Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 33 : Sungguh Menggoda


__ADS_3

๐Ÿ”žWarning!!


Ella mencoba untuk lepas dari tangan Devan yang merangkul dirinya. Tapi tenaganya tak dapat melepaskan rangkulan Devan. Bahkan Devan meletakkan dagunya pada bahu Ella lalu meniup-niup telinga Ella hingga gadis ini merona kembali merasa begitu geli.


"Tu-tuan, hentikan semua ini."


Ella masih terbata-bata. Rasa cemas masih menyelimutinya, takut jika kesempatan kali ini malah akan membuatnya masuk ke dalam mulut singa. Apalagi lampu masih padam.


Devan masih menyandarkan dagunya ke bahu Ella sambil memeluk tubuh Ella. Ella menelan ludah mulai berdebar-debar, apa lagi yang akan terjadi selanjutnya.


"Apa kau tak takut gelap?" Devan bertanya langsung dijawab Ella.


"Tidak, saya sudah sering ditinggal sendiri jika seperti ini, jadi saya tidak takut gelap." Ella berkata jujur.


"Hm, bagus juga." Devan tersenyum mendengarnya lalu melihat Ella. Ella mulai dag-dig-dug, apa maksud dari senyumannya.


Brak!


"Aaaah ...."


Ella tiba-tiba menjerit, dirinya dipojokkan ke pintu kamar. Devan menatap lekat-lekat kedua mata Ella lalu menyentuh dagu gadis ini.


"Hm, kau tadi sepertinya menyukai permainanku. Bagaimana jika sekarang kita lanjutkan lagi?"


Rambut Ella dimainkan oleh tangan Devan. Lelaki ini masih saja bersikap tenang dalam kondisi mati lampu.


"Ma-maaf, ini sedang mati lampu. Lebih baik Tuan kembali ke kamar anda," Ella mendorong Devan, wajahnya kembali merona.


"Hm, untuk apa aku harus kembali. Ini Villaku, aku leluasa berada di mana-mana." Devan kembali mendekati Ella. Ella sekali lagi deg-degan.


"Tuan, saya ingin memakai baju. Jika Tuan tak mau pergi, maka duduklah di sana dan berbaliklah ke arah pintu. Tuan jangan melihatku memakai baju." Ella menunduk sambil menunjuk sofa. Devan tersenyum miring lalu duduk begitu saja.


"Ya ampun, kenapa orang ini tetap mau di sini. Apa dia ingin melihatku berganti pakaian?" pikir Ella sedang mencari bajunya di lemari sambil melirik Devan yang duduk santai menatap dirinya.


"Tuan, bisakah anda menutup mata?" Ella berbalik melihat Devan dengan baju di tangannya.


"Heh, untuk apa?" Devan mengangkat alisnya.

__ADS_1


"Astaga, apa dia tidak melihatku ingin berganti pakaian?" Ella memutar bola mata jengah melihat Devan seperti berpura-pura bodoh.


"Tuan, saya mau ganti baju. Lebih baik anda tutup mata saja, atau anda keluarlah dari kamar saya." Ella menjawabnya sambil melihat ke arah pintu.


Devan berdiri, bukannya ke arah pintu, tapi malah mendekati Ella. Begitu sangat-sangat dekat dan langsung meraih pinggang Ella jatuh ke pelukannya.


"Bagaimana jika aku pakaikan kamu baju?"


Ella tersentak mendengar perkataannya. Ini adalah situasi yang paling sulit untuk dijelaskan. Kedua mata mereka bertemu dan semakin dekat.


Ella mendesah begitu kecil suara yang dia keluarkan. Tak sangka Devan malah kembali memulai aksinya. Mengecup tengkuk lehernya dan mulai menyelipkan tangannya ke dalam jubah mandi Ella lalu meraba-raba kesabagian titik sensitif Ella.


"Ah, Tuan. Jangan lakukan ini, ada-ada May-masha di sini," Ella mencoba mendorong Devan tapi tubuh kekar dan gagah Devan semakin erat memeluknya.


"Tidak usah cemas, aku akan melakukannya dengan hati-hati." Ella tersentak mendengar bisikan yang begitu menggoda.


"Nikmatilah setiap sentuhan yang aku berikan padamu." bisik Devan lalu melihat Ella yang begitu merona menahan malu. Ella menggigit bibir bawahnya agar tak mengeluarkan suara ******* lalu mendorong kembali Devan.


Melihat Ella terus-menerus menolak membuat Devan pun menghentikan aksinya.


"Baiklah, aku melepaskanmu malam ini." Devan berjalan ke arah sofa. Seketika itu pun, Ella berbalik menutup wajahnya sungguh malu, dirinya yang terus-menerus dipaksa untuk berhubungan intim.


