
Pasangan ini sudah selesai membersihkan riasan dan diri mereka. Lelah rasanya setelah melangsungkan pernikahan mereka yang berjalan lancar tadi Sore.
"Sayang, kamu kenapa tiba-tiba diam tadi?" Devan menyadarkan Istrinya yang duduk melamun di dekatnya. Bahkan beberapa kali pun Devan berbicara, Ella masih saja tetap diam.
"Sayang ...." Bisik Devan ke telinga Ella hingga akhirnya sadar lalu menatap Devan. "Hm, ada apa?" tanya Ella kebingungan.
"Loh, kenapa malah tanya balik?"
Ella cengengesan mendengarnya. "Maaf, tadi aku lagi memikirkan sesuatu," jawab Ella akhirnya sadar sepenuhnya. Devan geleng-geleng kepala, menepuk pelan kedua pipi Ella dan menebak isi kepala dengan melihat kedua mata Istrinya.
"Apa kau memikirkan Ibumu?"
"Atau Maysha?"
Dua pertanyaan ini membuat Ella menunduk lalu dengan lirih menjawab sedih. "Benar ... aku pikir tadi Ibuku datang, ternyata aku salah lihat. Dia benar-benar tidak datang," ucap Ella menyapu pinggir matanya.
"Apa Ibuku masih membenciku?" lanjut Ella bertanya. Devan menatap Istrinya lalu dengan lembut mengelus kepala Ella.
"Tidak usah sedih, Ibuku kan ada. Jadi anggap saja semua orang di sini keluargamu." Hibur Devan tersenyum. Senyum yang sangat disukai Ella.
"Hm, tapi aku selalu berharap dia dan Tuan Vian akan datang hari ini." Sekali lagi Ella membicarakan Ibunya serta Tn. Vian sambil menyentuh dadanya. "Setidaknya dia mau memberiku ucapan, tapi nyatanya cuma Kak Elisa yang datang." Keluhnya lagi menatap Devan.
"Apa kau berniat ingin mengunjunginya?" Ella sontak diam ditanya barusan. "Ya sudah, kamu tidak usah pikirkan. Kalau ada waktu, kita yang akan pergi mengunjunginya." Kata Devan mengerti perasaan Ella yang bercampur aduk antara senang dan sedih.
"Baiklah, aku hanya ikut kamu saja." Ella tersenyum manis diacak-acak rambutnya. Keduanya pun berdiri untuk makan malam bersama. Setelah membuka pintu kamar, keduanya terkejut melihat Maysha tersenyum lebar di depannya.
"Dejhi sama Bunda mau kemana?" tanya Maysha melihat keduanya tertawa kecil. Gadis kecil ini akhirnya diberi izin untuk tinggal semalam di mansion dan tentunya tidur di kamar Nenek dan Kakeknya. Devan menggendong Maysha, lalu mencubit hidungnya yang imut.
"Maysha sudah berat ya, jadi tidak bisa digendong nih."
"Ihihi, Maysha sudah besal!" tawa Maysha cekikikan. Ella hanya tersenyum melihatnya, rasa iba terhadap Maysha masih ada. Ella kasihan melihat senyum Maysha yang nampak dipaksakan.
"Bunda cantik kenapa diam?" girang Maysha memanggilnya. Anak yang menggemaskan ini hanya membuat Ella tertawa kecil. "Tidak apa-apa." Kata Ella dengan lembut mengelus pipi kanan Maysha. Ketiganya pun turun ke ruang dapur, namun Maysha tiba-tiba sedih memanggil Ibunya.
"Dejhi, Mommy Maysha mana?" tanya Maysha menunduk. Pertanyaan ini yang selalu dilontarkan dari mulut kecilnya.
"Mommy lagi di luar Negeri, beli oleh-oleh buat Maysha. Jadi tidak usah sedih, nanti Mommy Maysha tidak akan pulang." Hibur Devan cuma bisa berbohong lalu kembali berjalan. Maysha hanya memeluk Devak lalu menyembunyikan wajah imutnya di bahu saudara kembar Ibunya ini.
Melihat Maysha seperti itu, membuat Ella yang jalan di belakang hanya bisa menatapnya kasihan. Benar-benar terlihat seperti dirinya dulu yang ditinggal oleh Ny. Chelsi. Ketiganya sudah duduk di kursi masing-masing, seperti halnya kedua mertua Ella dan Zeli sudah dari tadi menunggu mereka. Kecuali Rafa yang masih galau di kamarnya.
Tatapan Ella tak henti-hentinya melihat kursi Rafa, pasti masih ada sesuatu yang membuatnya kini seakan tak mau akrab dengannya. Bahkan Rafa benar-benar tak pernah menyapa Ella setelah penolakan cinta itu.
