Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 49 : Berhak Dicintai


__ADS_3

Mobil Devan berhenti di depan panti asuhan. Ella sedikit terkejut, ternyata Devan malah membawanya kembali ke panti. Mengira jika Devan masih dalam kebimbangannya untuk memilih keputusannya. Devan melihat jam tangannya sudah mulai pukul 18.30 petang. Ini saatnya Devan menyiapkan kejutan untuk Ella.


Devan keluar dari mobil lalu memutari mobilnya menuju ke arah pintu mobil lainnya. Devan membuka pintu mobil lalu mengulurkan tangan pada Ella.


"Kemarilah, Ella," ucap Devan tersenyum. Ella mendongak lalu meraih uluran tangan Devan dan tersenyum sedikit. Tapi, sebelum masuk ke dalam panti, Devan menutup kedua mata Ella dengan sebuah kain.


"Eh, ini ada apa, Tuan?" Ella menyentuh kain penutup matanya.


"Kamu diam saja, aku punya kejutan untukmu," ucap Devan meraih tangan Ella dan mulai menuntunnya masuk ke dalam panti asuhan.


"Eh, kejutan apa, Tuan?" tanya Ella mulai dag-dig-dug.


"Kalau aku kasih tau, bukan kejutan namanya. Jadi, kamu diamlah dan ikuti aku saja." Ella mengangguk sambil tersipu. Mulai lagi memikirkan yang aneh-aneh.


Kini langkah demi langkah Ella rasakan, jika dirinya sedang dibawa semakin jauh. Suara di sekitarnya terdengar sunyi, ditambah lagi cuaca malam ini terasa dingin. Ella cemas, jika dirinya sedang dijebak.


"Tu-tuan, kita mau kemana?" Ella gelagapan saking takutnya.


"Sstt, nanti kamu tahu juga." Bisik Devan pada telinga Ella.


Ella mengangguk sambil memperkuat genggamannya. Ella merasa heran, seharusnya ada suara anak-anak panti yang bisa dia dengar sekarang, tapi tak ada suara sedikitpun selain langkah kakinya mengikuti Devan.


"Apa masih jauh, Tuan?" tanya Ella semakin cemas.


"Sudah sampai," jawab Devan berdiri di belakang Ella.


"Tu-tuan, anda kemana?" tanya Ella ketakutan tangannya tiba-tiba dilepas.


"Aku di belakangmu, Ella. Kamu tidak usah takut, sekarang bukalah matamu." Kata Devan terdengar senang.

__ADS_1


"Buka mata? Atau buka kain dulu, Tuan?" tanya Ella mulai lagi polosnya.


"Astaga, buka kain dulu, ELLA!" ujar Devan geleng-geleng kepala. Ella menggaruk kulit pipinya merasa bodoh. Devan tersenyum kecil lalu membuka ikatan penutup mata Ella. Perlahan-lahan kedua mata Ella terbuka, samar-samar beberapa cahaya mulai terlihat di penglihatannya. Ella tertegun melihat lilin-lilin berjajar rapi di depannya membentuk sebuah jalan untuknya. Bahkan kedua matanya tertuju pada anak-anak panti yang memakai pakaian rapi dan bagus sedang berbaris sambil tersenyum padanya.


Satu buah meja panjang di atasnya dipenuhi berbagai makanan enak malam ini. Ella menyentuh dadanya merasa malam ini tak terduga untuknya.


"Ini, ini maksudnya apa, Tuan?" tanya Ella terbata-bata sambil berbalik melihatnya.


"Ini adalah acara khusus buat untukmu. Aku ingin merayakan dirimu yang kembali ceria bersama anak-anak panti, Ella. Aku sangat berterima kasih pada mereka, berkat mereka kau masih bisa berdiri di depan ku. Jika tidak, aku tak lagi melihatmu sekarang. Jadi, aku menyuruh koki di restoran membawa pesananku di sini agar kita bisa makan malam bersama. Aku harap kau mau menerima kejutan ini," jelas Devan menunduk lalu melihat Ella nampak merasa bersalah.


"Tu-tuan, aku senang melihatnya," ucap Ella tersenyum bahagia.


"Kalau begitu," Ella meraih tangan kanan Devan.


"Kita makan malam sekarang, Tuan." Ella menarik Devan melewati cahaya lilin menuju ke anak-anak panti. Langkah Ella begitu riang melihat Bu panti tersenyum padanya. Devan tersenyum merasa kejutan ini sedikit membuat Ella terhibur kembali.


"Nak, Ella. Akhirnya kau sudah baikan," ucap Bu panti. Ella mengangguk tersenyum lalu memeluk Bu panti.


"Aku yang harusnya minta maaf, ini gara-gara aku sudah membuatnya seperti itu. Terima kasih, sudah menjaga Ella, Bu," ucap Devan melihat Ella lalu menyentuh kepala istri polosnya ini.


Ella melepaskan Bu panti lalu melihat anak-anak panti yang tersenyum padanya. Suasana malam ini membuatnya terharu. Kini, anak-anak panti saling memberi selamat karena Ella tidak lagi sedih. Apalagi mereka senang melihat Devan baik pada mereka.


