Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 93 : Hari Pernikahan


__ADS_3

Hari pernikahan yang megah dan ramai ini sebuah hari kebahagiaan untuk pasangan yang ditunggu-tunggu oleh Devandra dan Aradella. Pasangan yang satu ini sekarang gugup di ruangan mereka masing - masing. Ella tak henti-hentinya gemeteran dirias oleh orang yang Profesional di bidang kecantikan, yang sudah diatur sendiri oleh Ny. Mira.


Meski senyum yang kini digambarkan di bibir Ella, ia masih sedih atas Ibunya. Selalu berpikir, "Apa Mama akan datang di pestaku ini?" Ella hanya mengeluh dalam diamnya.


"Kau kenapa, apa sesuatu terjadi pada dirimu?" Ny. Mira mendekati menantunya yang sudah cantik membahana, apalagi hiasan rambut dan gaun yang benar-benar membuat mata tak bisa berpaling kemana lagi. Meski begitu, ia sedikit kasihan melihat Ekspresi Ella yang dipaksakan.


"A-aku baik-baik saja, Mi." Senyum Ella kepadanya.


"Jika gaunnya kekecilan, katakan saja. Mami akan menggantikan untukmu." Kata Ny. Mira begitu perhatian. Tentu karena menantunya sedang hamil, pasti butuh ukuran yang pas untuknya. "Sudah cukup pas, Mi." Sekali lagi Ella hanya tersenyum melihat mertuanya yang satu ini begitu menyayanginya.


Ny. Mira pun berdiri. "Kalau begitu, Mami keluar dulu. Nanti ada Hansel yang akan jadi walimu, jadi tidak perlu takut dan cemas." Ny. Mira menyentuh wajah Ella dan tak lupa tersenyum. "Baik, Mi." Kata Ella ikut tersenyum paham. Wanita ini pun keluar dari ruangan make up bersama yang lainnya, meninggalkan Ella seorang diri.


"Apa Mama dan Kak Elisa akan datang hari ini?" Kegundahan hati Ella mulai membuatnya murung. "Huft, sepertinya begitu." Keluh Ella menghela nafas lalu berdiri menuju ke arah pintu. Tiba-tiba suara perdebatan terdengar di sebuah sisi ruangan. Ella keluar untuk melihatnya.


"Pi, aku tidak setuju kalau gadis itu jadi Istrinya Bang Devan. Aku maunya Kak Elisa saja, aku sudah kenal lama dengannya. Kalau dia, aku sama sekali tak mengenalnya!"


Ternyata adik iparnya yang lagi protes pada Tn. Raka. Tentu ialah, Zeli yang sedang berceloteh tak menyukai Ella.


"Tidak bisa, dia sekarang jadi Kakak Iparmu. Kau lebih baik mulai hargai dia dan sekarang keluarlah ke Ibumu," ucap Tn. Raka ingin pergi.


"Tapi," tahan Zeli meraih tangan Ayahnya. "Aku yakin dia pasti akan berbuat masalah di sini." Sekali lagi Zeli mengeluh.


Tn. Raka mengelus kepala putri bungsunya. "Tidak usah kuatir, Papi sudah tahu niatnya, tidak ada apa-apa di isi kepalanya. Sekarang bersiaplah keluar ke Ibumu." Kata Tn. Raka yakin. Membuat Ella terkejut mendengarnya.


"Isi kepalaku? Apa Ayah mertuaku sama seperti Devan?"


Ella buru-buru ingin pergi, tapi terhenti setelah mendengar Zeli kembali merengek.


"Kalau begitu, aku mau Kak Dean. Aku mau dia hadir ke sini, Pi." Mohon Zeli mulai berkaca-kaca ingin menangis. Hal ini membuat Ella kembali terkejut. "Dean? Siapa orang itu?" pikir Ella.


Tn. Raka segera memeluk putrinya. "Sudah, dia sudah tenang di sana. Kau jangan lagi menangis. Kakakmu sudah bahagia di sana." Hibur Tn. Raka agar Putrinya tak bersedih di hari bahagia ini.


Zeli mengusap pinggir matanya. "Aku yakin, Pi. Kak Dean pasti masih hidup, dia belum pergi." Zeli menunduk masih belum terima Ibunya Marsya telah pergi meninggalkannya juga.


"Sudah cukup, tidak usah ingatkan kematian Kakakmu. Sekarang pergilah keluar bersama Ibumu." Suruh Tn. Raka menunjuk ke arah pintu. Zeli menggenggam tangannya lalu pergi ke arah lain, tepatnya ke arah Ella. Ella segera bersembunyi lalu melihat Zeli lewat pergi ke sebuah ruangan.


"Huft." Tn. Raka menghembuskan nafas, wajahnya yang sedikit galak, ternyata menyembunyikan sebuah kesedihannya. Seperti halnya, Ny. Mira yang hanya tersenyum paksa bersalaman pada tamu-tamunya. Tn. Raka pun pergi keluar mansion menemui Istrinya.


