
Rafa sudah sampai membawa Ella ke sebuah toko baju yang kecil. Ingin mengubah sedikit penampilan gadis yang berdiri di sampingnya. Ella hanya bisa diam menatap toko itu, melamun sedang memikirkan Devan yang waktu itu membawanya ke sebuah mall. Kenangan itu mulai kembali muncul.
"Ayo, Ara." Rafa segera masuk ke dalam toko. Sedangkan Ella mengusap sebentar matanya, menghilangkan kenangan itu bersama Devan. Rasa rindunya tak bisa dibohongi. Meski begitu, Ella tetap menahannya.
"Rafa, lebih baik tidak usah repot-repot begini. Uang hasil kerja kerasmu terbuang sia-sia kalau membelikan aku begini." Ella mulai mengeluh tak mau memakai pakaian couple yang dibeli dan dipegang Rafa sekarang.
"Aduh, Ara. Kamu terima saja dong, masa hadiah aku ditolak begitu saja." Rafa cemberut di depan Ella. Ella menunduk, ia tahu tujuan Rafa. Pasti bertujuan ingin memakai baju couple bersama dan mulai melakukan pendekatan padanya. Tapi ini mengingatkannya dengan Devan dan Elisa yang dulu dari berbelanja habis membeli baju couple. Membuat Ella mulai bersedih.
"Sepertinya kamu tidak mau, ya sudah deh ... kita tidak-"
"Mau kok, kamu tidak usah kembalikan." Ella langsung mencegat Rafa. Rafa menoleh melihatnya lalu tersenyum bahagia. Ella pun mengambilnya lalu pergi ke ruang ganti. Sementara Rafa sudah selesai memakai pasangan bajunya.
Krek!
Ella keluar dari balik pintu, kedua mata Rafa tertuju pada Ella yang keluar dengan penampilan cukup menawan, cantik natural dan perfect. Apalagi sebuah Syall yang lembut tak lupa membalut leher putihnya. Rafa segera pergi memberi tip dan langsung menarik Ella keluar. Ella sedikit menyembunyikan batuknya agar Rafa tak kuatir padanya. Tapi bagaimana pun juga Rafa pasti akan tahu ini.
"Tada kita sudah sampai, bagaimana menurutmu Nona Ara?" Rafa turun dari motor sudah sampai ke tempat tujuan. Lelaki ini tersenyum pada Ella sambil melipat kedua tangannya.
"Pfft, ahaha." Sekali lagi Rafa berhasil membuat Ella tertawa. Tak sangka festival yang dimaksud adalah pasar malam tepatnya hari ini malam minggu. Sangat cocok untuk jalan-jalan bagi keduanya.
"Loh, kok ketawa?" Rafa heran dibuatnya.
"Yaialah ketawa, ini kamu malah membawaku ke pasar malam. Bukan ke tempat festival lampion." Ledek Ella menahan tawanya, mengiara Rafa sudah rabun tak dapat membedakan tempat yang benar.
"Ahaha, ternyata begitu. Tapi, anggap saja kau berada di festival. Jadi, sini aku akan mengajakmu masuk berkeliling." Tawa Rafa langsung menarik Ella masuk ke dalam pasar malam.
"Eeeeeeeh ...." Ella memelas tak sangka Rafa begitu mudahnya masuk bersamanya. Ella segera menutup sebagian wajahnya, dan hanya terlihat kedua matanya saja. Hawa malam ini membuatnya sedikit menggigil.
Canda tawa mulai terdengar, Ella benar-benar terhibur dengan semua yang ditunjukkan Rafa padanya. Dari memilih makanan, sekarang keduanya memilih minuman. Tak lupa juga menonton sebuah permainan. Ella yang sibuk menonton, diam-diam Rafa pergi meninggalkannya sebentar, ingin membeli sesuatu dulu.
