
"Elisa, cukup. Jaga sikapmu di villa ini, aku dan kamu tak punya hubungan apa-pun lagi." Devan melepaskan Elisa dan kembali berjalan ke arah Ella yang diam menunduk melihatnya dipeluk tadi. Tapi, Elisa kembali memeluknya dari belakang.
"Aku tahu, kamu sebenarnya malu dipeluk olehku dan kamu pasti pulang karena merindukanku kan, Dev?" tebak Elisa melirik Ella. Tersenyum miring merasa telah menang darinya.
"Tidak, Elisa. Aku capek, sekarang lepaskan aku. Kau seharusnya pulang ke rumahmu hari ini, barusan Ibumu menghubungiku menyuruhmu pulang." Devan melepaskan kedua tangan Elisa yang memeluknya lalu berbalik melihatnya.
"Wah, kebetulan. Mamaku tadi juga menghubungiku, katanya dia menyuruhku pulang bersamamu. Mama sudah siapkan pesta untuk kita, Dev." Elisa begitu riang tapi seketika terdiam setelah mendengar penolakan dari mulut Devan.
"Aku lelah, aku tak bisa membawamu pulang. Hansel yang akan datang nanti malam menjemputmu pulang. Sekarang, kau siap-siaplah," tolak Devan kembali berjalan. Mengabaikan Elisa yang sudah menahan kekesalan.
"Tidak!" ujar Elisa meraih tangan Devan.
"Aku tak mau Hansel yang datang membawaku pulang. Aku maunya kamu, kamu ini tunangan aku, Devan! Kamu harus pergi bersamaku, Mamaku nanti kecewa jika kau tak datang ke pestaku." Lanjut Elisa berdiri menghalangi Devan menuju ke arah Ella. Bersikeras ingin membawa Devan bersamanya agar tak tidur bersama dengan Ella malam ini. Ingin merencanakan agar Devan nanti menetap di rumahnya.
Devan menatap Ella lalu melihat Elisa, membuang nafas mengontrol emosinya agar tidak terpancing sore ini.
"Elisa, sudah aku bilang berkali-kali bahwa kita tak punya hubungan apa-pun lagi. Aku sudah menikah, dan hubungan kita sudah putus. Aku tak pantas untukmu, dan kau masih bisa menemukan lelaki yang lebih baik dariku dan dia adalah tanggung jawabku sekarang, Elisa." Jelas Devan mulai berdebat dengan Elisa sambil melihat Ella.
__ADS_1
"Tidak! Aku masih mencintaimu, Dev. Aku tak peduli kau sudah menikah dengannya atau tidak," Elisa menunjuk Ella.
"Yang jelas kau masih tunanganku sekarang! Pertunangan kita masih belum dibatalkan. Orang tuamu pasti tidak akan mau membatalkan pertunangan ini! Aku mau kau ikut denganku malam ini Devan. Aku tak mau pergi dengan Hansel! Mamaku sangat berharap kau datang bersamaku malam ini, hiks." Elisa mulai memohon dengan sedikit berakting.
Devan menatap Ella yang menunduk sedang menggenggam tangan kanannya lalu tanpa sengaja Ella melihat Devan yang tersenyum padanya. Tapi, kedua mata Ella tertuju pada tangan Devan yang menepuk pelan kepala Elisa dan terkejut mendengar ucapan Devan.
"Maaf, Elisa. Aku lelah." Tolak Devan sekali lagi. Elisa yang tadi tersenyum merasakan tangan Devan menepuk kepalanya langsung menepis tangan lelaki ini dan dengan kecewa mendorong Devan.
"Kau jahat, Devan!" pekik Elisa berlari menaiki tangga menahan tangisnya menuju ke arah kamarnya sendiri. Devan juga merasa kasihan pada Elisa, tapi tanggung jawabnya sekarang adalah Ella, istrinya sekarang.
Ella ikut merasa tak tega pada Elisa. Tapi melihat Elisa yang terus menerus mengajak Devan tadi mulai sadar jika Elisa sengaja agar Devan tidak bermalam bersamanya malam ini di villa.
Ella menatap kedua mata Devan melihat begitu dalam dua pasang bola mata suaminya. Melihat keseriusan Devan padanya. Senyum manisnya kembali diperlihatkan pada Devan sudah percaya jika Devan memang mencintainya.
"Baik, Tuan. Kalau Tuan sendiri ... kenapa pulang lebih awal?" tanya Ella tersenyum. Devan tak menjawab malah mengecup pinggir bibir Ella. Wajah gadis ini seketika merona dan menunduk tersipu.
__ADS_1
"Pfft, kenapa kau selalu malu begini jika aku cium?" tanya Devan sedikit tertawa sambil mengacak-acak rambut Ella dengan lembut. Ella menggelengkan kepala saja. Perasaannya mulai deg-degan jika berhadapan dengan Devan.
"Ya ampun, bisakah kau melihatku?" Devan mengangkat dagu Ella agar dapat melihat kedua mata istrinya. Ella malah menutup mata mengira Devan akan menciumnya lagi.
"Ahahaha, kau sungguh lucu. Bisakah kau memikirkan hal lain?" tawa Devan kembali sambil mencentil kening Ella. Ella tersadar dan semakin tersipu.
"Aduh, kenapa dia selalu tahu apa yang aku pikirkan. Bisakah dia berhenti membaca pikiranku," desis Ella begitu kecil dan segera memikirkan hal lain. Devan meraih tangan Ella lalu tersenyum menatapnya.
"Tidak usah kuatir, aku tak akan pergi malam ini. Aku sangat lelah, jadi kemarilah bantu aku untuk mandi sore ini," ucap Devan membuat Ella terkejut.
"Hm, bantu mandi? Maksudnya aku masuk bersama Tuan ke kamar mandi?" tanya Ella, seluruh tubuhnya tiba-tiba merinding membayangkannya.
"Ahaha, bukan. Aku menyuruhmu sediakan keperluan mandiku. Bukan menyuruhmu masuk bersamaku," tawa Devan merasa istrinya sungguh polos.
"Tapi ... jika kau mau, kau boleh ikut mandi bersamaku, Ella." Devan berbisik ke telinga Ella. Mata Ella membola dan segera menggelengkan kepala.
"Aku salah, aku-aku akan sediakan keperluan mandi Tuan." Ella gelagapan saking malunya.
__ADS_1
"Ahaha, baiklah. Kemarilah, lakukan tugasmu sebagia istriku hari ini." Tepuk Devan lembut pada kepala Ella lalu meraih tangan Ella menariknya ke arah tangga dan menaikinya bersama Ella menuju ke kamar Devan. Ella hanya terus-menerus merona dan menunduk menahan malu.
"Cih, dasar gadis sialan!" umpat Elisa yang berdiri di dekat pintu kamarnya. Merasa kesal dan jengkel pada Ella.