
Sementara kini di villa Devan. Presdir ini sudah dari tadi bangun. Bahkan sekarang sudah mau siap untuk ke kantornya. Terlihat ia sedang memperbaiki kerah kemeja lengannya.
Meski begitu, Devan belum ingin meninggalkan Ella yang masih tertidur di kasur. Mungkin lelah yang dirasakan Ella hingga gadis ini belum kunjung bangun dan masih setia memeluk gulingnya.
Devan duduk di dekat Ella, dengan lembut menyentuh wajahnya. Mengelus dan memainkan poninya. Sedikit senyuman terlihat di bibirnya sebab memikirkan pertempurannya kemarin malam. Devan berdiri lalu menyelimuti Ella dengan baik-baik dan kemudian melihat jam dinding sudah pukul 09.35 pagi. Saatnya Devan pergi ke kantornya.
Samar-samar Ella mulai perlahan membuka mata. Melihat langit-langit kamar dan mulai merasakan sakit pada seluruh tubuhnya. Mata Ella tertuju pada jam dinding sudah jam 11 pagi. Ella tersentak dan langsung duduk.
"Auwh-" Ella meringis kesakitan sambil menyentuh pinggulnya. Pertempuran kemarin sungguh membuatnya hampir lumpuh gara-gara Devan memberinya empat ronde.
"Ternyata, dia bisa sebuas itu. Seluruh tubuhku ingin lumpuh. Benar-benar tak ada hati! Menyebalkan!" umpat Ella marah-marah sendirian di dalam kamar.
Ella melihat kasurnya dan cuma bisa diam melihat seprainya terobrak-abrik. Apalagi pakaiannya masih berantakan di lantai. Ella pun mencoba berdiri dengan tubuh telan_jangnya yang masih dibalut seprai. dan seketika itupun kedua matanya membola. Tak bisa membayangkan rasa sakit pada seluruh tubuhnya. Ella pun memungut pakaiannya lalu menjatuhkannya ke dalam keranjang.
"Apa dia sudah pergi?"
Ella berjalan ke arah kamar mandi. Lalu dengan perlahan-lahan mendekatkan telinganya ke pintu. Ingin mendengar, apakah suaminya masih di dalam kamar mandi atau tidak.
"Hm, sepertinya dia sudah pergi duluan." Ella tersenyum lalu masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan tubuhnya dari cairan yang masih lengket atas pertempuran kemarin.
Setelah mandi, Ella berpakaian dan tak lupa memakai dandanan yang terlihat natural saja. Tapi, saat asik berdandan. Ella dikejutkan dengan deringan ponsel yang tak jauh dari tempat duduknya. Ella menoleh dan melihat ponsel Devan tertinggal di atas meja. Ella berdiri untuk melihatnya.
"Eh, ini siapa?"
Ella sedikit terkejut ada nomor yang tak dikenal masuk ke ponsel Devan. Apalagi nomor itu nampak nomor luar negeri. Karena penasaran, akhirnya Ella mengangkatnya.
"Hallo, siapa ya?" tanya Ella sedikit gugup. Tapi, sang pemanggil malah mematikan ponselnya membuat Ella mengerutkan dahinya.
"Sudahlah, mungkin dia salah nomor," gumam Ella mulai tak peduli.
"Lebih baik aku pergi ke kantornya saja membawakan ponselnya." Lanjut Ella memasukkan ponsel Devan ke tas mininya. Akan tetapi, sebuah notif kembali masuk ke ponsel Devan. Ella ingin melihatnya, tapi Maysha malah memanggilnya yang sekarang berdiri di dekat pintu. Padahal notif itu berasal dari rumah sakit yang tentunya dari Elisa. Ella tak sadar dan mengabaikan notif pesan itu.
"Bun-nah," panggil Maysha masuk ke dalam kamar.
"Eh, Maysha ternyata sudah bangun dari tadi. Sekarang Maysha mau apa?" Ella mendekatinya, melihat Maysha sudah mandi dan rapi nampak memegang boneka biawak miliknya.