"Malam ini, aku harus menyatakan perasaanku padanya," gumam Rafa melihat setangkai bunga mawar plastik dan sebuah cincin perak di kedua tangannya.
"Tidak apa-apa aku memberinya ini dulu, kalau Ara sudah jadi milikku, aku akan memberikan yang asli. Aku harus memilikinya seutuhnya." Rafa tersenyum melihat cincin perak di tangan kirinya, berharap Ella meilih cincin itu nantinya dari pada bunga itu. Rafa menoleh pada Ella yang tersenyum sangat terhibur malam ini. Senyum manis Ella membuat Rafa semakin bersungguh-sungguh dengan niatnya.
"Ara!" panggil Rafa mendekatinya lalu memberinya sebotol pop ice rasa melon. Sedangkan dirinya meminum rasa coffe.
"Hm, kamu dari mana saja, Rafa?" tanya Ella mulai meminum sedikit pop ice-Nya.
"Hehe, dari beli itu." Tunjuk Rafa pada minuman Ella.
"Oh, terima kasih atas minumannya." Ella tersenyum, terpaksa meminumnya agar Rafa tak curiga padanya yang punya penyakit. Padahal Ella sebenarnya tak dibolehin minum seperti itu sejak kecil oleh Ayahnya. Tapi demi Rafa agar tak kecewa, Ella menerimanya saja.
"Hm, sini." Sekali lagi Rafa menariknya.
"Eh, kita mau kemana?" Ella heran kemana dirinya dibawa lagi.
__ADS_1
"Ikut saja, aku akan membuatmu senang malam ini."
"Baiklah, kalau begitu." Ella menurut dituntun ke sebuah penjual yang mulai perlahan terlihat di bagian sudut pasar.
"Loh ini kan?" Tunjuk Ella pada lampion di kedai penjual di depannya.
"Hehe, tadi aku mau bilang festival lampion kan? Nah, sekarang lampion-Nya sudah ada. Walau tak ada festival, yang penting bisa melepaskan lampion malam ini." Jelas Rafa menggaruk kepalanya sedikit cengengesan. Ella tertawa kecil lagi, benar-benar lucu dan sangat terhibur. Rafa pun membeli satu lampion dan mulai menyalakannya.
"Sekarang kamu pegang," ucap Rafa pada Ella. Menyuruhnya memegang sisi lain lampion yang dipegang Rafa. Ella tentu dengan gugup menurutinya. Mendongak ke atas melihat malam ini dihiasi bintang-bintang yang indah.
"Apa kau sudah siap, Ara?" tanya Rafa melihatnya.
"Kamu mau lepasin ini?" Ella malah bertanya balik.
"Ya iyalah maimunah! Inikan lampion terbang ke atas, masa terbangnya ke bawah." Canda Rafa kembali membuat Ella tertawa.
"Ish, sudah. Jangan panggil aku begitu lagi!" ketus Ella menyipitkan mata.
"Iya-iya deh." Kata Rafa memelas. Keduanya saling tatap dan menunduk. Tentu Rafa semakin menyukai moment ini, berharap kedekatannya semakin berlanjut dengan Ella. Tapi tidak untuk Ella yang menunduk bukan karena tersipu melainkan ini terlalu berlebihan. Serta tak tahu apa gunanya Rafa melakukan ini.
Perlahan-lahan kedua tangan mereka melepaskan lampion ke atas. Begitu indah benda bercahaya itu naik ke atas langit. Rafa memejamkan mata mulai berharap jika malam ini rencananya berhasil. Tidak seperti Ella yang berharap malam ini memberinya keajaiban dari Tuhan dapat melihat Devan malam ini.
"Ella," panggil Rafa kini melihatnya lalu meraih dengan cepat kedua tangan Ella. Gadis muda ini tentu terkejut tiba-tiba Rafa memegang kedua tangannya.
"Aku mau bicara sesuatu padamu." Lanjut Rafa mulai dag-dig-dug. Takut dan cemas Ella akan menolaknya.
