Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 92 : Buat Debay, Sayang


__ADS_3

Setelah melepaskan kerinduan, tentu Elisa tak akan mempermasalahkan lagi hubungan Ella dengan Devan. Bahkan Elisa tiap hari ke rumah sakit, bukan untuk menemui Devan tapi adiknya, Ella. Datang untuk berkunjung dan menemaninya, membuat Devan jadi tak punya kesempatan untuk bersama Istrinya sendiri.


Dua minggu sudah berlalu, Ny. Chelsi masih saja dalam pendiriannya tidak mengenal bahkan tidak mengakui Ella sebagai putrinya. Hal ini tentu membuat Elisa kecewa pada Ibunya sendiri. Berbagai macam alasan yang diberikan untuk Ibunya tapi Ny. Chelsi tetap mengelak tak memiliki dua putri. Hingga akhirnya, Tn. Vian geram merasa kecewa sudah ditipu dan akhirnya pergi dari rumah. Wanita ini kini terpuruk di rumahnya sendiri, membatalkan kontrak kerjanya dan mengurung dirinya di kamar.


Tidak seperti Devan sekarang, yang duduk di ruangan Ella. Melirik ke arah Istrinya yang sedang tersenyum bercanda gurau bersama Elisa, bercerita masa-masa kecil mereka. Namun ini membuat Devan cemburu, tak punya waktu mendekati Ella. Hansel yang duduk senantiasa bersama Devan, tentu hanya tertawa dalam hati melihat wajah Atasannya ditekuk kesal.


"Ahaha, apa Presdir sedang cemburu?" tebak Hansel akhirnya tertawa melihat Devan cemberut lalu nyengir seakan meledek atasannya. Sontak Devan meliriknya sinis.



"Ck, apa kau pikir ini lucu?" decak Devan menggertakkan rahang.


"Ayolah, Presdir. Nona Elisa kakak kandung Istri anda. Presdir, tak usah kuatir padanya. Nona Elisa tak akan mencelakainya." Hansel melirik Elisa dan Ella yang tertawa kecil, sibuk melihat sesuatu di ponsel.


"Meski begitu, aku harus pastikan tak ada niat lain di kepalanya." Kata Devan serius ingin membaca pikiran Elisa.


"Tidak usah mencurigainya, Presdir. Aku yakin, Nona Elisa tulus datang kemari hanya untuk-"


"Bentar," ucap Devan memutuskannya.


"Kenapa aku merasa kau seakan membelanya, apa kau menyukai Elisa?" tebak Devan membuat Hansel diam mematung.


"Nah, kan ... kau pasti sudah diam-diam menyukainya, kan?" Sekali lagi Devan menebaknya.


"Ahaha, mana ada. Aku tak mungkin menyukai mantan kekasih Atasanku." Hansel tertawa kecil lalu berdiri dipanggil oleh Elisa.


"Sekretaris Hansel," panggil Elisa mendekati dua pria ini.


"Ya, Nona. Ada apa memanggil saya?"


"Bisakah kau mengantarku pulang," pinta Elisa melihat Hansel saja, tak ada niat sedikitpun ingin melihat Devan.


"Baiklah, mari Nona. Presdir, saya permisi dulu." Hansel menunduk pamit lalu berjalan duluan keluar ruangan. Devan cemberut, melihat Hansel yang tadi sok akrab tiba-tiba sopan padanya bila ada Elisa.


"Devan," panggil Ella menatapnya dari brankar.


Devan berdiri mendekatinya. "Kenapa, Sayang?" Devan duduk di tepi brankar lalu tersenyum dan dengan lembut menyentuh poni istrinya. Ella menunduk tersipu mendengar panggilannya. "Apa malam ini kita akan pulang?" Ella kali ini yang bertanya.


"Ya, Sayang. Kita akan keluar sementara dari rumah sakit. Setelah mengadakan pernikahan kita, kamu akan melanjutkan programmu di sini lagi," jawab Devan memastikan keinginannya untuk membawa Ella ke mansion orang tuanya dan ingin segera melangsungkan pernikahan besok.


