
Langkah kaki Devan terhenti di depan pintu kamar Elisa. Devan perlahan membuka pintu lalu samar-samar melihat Elisa berdiri sedang membelakanginya sambil memegang gunting. Devan terkejut melihat Elisa ingin menusuk lehernya sendiri. Dengan cepat tanpa disadari oleh Elisa, Devan segera berjalan untuk meraih tangan Elisa berhenti lakukan hal bodoh.
"Apa yang kau lakukan, Elisa!" ujar Devan menatapnya dan berhasil mengambil gunting. Elisa sedikit terkejut melihat Devan masuk ke kamarnya dan kemudian menangis lagi.
"Berikan itu padaku! Aku ingin mati saja, percuma aku hidup jika begini. Kau tak lagi mencintaiku, tak ada yang akan menerimaku selain dirimu. Aku tak mau hidup lagi!" pekik Elisa ingin merebutnya. Tapi, Devan melempar gunting itu ke arah luar jendela. Devan memeluknya dan mulai ingat tindakan Elisa pasti yang pernah dirasakan Ella sebelumnya.
"Aku-aku minta maaf hampir menamparmu tadi, jadi tenanglah, Elisa." ucap Devan terdengar tulus. Elisa melepaskan Devan lalu menangis sejadi-jadinya.
"Tidak, kau bukan Devanku lagi. Percuma saja, kau keluarlah! Aku tak mau melihatmu!" pekik Elisa mendorong Devan dan berjalan melewatinya, namun Devan menahan tangan Elisa.
"Aku akan pergi denganmu." Elisa berhenti setelah mendengarnya lalu berbalik melihat Devan.
"Ma-maksdunya?" ucap Elisa diantara isak tangisnya.
"Aku akan pergi bersamamu ke pesta malam ini. Jadi, aku harap kau mau maafkan aku." Devan nenunduk, berat juga rasanya katakan ini. Tapi demi Ella, Devan terpaksa lakukan ini. Elisa terisak lalu memeluk Devan.
"Aku-aku tidak lagi bermimpi kan?" Tangis Elisa sambil melihat Devan. Devan sedikit tersenyum saja.
"Kau-kau akhirnya sadar juga. Aku tahu, kau pasti tidak tega lakukan ini padaku," ucap Elisa masih menangis dipelukannya. Devan menyentuh kepala Elisa lalu melepaskan Elisa.
"Ya, sekarang aku minta maaf padamu. Kamu mau kan maafkan aku?" ucap Devan. Elisa mengangguk saja lalu dengan senangnya memeluk Devan lagi. Senyum kecil mulai terlihat di bibirnya.
"Aku senang mendengarnya, Dev. Akhirnya kau mau juga ikut denganku." Elisa mengusap kedua matanya dan tersenyum manis kepada Devan. Devan menghela nafas lalu tersenyum juga. "Kalau begitu bersiap-siaplah, aku sendiri yang akan mengantarmu sekarang." Elisa segera mengangguk paham. Kini Elisa mulai berpikir jika kali ini kesempatannya bisa mendapatkan Devan lagi.
Tak menunggu waktu lama, keduanya sudah siap dengan style yang cukup menawan. Keduanya berjalan bersama menuruni tangga. Begitu riangnya Elisa merangkul lengan Devan. Tak henti-hentinya tersenyum disetiap langkahnya. Devan dan Elisa berhenti tepat di depan Ella dan Maysha yang baru saja dari arah dapur. Devan melepaskan rangkulan Elisa.
__ADS_1
"Aku akan pergi sekarang, kau tak perlu menungguku dan pergilah tidur bersama Maysha," kata Devan ingin menyentuh kepala Ella tapi berhenti setelah Elisa meraih tangan Devan segera.
"Em, baiklah. Hati-hati di jalan Tuan dan ... Nona Elisa." Ella menunduk lalu berjalan melewati keduanya dan menaiki tangga bersama Maysha. Devan mengepal tangan lalu menoleh ke belakang melihat Ella sebentar. Elisa mengerutkan dahinya, kesal dan jengkel melihat tingkah Ella yang pergi begitu saja. Padahal Elisa ingin memamerkan jika Devan lebih memilihnya dari pada dirinya.
"Sekarang, apa kau puas?" ucap Devan pada Elisa. Elisa tersenyum dan merangkul lengan Devan lagi.
"Hm, aku senang malam ini." kata Elisa memeluk Devan dengan manja lalu mulai berjalan diikuti Devan. Keduanya pergi ke arah mobil yang terparkir di depan villa. Ella yang kini ada di dalam kamarnya, hanya bisa menatap Devan dan Elisa pergi dari balik jendela. Ella menunduk dan mulai meneteskan air mata. Mencoba ikhlas melihat Devan pergi dengan Elisa malam ini.
