
"Mama, siapa mereka?" Ny. Chelsi sedikit menelan ludah mendengar pertanyaan Elisa. Wanita ini langsung ingin merebutnya, namun Elisa dengan cepat menghindarinya.
"Berikan itu pada Mama, Elisa!" pinta Ny. Chelsi memintanya dengan tatapan serius.
"Mama jawab aku dulu, siapa mereka?" tanya Elisa tetap bersikeras ingin tahu.
"Itu tidaklah penting, sekarang berikan itu pada Mama!" Sekali lagi Ny. Chelsi memintanya.
"Tidak akan, sebelum Mama jawab aku dulu, jelas-jelas ini Mama, tapi Mama malah bilang ini tidak penting?" kata Elisa menunjuk foto Ny. Chelsi.
"Oh, jangan-jangan Mama sudah menyembunyikan sesuatu padaku, kan? Atau dia ini pasti selingkuhan Mama, kan? Jadi kerena itulah Mama jarang pulang-"
"Jaga ucapanmu, Elisa!" bentak Ny. Chelsi menampar tangan anaknya dan berhasil merebut foto itu, membuat Elisa sedikit kesakitan pada tangannya.
"Aargh! Kalau begitu Mama jujur, siapa mereka!" Elisa tak kalah membentak. Sangat ingin tahu siapa dua anak perempuan itu dan lelaki berkacamata itu. Sorotan mata Elisa bahkan begitu tajam.
"Wanita di foto ini saudara kembar Mama, mereka sudah lama meninggal," ucap Ny. Chelsi beralasan lagi dan melewati Elisa, berjalan ke arah kotak di atas kasurnya.
Elisa tidak percaya lalu mengepal tangan, berbalik menatap punggung Ibunya. "Bohong! Mama pembohong! Jelas-jelas ada nama Mama di balik foto itu. Mama pembohong!" pekik Elisa mulai mengamuk, merasa telah dibohongi. Namun kedua matanya membola melihat amarah Ibunya.
Plak!
Tamparan berhasil diberikan ke pipi Elisa, Ny. Chelsi geram dikatakan pembohong oleh putrinya sendiri. Namun amarahnya hilang ketika melihat Elisa menangis.
"Mama tega lakukan ini sama aku?" ucap Elisa menepuk dadanya. Tak sangka menerima tamparan itu.
"Elisa, Mama-mama tidak-"
"Jahat!" pekik Elisa berteriak lalu pergi dari kamar Ibunya. Ny. Chelsi jatuh duduk ke kasurnya menutup wajahnya. Satu kata itu memang pantas untuknya. Wanita ini mulai menangis menyesalinya. Sama halnya dengan Elisa lari ke kamarnya, masuk ke dalam seprai dan kembali menangis sekencang-kencangnya. Sudah ditinggal nikah, sekarang sudah ditampar oleh Ibunya sendiri.
"Bohong! Mama pembohong!" tangis Elisa terisak-isak hingga tak sadar pintu kamar terbuka. Seorang wanita tua berpenampilan pelayan berjalan masuk lalu duduk di dekat Elisa.
"Nona Elisa, ini sarapan pagi untuk Non," ucapnya sedih melihat Elisa menyedihkan.
"Pergi! Aku tidak mau makan!" Tolak Elisa.
"Tapi, Non-" ucap Pelayan tua itu sedikit kaget melihat kondisi Elisa berantakan setelah keluar dari seprai.
"Non baik-baik saja?" tanya Bibi pelayan kasihan melihat Elisa menangis.
"Bibi, bisa kau katakan padaku. Apa aku anak kandung Papa?" tanya Elisa terisak, tertuju pada Tn. Vian. Pelayan itu diam menunduk, ia sebenarnya tahu karena dirinya sudah lama bekerja untuk Tn. Vian. Hanya saja ia disuruh untuk merahasiakannya.
"Bibi jangan diam, jawab aku." Sekali lagi Elisa berkata lirih.
"Non, sebenarnya-" ucap Bibi pelayan diam sebentar.
"Sebenarnya apa, Bi?" tanya Elisa mengusap matanya.
Bibi pelayan menghirup udara lalu menyentuh tangan Elisa, menatap kedua mata wanita malang ini.
__ADS_1
"Non Elisa memang bukan anak kandung Tuan Vian. Nona Elisa, anak sulung dari Pak Shan, suami pertama Ibu, Non." Jelasnya membuat Elisa berhenti menangis. Terkejut lalu menunduk kembali menangis pilu.
"Pantas, pantas saja Papa tidak terlalu peduli padaku, ternyata-" Tangis Elisa tak bisa melanjutkan ucapannya.
"Non, yang sabar ya. Semua ini pasti ada hikmah-Nya." Bibi pelayan mengelus lengan Elisa. Elisa mengusap kasar kedua matanya lalu melihat Bibi pelayan.
"Kalau begitu, apa Bibi tahu kenapa Ibuku bisa menikahi Papa?" tanya Elisa masih sesugukan tertuju pada Tn. Vian.
