
Tiga hari telah berlalu, Ella kembali ke rumah sakit untuk tetap fokus dalam program kesembuhannya pada penyakit TBC yang dia derita. Hanya saja, hari ini benar-benar membuatnya drop. Keinginan untuk sembuh semakin kurang, masih memikirkan ucapan Ibunya yang memenuhi isi kepalanya.
"Aku-aku benar-benar anak bodoh!" racau Ella yang lagi duduk di atas brankarnya. Meratapi nasibnya yang tak mau diakui oleh Ny. Chelsi. Tak ada semangat sedikitpun kali ini.
"Yang, kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba mengamuk?" tanya Devan yang habis menelpon Hansel untuk mengurus perusahaannya sementara, lalu masuk mendekati Ella.
"Aku jahat, karena itulah Mama tak suka padaku. Harusnya aku tidak-" lirih Ella menunduk, meremas kain brankarnya.
"Sudah, sayang. Jangan dipikirkan lagi, kau ini tidaklah jahat, malah baik pada orang lain. Soal Ibumu, sudah jangan pedulikan lagi. Aku tak mau kamu sedih, aku takut ini berdampak pada kondisimu dan debay kita." Hibur Devan memberinya senyuman, senyum yang menyembunyikan rasa cemasnya.
Ella hanya diam menunduk dalam diamnya. Devan segera memeluk Ella yang semakin terpuruk, takut mentalnya terganggu. Apalagi sekarang Maysha sudah kembali pada Ayahnya. Benar, lama-lama suara tangis mulai terdengar. Ella menangis sesugukan di pelukan Devan. Menumpahkan beban pikirannya.
Sedangkan di tempat lain, di sebuah penjara. Seorang lelaki tua keluar bersama Viona yang berhasil bebas karena ditebus oleh Ayahnya sendiri. Ayah Viona benar-benar kasihan pada putrinya yang terus menerus menunduk, dirinya yang sudah dituduh atas percobaan pembunuhan berencana oleh Elisa.
Sekarang siang ini, Viona sudah sampai di rumahnya. Mengurung dirinya di kamar, terlihat ia begitu pendiam. Viona diam bukan karena frustasi sudah masuk penjara, melainkan diam dengan amarahnya yang semakin menjadi-jadi. Mata Viona nampak memiliki dendam pada Elisa.
"Tunggu saja, aku akan melenyapkan kau duluan, Elisa!" decaknya penuh amarah.
Ayah Viona nampak berjalan ke arah kamarnya, lalu mengetuk pintu ingin memanggil putrinya untuk turun makan. Tapi tak ada suara dari dalam, hingga akhirnya Ayahnya Viona pergi. Berpikir Viona sedang tidur siang. Padahal kamar gadis ini sudah kosong, karena Viona pergi diam-diam lewat jendela dengan sweater hitamnya. Sebuah senyum mengerikan dia berikan siang ini. Entah kemana tujuannya kali ini.
Sedangkan di rumah Tn. Vian.
Ny. Chelsi benar-benar tiga hari ini tak pergi kemana-mana lagi, meski begitu Tn. Vian masih merajuk padanya. Seperti halnya Elisa masih kecewa pada Ibunya yang tak mau mengunjungi Ella di rumah sakit.
"Elisa! Kau mau kemana siang-siang ini?" tanya Ny. Chelsi menuruni tangga melihat Elisa ingin pergi. Elisa hanya menjawab dengan datar.
"Mau ketemu putri kedua Mama, apa Mama mau ikut melihat Ella?" tawar Elisa melihatnya. Meski begitu, Elisa pasti tahu bahwa Ny. Chelsi pasti akan menolaknya. Benar, Ny. Chelsi hanya diam di tempatnya membuat Elisa jengkel lalu pergi dari rumah, masuk ke dalam taksi menuju ke rumah sakit.
"Nyonya, makan siang sudah siap," ucap Bibi pelayan mendekati Istri majikannya. Wanita ini pun hanya berjalan ke arah dapur, tapi tak sengaja melihat bingkisan di atas meja TV. Rupanya Elisa lupa membawa bingkisan miliknya untuk Ella.
"Nyonya, ada apa?" tanya Bibi pelayan heran melihat Ny. Chelsi mengambil bingkisan itu.
