandar di kursi di ruangan Dokter yang menangani penyakit Ella dan ditemani oleh Hansel. Elisa menunduk, menutup mata mengetahui adiknya terkena penyakit TBC dan sekarang wanita ini melakukan tes DNA untuk diberikan pada Ibunya nanti agar mau berkata jujur.
Namun lama-lama rasa ngantuk mulai muncul setelah dirinya habis menangis dan perlahan menyandarkan kepalanya ke dinding.
"Nona Elisa, anda baik-baik saja?" Hansel mencoba menyadarkan Elisa yang ingin tertidur. Tapi Elisa tak mendengar dan sekarang tidur beneran di dekat Hansel.
"Huft, Nona Elisa sebenarnya wanita baik, ini pasti berat untuknya, tapi aku salut dia tak mau lagi mempermasalahkan ini."
Hansel tersenyum melihatnya tertidur lalu ingin berdiri, tapi tak jadi akibat kepala Elisa jatuh ke bahunya, bersandar padanya. Hansel tentu kaget melihat Elisa terlihat lelah. Tanpa sadar, Hansel menyapu sisa air mata di pinggir mata Elisa lalu kembali terkejut mendengar dua kata terucap dari bibirnya.
"Jangan pergi."
Suara lirih Elisa membuat Hansel kembali iba, dengan pelan-pelan jarinya menyisir rambut Elisa yang terurai ke belakang telinga wanita ini. Sekali lagi senyuman muncul di bibirnya lalu menunduk menatap tangannya yang digenggam kuat oleh Elisa, terasa bergetar ketakutan.
Dokter menepuk tangannya melihat Hansel dengan perhatian dan hati-hati memperbaiki posisi kepala Elisa. "Wah wah, kau perhatian juga. Memberi sandaran untuk Istrimu," ucap Dokter mengejutkan Hansel.
"Dia-dia bukan Istriku, Dok." Hansel segera membenarkan, takut akan jadi salah paham.
"Kau jangan bohong, jelas-jelas kalian terlihat pasangan yang cocok, ahahaha," tawa Dokter pergi meninggalkan mereka. Hansel menunduk lalu sesekali melirik Elisa, wajahnya perlahan merona lalu mengalihkan pandangannya.
"Huft, itu tidak mungkin. Nona Elisa tidak cocok denganku, aku bukanlah tipenya." Keluh Hansel lalu menerima pesan dari Devan yang mencarinya dari tadi.
[Kemana kau sekarang?] Isi pesan Devan.
[Maaf, Presdir. Saya punya urusan, tidak bisa menemani anda dulu. Tapi tak usah kuatir, pesanan Presdir sudah saya kirimkan] balas Hansel mengirim pesan. Setelah itu, Hansel hanya sibuk memperhatikan Elisa. Hanya mereka berdua menunggu hasil tes DNA keluar. Tidak seperti Devan yang garuk-garuk kepala.
"Tumben dia ada urusan? Apa dia masih sakit?" pikir Devan yang berdiri di luar ruangan melihat ponselnya. Namun tiba-tiba dikagetkan dengan suara gelas bergerak di dalam ruangan. Devan sontak berbalik dan melihat Ella terbangun dari tidurnya.
"Kamu mau apa, Ella?" tanya Devan cemas lalu mendekatinya.
"Aku ingin minum," lirih Ella meminta air akibat batuk barusan. Devan segera menuangkan air ke gelas lalu memberinya pada istrinya.
"Kamu masih lemah, tidak perlu banyak gerak. Kalau mau sesuatu panggil aku saja." Dengan perhatian mengelus rambut Ella dengan lembut. Cemas dan tak tega melihat kondisi Ella.
"Sekarang kamu mau apa?" tanya Devan mengambil gelasnya lalu meletakkan ke atas meja kembali.
"Aku-aku,"
"Aku apa?"
"Bisakah kau tetap di sini, aku takut ditinggal sendirian." Mohon Ella menatapnya penuh harap. Devan mengelus rambut Ella kembali lalu meraih tangan Ella, tersenyum semanis mungkin.