"Bun-nah, Maysha mau sama Dejhi. Cadi Dejhi pelgi, Maysha mawu ikuc capi Dejhi cak mawu." Rengekan Maysha membuat Ella tertawa geli. Ella mengelus kepala anak kecil ini lalu mengambil tas mininya.
"Ya sudah, kita pergi sama-sama ke kantornya. Sekalian bunda juga mau kasih ponselnya ini."
Ella berkata sambil menepuk-nepuk tas mininya. Maysha tersenyum lebar dan langsung berlari-lari riang di depan Ella yang kini berjalan pelan masih menahan sakit diseluruh tubuhnya. Ella pergi bersama Maysha menggunakan taksi meninggalkan villa Devan.
__ADS_1
Sedangkan di lain tempat tentunya di warnet. Rafandra yang tadi menghubungi ke ponsel Devan belum berhenti diam. Kaget sudah mendengar suara yang tak asing baginya. Melihat Rafa yang diam di kursinya, membuat teman sebelahnya alias anggota gengnya yang lagi asik bermain game, jadi terheran-heran.
"Woi, bro. Lu kenapa?" tanyanya menyenggol lengan Rafa.
"Eh, gans. Lu ingat gak si Ara, teman satu kelas kita."
"What? Ara? Ara yang mana?" tanyanya lagi tak ingat sama sekali.
"Eh buset, lu. Masih muda tapi lu dah pikun." Rafa geleng-geleng kepala melihat teman kampusnya yang ikut liburan dengannya.
"Ye santai bro, gue nih gak pikun, cuma lupa dikit. Lagian lu maksud siapa sih?" desisnya sedikit kesal.
"Itu loh, teman cewek sekelas kita waktu SMP. Yang namanya, kalau gak salah sih, Aradella. Cewek yang suka diam itu, yang kadang gak masuk sekolah." Jelas Rafa menggaruk sedikit kepalanya untuk lebih jelas mengingatnya.
"Eh, yang ini maksud lu?" Tunjuknya ke arah laptop di depannya kepada Rafa.
"Nah, ini dia. Tapi, dia kok rambutnya pendek? Dulu kayaknya panjang deh." Rafa kembali berpikir.
"Ahaha, astaga. Mau pendek atau panjang, itu gak masalah, Rafa. Cewek kan gonta-ganti model rambut, kek lu gonta-ganti cewek tiap bulan."
"Eh, bansat lu! Gue gak kek gitu tau! Gue masih normal dan gue juga belum dapat jodoh alias pacar." Timpal Rafa tak terima dirinya bagaikan playboy saja.
"Ahaha, gue bercanda. Lu jangan serius-serius amat sih jadi orang. Tapi, lu kenapa ngomongin dia?" tanya teman kampusnya lagi.
"Kaga, gue cuma nanya doang." Rafa memelas, mulai jengkel masih belum terima sama ucapan temannya.
"Pfft, ahahaha. Gue canda bro. Jangan ditaruh ke hati ya, nanti lu naksir lagi sama gue gara-gara tadi." Tawanya mengejek Rafa. Rafa semakin menyipitkan mata lalu berdiri.
"Dah, gue bosen lama-lama di sini."
"Eh, lu mau kemana?" tanya temannya lagi sambil ikut berdiri.
"Gue mau minggat dari negara ini." Rafa membereskan tempat duduknya.
"Maksdunya, lu dah mau balik ke habitatmu?"
"Eh buset, emang gue binatang pakai habitat segala!" ketus Rafa semakin kesal saja.
"Lagian lu jangan serius amat napa, gue kan cuma canda doang."
"Dahlah, gue mau balik, lu lanjut main gih. Kalau mau ikut pulang, lu siap-siap gih sana. Gak usah banyak nongkrong di sini."
"Ya, gue masih butuh refresing. Besok saja gue baliknya, lu pulang saja duluan." Tolak temannya duduk kembali.
__ADS_1
"Oke, lu jangan nyesel gue tinggalin," kata Rafa mulai berjalan. Teman kampus Rafa hanya mengangkat bahu saja lalu melanjutkan ngegamenya. Tidak seperti Rafa yang kini menaiki motor untuk kembali ke mansionnya. Karena waktunya ia siap-siap pulang ke kota asalnya.