"Hei! Apa yang kamu tunggu-tunggu! Cepat pakai baju!" ujar Devan greget melihat Ella masih membelakanginya.


"Ba-baik, Tuan,"


"Eh, tapi ... lebih baik Tuan tutup mata, saya-saya tidak bisa pakai baju kalau dilihat terus." lanjut Ella sedikit gemeteran.


"Hm, baiklah." Devan menutup matanya. Ella menyipitkan mata melihat dengan jelas. Sepertinya Devan benar-benar menutup matanya. Inilah kesempatan Ella dan segera memakai CD, tapi melihat Ella mulai ingin melepaskan jubah mandinya. Devan berdiri lalu merangkul Ella dari belakang. Tentu kedua matanya tergoda dengan lekuk tubuh Ella yang lumayan seksi.


"Aaah, Tuan. Apa yang anda lakukan?" Ella tersentak Devan membuka perlahan jubah mandinya.


Devan tak menjawab melainkan mencium bahu kanan Ella lalu dengan jahilnya kembali memegang dada kanan Ella dan meremasnya lembut. Satu tangannya meraba-raba perut Ella.


"Emh, Tuan. Jangan lakukan ini lagi." Ella menahan desahannya, menggigit bibir bawahnya agar tak membangunkan May-maysha yang tertidur lelap.


"Kau ... sangat mempesona malam ini, apalagi pantulan cahaya lilin membuat tubuhmu begitu indah." kata Devan lalu menggigit sedikit telinga Ella. Ella sontak merona luar biasa, nafasnya kembali memburu apalagi dadanya masih diremas-remas lembut.

__ADS_1


"Aaah, Tuan. Cukup! Anda jangan permainkan aku. Anda harus ingat aturan kontrak kita."


Devan seketika menghentikan aksinya, lalu berdiri membelakangi Ella dan menyentuh dagunya.


"Aturan kontrak di urutan mana?" pikir Devan mengingat-ingat. Inilah kesempatan Ella memakai baju.


Sibuk berpikir, tiba-tiba Devan didorong oleh Ella menuju ke arah pintu.


"Tuan, lebih baik anda kembali saja ke kamar anda. Urusan Maysha, saya yang akan menjaganya di sini." ucap Ella masih mendorong Devan.


"Eh, sejak kapan kau pakai baju?" Devan berhenti lalu melihat Ella sudah memakai baju tapi dirinya masih memakai CD.


"Aaaa, mesum!" ujar Ella berjongkok menahan malu. Lupa memakai celana. Devan tertawa kecil melihat tingkahnya yang lucu. Tanpa pikir panjang dan ijin dari Ella. Devan langsung mengangkat tubuh Ella.


"Aaagh, apa yang anda ingin lakukan?" tanya Ella sedikit memberontak.


Devan tak berbicara malah kembali menjatuhkannya ke sofa membuat Ella sedikit menjerit. Ella membola tak sangka dirinya kembali ditindih oleh Devan.


"Kau sudah melampaui batas, sudah tiga kali kau memerintahku. Tak ada siapa-pun yang berani memerintahku selain dirimu. Malam ini aku akan memberimu hukuman."


Cup!


Kedua mata Ella melebar bibirnya kembali dicium bahkan begitu panas. Tubuhnya kembali diraba-raba, tapi rasanya malah membuat Ella menikmatinya. Dengan mata tertutup, Ella membalasnya kembali.


"Aaaah, hentikan."


Ella sedikit memberontak, nafasnya mulai sesak. Jantungnya berpacu tak menentu. Perasaannya berdebar-debar, mulai hilang kendali. Ella memeluk Devan dan kembali merasakannya. Kehangatan dari tubuh Devan.


Devan menghentikan aksinya, lalu menyentuh wajah Ella. Senyum kecil terlihat di sudut bibirnya. Devan pun mengangkat Ella yang mulai terbiasa akan permaianannya.


Bruk!


Ella dijatuhkan ke atas ranjang. Terlentang di dekat Maysha yang begitu pulas tidurnya. Ella menatap Devan dengan keadaan sudah tak berdaya. Devan kembali membuka kemejanya mulai ingin bersungguh-sungguh bercinta di malam yang gelap ini hanya dipancari cahaya lilin.


...________...


...Beri like (๐Ÿ‘) komen (๐Ÿ’ฌ) dan favoritkan (โค) ya readers ๐Ÿ˜...

__ADS_1


...Supaya author semangat!!...


...Terima kasih sudah mampir di ceritaku ini...


__ADS_2