"Tidak usah cemas, aku akan selalu bersamamu. Tidak akan lagi yang bisa memisahkan kita. Orang tuaku sudah merestui hubungan kita. Kau jangan lagi sedih, sayang." Kata Devan mencium kening, bergantian kedua mata Ella lalu menyentuh hidung mancung istrinya. Ella tersipu lalu ikut tersenyum. Devan benar-benar mulai menjadi suami yang dia impikan.
"Apa orang tuamu sudah tahu kalau aku juga hamil?" tanya Ella menyentuh perutnya, begitupun Devan ikut mengelus perut Ella dengan lembut.
"Ya, mereka sudah tahu. Mereka senang tahu hal ini, jadi mulai sekarang mereka juga orang tuamu. Kau tidak sendirian lagi, kita adalah keluarga, sayang." Jelas Devan menghiburnya lalu mengelus pipi Ella. Ella menunduk dan mengusap matanya, terharu mendengar ucapan Devan. Meski tak diakui oleh Ibunya, setidaknya ada keluarga Tn. Raka yang mengakuinya sebagai salah satu anggota keluarganya.
"Terima kasih, Devan." Kata Ella melihat Devan yang terkejut, kedua matanya sedikit melebar mendengar Ella memanggil namanya.
"Tadi kamu bilang apa?" Devan berdiri serius bertanya.
"Em, tidak bilang apa-apa." Ella menggelengkan kepala. Devan menyipitkan matanya, merasa tadi tidak salah dengar.
"Hayooo, tadi kamu panggil namaku, kan?" gelitik Devan pada pinggang Ella membuat gadis ini menggeliat geli.
"Iih, tidak kok. Aku tadi tidak panggil namamu." Sekali lagi Ella masih mengelak. Devan yang greget mengeluarkan jurusnya, membuat Ella tertawa terbahak-bahak digelitik habis.
"Hayo, jangan bohong sama suami, dosa loh."
"Ahaha, ampun. Ya deh aku ngaku salah, ahahaha. Berhenti, ahahaha." Tawa Ella memenuhi isi ruangannya. Keduanya asik tertawa hingga tak sadar seseorang mengetuk pintu.
"Permisi, Nak Ella," ucap Bu panti datang bersama beberapa anak-anak panti. Pasutri ini langsung berhenti lalu menoleh ke arah pintu. Devan pun menormalkan tubuhnya, berdiri tegak lalu melihat Ella yang duduk manis di atas brankarnya.
"Bu ...." lirih Ella melihat semuanya datang berkunjung. Anak-anak panti masuk mendekati Ella bersama Bu panti.
"Syukurlah, kau masih hidup. Ternyata berita itu hanyalah rumor." Bu panti duduk di kursi dekat Ella, melihat bergatian pasutri ini.
"Maaf, Bu. Aku saat itu sangat terpuruk, aku benar-benar kehilangan semangat." Keluh Ella menunduk, menyesali perbuatannya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, yang jelas kamu masih hidup." Bu panti menyentuh tangan Ella yang terdapat jarum infus.
"Ini awalnya salahku tak begitu memperhatikannya, tapi Ibu tak usah kuatir, dia tak akan mengulanginya. Aku mulai sekarang akan selalu memperhatikan Istriku." Jelas Devan mengelus kepala Ella dan tersenyum sedikit.
"Wah, Om Devan baik sekali. Cocok jadi pelindung Kak Ella." Puji anak-anak panti memberinya jempol. Devan dan Ella saling bertatapan lalu tertawa kecil bersama. Seketika seseorang mengetuk pintu. Pesanan Devan sudah datang, seikat bunga mawar yang cantik langsung diberikan pada Ella.
"Ini buat aku?" Tunjuk Ella pada dirinya sendiri.
"Tentu saja," ucap Devan berseri-seri.
"Tapi ini buat apa?" tanya Ella tak paham diberi bunga tiba-tiba. Devan senyum-senyum lalu melirik bunga di tangan Ella. Ella mengernyit lalu melihat bunga, ternyata ada sebuah surat. Ella penasaran dan akhirnya membuka lalu membacanya.
