Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 53 : Pulang Ke Villa


__ADS_3

Gerimis hujan perlahan terdengar di pagi ini. Dengan buru-buru, Ella segera keluar mengambil jemuran yang baru saja dicuci olehnya. Pakaian anak-anak panti kemarin dicuci sendiri oleh Ella. Bahkan terlihat anak-anak panti ikut membantu Ella. Suara kebisingan anak-anak hampir menyatu dengan suara gerimis hujan.


Meski begitu, yang dicemaskan Ella bukanlah pakaian anak-anak panti, melainkan satu hal yang lain. Yaitu ucapan Devan yang akan menjemputnya pagi ini dan sekarang masih belum menampakkan batang hidungnya sama sekali.


"Nak, Ella. Apa kau baik-baik saja?" tanya Bu Panti melihat Ella duduk di depan rumah sambil melihat tetesan air hujan membasahi pekarangan rumah.


"Baik, Bu. Ada apa ya?" Ella menoleh sambil bertanya balik. Senyum manisnya tak lupa dia perlihatkan pagi ini.


"Hm, tidak. Ibu hanya cemas, setelah kau angkat jemuran, kau selalu saja duduk di sini. Lebih baik, masuklah. Takutnya, kau masuk angin nantinya." Jelas Bu Panti memberi nasehat, wanita paruh baya ini berdiri di dekat pintu sambil tersenyum.


"Hachii!"


Baru saja mau bicara, Ella malah bersin langsung membuat Bu Panti geleng-geleng kepala.


"Sekarang, masuklah. Buatlah teh untuk menghangatkan tubuhmu." Usul Bu Panti begitu perhatian.


Ella mengangguk lalu berdiri. "Baiklah, Bu." Ella berkata lalu masuk ke dalam rumah. Sudah jenuh rasanya menunggu hujan reda. Ella masuk mulai membuat teh hangat untuknya. Apalagi ia sesekali bersin.


"Hachii!"


"Hachii!"


Ella beberapa kali bersin, begitu gatal hidungnya dan begitu dingin cuaca pagi ini. Ella mengaduk-aduk teh yang ada di gelasnya. Ella menatap jam dinding sudah pukul 08.42 pagi.


"Apakah Tuan masih belum bangun di jam begini?"


Ella terdiam masih terus-menerus mengaduk tehnya. Memikirkan Devan, sang suami yang belum juga datang menjemputnya.


"Apakah Tuan sedang sibuk sekarang?"


Ella mulai gundah sambil menunduk melihat tehnya. Saat mau meminumnya, suara teriakan anak-anak panti menghentikannya.


"Om Devan!"


Ella menoleh dan tersenyum lebar mendengar dua kata ini dari mulut anak-anak panti. Ella meletakkan tehnya lalu berlari untuk melihatnya. Kedua matanya seketika tertuju pada lelaki yang melepaskan kemejanya yang sedikit basah terkena hujan. Senyumnya kembali merekah melihat lelaki yang dia tunggu-tunggu dari tadi akhirnya datang juga hanya bersama Maysha saja.

__ADS_1


"Bun-nah!" panggil Maysha berlari ke arah Ella. Ella sontak memeluknya, begitu senang melihat anak kecil ini lari ke arahnya. Devan tersenyum melihat Ella dan Maysha begitu akrab. Devan terpaksa datang demi membawa Ella pulang ke Villa agar Maysha tak menangis lagi.


"Bun-nah, dali mana? Kenapa kemalin cidak pulang?" tanya Maysha ingin menangis. Sangat jelas anak kecil ini begitu menyukainya.


"Kemarin Bun-nah lagi sibuk, maaf ya sudah buat Maysha sedih." Ella mengusap halus wajah anak kecil menggemaskan ini. Maysha mengangguk paham lalu melihat Devan. Begitupun Ella berdiri lalu memeluknya membuat Devan terkejut melihat Ella memeluknya sendiri.



"Tuan, akhirnya kau datang juga," ucap Ella senang dengan kedatangannya. Devan tersenyum lalu menyentuh kepala Ella.


"Tentu saja aku datang, aku kan sudah janji padamu." Devan mencubit hidung Ella. Ella melepaskan Devan lalu menyentuh hidungnya. Anak-anak panti dan Maysha tertawa kecil melihat Ella cemberut.


"Sepertinya aku harus menetap di sini sementara. Hujan di luar masih belum reda. Kau tak apa-apa kan menunggu?" Devan mulai duduk di sofa. Ella meraih tangan Maysha lalu duduk bersama Devan.


"Hm, tidak apa-apa. Kalau begitu, aku masuk dulu buatkan kalian teh hangat," ucap Ella tersenyum, lagian ini juga bagus untuknya bisa bersama Devan dengan waktu yang lama. Saat ingin berdiri, sekali lagi Ella malah bersin kembali.


"Hachii!"


"Kamu tak apa-apa?" tanya Devan cemas.


"Ehehe, tidak kok. Ini cuma pilek bentar saja." Elle cengengesan lalu tersenyum. Baru saja mau berdiri lagi, Ella ditahan oleh Devan yang kuatir padanya.


"Hm, tidak panas," lirih Devan menyentuh kening Ella membuat gadis ini menunduk tersipu. Tangan Devan terasa begitu lembut di keningnya.


"Kalau begitu, aku permisi dulu." Ella buru-buru berdiri dan pergi ke dapur merasa malu dilihat oleh anak-anak panti yang lainnya. Devan tertawa kecil melihat tingkah Ella yang semakin menggemaskan. Ella kini berdiri di belakang dinding, menyentuh keningnya lalu melihat telapak tangannya. Ella mulai senyum-senyum sendiri.