"Sepertinya aku harus membawakan ini untuk Elisa, Bibi katakan saja padanya kalau aku keluar menyusul Elisa ke rumah sakit," jawab Ny. Chelsi tertuju pada Tn. Vian.
"Baik, Nyonya." Tunduk Bibi pelayan mengerti.
Ny. Chelsi pun dengan cepat keluar lalu menghubungi taksi langganannya. Beberapa saat, taksi pun datang dan ia segera masuk ke dalam menyuruh pak Supir ke rumah sakit.
__ADS_1
"Ke rumah sakit, Pak!" suruh Ny. Chelsi pada supirnya. Pak supir mengiyakan lalu mulai melaju ke rumah sakit.
Kini terlihat Elisa sudah sampai dan baru sadar akan lupa sesuatu ketika sampai di ruangan Ella. Namun, tiba-tiba ia mulai risih melihat Devan mengangkat Ella dengan begitu perhatian keluar dari toilet lalu meletakkan Ella kembali ke brankar.
"Ella," ucap Elisa memanggilnya dan mulai berjalan.
Ella dan Devan menoleh bersamaan melihat Elisa datang berkunjung tanpa membawa apa-apa.
"Maaf, sudah mengganggu waktu kalian." Lanjut Elisa hanya melihat Ella saja dan mengabaikan Devan yang duduk di dekat Ella.
"Kau mau apa ke sini?" tanya Devan menatapnya serius.
"Memangnya kenapa? Apa aku salah mengunjungi adikku sendiri?" tanya Elisa balik menatapnya sinis.
Melihat keduanya ingin berdebat membuat rasa aneh timbul di dalam hati Ella. Rasa yang sama sekali tak jelas. Dengan lembut, Ella mengelus perutnya lalu batuk sedikit. Memecahkan suasana yang canggung ini.
"Bagaimana perasaanmu, Ella?" tanya Elisa tiba-tiba cemas mendengar Ella batuk.
"Baik, kondisiku baik saja," jawab Ella lirih.
"Syukur deh, kau jangan terlalu pikirkan Ibu. Aku yakin, suatu saat nanti kita akan jadi keluarga yang utuh kembali." Kata Elisa memberi semangat. Ella hanya tersenyum saja dan kini Devan mulai diabaikan.
"Hm, kata Dokter baik-baik saja. Untung aku selalu rajin mengeceknya." Sekali lagi Ella menjawab, tapi jawaban ini terdengar lesu.
"Sayang, kamu kenapa tiba-tiba sedih?" tanya Devan berdiri merasa kuatir melihat Ella murung.
"Tidak apa-apa, cuma ... apa kau bisa belikan aku sesuatu?" mohon Ella mengelus perutnya.
"Hm, apa yang kau ingin beli?"
"Itu, aku ingin pizza." Pinta Ella sedikit tersenyum. Devan diam sebentar lalu melihat jam tangannya.
"Sepertinya aku sendiri yang harus beli, ini belum waktunya Hansel pergi dari perusahaan," gumam Devan dalam hati.
"Bagaimana, apa kau mau?" tanya Ella sekali lagi. Devan mengelus kepala Ella dengan lembut lalu mengiyakan.
"Tentu saja mau, dong. Demi Istriku yang lagi hamil, aku akan turuti semua yang kau minta," setuju Devan lalu melihat Elisa yang dari tadi diam melihat pasangan ini begitu mesra di matanya.
__ADS_1
"Aku titip dia, kalau ada apa-apa, hubungi aku segara." Kata Devan datar pada Elisa lalu pergi keluar untuk mencarikan sendiri keinginan sang Istri yang lagi hamil, meninggalkan dua bersaudara ini di satu ruangan.
"Maaf," ucap Ella tiba-tiba menunduk kembali.
"Hm, maaf? Buat apa?" tanya Elisa yang duduk di kursi Devan tadi lalu melihat Ella.
"Kau baik-baik saja kan, Ella?" tanya Elisa lagi mulai cemas. Ella menatapnya sendu lalu meraih tangan Elisa membuat wanita ini kaget melihat Ella mulai perlahan menangis.
"Jika aku sudah lahiran, apa kau mau menikah Devan?" ucap Ella memohon. Sontak Elisa terkejut langsung menarik cepat tangannya lalu dengan serius menjawab Ella.
