
Tiga hari telah berlalu, ternyata benar Ella hari ini benar-benar drop. Tak menyangka sakitnya mulai semakin menjadi-jadi. Meski begitu Ella tetap keluar bekerja. Gadis ini kini telah berada di tempat kerjanya. Mulai melakukan sehari-hari tugasnya sebagai pelayan biasa. Hanya saja, kali ini Ella memakai masker hingga tak dapat memperlihatkan senyumnya lagi.
Huk ... huk ...
Ella berkali kali batuk membuat teman karyawannya semakin cemas. Tetapi Ella tetap selalu menyembunyikan sakitnya. Selama empat hari ini, Rafa benar-benar tak mengunjunginya. Hal ini juga membuatnya semakin drop.
"La," panggilnya mendekati Ella yang lagi melamun.
"La!" tegurnya menepuk bahu Ella.
"Eh, ya. Ada apa?" tanya Ella melihatnya.
"Kamu ini kenapa sih? Kok akhir-akhir ini kerjaannya melamun terus, kali-kali fokuslah bekerja." Katanya tersenyum.
"Hehe, biasa. Lagi sibuk mikirin-"
"Hayo, mikirin apa?"
"Tidak apa-apa kok." Ella menunduk, ingin rasanya curhat, tapi takut akan menjadi beban untuk temannya.
"Ya sudah deh, ini buat kamu." Ia memberi sebuah undangan pada Ella. "Ini apa?" Ella menerimanya belum dibaca.
"Itu undangan pernikahan, kemarin lalu ada cowok yang datang ke sini cari kamu, dia kasih itu ke aku. Maaf ya, aku lupa kemarin sampaiin kamu." Ucapnya sedikit cengengesan.
"Undangan nikah siapa?" tanya Ella belum berani membacanya takut jika undangan ini adalah pernikahan Rafa.
"Katanya ini pernikahan kakaknya, kalau gak salah sih namanya De-devan. Nah, itu nama kakaknya." Ucapnya lagi membuat Ella semakin terdiam.
"De-devan?" ucap Ella gelagapan.
"Iyah, Devan. Kemarin cowok yang sering datang ke sini itu ternyata cowok orang kaya tau. Dia putra kedua dari pengusaha di kota ini. Kamu ternyata berteman ya sama anak pengusaha." Jelasnya tertawa kecil. Tapi ini tidaklah lucu bagi Ella. Undangan itu segera dibuka dan benar, tertera dua nama yang sangat dia kenal.
"La, kamu baik-baik saja?" tanyanya melihat Ella tiba-tiba menangis. Ella tak menjawab melainkan lari ke dalam toilet. Mengunci dirinya dan mulai meluapkan sedihnya.
"Jadi selama ini-" Ella mengusap air mata yang semakin turun deras.
"Rafa adalah adiknya? Kenapa dia tidak memberitahuku?"
"Lalu kenapa, Tuan Devan tak mencariku? Aku pikir setelah kalung ini kembali padaku, dia juga akan kembali padaku." Isaknya menyadarkan dirinya ke dinding. Ella merobek undangan itu lalu mengusap matanya.
"Dasar bodoh, kenapa aku malah menangis! Harusnya aku senang mereka akan menikah hari ini." Ella tak henti-hentinya mengusap kedua matanya. Namun itu percuma, hatinya kembali sakit. Benar-benar berita besar untuknya. Ella duduk ke lantai, menekuk lututnya mencoba untuk kembali tenang.
Tapi tak disadari, suara TV yang diputar oleh karyawan lain di cafe itu membuatnya terkejut, ternyata pernikahan Elisa dan Devan disiaran langsungkan. Ella semakin menenggelamkan kepalanya diantara dua lututnya. Inilah kehancuran hidupnya. Harapan itu akan menjadi angan-angan belaka saja. Kesedihannya sudah cukup membuatnya menderita.
Seperti halnya Devan sekarang, lelaki ini sedang duduk di tepi ranjang. Sudah memakai style yang disiapkan untuknya. Berkali-kali foto Ella dilayar ponselnya tak dapat menghentikan Devan untuk selalu menatapnya. Raut wajahnya tak ada bahagia sedikitpun, hanya kerinduan yang dia berikan hari ini.