"Zeli, kamu naik gih panggil Abangmu. Ini harusnya dia turun makan malam." Suruh Ny. Mira pada Zeli yang sibuk dengan gadget di telinganya. Bocah satu ini malah tak mendengar panggilan Ibunya membuat Tn. Raka marah.
__ADS_1
"Zeli! Apa kamu tidak dengar yang dikatakan Ibumu?"
"Kenapa, Pi?" Zeli sontak bertanya balik membuat Tn. Raka menggertakkan rahang, greget dengan satu putrinya ini.
"Hehe, maaf. Kalau begitu aku naik dulu." Zeli cengengesan lalu lari ke atas. Tingkahnya barusan membuat Maysha yang lagi duduk di pangkuan Ella tertawa lepas. Ny. Mira dan Tn. Raka yang melihatnya merasa sedikit lega, kehadiran Ella dapat melihat cucu pertamanya bisa tertawa lagi.
"Oi, Bang!" panggil Zeli yang kini masuk ke dalam kamar melihat Rafa sedang duduk di balkon sambil memainkan gitarnya. Raut wajahnya sedih melihat rembulan di atas langit. Melihat Abangnya yang sangat galau, Zeli bukannya menghibur malah menertawainya. "Ahahaha, petikan gitarnya makin jelek amat. Bagusan panutanku yang handal, ahahaha." Tawa Zeli tak dapat berhenti.
Rafa tak peduli dan malah bersenandung, "Oh malam yang kelam, kenapa tiba-tiba ada tawa kuntilanak? Bukan ini yang aku inginkan, Ohh ... Markona." Nyanyian Rafa sontak membuat Zeli geram, marah semarah-marahnya.
"Enak saja! Siapa yang kuntilanak!" rutuk Zeli tak terima.
"Ooowooo ... lagi-lagi aku sepertinya mendengar suara suster ngesot protes." Sekali lagi Rafa bersenandung.
"Aaaa, Bang! Jangan gitu dong!" kesal Zeli menggigit kukunya, greget dirinya diejek habis-habisan.
"Gue ke sini panggil lu makan, Bang! Bukan minta lu nyanyi kayak gitu!" gerutunya marah-marah.
"Huoooo ... aku tak peduli, pergilah dari sini. Aku tak butuh cinta, maupun hatimu. Owwwooo ...."
"Aarg, ngeselin lu, Bang!" Zeli mendecak lalu pergi. Benar-benar bikin naik darah mendengar Rafa mengusirnya dengan cara seperti itu. Rafa melirik adiknya sudah keluar lalu dengan perlahan tertawa lepas.
"Ahahaha ... benar-benar penghilang stress." Tawanya perlahan menghilang lalu menunduk kembali. Gitarnya sudah tak bisa dipetik lagi. Lelah dan sedih harus terpaksa menghilangkan rasa suka terhadap Ella. Rafa menyapu pinggiran matanya lalu berdiri mengelus dadanya.
"Tenang, Rafa. Tidak apa-apa lu lepasin dia, lu masih bisa cari yang lain. Lu harus move on!"
"Lu masih tampan Rafa, dan masih bisa membuat cewek-cewek kepincut dengan ketampanan lu dan hatilu yang baik hati ini!"
Sekali lagi dengan percaya dirinya, Rafa hanya bisa tersenyum paksa lalu keluar dari kamar, turun untuk makan malam bersama. Ah benar, suasana kembali canggung. Hanya bisa diam diantara mereka selain Maysha yang merengek pada Ella untuk disuapi.
Tidak seperti Devan yang melirik Rafa, ingin tahu soal perasaan adiknya masih ada atau tidak untuk Ella. Rafa yang sadar membalas melirik. Kedua-duanya saling melirik sinis bagaikan sedang ingin memulai perang dingin. Ini membuat Ella jadi diam mematung tak sangka dua bersaudara ini bisa-bisanya membuat suasana makin panas.
"Ku harap, mereka tak berselisih nanti."
Usai makan malam, mereka pergi ke kamar masing-masing. Kini Ella meminum obatnya dan sedikit batuk. Setelah itu, merebahkan tubuhnya ke ranjang sambil menghadap ke samping membelakangi Devan yang sedang berganti pakaian. Rasa dag-dig-dug tentu belum berhenti, Ella takut Devan meminta untuk berhubungan suami-istri. Meski malam pertama mereka sudah dilalui bersama, Ella masih belum siap untuk melakukannya lagi.
"Huft, kenapa tiba-tiba aku kepikiran Maysha?" pikir Ella membuang nafas merasa sedih.