Berbeda dengan Ella yang sekarang sudah sampai ke kantor Devan. Ella berjalan masuk ke perusahaan dan kini sedikit tegang saat memasuki lift bersama Maysha berdua saja. Apalagi sakit di tubuhnya masih terasa bila lift bergetar.
"Bun-nah masih cakuh ya?" tanya Maysha mendongak.
"Hm, tidak. Cuma sedikit tegang saja." Ella tersenyum. Memperlihatkan dirinya tak takut lagi. Maysha tertawa kecil, tak bisa dibohongi. Karena sekarang, Ella menggenggam kuat tangan kecilnya. Bahkan Maysha merasakan tangan Ella bergetar.
"Bun-nah jangan cakuh, ada Maysha hihi." Tawa Maysha lagi sambil memeluk Ella.
"Ahaha, kamu ini bisa saja." Ella ikut tertawa mendengarnya.
Setelah lift berhenti, kedua keluar lalu berjalan ke arah ruangan Devan. Maysha begitu riang berjalan di dekat Ella. Begitupun Ella terlihat ceria sudah berhasil melawan ketakutannya hingga tak perlu lagi merepotkan siapa-pun.
Namun, wajah ceria itu seketika murung setelah membuka pintu ruangan Devan. Tak ada satu pun orang selain mereka berdua. Ella masuk lebih dalam, mencari Devan. Tapi percuma tak ada Devan sama sekali.
Ella pun menggandeng tangan Maysha, keluar ingin ke ruangan Hansel. Tapi, sekali lagi ruangan yang dia masuki kosong.
"Di mana dia dan Kak Hansel?" pikir Ella jadi kuatir. Maysha pun juga kebingungan tak melihat dua pria yang harus ada di ruangan mereka masing-masing.
"Eh, kalian mau apa ke sini?" tanya seorang wanita berambut pendek. Seorang karyawan yang sering datang untuk berdiskusi bersama Hansel tentang hasil laporan perusahaan. Terlihat wanita itu sedikit curiga dan kesal terhadap Ella yang masuk begitu saja. Begitu jelas, wanita ini meletakkan laporannya ke atas meja dengan raut wajah tak karuannya.
"Em, itu. Saya Ella, saya ke sini mencari Presdir Devan dan Sekretaris Hansel. Jadi, apa anda tahu dimana mereka?" tanya Ella sedikit takut. Wanita itu menyipitkan mata melihat bekas cupan di leher Ella.
"Kau ini siapanya mereka? Dan apa yang terjadi pada leher mu itu?" Tunjuknya ke leher Ella.
"Ahaha, itu," Ella tak bisa berkata-kata saking terkejut cupan Devan masih dilihat oleh orang lain. Padahal sudah memakai sebuah baju kaos coklat untuk menutupnya.
"Itu, digigi nyamuk." Sahut Maysha melihat wanita itu.
"Oh, begitu," ucapnya mengerti begitu saja.
"Oh ya, untuk apa kau mencari mereka?" tanya lagi.
"Maysha mau main." Sekali lagi Maysha yang menjawab. Wanita itu menyentuh dagunya lalu melihat Ella dari bawah sampai ke atas.
"Hm, apa kau adiknya Hansel?" tebaknya lagi mengira Ella adiknya Hansel.
"Ah, benar. Saya adiknya dan aku ke sini cuma ingin membawa Maysha menemui Kak Hansel."
"Oh pantas saja tadi dia menghubungiku jika pasti adiknya akan datang mencarinya, ternyata itu kau. Kalau begitu kemarilah, aku akan membawamu ke rumah sakit."
__ADS_1
"He, rumah sakit? Apa yang terjadi padanya?" tanya Ella terkejut.
"Dia kemarin sakit, entah kenapa bisa. Sekarang, tidak usah banyak bicara. Ikut saja padaku." Katanya lalu pergi duluan dari ruangan Hansel. Ella segera menggandeng Maysha, menyusul wanita itu. Kini Ella cemas terhadap Hansel dan lupa akan tujuannya mencari Devan tadi.