Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 98 : Tertembak


__ADS_3

Tawa Viona menggema di ruangan itu, puas melihat Elisa tak berdaya. Melihat darah segar di dekat telinga wanita ini. Bekas pukulan yang amat keras hingga Elisa belum kunjung sadar.


"Hei, sampai kapan kau akan pingsan, ha!" Viona menampar-napar rahang Elisa. Perlahan-lahan akhirnya kedua mata Elisa terbuka. Samar-samar dengan rasa pening melihat Viona berjongkok di depannya.


"Kau, apa yang ingin kau lakukan padaku!" Elisa tak kalah membentak. Emosi bercampur sakit pada kepalanya.


"Ayolah, awalnya aku ingin bekerja sama denganmu melenyapkan gadis penggoda itu. Tapi tak sangka kau tiba-tiba membelanya. Apa kau mulai pasrah, calon suamimu direbut olehnya?" ucap Viona tersenyum miring mulai ingin memanas-manasi Elisa.


"Ck, kau gila!" hina Elisa mendecak tak suka Viona menghina adiknya. Sontak dua mata Viona seakan menyala lalu meremas keras rambut Elisa lalu menatapnya tajam.


"Kau lah yang gila! Niatku saat itu baik untuk singkirkan gadis itu, tapi kau malah seperti ini padaku. Dari awal, akulah yang memberitahumu bila ada gadis lain yang dekat dengan Devan. Jika seandainya aku tak beri tahu padamu, kau pasti sudah mati gara-gara shock dari dulu. Tapi tak usah kuatir, kau tak akan mati dengan jantungmu yang lemah ini, aku sendiri yang akan mengakhirinya."


Elisa mundur sedikit, takut dengan ucapan Viona yang mengerikan. Apalahi raut wajahnya benar-benar bukan seperti Viona dulu. Kebenciannya membuat wanita satu ini layaknya seorang iblis.


"Apa yang kau inginkan, ha!" sekali lagi Elisa membentaknya, dan mencoba membuka ikatan tali yang mengikat tangannya.


"Ahaha, apa yang aku inginkan? Tentu saja membalas penghinaan dan perbuatanmu! Selama aku di penjara, restoran Ayahku langsung bangkrut, ini gara-gara kau melaporkanku pada polisi!" geram Viona mencengkram rahang Elisa.


"Agh, lepaskan!" ujar Elisa memalingkan wajahnya lalu meliriknya sinis.


"Kau memang pantas di penjara! Meski Ella memang menikah dengan Devan, tapi aku tetap akan ikhlas menerimanya, dan tak seperti dirimu yang busuk!" hina Elisa sekali lagi.


Plak!


Viona geram langsung menampar Elisa, membuat Ella yang ketakutan di persembunyiannya terkejut, ingin rasanya keluar menolong Elisa, tapi dirinya juga lemah. Bukan tandingan Viona kali ini. Ella hanya bisa berharap Devan datang segera.


"Kau masih bisa berani dengan kondisimu seperti ini? Apa kau tak takut padaku, ha!" geram Viona kembali mencengkram rahang.


"Cuih!" ludah Elisa tepat di wajah Viona. Membuat wanita ini semakin marah telah diludahi mentah-mentah.


"Untuk apa aku harus takut pada wanita jalang sepertimu, stress!" lanjut Elisa kembali menghina.


Viona berdiri lalu mengeluarkan pisau dari saku celananya.


"Apa-apa yang ingin kau lakukan!" ujar Elisa mulai ketakutan.

__ADS_1


"He, tentu saja menyingkirkanmu, setelah ini aku akan lanjut ke Ella, ahahaha," tawa Viona menyeringai tipis melihat Elisa semakin ketakutan.


"Apa kau punya pesan terakhir Nona Elisa?" lanjutnya mengelus rahang Elisa kembali. Mendekatkan pisau itu ke kulit halus Elisa.


"Kau gila, kau jalang, stress!" caci Elisa menggertakkan rahangnya.


