
"Ya, Tuhan. Ella!" Bu panti berlari dan segera menarik Ella turun dari kursi. Ella sesugukan di depan Bu panti dan melihat Anak-anak yang ketakutan atas tindakannya.
"Sadar, sadar, Nak!" Bu panti memeluk Ella. Hati Ella begitu pilu menerima batinnya tersiksa.
"Aku-aku ingin pulang, aku ingin pulang, aku ingin ketemu Ayah."
Air mata Ella turun deras di pelukan Bu panti. Ingin rasanya bertemu Ayahnya yang sudah lama meninggal. Anak-anak mendekati Ella lalu memeluknya.
"Kak Ella, jangan menangis."
Kalimat itu berhasil membuat tubuh Ella lemas tak berdaya. Ella akhirnya berhenti menangis lalu pingsan di pelukan Bu panti. Bu panti terkejut serta anak-anak yang lainnya. Mereka segera membawa Ella masuk ke dalam.
Nasib Ella memang sungguh malang, tak seperti tunangan Devan yang sekarang keluar dari kamar mandi. Elisa nampak habis mandi hanya memakai jubah mandi lalu berjalan ke arah Devan yang sedang duduk di sofa nampak melamun.
"Sayang," ucap Elisa duduk di pinggir sofa lalu merangkul leher Devan dari belakang.
"Kamu lagi mikirin apa?" lanjut Elisa bertanya. Suaranya begitu lembut menggoda telinga.
"Sayang," ucap Elisa lagi sambil menepuk bahu Devan. Devan seketika sadar lalu melihat Elisa.
"Hm, ada apa?" tanya Devan tersenyum.
"Iiih, kamu ini lagi mikirin apa sih, kok tiba-tiba melamun?" Elisa berpindah duduk di dekat Devan lalu memeluk lengan lelaki yang ia cintai. Devan mengelus kepala Elisa lalu berdiri.
"Lagi mikirin pernikahan kita nanti." Ucapan Devan langsung membuat Elisa ikut berdiri. Tapi, bukan ini yang dipikirkan Devan. Devan sebenarnya sedang memikirkan Ella yang sudah disakiti olehnya. Devan mulai merasa bersalah tak seharusnya kasar pada gadis polos itu.
"Ululu ... kamu ini bikin aku seneng deh, baru juga aku tiba dari LN sudah memikirkan pernikahan kita nanti." Elisa gemas lalu mencubit kedua pipi Devan. Devan hanya tersenyum saja lalu berjalan ke arah ranjang. Devan naik ke ranjang diikuti Elisa juga.
"Sekarang, tidurlah," ucap Devan menyentuh kepala Elisa. Elisa hanya tersenyum. Saat Devan ingin tidur, Elisa segera memeluknya dari belakang.
"Sayang," ucap Elisa memeluknya erat.
"Hm, ada apa lagi?" tanya Devan.
"Itu," Elisa memainkan dua jarinya, takut menjawabnya.
"Itu apa?" tanya Devan.
"Itu, sayang. Bagaimana kalau malam ini kita melakukan itu."
Devan terkejut mendengar permintaan Elisa. Devan menggelengkan kepala lalu menyentuh kepala Elisa.
"El, kita belum menikah. Kita masih berstatus tunangan, aku tak ingin mengotori tubuhmu sebelum pesta pernikah selesai. Jadi, tidurlah. Jangan pikirkan itu lagi." Jelas Devan lalu tidur membelakangi Elisa. Elisa cemberut dan tidur juga membelakangi Devan. Wanita ini sedikit kesal permintaannya tidak dituruti.
__ADS_1
Tidak seperti Devan yang sekarang melihat kalung liontin milik Ella yang tadi dia sempat ambil. Devan memikirkan apa yang dilakukan Ella sekarang. Devan menggenggam kalung itu dan mulai memejamkan mata. Entah sikapnya sungguh tak bisa ditebak. Mencintai Ella tapi tak tahu cara bersikap lembut padanya.
"Ya, Tuhan. Siapa yang harus aku pilih?"
.
.
Keesokan harinya, Devan bangun dan disambut kecupan manis di pipinya dari Elisa. Elisa duduk manis, terlihat dia sudah siap. Tidak seperti Devan yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Good morning," ucap Elisa tersenyum manis.
Devan hanya geleng-geleng kepala kepala lalu beranjak dari kasurnya. Devan memasuki kamar mandi untuk siap-siap ke kantornya.
Setelah mandi, keperluan Devan telah disiapkan oleh Elisa. Elisa bahkan yang memasangkan dasi untuk Devan. Tapi, di wajah Devan tak terukir senyuman, ia sedang memikirkan Ella.
"Sayang, kok kamu diam sih," desis Elisa merasa diabaikan.
"Hm, kenapa?" tanya Devan segera sadar. Elisa tak menjawab, melainkan memeluk Devan.
"Dev, aku sangat mencintaimu. Aku jauh-jauh dari LN hanya untuk bertemu denganmu, aku tak sabar menjadi istrimu. Tapi, apa kau masih mencintaiku?" tanya Elisa lagi. Pertanyaan ini mulai membuat Devan bimbang.
"Sayang, kamu kenapa sih!" ketus Elisa menyilangkan tangan. Mulai kesal melihat Devan diam terus.
Setelah membuka pintu, keduanya terkejut melihat Maysha menangis memanggil Ella.