Sibuk melamunkan Ella, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Devan tak peduli, tapi orang itu tetap masuk untuk melihat Devan. Ia tak lain adalah Rafa.
"Untuk apa kau masuk kemari?" tanya Devan sinis menaruh ponselnya di dekatnya. Devan risih karena Rafa disuruh masuk untuk membujuknya keluar.
__ADS_1
"Bang, jangan marah padaku. Aku tahu kok, kamu ini tidak mau menikahi Elisa. Tapi Mami sangat suka padanya, lebih baik kamu keluarlah. Jangan selalu mengurung dirimu di sini." Rafa duduk di dekat Devan, belum melihat foto Ella di layar ponsel Devan.
"Ck, jika kau di posisiku, apa kau akan menerimanya? Aku hanya ingin menikahi wanita yang aku cintai!" tegas Devan serius.
"Ya, iya. Semua orang juga begitu, tapi Elisa kan wanita yang kamu sukai dulu. Lagian, istri yang kamu pikirkan itu sudah meninggal." Kata Rafa tak tahu jika sebenarnya Ella adalah wanita yang selalu dipikirkan kakaknya.
"Jaga ucapanmu! Istriku belum meninggal!" cengkram Devan pada kerah baju adiknya.
"Ya, ya deh. Maaf," tepis Rafa berdiri lalu cemberut melihat keteguhan Devan yang sulit melupakan istrinya.
"Sebenarnya, siapa sih istri yang kau maksud, bang?" tanya Rafa duduk kembali mulai penasaran.
"Tidak usah kau tahu!" ketus Devan berdiri pergi dari kamarnya untuk melihat tamu orang tuanya yang ada di luar. Rafa cemberut diabaikan, tapi saat dia berdiri ingin pergi juga, ponsel Devan jatuh dari kasur. Rafa mengerutkan dahinya, baru kali ini Devan lupa mengambil ponselnya. Rafa pun mengambilnya, alangkah terkejutnya saat menyalakannya sebuah foto yang tak asing baginya.
"Loh, ini kan fotonya Ara? Kenapa ada di layar ponselnya bang Devan?" pikir Rafa terlihat tak percaya dan akhirnya ingat dengan foto yang diberikan oleh temannya dulu.
"Astaga, aku baru ingat. Harusnya dari awal aku tanyakan langsung padanya, apa hubungannya dengan Ara. Argh, sial!" umpat Rafa mulai marah, takut jika suami yang dimaksud Ella malam itu adalah kakaknya sendiri.
Krek!
Pintu kamar kembali terbuka, Rafa menoleh pada Devan yang kembali masuk.
"Loh, ternyata ponselku ada di sini rupanya, sini berikan padaku." Devan mendekati adiknya, tapi Rafa mundur selangkah lalu memperlihatkan foto Ella sambil menunjuknya.
"Katakan, dia siapa bang? Apa dia istri yang kau maksud tadi?" tanya Rafa menatapnya serius. Geram dan kecewa mulai berkecamuk dalam hatinya. Kuatir jika penolakan Ella waktu itu karena Devan.
"Bukan urusanmu, berikan itu padaku!" ujar Devan ingin merebutnya, tapi Rafa langsung menerjang mencengkram kemeja lengan Devan.
"Jujur bang! Gadis ini temanku, dia Ara. Dia gadis yang aku sukai! Kenapa, kenapa foto temanku ada di sini, jawab apa hubunganmu dengannya!" pekik Rafa mulai emosi. Devan seketika diam di tempat, sungguh terkejut adiknya mengenal Ella. Apalagi Rafa berkata menyukainya juga.
"Istri? Jadi ini istri yang kau bilang sudah meninggal?" tanya Rafa memastikannya dan tak peduli pada ucapan Devan.
"Ya, dia Ella. Dia istriku, yang sangat aku cintai."
"Ahaha, cinta? Jika kau cinta, lalu kenapa kau tak datang mencarinya sama sekali!" Sekali lagi Rafa murka. Benci dan kecewa mengetahui semua ini.
"Bukankah sudah aku bilang, dia sudah meninggal," ucap Devan merebut ponselnya lalu berbalik.
