
Elisa di dalam kamarnya masih memeluk guling memikirkan cara serta diam-diam menangis dan melihat surat nikah Devan di tangannya. Masih tak sangka Devan benar-benar menikahi perempuan lain.
"Apakah dia sudah bosan padaku? Padahal, aku begitu setia padanya. Tapi, dia malah berkhianat! Menikahi perempuan miskin dan yatim seperti dia!" decak Elisa melihat foto dan biodata Ella di surat nikah Devan.
"Aradella? Jadi ini nama aslinya?" pikir Elisa merasa nama ini tak asing baginya.
"Ck, namanya begitu jelek! Sama halnya dengan orangnya. Aku lebih cantik dari perempuan ini, tapi Devan malah menikahinya!"
"Tapi," ucap Elisa duduk memeluk gulingnya masih menatap foto Ella dan Devan.
"Kenapa Devan dan dia nikah kontrak? Apa ada alasan yang sudah membuatnya menikahi Ella? Atau jangan-jangan Devan terpaksa menikah dengannya?" pikir Elisa mulai tenang sambil membaca surat kontrak Devan.
"Benar, ini pasti awalnya dia tidak mencintai Ella. Aku yakin, Ella memang sengaja menggoda Devan hingga calon suamiku bisa mudah masuk keperangkapnya! Ella, kau benar-benar gadis penggoda!" decak Elisa berpikir jika Ella telah menjebak Devan.
"Aku akan rebut dan sadarkan Devan. Aku yakin, Ella pasti jelmaan siluman rubah licik!" Elisa berdiri menyimpan surat nikah dan kontrak Devan. Baru saja mau keluar kamar, ponsel Elisa berdering.
"Mamah?" ucap Elisa melihat nama kontak. Elisa menggegam ponselnya, merasa sedih dan kecewa pada Devan. Berpikir, jika Ibunya tau ini, pasti akan terkejut setelah mendengarnya.
"Halo, Mah. Ada apa?" tanya Elisa mulai bicara sambil duduk di tepi ranjang.
"Sayang, kamu kenapa belum datang ke sini? Pesta kamu tidak akan lama lagi sudah siap, Nak," jawab Ibunya Elisa terdengar cemas. Elisa menunduk lalu mengusap matanya yang berair.
"Ini, aku lagi siap-siap Mah sambil nungguin Devan," jawab Elisa terpaksa berbohong. Meski begitu, Ibunya Elisa merasa curiga. Apalagi suara Elisa sedikit serak dalam panggilan ini.
"Sayang, kamu habis nangis?" tebak Ibunya Elisa. Elisa berdiri dan segera menghirup udara lalu menormalkan nafasnya.
"Tidak kok, Mah. Aku tidak habis menangis." Elisa mengeleknya.
"Nak, apa ada masalah antara kamu dan Devan? Kenapa Mama merasa kalian habis bertengkar. Kalian baik-baik saja, kan?"
"Ka-kami baik-baik saja kok, Mah. Oh ya, kenapa Mama bilang begitu?" tanya Elisa mengalihkan pembicaraan.
"Nak, jangan bohong. Tadi, Mama hubungi Devan. Mama merasa Devan tidak lagi seperti dulu. Cara bicaranya ke Mama begitu formal seperti orang lain saja. Kalian habis bertengkar ya?" tebak Ibunya Elisa lagi membuat Elisa terdiam.
"Astaga, ternyata Devan benar-benar sudah berubah. Ini gara-gara gadis penggoda itu!"
Elisa duduk kembali sambil menggenggam seprai di dekatnya. Mulai diam-diam menangis kembali.
"Elisa, kenapa diam saja, Nak?" ucap Ibunya Elisa semakin cemas mendengar suara kecil Elisa yang nampak menahan tangisnya.
"Maaf, Mah. Aku tak bisa menjawabnya." ucap Elisa langsung menangis membuat Ibunya sungguh terkejut.
"Elisa, katakan sama Mama, apa yang sudah terjadi, Nak? Kenapa malah berkata seperti itu?" Elisa hanya diam saja mendengar suara panik dari Ibunya.
__ADS_1
"Mama, Devan ... dia-" ucap Elisa terhenti mencoba menenangkan dirinya.
"Devan kenapa?" tanya Ibunya Elisa semakin panik.
Elisa menghirup udara sebentar. Baru saja ingin menjawab Ibunya, suara ketukan dan suara Devan terdengar dari luar kamarnya.