"Ella," ucap Bu Panti mengagetkan Ella yang senyum-senyum tak jelas dan melihat air yang dimasak Ella sudah mendidih dari tadi dan siap untuk dituangkan ke dalam gelas.


"Ya ampun, maaf Bu." Ella sadar lalu buru-buru melanjutkan pekerjaannya. Sungguh malunya dilihat oleh Bu Panti dirinya yang senyum-senyum sendiri. Bu Panti hanya geleng-geleng kepala lalu keluar untuk menyambut Devan dan Maysha.


Sekarang, wajah Ella merona terus-menerus. Bagaikan kepiting rebus saja. Ella perlahan keluar dengan beberapa cangkir teh. Ella meletakkannya dengan hati-hati lalu kembali bersin.


"Hachii!"


Devan berdiri lalu mendekatinya. Kuatirannya meningkat melihat Ella tak henti-hentinya bersin kali ini.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit, aku tak mau kau sakit."


Kalimat ini membuat Ella segera menolak. Tentu ini bahaya baginya, takutnya setelah diperiksa, Devan akan meminta Dokter memeriksa dirinya yang lain.


"Aku tidak apa-apa. Cuma pilek saja. Sekarang, kamu duduk saja minum tehnya biar tidak pilek seperti aku." Ella tersenyum mencoba terlihat baik-baik saja. Tak mau suaminya kuatir padanya lagi.


"Baiklah, setelah hujan ... aku akan membawamu pulang. Kau perlu istirahat."


Sekali lagi Ella menunduk tersipu, elusan Devan membuatnya merona. Begitu perhatiannya Devan terhadap dirinya. Ella menunduk lalu duduk di dekat Maysha. Bercerita hal-hal yang lucu pada Maysha. Devan kembali duduk, melihat Ella.


"Dia, terlalu baik. Bahkan hal sekecil ini saja tak mau dibawa ke Dokter. Jika ini Elisa, tak akan menolak untuk diajak ke Dokter. Sangat berbeda pada Ella."


Devan mendesis dalam hati memikirkan Elisa yang dia tinggal sendirian di villanya. Meninggalkan Elisa yang belum keluar dari kamarnya. Devan hanya berharap Elisa tak berbuat macam-macam setelah membawa Ella pulang bersamanya. Memang Devan sengaja ingin membawa Ella pulang untuk satu atap dengan Elisa, ingin membuat dua wanita ini bisa akur agar kedua orang tua Devan bisa menerima Ella nanti.


Hujan diluar telah reda. Kini saatnya Devan membawa pulang Ella ke villanya. Devan dan Ella berpamitan bersama Maysha. Ketiganya berjalan ke arah mobil. Maysha duduk di kursi tangah. Sedangkan Ella duduk di dekat Devan yang akan mengemudi. Sebelum pergi, Devan mengelus kepala Ella lalu tersenyum.


"Kamu baik-baik saja kan pulang bersamaku ke villa?" tanya Devan memastikan perasaan Ella.


"Hm, baik. Tidak ada masalah." Ella tersenyum lalu melihat Maysha. Ella tahu kegelisahan Devan jika nanti ia akan berhadapan dengan Elisa. Entah bagaimana reaksi kedua wanita ini ketika saling bertemu. Devan mengerti lalu melaju ke villa meninggalkan panti asuhan.


Hanya beberapa saat saja, mereka tiba di villa. Devan dan Ella turun lalu berjalan bersama sambil saling menggandeng tangan Maysha masuk ke dalam villa. Sungguh terlihat bagaikan keluarga kecil yang bahagia, tapi tidak di mata Elisa yang sakit melihatnya dari arah jendela kamar.


Kini waktunya sarapan, Maysha begitu bersemangat ketika Ella membuatkan bubur enak untuknya, bukan lagi bubur instan. Sedangkan Devan menyukai sarapannya kali ini yang dibuat oleh Ella sendiri. Canda tawa menghiasi dapur, namun seketika hening setelah Elisa turun dari kamarnya dan menuju dapur lalu duduk diantara mereka. Rasa gugup Ella mulai membuatnya diam. Takut pada Elisa yang bisa saja mengamuk padanya.


"Aku sudah selesai, kamu dan Maysha tetaplah di rumah. Aku harus segera ke kantor." Devan berdiri mengelus kepala Ella lalu mencium kepala Maysha. Pamit dan pergi melewati Elisa begitu saja untuk pergi ke kantornya.


Kini di villa Devan. Hanya Ella, Elisa dan Maysha di ruang dapur. Ella hanya terus menunduk sangat gugup berhadapan dengan Elisa.


"Dia diam saja, apa dia sudah tahu kalau aku adalah istrinya Tuan Devan?" Deg-degan rasanya sesekali dilirik oleh Elisa.


"Ck," Elisa mendecak tak karuan lalu berdiri, tapi ternyata malah menyenggol gelas hingga tumpah ke arah Ella. Ella sontak kaget dan segera berdiri melihat pakaiannya setengah basah. Begitu terkejutnya Maysha melihat kedua wanita ini saling bertatapan dan berhadapan satu sama lain. Apalagi sorotan mata Elisa penuh kebencian pada Ella. Tak seperti Ella yang hanya bisa diam ditatap seperti itu. Elisa pergi dengan angkuhnya meninggalkan Ella yang menahan kesabarannya.


"Sepertinya dia sudah tahu dan marah padaku, ini memang salahku."


..._______...

__ADS_1


__ADS_2