'Setiap detik setiap waktu, setiap hembusan nafasku akan selalu ada untukmu. Entah mimpi entah kenyataan, cuma satu yang aku tahu, bahwa kamu hanya milikku. Happy Birthday Ke 20 tahun My Hanny. Semoga ke ulang tahunmu ini membuatmu sembuh dari sakitmu, percayalah kau lebih penting dari segalanya bagiku. Kau istri kecilku yang cantik. I Love You, sayang.'
Itulah kata-kata isi surat itu membuat Ella meneteskan air matanya. Bisa-bisanya Devan memberinya ucapan ulang tahun untuknya. Ella menatap Devan lalu mengusap matanya.
"Bagaimana kau tahu hari ini ulang tahunku?" tanya Ella menatap sedih dan senang pada suaminya.
"Tentu saja dari buku nikah dong, sayang." Devan mencium kening Ella kembali, seketika itupun gadis ini memeluknya terharu.
"Hiks, terima kasih Devan. Aku senang mendengarnya, ini pertama kalinya aku diberi ucapan setelah kepergian Ayahku." Tangis Ella membuat Bu panti dan anak-anak ikut senang mendengarnya.
"Sekarang kamu tiup lilin terus potong kuenya." Devan menatap anak-anak panti.
"Tiup lilin dan potong kue? Mana?" tanya Ella tak melihat Devan memegang sesuatu.
"Taaadaa! Ini kuenya kak Ella! Selamat ulang tahun!" seru anak-anak mengeluarkan kotak begitu besar dari balik kresek. Ella membola benar-benar kejutan besar untuknya.
"Ini-ini untukku semua?"
"Ya dong, kan ini hari spesial kamu, sayang." Devan mengambil kue tart itu lalu menyalakan lilin dan meletakkannya di depan Ella. Anak-anak panti mulai bernyanyi tak sabar melihat Ella meniup apalagi memotong kue.
"Sekarang, tiup lilinya."
Ella mengusap mata, melihat semua orang dengan senyumnya lalu menutup mata memohon dalam hati, "Aku harap, ini awal kebahagiaku, terima kasih, Tuhan. Kau kabulkan doaku." Ella membuka mata lalu perlahan meniup lilin kuenya. Hanya beberapa tiupan, lilin langsung padam lalu tersenyum manis.
"Ter-terima kasih kejutannya. Aku senang sekali hari ini." Kata Ella lirih memeluk Devan. Menyembunyikan air matanya yang turun. Suasana mulai berisik mendengar anak-anak panti bersorak kegirangan ingin mencicipi kue tart itu.
Ella mengangguk, dengan tangan bergetar perlahan memotongnya. Memberikan potongan pertama untuk sang suami. Devan tentu dengan senang hati membuka mulut mencicipi potongan kue yang spesial untuknya lalu potongan kedua diberikan untuk Bu panti. Anak-anak tak mau kalah, mereka akhirnya kebagian semua.
"Sekarang kamu di sini dulu, aku mau keluar sebentar menanyakan kondisimu pada Dokter. Tidak apa-apa kan, aku tinggal sebentar?"
"Tidak apa-apa, ada Ibu dan anak-anak menemaniku." Jawab Ella tersenyum pada Devan. Devan mengelus kepala Ella lalu keluar pergi ke ruangan Dokter.
"Nak Ella."
"Ya, Bu. Ada apa?" tanya Ella pada Bu panti. Bu panti memegang tangan Ella lalu memberitahukan soal Elisa, "Tadi ada wanita muda ke panti asuhan. Dia mengaku sebagai Shella, kakakmu. Anak sulung dari Ayahmu. Apa benar, kau punya kakak?" tanya Bu panti membuat Ella terdiam kaget.
"Shella? Apa itu Nona Elisa? Kenapa dia bisa ke panti? Apa dia sudah tahu dirinya?"