"Ada apa denganmu, kenapa tiba-tiba bicara seperti ini?" Emosi Elisa mulai perlahan naik.
"Itu karena Mama akan maafkan aku bila Devan menikahimu, dan siapa tau aku meninggal setelah melahirkan," lirih Ella menunduk, mengusap kedua matanya yang dibasahi air matanya.
"Itu tidak akan terjadi, kau akan baik-baik saja setelah melahirkan. Jangan pikirkan ucapan Mama." Nasehat Elisa malah semakin membuat Ella drop.
"Tidak, Mama tidak akan memaafkan aku jika kau tak menikahi Devan. Jadi aku rela kalau kalian menikah setelah aku melahirkan." Sekali lagi Ella tetap ingin menjodohkan Elisa dengan Devan.
"Cukup! Jangan memaksaku, Ella! Kau akan baik-baik saja. Sekarang kamu tetap di sini, aku akan bicara langsung pada Mama." Jelas Elisa berjalan keluar merasa kecewa pada Ny. Chelsi yang bisa-bisanya membuat Ella depresi.
"Tunggu, Kak!" Tahan Ella, tapi Elisa tetap berjalan keluar. Saat inilah, Ella membuka infusnya lalu perlahan turun dari brankar.
Ella keluar dari ruangannya mencari Elisa. Takut jika masalah ini tambah parah. Ella pergi entah kemana, sekarang yang dia lalukan hanya mencari Elisa. Namun tak kunjung menemukan jejaknya. Ella segera memasukkan tangannya ke saku baju pasiennya, mencoba untuk hubungi Elisa. Panggilan terhubung, namun tak ada suara. Ella kembali jalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang ramai dan masih menghubungi Elisa. Sontak pendengarannya menangkap suara deringan ponsel di lorong sepi.
"Kak Elisa," panggil Ella berjalan mendekati suara. Perasaan cemas dan was-was serta takut mulai menyatu pada dirinya.
"Kak Elisa," panggil Ella kembali. Tepat di dekatnya, suara itu berdering. Ella menoleh mencari sumber suara, kedua mata Ella membola melihat ponsel Elisa berada di lantai dengan sedikit bercak darah. Ella gemeteran ketakutan lalu memungutnya. Seketika suara mobil berhenti, Ella pergi ke dekat jendela dan semakin terkejut melihat seseorang membawa Elisa yang sedang pingsan, orang tersebut tentulah Viona.
"Kak Elisa?"
Ella segera lari, yakin jika tadi dia tak salah lihat. Namun ternyata ponselnya malah terjatuh ke lantai tanpa disadarinya. Ketakutan dan cemas menyelimuti setelah melihat Elisa diculik. Ella keluar dari rumah sakit mencari taksi. Setelah mendapatkan taksi, Ella segera menyuruh taksi itu mengejar plat mobil yang sempat dia lihat. Mobil pun segera mengejarnya.
Ella di dalam mobil mulai mencari ponselnya lagi untuk menghubungi Devan atau Hansel. Tapi nyatanya, ponselnya tak ada. Ella segera menggunakan ponsel Elisa, namun ternyata tak ada nomor Hansel maupun Devan. Ella mulai panik untuk mengingat nomor kedua lelaki ini, tapi kepanikannya membuatnya tak fokus.
"Argh! Kenapa ada orang yang mau menculiknya?" pikir Ella meremas rambutnya mulai frustasi dalam ketakutannya. Membuat sang supir jadi diam saja setelah mendengarnya. Apalagi Ella yang kadang batuk berdahak terdengar sangat mengganggu. Tapi tak dapat menghentikan aksi kejar-kejaran ini.
Sekilas saat melewati sebuah persimpangan jalan raya, Ny. Chelsi tak sengaja melihat taksi lain berisi penumpang yang sangat familiar. Sontak kedua mata Ny. Chelsi melebar melihat Ella pergi seorang diri dengan taksi tersebut.
__ADS_1
"Pak, putar balik! Ikuti mobil yang lewat barusan!" suruh Ny. Chelsi pada supirnya.
"Baik, Bu." Kata Pak supir mengerti lalu mengejar Ella yang sudah hampir tidak bisa dikejar. Ny. Chelsi mulai cemas kenapa Ella keluar dengan panik dari rumah sakit.