Acara makan malam dimulai, Ella duduk bersama Devan di meja yang sama. Hanya mereka berdua saling menunduk tersipu. Malu karena anak-anak menertawai Devan yang gugup di depan Ella. Setelah menghabiskan makan malam, Devan segera berdiri duluan lalu menarik Ella berdiri.


"Tuan, ada apa?" tanya Ella ikut berdiri. Devan tak menjawabnya melainkan menarik Ella ikut dengannya ke tempat yang sedikit jauh dari panti. Berlari kecil membawa Ella ke sebuah lahan kosong, hanya ada rumput kecil dan suara jangkrik yang menemani mereka berdua.


"Tuan, kenapa kita ke sini?" tanya Ella bingung. Kini ia berpikir Devan akan melakukan aneh-aneh padanya.


"Coba lihatlah ke langit, Ella," ucap Devan melihat ke atas. Ella membelakangi Devan lalu mendongak ke arah langit. Seketika itu pun dengan cepat ledakan terdengar di atas langit. Ella membola terkejut melihat kembang api merekah di atasnya. Senyuman Ella mulai melebar melihatnya. Ini pertama kalinya dengan jarak dekat melihat kembang api, apalagi ini sangatlah langka baginya. Hanya sekali dalam setahun melihat moment seperti ini.

__ADS_1


"Ah!" Ella terkejut, tiba-tiba saja Devan memeluk perutnya dari belakang. Ella menangada ke atas melihat Devan tersenyum padanya. Ditambah lagi, Devan malah memasangkan jubah dan syall untuknya malam ini. Kedua mata Ella berkaca-kaca menerima perlakuan lembut dari Devan. Ini membuatnya kebingungan, apakah ini tulus untuknya atau tidak.


"Apa kau menyukainya, Ella?" tanya Devan melihat ke atas. Ella menunduk lalu menganggukkan kepala tersenyum malu. Seketika itupun tangan kanannya diraih oleh Devan lalu memberinya petasan kembang api. Mata Ella melebar melihat Devan menyalakannya.


"Tu-tuan, ini berbahaya. Aku tak mau memegangnya," Ella ketakutan, sangat jelas tangannya bergetar.


"Tidak usah takut, ini sangat menyenangkan, kamu pegang saja, aku akan memegangnya juga." Devan ikut memegang petasan itu. Ella tersipu, tangannya yang malah dipegang oleh Devan. Apalagi tangan satunya Devan merangkul dirinya. Asik melihat tangan Devan membuat Ella tak sadar petasan meletus ke atas.


"Aah!" jerit Ella ketakutan langsung memeluk Devan bersamaan dengan petasan berhasil diletuskan ke atas. Devan tertawa kecil melihat Ella memeluknya erat. Ini terlalu dekat bagi Ella untuk menyalakan petasannya sendiri. Ella tetap menjerit saat petasan diletuskan lagi. Jeritan Ella membuat anak-anak panti dari kejauhan menertawainya.


"Tuan, sudah cukup. Aku tak mau mendengarnya lagi. Ini bagaikan aku menyalakan bom," ucap Ella ketakutan. Devan tertawa kecil, sungguh polos istri kecilnya ini.


"Baiklah, yang jelas kamu senang hari ini," kata Devan meraih kedua tangan Ella.


"Ella," ucap Devan melihatnya dengan serius bagaikan ingin mengutarakan perasaannya malam ini.


"Ya, Tuan?" Ella mulai deg-degan.


"Apa ... apa kau mencintaiku?" tanya Devan sambil menelan ludah ingin memastikan lagi perasaan Ella padanya. Ada rasa takut jika Ella tak lagi mencintainya setelah menyakitinya kemarin. Ingin rasanya mengatakan jika waktu itu dirinya senang mendengar Ella mencintainya, tapi kini Devan ingin lebih serius mendengarnya.


"Apa aku boleh mencintai, Tuan?" tanya Ella balik dengan tatapan polos. Devan tertawa kecil, ternyata Ella malah bertanya balik. Sungguh lucu harus meminta izin untuk mencintainya.


"Tentu, boleh. Kau berhak mencintaiku, Ella." Devan memeluk Ella. Pelukan ini membuat Ella terhanyut begitu hangatnya. Ella tersipu lalu tersenyum.


"Jika begitu, aku mencintaimu, Tuan," ucap Ella malu-malu kucing. Devan melihatnya lalu dengan cepat dan lembut mencium pinggir bibir Ella.


"Aku juga mencintaimu, Aradella." Ungkap Devan melihatnya dan tersenyum semanis mungkin. Ella mulai berkaca-kaca ingin menangis setelah mendengarnya. Merasa perasaannya kini terbalaskan malam ini. Ucapan Devan terdengar serius di kedua telinganya.


"Sekarang, maukah kau ikut pulang denganku?" tanya Devan membuat Ella terdiam. Diam karena bingung untuk memutuskannya. Takut jika kepulangannya nanti akan membuatnya sakit lagi.

__ADS_1


...______...


__ADS_2