"Saya tidak tahu. Tapi sebelum Tuan Vian dengan Ibu Nona menikah, Nona Elisa dulu masuk rumah sakit," jawabnya ingat lima belas tahun yang lalu, di mana ia datang ke rumah sakit untuk menjaga Elisa kecil yang kritis.
"Apa yang terjadi padaku, Bi?" tanya Elisa lagi masih sesugukan.
"Nona mengalami luka bakar di bagian tubuh Non, karena inilah Nyonya menikahi Tuan demi membiayai perawatan Nona. Melakukan operasi plastik di sebagian tubuh Nona dan juga wajah Nona, serta nama Nona yang dulu bernama Shella di ganti oleh Ibu Non sendiri."
Perkataan Bibi pelayan membuat Elisa terdiam. Kaget mengetahui alasan Ibunya menikahi Tn. Vian demi menyelamatkan nyawanya, karena itulah dia juga mengalami amnesia karena trauma dan dengan paksa Ny. Chelsi menghilangkan ingatan anaknya.
"Kenapa, kenapa aku bisa sampai begitu, Bi?"
"Maaf, Non. Saya juga tidak tahu." Bibi pelayan menunduk tak tahu. Elisa segera berdiri, ingat di balik foto tadi ada sebuah alamat rumah, yakin alamat itu pasti alamat Ibunya tinggal dulu. Elisa membuka lemari, mengambil jaketnya lalu berjalan ingin keluar.
"Non, mau kemana?" tanya Bibi pelayan berdiri.
"Maaf, Bi. Aku harus mencari kebenaran ini, aku ingin tahu mengapa aku bisa masuk rumah sakit." Kata Elisa keluar dan pergi dari rumah menggunakan salah satu mobil Ayahnya. Merasa sedih, perceraian orang tuanya terjadi gara-gara dirinya.
Beberapa menit kemudian, mobil Elisa berhenti di panti asuhan baru, bekas rumah lama Ayahnya. Elisa keluar dari mobil dan sedikit terkejut rumah itu dihuni beberapa anak-anak. Elisa tak peduli, ia ingin menemui Ayahnya. Berharap dapat memberinya alasan.
"Eh, tante siapa?" tanya anak-anak panti heran. Tapi Elisa mengabaikan mereka dan tetap berjalan ke pintu utama.
"Anda siapa?" tanya Bu panti.
"Aku-aku ke sini mencari Pak Shan. Apa dia ada?" Bu panti kembali terkejut melihat wanita muda di depannya mencari Ayah Ella yang sudah meninggal.
"Maaf, ya Nak. Sebelum aku jawab, boleh kasih tahu siapa namamu?" tanya Bu panti.
"Aku-aku," ucap Elisa gugup, berpikir apa dia masih pantas mengaku anak sulung Pak Shan.
"Aku apa?"
"Aku-aku Shella, anak sulung dari Pak Shan. Apa Ayahku ada di sini?" tanya Elisa gemeteran. Seketika itupun kedua tangan Bu panti menutup mulutnya.
"Kau anak sulung Pak Shan?" tanya Bu panti kembali.
"Ya, Bu. Aku dari kota ingin menemuinya, apa benar dia tinggal di sini?" tanya Elisa balik. Saat Bu panti menjawab, salah satu anak panti menyahut. "Loh, bukannya kak Ella anak sulung Om Shan, Bu?" sahut anak panti bertanya. Elisa kaget mendengar nama musuhnya disebut.
"Ella? Apa jangan-jangan Aradella yang kau maksud?" tebak Elisa sangat tak percaya dan sedikit mengepal tangan.
"Ya, dia anak Pak Shan juga, dan saya tidak bisa katakan dia anak sulung atau tidak. Cuma Nak Ella yang tahu." Jelas Bu panti mewakili anak panti tadi.
"Jika begitu, di mana Pak Shan? Aku ingin tanyakan langsung ini pada Ayahku sendiri."
__ADS_1
Bu panti menunduk lalu menghela nafas dan kemudian melihat Elisa. "Kemarilah, aku akan membawamu melihatnya." Bu panti melewati Elisa lalu berjalan ke samping rumah menuju ke paling belakang panti asuhan. Elisa hanya menurut lalu sedikit gemeteran, takut jika wanita ini berbohong padanya.
"Loh, kenapa anda membawaku ke sini?" tanya Elisa sedikit kecewa dirinya dituntun ke sebuah makam yang bersih.
"Bacalah tulisan yang terukir di makan ini, Nak." Ucap Bu panti melihat makam itu. Elisa mengikuti pandangan Bu panti lalu membaca tulisan itu. Kedua mata Elisa melebar lalu menatap Bu panti.
"Ini-ini maksudnya apa?!"
"Nak Shella, makam ini milik Ayahmu. Dia sudah lama meninggal dunia sekitar lima tahun yang lalu akibat penyakit yang dia derita. Hanya Nak Ella yang sering merawat Ayahnya meski harus melewati perlakuan kejam Ibu tirinya dulu dan sekarang Nak Ella tak punya siapa-siapa setelah Ibu dan adik tirinya diusir oleh suami Nak Ella. Tapi sepertinya ini kabar bagus untuk Nak Ella, ternyata punya saudara yang masih hidup." Jelas Bu panti.