"Dasar sialan! Kau lebih baik ke neraka!" murka Viona dengan amarah ingin menusuk kepala Elisa dengan pisau, namun sayangnya sebuah pukulan besar berhasil merubuhnya. Kedua mata Elisa melebar melihat Ella berdiri dengan tongkat besi. Berhasil memukul kepala Viona. Tangan Ella gemeteran melihat Viona jatuh pingsan dengan kepala mulai berdarah.


Tongkat besi yang dipungut oleh Ella segera jatuh dan mendekati Elisa.


"Kau baik-baik saja, kan?" tanya Ella segera membuka tali pengikat pada tangan dan kaki Elisa. Elisa bukannya berterima kasih, malah membentak Ella.


"Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan di sini, Ella! Apa kau ingin mati bersama denganku!"


Ella terdiam lalu memeluk Elisa. Menangis sejadi-jadinya.


"Aku-aku takut, aku takut kehilanganmu."


Elisa diam membisu, ternyata Adiknya mencemaskan dirinya. Elisa memeluk Ella dan mengelus punggungnya. Ini mengingat dirinya dulu pernah ditolong oleh Ella saat kebakaran itu.


"Sekarang kita segera pergi dari sini, sebelum dia bangun." Ella mengangguk paham dan membantu Elisa berdiri. Tapi keduanya terkejut melihat Viona kembali sadar dan mulai menatap keduanya.


"Sial, kau ternyata ada di sini! Kalau begitu aku bunuh kalian bersama!" serunya mulai ingin menusuk salah satunya. Elisa meraih tangan Ella untuk segera lari. Namun tiba-tiba Viona menjerit di belakangnya, Viona kembali rubuh sebab seseorang memukul kepalanya yang terluka dari belakang. Keduanya berbalik untuk melihat. Ternyata itu adalah Ibu mereka datang seorang diri dan sebuah bingkisan di tangannya.


"Mama?" lirih Ella tak sangka bertemu Ibunya di tempat kotor seperti ini. Ny. Chelsi menatap bergantian dua putrinya yang hampir dibunuh, rasa keibuannya mulai muncul dan langsung memeluk Ella serta Elisa. Menangis melihat keduanya baik-baik saja.


"Syukurlah, syukurlah kalian baik-baik saja. Maafkan Mama, Ella. Maafkan Mama, Elisa. Maafkan Mama, Mama salah terhadapmu," ucap Ny. Chelsi dalam tangisnya. Ella diam mematung mendengarnya. Rupanya Ibunya kuatir padanya juga.


"Mama tak marah padaku?" tanya Ella masih menahan isakannya.


"Tidak, Mama tidak marah. Mama hanya tak tahu mengatakan ini padamu, Mama sayang sama kalian berdua. Kalian anak Mama." Ny. Chelsi kembali memeluk dua putrinya. Sudah cukup baginya untuk melukai hati anak keduanya. Elisa tersenyum mendengar Ibunya sudah mengerti. Tidak seperti Ella yang masih menangis. Ketiganya melepaskan kerinduannya dan mulai menjalin hubungan baik antara anak dan Ibu. Setega-teganya seorang Ibu yang jahat, pasti ada sedikit rasa sayang dan cintanya pada darang dagingnya.


Namun moment ini hanya sementara, karena tanpa sadar suara Viona membuyarkan suasana ini, terdengar Viona tertawa sambil menyentuh kepalanya yang masih berdarah.


"Ternyata, kalian adalah keluarga? Benar-benar bodoh, tak ku sangka Ny. Chelsi datang juga rupanya. Tapi tak masalah, aku akan membunuh kalian bertiga malam ini!" geram Viona langsung ingin menikam Ny. Chelsi dari belakang.

__ADS_1


Jleb!


Darah segar mengalir tepat di perut Elisa. Wanita ini berdiri melindungi Ella dan Ny. Chelsi. Viona juga kaget melihat Elisa dengan sendirinya menyerahkan diri dan ditusuk olehnya. Viona menarik pisau itu membuat Elisa rubah ke lantai. Tikaman yang sangat dalam membuatnya merintih kesakitan.