"Bun-nah, Bun-nah mana?"
"Bun-nah, May-maysha mau Bun-nah." Maysha menangis lalu melihat Devan dan Elisa mendekatinya.
"Maysha, sayang ... kenapa?" tanya Elisa.
"Bun-nah, Bun-nah cidak ada. Dejhi, Bun-nah pelgi." Tangis Maysha mencari-cari Ella dari tadi.
Deg!
Jatung Devan berdetak keras, sangat terkejut mendengar tangisan Maysha. Devan segera pergi mengecek ke kamar Ella. Ternyata benar, kamar Ella kosong. Devan mengepal tangan merasa Ella benar-benar sudah mengabaikan ucapannya kemarin.
Devan dengan buru-buru keluar, tapi ditahan oleh Elisa yang kini menggendong Maysha.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Elisa.
"Maaf, El. Aku harus mencarinya, Maysha membutuhkannya. Kamu jagalah Maysha." Devan pergi keluar dari Villa dan tak sengaja bertemu Hansel.
__ADS_1
"Presdir, anda mau kemana?" tanya Hansel menahan Devan sebentar.
"Aku harus mencari Ella. Maysha menangis di dalam. Tidak disangka, dia malah pergi dari Villaku tanpa izin dariku." Kata Devan kembali berjalan, tapi Hansel menahannya.
"Tunggu, Presdir. Kemana anda akan mencarinya?" tanya Hansel. Devan berhenti, kini ia sadar.
Devan pun meraih kunci mobil Hansel dan berlari ke arah mobil Hansel. Hansel kini cemas, ia tahu jika Devan akan ke panti asuhan. Tempat yang pasti akan didatangi oleh Ella, karena rumah Ella terkenci dan kuncinya ada di tangan Devan. Kini Hansel hanya berharap Ella akan baik-baik saja.
Hanya beberapa saat saja, mobil hitam berhenti di depan panti asuhan. Devan turun dan mengepal tangannya. Devan berjalan masuk, seketika itupun, anak-anak panti menghampirinya.
"Wah, ada Om Devan!" teriak Anak-anak panti. Tapi, Devan mengabaikan mereka. Devan berjalan menuju ke pintu utama. Raut wajah Devan memendam amarah.
"Eh, Nak Devan datang ke sini mau apa?" tanya Bu panti keluar dari dalam rumah dan segera menghampiri Devan.
"Di mana, di mana Istriku?" tanya Devan pada Bu panti. Bu panti terdiam tak menjawab. Tapi, anak-anak panti menunjuk ke samping rumah, menunjuk Ella yang lagi duduk sendirian di sebuah bangku.
"Itu, Om. Kak Ella-Nya!" Tunjuk mereka. Devan menoleh dan mengepal tangan segera pergi ke arah Ella.
"Ella!" panggil Devan segera menarik Ella berdiri lalu memegang kedua lengan Ella dan menatapnya serius.
"Beraninya kamu mengabaikanku!" bentak Devan. Tapi, Ella hanya diam saja.
"Apa kau tuli, ha!" Sekali lagi Devan membentaknya. Tapi, Ella hanya diam saja. Melihatnya seperti ini, membuat Devan mulai geram. Tapi sebelum menariknya pergi, Bu panti menahannya.
"Tunggu, Nak Devan. Janganlah kasar padanya, kemarin dia hampir bunuh diri. Setelah kemarin kami berhasil menghentikannya, Ella hanya diam terus saja. Lebih baik, bersikap lembutlah padanya." Jelas Bu panti membuat Devan sangat terkejut mengetahui Ella ingin mengakhiri hidupnya.
Devan mulai kasihan, tangan kanannya dikepal lalu menarik Ella. Tapi, Ella tiba-tiba terkejut melihat Devan. Ella mulai memberontak.
"Tidak, jangan bawa aku pergi. Tolong, lepaskan aku, Tuan." Ella memohon. Melihatnya begitu menyedihkan, membuat Devan segera memeluknya. Anak-anak panti terkejut melihat dua orang saling berpelukan. Ella menangis kembali, pelukan ini yang dia rindukan. Sangat menenangkan dirinya. Ella sesugukan dan akhirnya pingsan.
Devan terkejut melihatnya, dan segera mengangkat Ella dan pamit pada Bu panti. Bu panti hanya tersenyum saja melihat Devan begitu mencemaskan Ella. Devan memasukkan Ella ke dalam mobil, mendudukkan Ella di dekat kursi pengemudi. Devan pun memutari mobil lalu masuk duduk di kursi pengemudi. Sebelum meninggalkan panti asuhan. Devan menoleh melihat Ella. Devan mengepal tangannya lalu menyentuh wajah Ella.
Tangan Devan gemeteran melihat Ella yang amat menyedihkan. Tanpa dia sadari, ia langsung memeluk Ella yang tak sadarkan diri. Memeluknya erat, merasa bersalah.
"Maafkan, aku. Ella ...."
Butiran berhasil jatuh dari mata Devan. Mulai tak tega melihat gadis polos ini tersakiti atas perbuatannya. Devan melihat wajah Ella dan dengan lembutnya mencium kening Ella dan sekali lagi memeluknya. Sungguh dirinya bodoh telah menyakiti gadis baik seperti Ella.
"Maafkan, aku."
..._____...
...~ Vote ya guys, biar author semangat ~...
__ADS_1
...🔥🔥🔥...