Elisa menggelengkan kepala sungguh tak percaya begitu pedihnya kehidupan Ella dan Ayahnya setelah Ny. Chelsi pergi dari keluarga ini. Elisa jatuh berlutut melihat makam Ayahnya. Tanpa sadar, tangan kanannya langsung memeluk makam Ayahnya.
"Hiks, Papa," lirih Elisa mulai sesugukan. Perlahan-lahan ingatan masa kecilnya muncul di kepalanya. Tak henti-hentinya memeluk makam Ayahnya. Selama lima belas tahun tak berjumpa, hanya bisa memeluk makam Ayahnya sekarang.
"Papa, ini Shella sudah pulang. Papa kenapa tidak pergi menjebut Shella dulu. Ini semua gara-gara aku." Isaknya terdengar pilu.
"Nak Shella, kau yang sabar." Hibur Bu panti melihatnya kasihan. Namun Elisa tetap masih di makam Ayahnya. Sudah ditinggal nikah, ditampar oleh Ibunya, sekarang baru tahu Ayahnya sudah meninggalkan dirinya selama-lamanya.
"Nak Shella, anda tidak usah cemas. Masih ada Nak Ella, kau tidaklah sendirian." Kata Bu panti menenangkan Elisa.
Elisa berdiri lalu mengusap kedua matanya, namun air mata itu tak bisa berhenti turun dari kedua pelupuk matanya. Merasa sangat bersalah sudah menganiaya adiknya sendiri, ingat dirinya pernah menyakiti Ella dengan tangannya sendiri.
"Aku ... pergi dulu, permisi." Elisa pergi meninggalkan makam Ayahnya dan juga panti asuhan. Ingin mengunjungi Ella, adik polosnya yang ternyata pernah bermusuhan dengannya. Mobil Elisa melaju ke rumah sakit.
"Ya ampun, kenapa Mama tega sembunyikan semua ini padaku. Jika saja aku tahu dari awal, aku dan dirinya-" lirih Elisa tak sanggup berbicara diantara isak tangisnya. Kini Elisa lebih fokus untuk menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, jam di tangannya sudah pukul 11.54 siang. Elisa dengan cemas mencari ruangan Ella. Namun tak sengaja jatuh ke lantai dan kembali menangis. Perih dan sakit mengetahui ini. Semua pengunjung merasa iba melihat Elisa yang amat pilu. Elisa segera berdiri mengusap kedua matanya dan lanjut mencari ruangan Ella.
"Ara, apa kau akan maafkan kakak?" batin Elisa menyedihkan. Sontak langkah kakinya terhenti di depan ruangan Vip, kedua mata Elisa sedikit melebar melihat Devan menyuapi Ella dengan penuh perhatian. Seketika itupun Elisa jatuh ke lantai, duduk menutup wajahnya. Ingin rasanya marah, tapi kasihan melihat adiknya yang lebih kurus darinya. Terlihat dua-duanya amat menyedihkan. Elisa berdiri, dengan rasa sakit dan perih di hatinya, wanita ini lari dengan linangan air matanya yang turun deras.
"Ella, kamu kenapa menangis?" tanya Devan kaget melihat Ella tiba-tiba meneteskan air mata.
"Aku-aku," lirih Ella langsung memeluk Devan. Ada rasa yang tiba-tiba membuatnya sedih. Rasanya ingin menemui Ibunya dan Elisa, rindu ingin beri tahu kabar baik jika dirinya sedang hamil. Tapi itu mana mungkin dirinya akan diakui lagi. Devan dengan cemas hanya mengelus punggung Ella. Memberinya sandaran untuk air mata Istrinya. Tidak seperti Elisa yang jatuh kembali ke lantai, menepuk dadanya.
Rasa sakit itu belum hilang, tak ada sandaran untuk kesedihannya sekarang. Elisa dengan kaki gemeteran berdiri dan kembali lari, namun tak sadar dirinya langsung menabrak orang hingga kembali jatuh ke lantai. Elisa menangis pilu, bodoh dan kecewa dengan semua ini. Namun tiba-tiba, sebuah tangan diulurkan untuknya. Elisa mendongak melihat siapa pemilik tangan itu.
"Hansel?" lirih Elisa dalam tangisnya.
"Nona Elisa, apa anda baik-baik saja?" tanya Hansel mencairkan suasana. Elisa langsung berdiri memeluknya, menangis di bahu Hansel. Hansel tentu kaget dipeluk tiba-tiba, tapi lebih kagetnya mendengar pengakuan Elisa.
"Aku-aku ikhlas melepaskannya demi adikku, Ara." Tangis Elisa pecah. Hansel mulai iba lalu mengelus kepala Elisa. Memberinya sandaran untuk kesedihannya dan pasti sudah tahu wanita ini mengetahui kebenarannya.
"Aku-aku ikhlas, hiks."
..._______...
...Yuk vote dan like untuk tetap lanjut💞 Terima kasih atas semua dukungannya, sehat selalu untuk kalian🤗😊...
Yuk berteman dengan author di :
__ADS_1
Instagram : @asti.amanda24
Follow me, folback you😉