"Aku-aku sebenarnya-"
"Mau pulang?" tebak Ella memutuskannya.
"Bukan, Ara."
"Ya terus, apa?"
"Aku-aku sebenarnya-" Gugup bercampur tegang membuat Rafa terbata-bata mengungkap perasaannya.
"Sebenarnya apa?"
"Aku suka padamu, Ara!" ungkap Rafa segera memeluknya. Kedua mata Ella tentu membola, dugaannya benar jika Rafa bukan cuma menghiburnya melainkan ingin nyatakan perasaannya. Ella mendorong Rafa lepas darinya lalu menatap Rafa yang berseri-seri nampak merogoh sakunya dan mengeluarkan dua benda yang berbeda.
"Ara, sebenarnya ... aku sudah lama menyukaimu sejak duduk di bangku SMP. Cuma waktu itu kau tiba-tiba saja tak ada kabar setelah Ayahmu meninggal. Saat itu, jujur aku menunggumu kembali ke sekolah. Tapi ternyata kau malah keluar dari sekolah," jelas Rafa mulai terus terang awal dirinya suka pada Ella. Ella hanya diam, tahu jika waktu itu adalah titik terpuruk baginya. Apalagi Ibu tirinya lah yang mengeluarkan ia dari sekolah.
"Tapi sekarang, karena aku sudah menemukanmu dan melihatmu malam ini. Aku dengan jujur benar-benar menyukaimu, kamu mau jadi-"
"Maaf," ucap Ella mendorong kedua tangan Rafa. Tak mau menerima cincin ataupun bunga itu.
"Ma-maaf karena apa?" tanya Rafa mulai sedikit kecewa jika Ella akan menolaknya.
__ADS_1
"Kau baik Rafa. Kau cowok yang terbaik yang aku kenal, kau seharusnya berpikir dulu untuk melakukan ini padaku. Aku hanya gadis biasa dan yatim piatu. Aku hanya akan menyusahkanmu saja, jadi-" ucap Ella berhenti, sakit juga rasanya harus menolak Rafa yang selalu baik padanya. Tapi kenyataan tak bisa dirahasiakan lagi.
"Tidak, Ara. Aku tulus padamu, aku tak peduli masa lalumu." Rafa sekali lagi berharap.
"Maaf, Rafa. Aku tak bisa menerimamu. Kita lebih baik tidak usah bertemu lagi dan malam ini sepertinya akan turun hujan, jadi kamu pulanglah saja." Ella berbalik mengepal tangan lalu berjalan, mencoba kembali menahan tangisnya.
"Tidak, aku tak akan pulang sebelum kau beritahu aku alasan yang jelas!" Tahan Rafa menarik lengan Ella. Ella berbalik lalu menepis kasar tangan Rafa, menatap serius cowok di depannya.
"Sudah aku bilang, aku tak bisa menerimamu."
"Kalau begitu, jelaskan padaku! Kenapa menolakku dengan cepat?" tanya Rafa menggenggam kuat kedua benda di tangannya.
"Apa karena cincin dan bunga ini palsu jadi kau tak mau menerimaku?" tebak Rafa kembali bertanya.
"Bukan, bukan itu."
"Lalu apa?" ujar Rafa benar-benar kecewa.
"Karena aku sudah menikah," ucap Ella menjawab yang sebenarnya membuat Rafa amat terkejut dan bahkan kedua benda di tangannya jatuh ke tanah.
"Me-menikah? Sejak kapan kau sudah menikah?" Rafa tak percaya mendengarnya.
"Itu sudah tiga minggu yang lalu, aku pergi dari suamiku. Aku ini perempuan yang sudah bersuami, Rafa. Aku tak pantas untukmu, jadi sekarang kamu jangan suka padaku. Pergilah dan mulai sekarang jangan temui aku lagi. Permisi." Ella pamit lalu berbalik pergi meninggalkan Rafa yang menunduk.