"Bun-nah," panggil Maysha yang lagi duduk di atas kasur. Ella menutup horden lalu menoleh dan tersenyum ke Maysha. Ella berjalan ke kasurnya lalu duduk di dekat Maysha.
"Kenapa, Sha?" tanya Ella mengelus kepalanya.
"Bun-nah nangis?"
"Hm, tidak. Ini tadi cuma kelilipan angin. Sekarang, Maysha lebih baik tidur ya," ucap Ella tersenyum.
"Jam berapa Tuan akan pulang?" pikir Ella.
"Bun-nah cidak cidul?" ucap Maysha membuyarkan pikiran Ella. Ella sekali lagi hanya tersenyum lalu tidur di dekat Maysha.
"Sini Bunda peluk Maysha." ucap Ella membuka sedikit ruang untuk Maysha. Maysha tentu dengan senang hati langsung memeluk Ella lalu memejam mata. Ella mengelus punggung Maysha agar anak kecil ini cepat tidur.
Beberapa saat kemudian, Maysha sudah terlelap dari tadi. Ella yang masih terjaga, perlahan bangun dan memperbaiki posisi tidur Maysha lalu dengan hati-hati menyelimutinya. Tak lupa juga mencium kening Maysha dengan lembut. Ella melihat jam dinding sudah pukul 20.44 malam, lalu ia pun keluar dari kamar.
Ella menuruni tangga dan kemudian duduk di sofa tamu. Tujuannya ingin menunggu Devan pulang. Tapi lama-lama Ella malah mengantuk. Ella pun merebahkan dirinya ke sofa dan memejamkan mata sebentar. Namun, tiba-tiba pintu utama diketuk dari luar. Ella yang kini setengah sadar langsung berdiri mengira Devan sudah pulang.
__ADS_1
"Tuan, anda sudah-" ucap Ella berhenti melihat yang mengetuknya bukan Devan melainkan Hansel yang tersenyum padanya.
"Kak Hansel ada apa ke sini?" tanya Ella sedikit terkejut.
"Oh itu, aku tadi disuruh mengantar Nona Elisa dan aku baru datang. Maklum, aku terlalu sibuk jadi apa Nona Elisa sudah siap?" Hansel bertanya balik dan sedikit cengengesan.
"Em, Nona Elisa sudah pergi bersama Tuan Devan dari tadi, Kak Hansel," jawab Ella menunduk. Sedikit kecewa ternyata dugaannya salah.
"Oh kalau begitu-" ucap Hansel terhenti akibat melihat luka di kening kiri Ella.
"Apa yang terjadi pada alis kirimu Ella?" tanya Hansel membuat Ella terkejut. Ella pun segera menyembunyikannya dengan poninya.
"Itu, tadi tidak sengaja jatuh, hehe." cengir Ella berbohong sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Pfft, ternyata kau ceroboh juga. Oh ya, ini aku punya-" ucap Hansel merogoh saku celananya lalu mengeluarkan hansaplast lalu dengan lembut menutup luka kecil Ella. Mata Ella sedikit melebar melihat Hansel perhatian padanya.
"Nah, sekarang besok lukanya pasti hilang," ucap Hansel tersenyum. "Pfft, terima kasih, Kak Hansel." Ella tertawa kecil merasa ucapan Hansel begitu lucu. Hansel ikut tertawa melihat Ella tak nampak murung lagi.
"Ya sudah, aku pulang dulu. Kau tak apa-apa kan sendirian di villa?" ucap Hansel memastikan.
"Hm, tidak apa-apa. Lagian ada Maysha bersamaku." Ella tersenyum sambil melihat ke arah atas kamar Maysha. Hansel tersenyum lalu menyentuh kepala Ella membuat Ella tersentak.
"Kalau begitu aku pulang dulu, jika kau takut, kau bisa menghubungiku kapan pun saja. Mungkin Tuan Devan akan lama di sana. Jadi, kau tak perlu menunggunya." ucap Hansel tahu Ella pasti sedang menunggu Devan. Ella hanya mengangguk saja dan tersenyum melihat Hansel mulai pergi. Mobil Hansel pun melaju meninggalkan villa. Ella mengunci pintu lalu menyentuh hansaplast. Ella sedikit tersenyum lalu berjalan menaiki tangga.
Ella masuk ke kamar Devan, meraih kemeja Devan yang tergantung di dekat lemari lalu mencium aroma tubuh Devan yang tertinggal di sana. Ella merebahkan tubuhnya dan memeluk kemeja Devan saja. Beranggapan kemeja itu adalah Devan yang dia peluk sekarang.
__ADS_1
"Kapan kau pulang?" pikir Ella melihat kemeja itu lalu memeluknya lagi. "Mungkin lebih baik aku tidur saja." Ella memejamkan mata tak bisa lagi menunggu. Apalagi malam ini begitu dingin, hingga Ella tak sanggup menunggu terlalu lama. Ella menyelimuti dirinya dan mulai tertidur malam ini.