Ella ingin menyusul Tn. Raka, ingin menanyakan apa yang sudah terjadi. Tapi Ella takut belum akrab pada mertuanya yang satu ini. Saat ingin masuk kembali ke ruangannya, suara tangis kecil terdengar di ruangan lain. Ternyata itu Zeli, dari sifat tomboy yang dia miliki, rupanya bocah gadis ini masih bisa menangis.


Ella berdiri tepat di depan Zeli yang duduk di lantai menekuk lututnya. "Kenapa kau menangis, apa terjadi sesuatu?" tanya Ella kasihan melihatnya. Memang hal ini Devan tak memberi tahu pada Ella agar tidak menjadi beban pikirannya.


"Pergi!" pinta Zeli tak peduli.

__ADS_1


Ella memberinya sapu tangan. "Ini ambillah, jika ada sesuatu berceritalah padaku. Aku akan mendengar curhatanmu."


Plak!


Zeli menepis tangan Ella, tak menerima uluran sapu tangan itu lalu menatap geram ke Ella.


"Sudah aku bilang, pergi! Kau tak usah kasihan padaku!" pekik Zeli berdiri menunjuk ke arah pintu. Ella tersentak lalu segera memeluknya dan berkata, "Tenanglah, aku ke sini hanya ingin lebih dekat denganmu, bukan ingin bermaksut apa-apa." Kata Ella melepaskannya, tak peduli pada gaunnya kali ini.


Zeli menatap kedua mata Ella, lalu menunduk menangis kembali mulai curhat pada Kakak Iparnya.


"Aku sedih, Kakak-ku ... dia saudara kembar Bang Devan, dia sudah meninggal lima minggu yang lalu gara-gara bertengkar dengan Suaminya. Pesawat yang membawanya pergi malah jatuh hingga menewaskannya. Padahal, dia itu kakakku yang sangat aku Idola kan, dia Aktris yang handal. Terkenal di berbagai kota maupun negara. Sekarang, aku tak punya kakak perempuan lagi." Tangis Zeli mengenang sosok Dean. Kabar ini datang saat mereka habis berlibur dari LN. Ella mengusap kedua mata Zeli.


"Pantas anak ini membenciku. Ternyata pikirannya sedang kacau dan hatinya sedang berduka."


"Tidak apa-apa, dia sudah bahagia. Mulai sekarang, aku akan jadi kakak untukmu." Kata Ella merasa tak tega. Zeli hanya diam lalu dengan lirih berkata, "Terima kasih." Zeli menunduk merasa tak ada salahnya mengenal wanita di depannya.


"Oh ya, di mana Maysha?" tanya Ella mulai memikirkan anak ini, dan pasti berat bagi Maysha harus kehilangan Ibu di usianya yang masih kecil.


Zeli menatap Ella lalu melihat ponselnya sudah pukul 14.32 Sore. "Dia tidak akan datang," ucap Zeli murung kembali.


"Lho kenapa?"


"Ayahnya tidak mengizinkan, hak asuh Maysha jatuh padanya. Kami tidak bisa merebutnya," jawab Zeli menggenggam tangannya, sedikit kesal pada Ayahnya Maysha. Ella menyentuh dadanya, ternyata masalah orang tua Maysha lebih parah darinya dulu. Keduanya menunduk diam sama-sama bersedih.


Seketika suara ketukan terdengar, Ella dan Zeli menoleh melihat Sekretaris Hansel sudah datang untuk mewakili Ella.


"Tentu saja mengantar pengantin wanita ke Altar, Nona Zeli," jawab Hansel menatapnya.


"Ha? Kau kan bukan keluarganya?" Zeli heran mendengarnya.


"Oh jangan salah, Nona. Saya sudah lama jadi keluarga kakak Iparmu," ucap Hansel melihat Ella yang benar-benar sudah siap.


"Buktinya mana?" minta Zeli mengulurkan tangan, meminta sebuah bukti kejelasan.


Hansel dengan senang hati membuka dompetnya lalu mengeluarkan sebuah kertas dan memperlihatkan pada Zeli dan Ella. Kedua mata perempuan ini melebar menemukan nama 'Aradella' di bagian paling bawah kartu keluarga Hansel. Benar-benar sudah dijadikan adik angkat.


"Wah, ternyata Om benar-benar serius, luar biasa." Kata Zeli tersenyum miring melihat Hansel yang kaget mendengar dirinya di panggil Om-om oleh bocah ini. Ella hanya tertawa kecil dibuatnya.


"Om? Kenapa Nona memanggil saya seperti itu? Saya ini masih muda, loh." Protes Hansel tak terima. Zeli berjalan melewati Hansel lalu dengan angkuhnya berkata, "Terserah, kau ini tetap seperti Om-om, ahahaha." Ledek Zeli tertawa lalu pergi keluar ingin ke Ibunya. Hansel hanya menggerutu dalam hati.


"Sifatnya memang menyebalkan! Tidak berubah sama sekali, dasar tomboy!"