"Kenapa, Sayang?" tanya Devan rebahan di samping Ella. Sontak Ella berbalik dan terkejut melihat Devan tak memakai pakaian.
"Aaaah! Kenapa kau tidak pakai baju!" pekik Ella teriak langsung menutup mata. Merona habis-habisan melihat tubuh Devan semakin gagah.
Devan ingin tertawa tapi niatnya hilang melihat Ella berbalik membelakanginya. Devan pun duduk menatapnya, memperlihatkan roti sobeknya.
__ADS_1
"Apa tubuhku terlihat mengerikan sampai-sampai kau berteriak seperti itu?"
"Bu-bukan begitu, kau jangan buka baju sembarangan. Kan aku jadi kaget barusan!" cetus Ella masih membelakangi Devan yang hanya memakai celana pendek saja.
Devan mulai mendekati telinga Ella lalu berbisik sesuatu. "Oh aku tahu, kau pasti sedang memikirkan hal mecum kan, Sayang?" Sontak Ella membola lalu berbalik. Seketika jidatnya terbentur dada bidang suaminya. Seluruh tubuhnya mulai merinding melihat senyum Devan yang menyeringai tipis padanya. Bahkan Devan langsung mengunci tubuh Ella membuat mata wanita ini melebar melihat Devan sudah ada di atas tubuhnya.
"Ka-kau mau apa?" tanya Ella merona. "Aku tak perlu menjawab, kau pasti sudah tahu maksut tujuanku ini, Hunny." Bisikan Devan yang panas membuatnya semakin meronah memerah bagaikan tomat yang matang saja. Namun baru juga Devan mau merayu Ella, suara anak kecil membuyarkan kesempatan ini.
"Hm, Bunda lagi apa tuh?" Suara Maysha sontak membuat Devan dan Ella menoleh bersamaan. Benar, Maysha ternyata berdiri di dekat pintu sambil memakan agar-agar di tangannya, dan bingung melihat dua dewasa ini saling menindih.
"Aaaakh!" pekik Ella mendorong Devan segera lalu berdiri pergi ke arah Maysha. Sungguh benar-benar malu diciduk oleh anak kecil ini. Devan cemberut di atas ranjang.
"Maysha ke sini mau apa?" tanya Ella membawa Maysha ke arah ranjangnya.
"Mau bobo, Bunda," jawab Maysha mulai merengek.
"Eh, kenapa bukan di kamar Nenek?" tanya Ella kini duduk di tepi ranjang lalu mengangkat Maysha ikut duduk dengannya.
"Mimi sama Pipi lagi nonton, Bunda." Sekali lagi Maysha menjawabnya, agar-agar di tangannya belum kunjung dihabiskan. Devan pun berdiri untuk membawanya kembali ke kamar Ibunya.
"Sini bawa Maysha ke kamar Mimi."
"Em, tidak mau!" tolak Maysha memeluk Ella.
"Bunda, Maysha mau sini. Boleh?" mohon Maysha dengan keimutannya yang tiada tara. "Pfft, boleh." Devan membola mendengar Ella malah setuju.
"Sekarang Maysha tidur sini sama Bunda." Peluk Ella merebahkan Maysha lalu tidur mengabaikan Devan yang semakin ditekuk wajahnya. Maysha tertawa kecil lalu memejamkan mata. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya anak ini bisa tidur juga.
"Saaaayaang," bisik Devan tidur di dekat Ella lalu memeluknya dari belakang. "Kau mau apa?" tanya Ella kembali deg-degan.
"Aku jadi pengen,"
Deg!
"Pengen apa?" tanya Ella detak jantungnya seakan berpacu laju.
"Pengen punya 12 debay, bagus kan?" bisik Devan lagi tidak main-main. Ella terbatuk-batuk mendengarnya.
"Apa kau sedang sakit?" tanya Ella kini melihat Devan mengangkat alis. Bingung dengan pertanyaan Ella.
"Aku ini lagi sakit, Van. Mana bisa melahirkan sebanyak itu. Kamu mau aku cepat-cepat pergi selamanya hanya untuk memuaskan nafsu keinginanmu?" ucap Ella sedih.
"Hehe, maaf Hunny. Aku cuma bercanda, aku tak akan memaksamu lagi." Cengir Devan mengangkat dua jarinya membentuk huruf (V).
__ADS_1
Ella memeluknya lalu menenggelamkan wajahnya ke pelukan itu. "Ya, aku tahu kok." Kata Ella mengerti dan mulai perlahan tidur. Devan pun dengan lembut mencium kening Ella lalu mengucapkan ucapan selamat tidur.
"Good night, sweet dreams, Bebek kecilku."