"Devan, tidak apa-apa, Mah. Mamah tidak usah kuatir, kami baik-baik saja kok. Kalau gitu, aku matiin dulu ya Mah. Mama tunggu Elisa saja, Devan dan aku pasti akan hadir, Mah," ucap Elisa segera mematikan ponselnya membuat Ibunya terkejut dan semekin cemas saja. Tapi, kini ia hanya bisa berharap putrinya baik-baik saja sekarang.
Elisa mengusap kedua matanya lalu berjalan ke arah pintu membukanya untuk Devan. Elisa terkejut melihat Devan menerobos masuk segitu saja. Devan melihat sekeliling kamar mencari sesuatu yang tak lain adalah surat nikah dan kontraknya. Elisa mulai kesal merasa diabaikan lagi.
"Elisa!" Devan berbalik melihatnya. Raut wajahnya tentu marah pada Elisa.
"Di mana surat nikahku!" ujar Devan memintanya. Elisa menunduk, lalu tertawa bodoh. Awalnya Elisa berpikir Devan akan datang untuk meminta maaf sudah menolak ajakannya. Tapi, ternyata malah datang meminta surat nikah.
"Ahaha, surat nikah?" tawa Elisa kini melihatnya.
"Elisa, jangan tertawa saja. Berikan surat nikahku sekarang!" ucap Devan tetap memintanya.
"Kau datang-datang malah menuduhku? Apa kau punya bukti aku yang mengambilnya?" Elisa menyilangkan tangan di depan dadanya lalu tersenyum miring menyembuyikan kesedihannya. Devan maju mendekatinya lalu menatapnya tajam.
"Tidak usah berlagak sok begini padaku, aku melihatmu dari CCTV keluar dari kamarku membawa surat-surat. Aku yakin, kau pasti mengambilnya!" tuduh Devan sekali lagi.
"Hah? Memangnya kenapa kalau aku ambil?" Elisa duduk di tepi ranjang dan mulai memainkan ponselnya. Devan menggertakkan giginya, kesal melihat Elisa malah mengabaikannya.
"Penting? Benarkah? Lalu bagaimana denganku? Apa aku tak penting bagimu?" ucap Elisa berdiri di depannya. Menatap Devan serius.
"Cukup, Elisa! Kau tak pernah begini sebelumnya, jangan mempermainkan aku. Berikan padaku surat-surat yang kau ambil semua!" ujar Devan mulai emosi membuat Elisa mundur tak sangka Devan membentaknya.
"Aku tak pernah begini sebelumnya karena ini gara-gara kau, Devan! Kau juga tak pernah begini sebelumnya, dan ini semua gara-gara-" ucap Elisa terhenti mencoba mengatur nafasnya yang mulai sesak apalagi perih di dalam hatinya.
"Hiks, kau berubah gara-gara gadis miskin itu!" ujar Elisa mulai terisak. Devan terdiam, marah campur kecewa pada dirinya sendiri, terutama cacian Elisa pada Ella.
"Sudah, tidak usah berakting di depanku dan jangan salahkan Ella lagi. Dia istriku, kau jangan berkata begitu terhadapnya!"
"Ha? Istri? Dia cuma Istri kontrak, Devan. Kau bisa menceraikannya, dia mana mungkin layak jadi istrimu. Aku yang harusnya jadi istrimu! Bukan gadis penggoda itu!" pekik Elisa menunjuk pintunya. Devan mengepal tangan tak sangka Elisa tahu pernikahan kontraknya, apalagi mendengar amukan Elisa yang mulai memuncak.
"Cukup, Elisa! Dia bukanlah gadis penggoda yang kau pikirkan ini!" bentak Devan membela Ella, tak terima ucapan Elisa.
"Jadi, jangan salahkan Ella lagi di hadapanku!" lanjut Devan mulai berbalik mengabaikannya tak mau lagi berdebat lalu berjalan ke arah lemari untuk mencari surat-suratnya sendiri. Namun, Elisa segera menahan Devan sambil memeluknya dari belakang.
"Baiklah, aku tak akan salahkan dia lagi. Tapi-" ucap Elisa terhenti melihat Devan terkejut mendengar pengakuannya.
"Jadi kau sudah mengerti?" tanya Devan menatapnya serius.
__ADS_1
"Ya, aku sudah mengerti. Aku tak akan salahkan dia lagi, tapi-"
"Tapi, apa?" tanya Devan menatap kedua mata Elisa.
"Tapi, aku ingin kau ceraikan dia sekarang juga!" ucap Elisa dengan nada tinggi. Devan terkejut mendengarnya, lalu berbalik membelakanginya lagi.