"Nak Ella, kau baik-baik saja?" tanya Bu panti lagi melihat Ella diam. Ella menghela nafas, ingin menjawabnya. Tapi salah satu anak panti tiba-tiba menjerit sakit perut gara-gara kebanyakan makan kue. Bu panti pun berdiri.
"Nak Ella, Ibu tinggal bentar ya. Sepertinya Jojo harus Ibu bawa periksa, kamu tidak apa-apa kan, sendirian?"
"Tidak apa-apa, Bu." Ella hanya tersenyum melihat Bu panti membawa anak itu bersama juga anak-anak panti lainnya. Mereka kuatir dengan Jojo. Sekarang, hanya Ella seorang. Beberapa menit, Ella tak sengaja melihat bayangan orang sekilas berdiri lalu pergi di dekat pintu tadi. Ella pun penasaran lalu membuka infusnya, mengira itu mungkin saja Devan.
"Eh, kemana dia?"
Ella keluar dari ruangannya, berjalan seorang diri mencari orang itu di sore hari. Hanya dirinya seorang saja di lorong membuat Ella ketakutan langsung berbalik ingin kembali, namun alangkah terkejut melihat wanita tak asing baginya.
"Viona?" ucap Ella mundur. Viona menyeringai tipis, maju mendekati Ella. Niat buruknya mulai membuatnya mengerikan.
"Heh, ternyata benar. Kau masih hidup rupanya, tapi sore ini aku akan menghabisimu. Harusnya kau mati beneran!" geram Viona langsung mencengkram dagu Ella membuatnya kesakitan.
"Agh! Lepas-lepaskan aku," rintih Ella mencoba melawan.
"Ha, lepas? Kau pikir aku akan lepaskan kamu? Ck, tentu tidak, ini kesempatanku melenyapkanmu!" decak Viona mendorong Ella ke tembok lalu tangannya berpindah ke leher, mencekik Ella tanpa ampun.
"Agh ... tolong hen ... hentikan," rintih Ella melawan namun tubuhnya terlalu lemah. Viona tersenyum miring melihat mata Ella berkaca-kaca dan berair mulai sesak nafas.
__ADS_1
"Kau harus mati!" decak Viona semakin menjadi-jadi. Ella membola, bukan kehabisan nafas, tapi kaget melihat seseorang berdiri di belakang Viona.
Plak!
Viona ditampar oleh seorang wanita, hingga Ella lepas dari cengkramannya. Viona geram lalu melihat orang yang menamparnya. Sontak terkejut melihat Elisa meremas sebuah kertas dan menatapnya tajam seakan ingin membunuhnya.
"Elisa?"
Plak!
Sekali lagi Viona ditampar habis-habisan oleh Elisa. Wanita ini geram melihat Ella jatuh tak berdaya di lantai. Viona ikut geram lalu melototinya.
"Apa kau bodoh! Ini kesempatanku melenyapkan gadis murahan ini. Jika dia mati, Devan tak akan dia miliki!" bentak Viona pada Elisa sambil menunjuk Ella yang mengatur nafasnya. Elisa tak menjawab, hanya diam lalu menampar kembali Viona.
Plak!
"Kaulah gadis murahan!" bentak Elisa meluapkan amarahnya.
"Apa kau gila, ha! Ini bagus untukmu, bodoh!" Viona tak kalah membentak.
"Gila? Kaulah gila! Aku akan menyeretmu ke penjara sudah berniat membunuhnya. Kau akan membusuk di penjara!" kutuk Elisa geram mendorong Viona jatuh ke lantai. Ella hanya bisa diam melihat Elisa tiba-tiba melindunginya.
"Sial, awas kau!" umpat Viona berdiri ingin kabur, namun dirinya ditangkap langsung oleh petugas yang sudah disuruh Elisa tadi. Terlihat Elisa menatap Viona diborgol dan memberontak dari balik jendela. Elisa berbalik melihat Ella, gadis ini sedikit mundur ketakutan, takut Elisa akan macam-macam padanya. Tapi dugaannya salah, ia malah diberi uluran tangan.