"Kamu tidak apa-apa kan? Apa batukmu masih ada?" tanya Devan menggenggam tangan Ella dengan lembut.


Ella mengangguk tersenyum. "Aku sudah baikan, batukku sudah lumayan berkurang. Bahkan cuma sekali-dua kali dalam sehari." Devan menghembus nafas lega lalu dengan lembutnya mengelus perut Ella, merasakan kehamilan Istrinya yang sudah lima minggu. Ingin rasanya melakukan pengecekan terhadap perut Ella, ingin tahu bagaimana bentuk debaynya. Tapi Devan nampak menundanya sebentar.

__ADS_1


Tok Tok Tok


"Permisi, Pak," ucap Suster mengetuk pintu ruangan, lalu masuk ke dalam mendekati Devan dan Ella.


"Kenapa, Suster?" tanya Devan berdiri. Suster memberikan sebuah kresek kecil lalu menjawab, "Ini resep obat-obat Istri Pak Presdir sebelum pulang. Mohon ikuti anjuran Dokter yang tertera di sini." Tunjuk Suster itu pada sebuah kertas lalu menunduk. "Saya permisi, Pak." Suster keluar pergi meninggalkan Devan yang masih berdiri.


"Ada apa, kenapa melihat obat itu?" tanya Ella menggaruk tangannya yang sedikit gatal.


"Hm, tidak. Sekarang kita siap-siap, malam ini aku sendiri yang akan mengemudi, Sayang." Devan tersenyum lalu mencium kening Ella, mulai membereskan barang-barangnya. Ella hanya bisa melihat Devan mulai sibuk, tubuhnya memang sudah membaik, hanya hatinya yang sedikit belum membaik, masih memikirkan Ibunya yang tak mau mengunjunginya.


"Kemarilah, aku akan membawamu." Devan mengangkat Ella, membuat gadis ini terkejut. "Tidak perlu menggendongku, aku bisa jalan sendiri." Ella protes takut akan jatuh ke lantai.


"Tidak usah menolak, aku bisa kok angkat kamu bersama tas ini. Kau hanya perlu menutup mata memikirkan kita akan cepat sampai ke mobil." Devan dengan coolnya mulai berjalan. Ella hanya berpegangan erat dan menutup mata. Bukan karena takut jatuh, tapi malu dilihat oleh pengunjung rumah sakit dan benar saja mereka tertawa kecil melihat tingkah pasutri ini yang lucu.


"Devan, kamu turunkan aku saja." Mohon Ella tersipu melihat wajahnya.


Tanpa rasa malu, Devan malah menolak. "Diam, kalau kau masih memohon lagi, aku akan cium kamu di depan mereka." Ella membola lalu mengangguk paham sudah diancam, dari pada dipermalukan dicium terang-terangan nanti.


Sesampainya di mobil, Devan langsung dengan sigap memasangkan sabuk pengaman lalu memakaikan kemejanya ke tubuh Ella. "Kalau kamu merasa dingin, bilang saja. Aku akan menghubungi seseorang membawakan selimut ke sini." Kata Devan mulai perhatian.


Ella tentu kaget mendengarnya lalu menolak segera. "Tidak usah, cuaca malam ini tidak dingin." Senyum manis Ella membuat Devan akhirnya yakin. "Baiklah, kita pulang sekarang. Ku harap kamu bisa terbiasa sama keluargaku." Elus Devan pada rambut Ella dan tersenyum melihat Istrinya mengangguk, menunduk senyum-senyum sendiri. Mobil pun melaju meninggalkan rumah sakit.


Tak memakan waktu lama, mobil Devan akhirnya sampai juga. Kedua mata Ella membola melihat rumah yang amat indah, besar dan luas terpampang di depannya. Sungguh mengalahkan villa milik Devan.