"Itu tak akan terjadi. Dia akan tetap jadi Istriku. Sekarang, kau siap-siap saja, Hansel akan datang menjemputmu pulang ke rumahmu."
Kedua mata Elisa melebar, rasa sakit di dalam hatinya mulai terasa. Elisa langsung berteriak.
"Tidak! Aku tak mau pulang bersama Hansel. Mama ingin aku pulang bersamamu hadiri pestaku, Devan. Kau jangan perlakukan aku seperti ini. Kita sudah lama pacaran, dan aku sama sekali tak pernah memperlakukanmu seperti ini," ucap Elisa mulai menangis di belakang Devan. Air matanya mulai turun deras.
"Kenapa, kenapa kau perlakukan aku begini, Dev. Aku sudah lama mencintaimu, tapi kau malah ingin batalkan pertunangan kita demi mempertahankan istri bodohmu itu. Pernikahanmu ini hanyalah pernikahan kontrak, kau yang memegang kuasa atas pernikahan ini. Kau bisa menceraikan dia kapan saja, bahkan sekarang pun kau bisa ceraikan dia. Lalu kita bisa langsungkan pernikahan kita sendiri." Jelas Elisa menutup wajahnya menahan tangisnya.
"Elisa, mengertilah. Aku mencintainya, dan besok kontrak itu tak ada artinya. Sekarang, berkemaslah dan siap-siaplah untuk pulang." kata Devan akhirnya berhasil menemukan surat nikah dan kontraknya. Devan berbalik dan tak sangka Elisa benar-benar menangis bukan lagi berakting. Merasa tak tega juga, tapi inilah kenyataannya. Devan mulai berjalan ingin keluar namun Elisa menahan tangannya.
"Ku mohon, Dev. Jangan perlakukan aku begini. Ku mohon, ceraikan dia. Dia tak seharusnya berada di sini. Aku ini cinta pertamamu. Kau bilang kau hanya akan menikahiku saja, bisakah kau buktikan perkataanmu itu sekali ini saja." Mohon Elisa dengan kedua matanya yang sembab. Devan terpaksa menepisnya.
"Elisa, aku minta maaf. Itu tak akan bisa ku buktikan lagi." Devan mulai berjalan kembali mengabaikannya.
"Jahat! Hiks, kau jahat, Dev! Kau dan dia sama-sama brensek! Bajing_an!" teriak Elisa mengeluarkan hinaannya. Devan langsung berhenti, tak sangka mendengar perkataan kasar itu. Devan berbalik menatapnya tajam.
"Cukup, Elisa! Jaga ucapanmu itu!" bentak Devan tak terima.
"Jaga ucapanku? Hahaha, kau yang harusnya jaga sikapmu! Jika, Ayahku tahu hal ini, kau dan keluargamu akan dalam masalah!" teriak Elisa membentak juga. Mata Devan melebar, mulai geram mendengar Elisa seakan mengancamnya. Devan dengan amarahnya langsung mengayungkan tangan ingin menggampar Elisa. Elisa membola dan langsung menunduk.
"Jangan, hentikan!"
Plak!
Tamparan keras bagaikan pukulan berhasil menggampar kepala Ella yang tiba-tiba berdiri menghalangi Devan agar tak menampar Elisa. Tapi sayangnya, Ella malah yang terkena dan langsung jatuh pingsan. Kedua mata Devan dan Elisa melebar melihat Ella tak sadarkan diri.
"Ella!" Devan sangat terkejut dan segera mengangkat Ella lalu menatap benci ke arah Elisa. Devan keluar segera membawa Ella pergi ke kamarnya. Memang dalam perdebatan ini, Ella diam-diam menguping dan saat melihat Devan yang termakan emosi ingin menampar Elisa, Ella malah masuk untuk menghalangi agar tak terjadi tindak kekerasan di villa ini.
Elisa terduduk di lantai lalu melihat pantulan dirinya di cermin lemari. Elisa menutup wajahnya lalu menangis sejadi-jadinya. Tak habis pikir Ella malah masuk untuk menghentikan Devan.
"Kenapa ... kenapa gadis bodoh itu melindungiku?"
..._____...
...Maaf baru upload😭lagi sibuk bantu orang tuaku buat sambut hari raya besok🙏ku harap kalian bisa mengerti ya🙏...
...~SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI~...
__ADS_1
...✨Minal Aidzin Wal Faidzin✨...