"Jadi selama ini aku menyukai jodoh orang lain?" pikir Rafa, mulai merasa sakit di hatinya. Rafa berlalu pergi meninggalkan cincin dan bunga yang terinjak oleh orang yang berlalu lalang. Ella yang melihatnya pergi hanya mengusap kedua matanya lalu berlari dan mulai batuk berdahak kembali. Dalam lariannya, Ella tak sengaja menabrak tubuh seseorang hingga dirinya terjatuh sendiri ke tanah.
"Ma-maaf, Pak." Ella cuma menunduk tak melihat siapa yang dia tabrak dan kembali berlari menerjang dinginnya malam ini. Tidak seperti lelaki yang masih berdiri mencari orang yang tadi menabraknya.
"Dia, tadi siapa?" lirihnya bertanya pada dirinya sendiri yang tak lain adalah Devan yang tak dapat mengenali Ella yang memakai syall dan terlihat kurus. Pria ini datang bersama Elisa untuk melihat pasar malam sekaligus refresing pada pikirannya. Sudah lelah rasanya mencari Ella, dan mulai pasrah meski rindu itu membuatnya menderita dan menyakitkan bagi hatinya.
"Jika saja kau masih hidup, kau yang harusnya berada di sisiku sekarang, Ella." Devan menunduk lalu mengusap matanya yang sudah ingin menangis, tapi masih bisa ditahan.
"Devan, ternyata kau ada di sini. Malam ini kita ke-"
"Pulang, tak usah bermanja seperti itu terhadapku!" ucap Devan dingin lalu pergi meninggalkan Elisa yang datang dari dalam pasar malam. Elisa kesal diabaikan sekarang.
"Devan tunggu! Kita ini sudah mau nikah, kamu harusnya baik padaku! Tinggal empat hari lagi kita akan langsungkan pernikahan!" pekik Elisa segera mengejarnya. Benar-benar gagal sudah berkencang dengan Devan yang setiap saat belum bisa melupakan Istrinya dulu.
Seharusnya pernikahan sudah terjadi seminggu lalu, tapi Devan sering beralasan sakit hingga hari pernikahan mereka ditunda. Tapi sekarang, Devan tak bisa lagi berpura-pura sakit, tak bisa membohongi semua orang dan kini ikhlas menerima pernikahan ini. Sedangkan kini, Ella sudah sampai di rumah kontrakannya.
"Maafkan aku, Rafa." Tangisnya pecah sudah menolak Rafa, pikirannya kacau. Sekarang mungkin tak ada lagi yang akan peduli padanya. Ella pun berdiri dari lantai untuk minum, menenangkan pikirannya lalu duduk di kursi. Membuka syall, namun tiba-tiba cahaya menyilaukan berasal dari syallnya. Ella terkejut melihat kalungnya tersangkut. Ella mengambil, dan benar-benar kalung miliknya.
"Ini-ini bagaimana bisa ada?" gumam Ella mengusap hidungnya yang mulai meler pakai tissu. Ella sadar, beranggapan orang yang dia tabrak pemilik kalung ini dan itu artinya orang itu tak asing baginya.
"Apa tadi itu, Tuan Devan?" pikir Ella tersenyum bahagia mengira Devan datang mencarinya. Ella segera masuk ke dalam kamarnya memasang kalung itu ke lehernya.
"Apa dia akan datang mencariku ke sini?"
__ADS_1
Ella tersenyum lagi, benar-benar senang jika itu sungguhan. Ella menunduk, berpikir ingin kembali ke villa. Tapi Ella takut pada keluarga Devan yang bisa saja tak menerima kehadirannya. Kini di wajahnya hanya ekspresi murung. Ella meminum obat biasa yang sempat dibeli di warung tadi, lalu merebahkan dirinya menutup matanya, berharap besok hari yang baik untuknya.