"Elisa!" teriak Ny. Chelsi dan Ella bersamaan. Kaget melihat perut Elisa terluka parah. Ella meraih tangan Elisa lalu menatap benci ke Viona lalu berdiri ingin balas dendam, tapi suara sirena mobil polisi mulai terdengar mengepung kawasan pabrik. Untung Hansel sempat meminta pihak polisi ikut menyelidik.


"Polisi? Bagaimana bisa?" Viona kaget langsung menjatuhkan pisaunya dan kabur segera mungkin. Ella ingin mengejarnya, tapi Elisa memanggilnya. Suara kecil begitu lirih keluar dari mulut Elisa.


"A ... ra," lirih Elisa mencoba untuk bertahan. Ny. Chelsi mulai menangis menjadi-jadi melihat putrinya sekarat. Ella jatuh ke lantai meraih tangan Elisa.


"Bertahanlah, aku yakin Devan pasti ke sini." Ella mengusap matanya, tak tega dengan kondisi kakaknya.


"Ku ... harap, ki ... ta bisa jadi keluarga. Mama jangan ... benci Ella lagi." Mohon Elisa berusaha bicara dengan nafasnya yang mulai sesak.


"Ya, kita akan jadi keluarga. Kau bertahanlah sedikit, sayang." Ny. Chelsi mengusap air mata putri sulungnya. Bibirnya mulai memucat dengan darah yang mengalir pada perutnya.


"Jangan tinggalkan aku lagi," mohon Ella langsung memeluk Elisa lalu sesugukan. Elisa hanya tersenyum saja melihat dua perempuan di dekatnya. Ella panik melihat Elisa semakin kesakitan dan langsung berdiri pergi keluar mencari bantuan. Tapi alangkah terkejutnya mendengar suara tembakan yang cukup keras.


DOR!


Tembakan dilepaskan tepat pada dada Viona yang ingin kabur dari pabrik. Viona jatuh rubuh, dan mati di tempat langsung. Ella gemeteran melihat penembakan di depan matanya. Devan dan Hansel terkejut melihat Ella lari dengan tangis ke arah Devan.


"Syukurlah kau baik-baik saja, sayang." Kata Devan memeluknya.


"Tolong, tolongin Elisa. Dia ditusuk oleh Viona dan sekarang dia sekarat di dalam sana. Aku tak mau terjadi sesuatu padanya!" Tangis Ella dalam pelukan Devan. Hansel kaget mendengarnya lalu berlari masuk mencari keberadaan Elisa. Raut wajahnya cemas terhadap satu wanita ini.


Devan kini hanya berharap pada mantan kekasihnya baik-baik saja. Ternyata benar, Elisa diangkat oleh Hansel. Kondisinya mulai kritis dan segera memberinya bantuan alat pernafasan. Hansel membawa Elisa dan Ny. Chelsi ke rumah sakit menggunakan mobilnya. Sementara polisi membawa mayat Viona, lalu mengamankan pabrik itu.


"Hei, tenanglah sayang. Dia akan baik-baik saja." Devan menenangkan Ella yang belum berhenti menangis. Devan takut ini akan mempengaruhi kondisi dan debaynya.


"Aku takut kehilangannya. Aku tidak mau dia meninggalkanku," tangisnya memecahkan malam ini. Devan mencium puncak kepala Ella dengan lembut.


"Dia wanita yang kuat, dia akan baik-baik saja."


Ella tetap menggelengkan kepala masih belum menghilangkan darah Elisa yang mengalir dari perutnya. Hingga akhirnya Ella pingsan tak dapat menahan ketakutannya.

__ADS_1


"Ella, Sayang. Hei, kamu kenapa?" Devan panik langsung membawa Ella ke mobilnya. Membawa Istrinya kembali ke rumah sakit. Cemas pada Istrinya sekarang.


__ADS_2