Ella tak dapat menahan tawa dan akhirnya berbicara.

__ADS_1


"Kak Hansel, terima kasih sudah mau menjadi kakakku untuk mewakiliku, sekarang ... apa waktunya aku untuk keluar?"


"Benar, mari aku bawa keluar mansion. Presdir Devan dan yang lainnya sudah menunggu kehadiranmu." Hansel mengulurkan lengannya. Dengan senang hati, Ella menerimanya lalu berjalan keluar menuruni tangga pergi keluar mansion.


Seketika suasana yang tadi bising menjadi hening saat melihat Ella berjalan perlahan di atas karpet merah menuju ke atas Altar disertai angin yang menerpa sepoi-sepoi di sore ini.


Devan yang melihatnya tiba-tiba mematung. "Hm, dia memang Istri cantikku," gumam Devan tersenyum melihat bidadarinya. Begitupula yang lainnya tak dapat berpaling melihat Ella. Hari yang berbunga-bunga ini akhirnya dapat menyatukan dua pasangan ini di atas Altar. Hansel pergi mendekati Rafa yang hanya diam saja dan Zeli yang sedikit risih berdiri di dekat Hansel.


Ketika mau mengucapkan janji, kedua mata Ella tertuju pada Elisa yang datang ke pernikahannya, wanita ini nampak berdiri di dekat Hansel. Tersenyum kecil melihat Ella di hari bahagianya. Ella tentu saja ikut tersenyum melihat saudaranya datang, tapi sedih juga tidak melihat Ibunya sama sekali tak terlihat.


Kini waktunya janji itu diucapkan, keduanya dengan rasa gugup mulai mengucapkannya. Setelah itu, Ella dan Devan saling menatap lalu bertukar cincin dan dengan cepat lelaki ini mencium kening Ella. Semua orang turut bahagia memberi tepukan tangan melihat keromantisan ini.


"Aish, jadi ingat masa lalu." Desis Ny. Mira di dekat Suaminya. Sedangkan Tn. Raka hanya memeluk pinggang Ny. Mira, senang bercampur sedih antara bahagia dan berduka.


"Wah, saatnya pelemparan bunga!" teriak seseorang melihat Ella dan Devan ingin melempar seikat bunga pernikahannya.


"Satu ... dua ... yaaa!" Bunga itu terlepar jauh lalu ingin mendarat di depan Hansel, dengan cepatpun lelaki ini mendapatkannya. Semua tatapan tertuju pada Hansel, apalagi di dekatnya ada dua perempuan yang tak lain adalah Zeli dan Elisa.


"Ekhm, sepertinya yang selanjutnya adalah sekretaris Hansel." Devan mendehem membuat Ella tertawa kecil. Semua orang pun ikut meledeknya. Tapi tidak untuk Rafa yang ingin pergi, namun dicegah oleh Zeli.


"Mau kemana lu, bang?"


"Gue mau cari jodoh gue sendiri, jadi gak usah tanya lagi!" cetus Rafa pergi meninggalkannya. Zeli cemberut melihat respon kakaknya. Setelah kepergian Rafa, semua orang memberi salaman. Tiba-tiba suara teriakan anak kecil membuyarkan suasana. Ella mencari sumber suara itu, dan melihat Maysha yang lagi merengek pada Ny. Mira. Anak kecil ini ternyata datang juga ke pernikahannya meski terlambat sedikit. Tetapi hanya dirinya bersama pengasuhnya saja.


"Bunda!" teriak Maysha kegirangan lari ke arah Altar. Ella tentu kaget mendengar Maysha memanggilnya dengan jelas, apalagi sekarang dirinya dipeluk membuat Devan tertawa kecil lalu mengelus kepala keponakannya yang malang ini yang tak tahu Ibunya sudah meninggal.


"Bunda, Maysha lindu!" girang Maysha.


"Hm, Bunda juga rindu sama kamu, Sha." Pelukan itu sungguh menghangatkan keduanya. Lima minggu tak berjumpa dengan Ella membuat Maysha tak mau melepaskan Ella.


"Selamat, Ra. Aku turut senang. Semoga pernikahan ini dapat membuatmu bahagia, dan dapat menyadarkan lelaki di sampingmu ini." Sindir Elisa memberi selamat pada Ella. Devan menekuk wajahnya, sedikit kesal mendengarnya.


"Terima kasih sudah hadir, Kak," ucap Ella langsung dipeluk oleh Elisa. "Sama-sama, maaf kalau sedikit terlambat datang, tadi macet di jalan." Kata Elisa masih memeluk Ella. Namun dalam pelukan ini, Ella tak sengaja melihat seorang wanita mirip Ny. Chelsi menabrak seseorang lalu pergi dari kerumunan para tamu undangan.


"Itu, apa itu Mama?"


...______...


...Terima kasih sudah hadir membaca pernikahan Ella dan Devan...


...💞💞❤💞💞...


...Beri like dan komen...

__ADS_1


...Instagram: @asti.amanda24...



__ADS_2