
...[ Beri like dan vote readers ]...
Jantung Ella masih berdebar-debar dan wajahnya terus merona. Ella tak henti-hentinya geleng-geleng kepala mencoba menghilangkan pikirannya tentang Devan.
"Aduh, kenapa sih belum bisa hilang juga!" Ella kesal sambil mengaduk nasi goreng yang ia masak di pagi ini.
"Huft ... baiklah, aku harus tenang dulu. Tapi, apakah nanti Tuan akan marah padaku?" pikir Ella menuangkan kecap.
"Iish, kenapa juga aku harus pikirkan ini. Lagian, dia juga yang salah mau meminta itu padaku, padahal dia kan punya tangan sendiri!" gerutu Ella semakin tidak karuan lagi. Ia ingin mengumpat sana sini tapi takut akan diketahui oleh Devan jika ia menghina diam-diam dirinya. Ella pun melanjutkan pekerjaannya.
Langkah kaki menuruni tangga, Devan yang lagi menggendong Maysha turun untuk sarapan pagi.
"Dejhi, Maysha mawu makang bubuy," kata Maysha menunjuk Ella yang lagi masak. Devan melirik Ella lalu meletakkan Maysha di kursi. Penampilan Maysha kali ini begitu lucu.
"Tunggu di sini, Deddy akan bawa bubur untukmu," Devan menyentuh pipi tembem Maysha.
"Bayik, Dejhi." kata Maysha mengangguk dan tersenyum manis.
Devan pun berjalan ke arah Ella, dan memperhatikan penampilan Ella. Ada rasa kesal masih belum terima atas kejadian tadi. Tapi melihat rambut Ella yang diterpa-terpa angin melalui jendela membuatnya tertarik untuk mengikatnya. Devan meraih rambut Ella membuat gadis ini terkejut.
"Diamlah, jangan bergerak. Jika tidak, aku akan copot rambutmu ini," ancam Devan mencoba mengikat rambut Ella.
Jantung Ella kembali berdebar-debar ditambah wajahnya merona lagi. Apalagi jari-jari Devan membuatnya jadi geli.
"Iish, rambutmu ini kenapa susah sekali diikat sih!" ketus Devan masih usaha untuk mengikat rambut Ella.
"Tu-tuan, lebih baik anda duduk saja. Biar aku saja yang mengikat rambutku sendiri." Ella gemeteran sedikit gelagapan.
__ADS_1
"Ck, dengar ya! Rambut ini kalau tidak diikat akan jatuh ke dalam sarapanku! Aku tidak mau hal itu terjadi,"
"Jadi, diamlah dan lanjutkan pekerjaanmu." tegas Devan masih mengikat rambut Ella.
Ella pun mengangguk dan melanjutkan untuk menuangkan bumbu masakannya. Tapi ada rasa sakit ketika Devan berusaha mengikat rambutnya. Bahkan rasanya Devan sedang menarik keras rambutnya. Maysha yang melihat keduanya berdebat hanya bisa senyum-senyum di kursi. Anak kecil ini turun dari kursinya.
"Aduh, Tuan. Lebih baik anda duduk saja. Biar aku saja yang mengikatnya." kata Ella menyentuh rambutnya tapi malah memegang tangan Devan.
"Astaga, maafkan saya, Tuan." Ella menunduk malu. Entah tiba-tiba ia sensitif menyentuh kulit Devan.
"Kamu ini cerewet juga, aku hanya tidak ingin rambut jelekmu ini jatuh, apalagi mengenai sarapanku. Kamu lanjut masak saja!" ujar Devan mempererat ikatan rambut Ella.
"Aaah ...." Ella tak sengaja mendesah merasa kesakitan. Suara Ella membuat Devan tersentak dan menghentikan mengikat rambut Ella. Ella juga menutup mulutnya merasa malu sudah mengeluarkan suara itu. Apalagi suaranya begitu lembut dan menggoda di telinga Devan. Devan dengan cepat membalikkan tubuh Ella dan memojokkannya ke belakang. Kedua mata mereka saling bertatapan.
"Apa kau sengaja mengeluarkan suara itu untuk memancingku di pagi ini?" Devan meliriknya sinis.
Devan mengangkat dagu Ella dan melihat kedua mata bulat gadis ini. Ella menelan ludah, jarak wajah mereka begitu dekat. Bahkan Devan lebih mendekati tengkuk lehernya. Ella memejamkan mata melihat Devan ingin melakukan hal senonoh padanya di dapur.
"Bisakah kau berhenti memikirkan hal mesum itu," ucap Devan membuat Ella tersentak.
"Eh, mesum?" Ella mengulanginya.
"Ya, mesum! Kau setiap hari pasti memikirkan itu terhadapku. Apa kau ingin melakukan itu bersamaku di pagi ini?" bisik Devan di telinga Ella. Mata Ella melebar kembali dan merona lagi.
"Tid-tidak, Tuan Presdir. Sa-saya tidak memikirkan itu kok," Ella terbata-bata saking gugupnya dan tegang mendengar Devan mengajaknya bergelut di atas ranjang.
"Oh, benarkah. Apa kau tidak mau?" ucap Devan kembali berbisik dan meniup-niup telinga Ella. Ella segera geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Aku yakin ... kamu ini sebenarnya mau kan? Cuma saja kau tidak akan kuat melakukan itu di atas ranjang bersamaku, E ... lla." Sekali lagi Devan merayunya bahkan menjilat pinggir telinga Ella. Ella semakin merona ingin meletus merasakan sentuhan lidah Devan.
"Hm, tapi ... aku juga tidak mau lakukan itu lagi padamu. Tubuhmu terlalu kurus, tidak montok, apalagi dibagian ini kurang montok. Benar-benar bukan seleraku, kau terlalu tepos untuk ditiduri." kata Devan menunjuk gumpalan dada kecil Ella.
Ella menggenggam tangannya mulai kesal dipanggil tepos. Ingin rasanya Ella menonjok muka ngeselin Devan. Devan hanya menahan tawanya melihat Ella yang memerah karena kesal.
"Tuan, saya juga tidak mau tidur dengan anda. Apalagi melakukan itu pada anda. Anda juga bukanlah tipeku!" ujar Ella mulai emosi.
"Eh?" Devan kaget dibentak oleh Ella. Devan mencengkeram mulut Ella.
"Aku juga tidak sudi tidur satu ranjang denganmu! Kalau dalam tiga bulan ini kamu memang tidak hamil. Aku akan menendangmu keluar dari Villa ini. Jadi jangan macam-macam padaku. Jika tidak, rumahmu akan aku hancurkan!" ancam Devan melepaskan cengkeremannya. Ella terdiam dan kembali menalan ludah. Ucapan Devan begitu serius membuatnya ketakutan.
Tuk
Tuk
Tuk
Suara ketukan terdengar dari belakang Devan. Tentu itu adalah Maysha yang sedang memukul pantat Devan menggunakan sendok.
"Dejhi, Maysha mawu makan bubuy, bubuy Maysha mana?" rengek Maysha manja yang dari tadi berdiri di belakang Devan. Devan berbalik dan menggendong Maysha.
"Kau dengarkan, Maysha sudah lapar. Jadi siapkan segera sarapan untuk kami!" pinta Devan pada Ella lalu kembali duduk bersama Maysha. Ella greget ingin sekali menggigit Devan. Ella pun menuangkan nasi goreng dan bubur instan untuk Maysha dengan kekesalannya tiada tara.
"Dasar Presdir jutek!" umpat Ella dalam hati. Ia sangat-sangat ingin memberi pelajaran pada Devan.
...__________...
__ADS_1