"Sini aku bantu," ucap Elisa menatapnya datar. Ella melihat tangan itu bergetar, ingin rasanya menerimanya, tapi apa dia pantas? Sedangkan dia sudah menyakiti kakaknya sendiri. Dengan terpaksa, Ella berdiri lalu berjalan melewati Elisa. Elisa terkejut dan berbalik melihat Ella berdiri di depannya. Menatapnya sedih.
"Maaf, jika aku sudah menyakitimu, Nona Elisa." Ella menunduk. Sebenarnya ingin memeluk kakaknya, tapi Ella gemeteran tak bisa memeluknya.
"Permisi," lirih Ella mulai berjalan ingin pergi. Tapi baju belakangnya ditarik oleh Elisa.
"A-ara, apa kau marah padaku?" lirih Elisa bertanya. Tangannya bergetar melihat adiknya ingin pergi. Ella menunduk, diam-diam meneteskan air mata lalu berbalik melihat Elisa.
"Kau-kau ingat aku?" Kali ini Ella yang bertanya. Elisa mengusap kedua mata Ella, air mata adiknya disapu sendiri olehnya lalu dengan cepat memeluknya.
"Aku ... aku ingat, aku ... aku sudah ingat, kau Ara ... kau adikku yang polos dan bodoh itu, hiks." Tangis Elisa pecah, tangis bahagia bukan lagi tangis pilu.
Ella membola lalu dengan senangnya membalas pelukan Elisa, menangis bersama. Sebuah hadiah terbesar untuknya, mengetahui Elisa ingat dirinya. Pelukan yang dia rindukan selama lima belas tahun, akhirnya dia rasakan di umurnya yang ke dua puluh tahun. Pertemuan di sore ini menyatukan dua saudara yang terpisah cukup lama.
"Kak Shella, aku senang kau ingat padaku." Isak Ella tak henti-hentinya menangis.
"Maaf, Ara. Aku sudah ingkar janji waktu itu. Maafkan Kakak." Tangis Elisa ikut menjadi-jadi.
"Tidak, jangan menangis. Ini salahku, ini salahku. Aku juga ... minta maaf sudah menyakitimu." Tangis Ella berlanjut.
"Tidak, sayang. Ini bukan salahmu, kau tidak salah. Sudah, jangan menangis. Kau jelek kalau menangis," ucap Elisa mengusap air mata adiknya. Ella tersenyum, ingat kata-kata ini sering dia dengar waktu kecil.
"Maafkan aku, Kak Shella." Ella tak henti-hentinya memeluk Elisa, begitupun Elisa memeluknya erat. Keduanya hanyut dalam pertemuan ini hingga tak sadar Devan dan Hansel berjalan bersama dan tak sengaja melihat keduanya. Devan tentu terkejut.
"Loh, kenapa Elisa ada di sini? Terus kenapa malah menangis begini?" Devan bingung dibuatnya membuat Hansel tertawa kecil di sampingnya. Hansel pun tersenyum lalu menjawab Devan, membuat lelaki ini terkejut setengah mati.
"Itu karena mereka saudara kandung yang dipisahkan, dan kali ini telah terungkap kebenarannya, Presdir."
"Apa, saudara kandung?" kaget Devan baru tahu semua ini dan hampir pingsan, "Ternyata mantan kekasihku adalah kakak istriku?" pikir Devan terdiam. Ella dan Elisa tertawa kecil bersama melirik Devan yang berdiri mematung. Keduanya pun mengungkapkan kerinduannya.
"Aku merindukanmu, Kak Shella."
"Hm, kakak juga Ara." Elisa memeluk kembali Ella. Sungguh hari dan kejutan besar untuk Aradella, gadis yang malang akhirnya dapat berjumpa dengan kakak kandungnya.
..._____...
...Akhirnya author juga ikut sedih, membayangkan diriku bertemu dengan saudara yang jauh di sanaπ€§...
...Happy birthday buat kalian yang ulang tahun di bulan juni...
...ππ°ππ«ππ...
...Beri like & vote...
...Instagram : @asti.amanda24...
__ADS_1
...πππ...