"Aa!" jerit Ella kaget diangkat lagi, bahkan puncak kepalanya dikecup lembut oleh Devan. "Sekarang kita masuk, Mami dan Papi pasti akan senang melihatmu tinggal di sini." Devan mulai berjalan membuat Ella deg-degan takut menemui orang tua suaminya.


"Zeli, di mana Mami dan Papi?" tanya Devan mulai menurunkan Ella lalu mencari kedua orang tuanya.


"Tadi keluar, tapi sekarang mungkin lagi ada di jalan pulang. Tapi ini siapa, Bang?" ucap Zeli bertanya dan menatap tajam ke Ella. Ella mundur sedikit, bukan takut karena ucapan Zeli melainkan penampilannya yang tomboy.


"Zeli mulai sekarang kamu jaga sikap! Dia Aradella, Istriku."


Zeli mematung mendengarnya. "Your wife? Are you crazy saying that?" kaget Zeli mengatai Devan sudah gila tiba-tiba pulang membawa seorang Istri ke mansion ini.


"Jaga cara bicaramu, Zeli! Dia, kakak iparmu. Kau jangan asal bicara seperti itu!" tegas Devan. Maklum Zeli memang tak tahu hal ini, karena bocah tomboy satu ini cuma tahu keluyuran hingga ketinggalan berita.


"Cih, you are quite good at seducing my big brother. Hmp!" Zeli mendecak lalu pergi ke dapur, kesal melihat Ella sudah berani merayu kakak tersayangnya.


"Maaf atas ucapan Zeli, dia memang sudah seperti itu," ucap Devan melihat Ella diam. Sifat songong Zeli memang sudah lama dan ini gara-gara Rafa yang suka dulu menjahili Zeli hingga anak ini bersikap layaknya tak mau ditindas.


"Tidak apa-apa, kok. Lagian aku tidak mengerti dia bicara apa, hehe." Ella cengengesan tak tahu bahasa English.


"Pfft, ahaha ...." Tawa Devan merasa geli mendengarnya, Ella hanya cemberut ditertawai.

__ADS_1


"Kemarilah, Sayang. Aku akan menyiapkan makanan lezat di rumah ini." Devan menarik Ella lalu membawanya ke arah dapur. Sontak ruangan itu membuat Ella mematung, begitu menyilaukan benda-benda yang amat bersih dan ruangan yang luas, apalagi pelayan-pelayan di sana tunduk menghargai kedatangannya.


"Ekhm, apa kau suka?" Ella sadar ditanyai oleh Devan. "Hm, ini luar biasa. Rumah Om dan Tante benar-benar indah." Pujian Ella membuat Zeli yang di kursi tertawa. "Ahaha, dasar kampungan!" ledek Zeli membuat Devan geram.


"Zeli!" bentak Devan ingin memberi pelajaran, benar-benar tak ada sopannya. Namun Ella menahannya, tahu adik iparnya belum terbiasa dengan kehadirannya.


"Tidak apa-apa, tidak usah marah. Dia cuma perlu butuh waktu untuk terbiasa." Ella tersenyum, hingga Devan pun akhirnya mengerti. Keduanya pun duduk saling berdekatan, dan seketika Rafa turun dengan datarnya hanya diam duduk di dekat Zeli. Tak ada suara sapaan yang dikeluarkan Rafa. Ella hanya diam di kursi melihatnya seperti itu. Baru mau memulai makan malam, suara wanita membuyarkan suasana yang canggung ini.


"Wah wah, semuanya sudah datang. Suamiku sayang, kau memang pintar memprediksi kedatangan anak dan menantu kita. Untung kita pulangnya tepat waktu." Kata Ny. Mira bermanja pada suaminya, Tn. Raka.


"Ho, ia dong. Aku kan suami idamanmu, sayang." Puji Tn. Raka pada dirinya sendiri.


"Ululu, kau memang idamanku, tak salah aku menikah denganmu. Lihatlah, anak kita saja sudah pintar membawa Istrinya ke sini." Sekali lagi kemesraan pasutri satu ini membuat Rafa dan Zeli hanya memutar bola mata jengah, merasa muak. Pasti tiap hari melihat kemesraan orang tua mereka, hingga jiwa jomblo keduanya meronta-ronta bagaikan cacing kepanasan.



"Sayang, malam ini kita lebih baik ke kamar. Biarkan makan malam ini kita serahkan mereka di sini," ucap Tn. Raka menatap wajah Istrinya.


"Ululu, buat apa?" tanya Ny. Mira gemas mencubit pipi suaminya. "Buat Debay, sayang." Bisik Tn. Raka menggoda telinga Istrinya. Ny. Mira bukannya senang malah menjewer telinga Tn. Raka. "Aaaaa, ampun sayang. Aku bercanda kok." Jeritannya membuat tiga anaknya dan Ella menunduk diam-diam tertawa.


"Mesum!" cetus Ny. Mira mengabaikannya dan pergi ke kursi dekat menantunya. Tn. Raka cemberut tak diberi jatah malam.


"Wah, menantu Mami sudah sehat ya," ucap Ny. Mira memberi senyuman manisnya. "Ia, Tante." Ella gugup menjawabnya. Ny. Mira mengelus lengan Ella lalu tersenyum lagi. "Panggil, Mami. Kamu ini sudah jadi menantu di sini. Jadi, tidak usah malu-malu." Senyum Ny. Mira membuat Ella mengangguk paham.


"Dan oh ya, kalau suamimu buat masalah, katakan saja sama Mami. Mami akan beri pelajaran, kau tenang saja. Mami juga pintar karate loh, bisa mematahkan tangan dan kaki orang kalau ada laki-laki yang berani menyakitimu." Jelas Ny. Mira membuat Ella merinding. Devan menggelengkan kepala, merasa perkenalan ini benar-benar salah.


"Ia, Tan ... eh, Mami." Kata Ella gugup lalu melihat Devan. Rafa dan Zeli sekali lagi memutar bola mata jengah, mendengar ucapan Ibunya. Ah benar, tentu saja Ny. Mira wanita yang tidak mudah ditindas hingga Tn. Raka tak bisa berpindah ke lain hati.


Suasana makan malam akhirnya bisa dilewati dengan mudah oleh Ella. Tinggal besok hari pernikahan dadakan itu akan dilangsungkan. Saat semuanya sudah kembali ke kamar masing-masing kecuali Ella dan Devan, tiba-tiba saja suara kegaduhan dan sedikit desahan keluar dari kamar di dekatnya.


"Kenapa, Sayang?" tanya Devan melihat Ella berhenti. "Itu, apa yang ada di dalam? Kenapa aku mendengar suara aneh?" Ella menunjuk pintu.


"Pfft, ini itu kamar Papi dan Mami-" ucap Devan mendekati telinga Ella. "Mereka lagi buat," bisik Devan berhenti.


"Buat apa?" tanya Ella terlihat polos. "Buat Debay, Sayang." Sekali lagi Devan berbisik membuat Ella merona memikirkannya.


"Iiih, kau mesum!" cetus Ella berjalan meninggalkan Devan yang tertawa ngakak. "Pfft, ahaha." Devan lari mengejarnya. "Dia yang tanya, dia yang juga marah. Apa salahku coba?" pikir Devan geleng-geleng kepala. Pasutri ini pun masuk ke dalam kamar mengistirahatkan tubuh mereka. Bersiap-siap untuk hari yang bahagia besok. Malam ini sungguh malam yang indah untuk Delvan, apalagi pasutri satunya yang masih bertempur di kamar mereka.


...________...


...Karena masih ada yang minta next jadi author lanjut, semoga tidak membosankan ya😉😄🍭🍭🍭...


...Beri like & komen untuk tetap lanjut...

__ADS_1


...Terima kasih Hunny❤...


...Instagram : @asti.amanda24...


__ADS_2