"Sekarang, jangan kau sebut istriku dari mulutmu lagi." Devan mulai berjalan keluar. Akan tetapi, baru juga mau dekat pintu, Rafa berteriak.
"Ara belum meninggal, bang!"
Deg!
Tentu Devan langsung berbalik melihatnya. "Apa maksudmu ini?" tanya Devan kaget segera mendekatinya.
"Dia-dia masih hidup, dia selama ini hidup sendirian di luar sana. Jika saja bukan aku malam itu menghentikannya yang mau bunuh diri, dia pasti sudah meninggal beneran. Tapi sampai sekarang dia masih hidup dan bersusah payah di luar sana, sedangkan kau malah pasrah dengan pernikahanmu. Apa sama sekali kau tak bisa menemukan Ara selama ini?" jelas Rafa menatap benci ke Devan. Merasa kakaknya terlalu lemah sekarang.
Devan langsung mencekram kerah leher baju Rafa, menatapnya serius dan mulai emosi. Ingin membaca pikiran adiknya kali ini.
"Jika begitu, kenapa kau tak beritahu aku dari awal, ha!" bentak Devan mulai mengamuk. Rafa mendecak lalu menepisnya.
__ADS_1
"Kenapa kau marah! Harusnya aku yang marah, kau benar-benar bodoh dan lemah! Sekarang, lebih baik kau ke cafe ini," ucap Rafa memberi alamat cafe pada Devan.
"Ini apa?"
"Ini tempat Ella bekerja, aku yakin dia pasti ada di sana sekarang. Pergilah, sebelum terlambat." Kata Rafa menunduk merasa sedikit tenang meski harus menahan sakit mengetahui semua ini. Devan menatap sendu adiknya, benar apa yang dikatakan Rafa. Dia harus pergi menjemput Ella kembali. Devan langsung berbalik keluar dari kamar dan diam-diam menuju ke parkiran, mengambil motor Rafa lalu pergi menerobos petugas.
"Loh, kemana Devan pergi?" tanya Ny. Mira masuk ke dalam kamar dan hanya melihat Rafa yang masih berdiri menunduk.
"Rafa, kau baik-baik saja, Nak?" Rafa terdiam sebentar lalu melihat Ibunya dan langsung memeluknya.
"Dunia ini begitu sempit, Mih. Ternyata, gadis yang aku sukai adalah istrinya bang Devan yang masih hidup. Padahal aku duluan yang suka padanya, tapi ...." Rafa tak melanjutkan, melainkan menangis di pelukan Ibunya. Ny. Mira tentu diam membisu melihat putranya menangis kali ini. Gadis yang membuatnya patah hati tak sangka milik kakaknya sendiri.
"Jadi, Ara itu Ella?" tanya Ny. Mira. Memang hanya tahu dua nama yang menurutnya berbeda orang.
"Ya, Mih. Dia bernama Aradella. Aku memanggilnya, Ara. Tapi ternyata-" Rafa kembali terdiam, begitu malunya malah menangis di depan Ibunya. Sedikit isakannya membuat Ny. Mira kasihan.
"Sekarang, di mana kakakmu?" tanya Ny. Mira lagi.
"Dia pergi, bang Devan pergi menjemputnya." Kata Rafa menjawabnya lalu menunduk. Ny. Mira kini mulai kecewa pada Aradella yang sudah membuat kedua putranya begini. Tapi, rasa ibanya mulai membuatnya tak dapat membenci gadis malang ini. Ny. Mira segera keluar untuk memberitahukan hal ini pada suaminya. Jika Devan pergi dari rumah.
Rafa duduk kembali di tepi ranjang memendam kekecewaannya. Tidak seperti Devan yang diperjalanan ke cafe begitu bahagianya tahu Ella masih hidup. Motor Devan berhenti tepat di depan cafe itu. Devan segera turun lalu masuk ke dalam cafe.
Benar-benar begitu ramai hingga akhirnya tak sengaja disenggol oleh seseorang yang berlalu keluar dari cafe. Tapi Devan tak peduli, dia segera ke salah satu pelayan untuk menanyakan soal Ella.
"Maaf, mbak. Apa di sini ada yang bernama Ella?" tanya Devan membuat karyawan wanita itu terdiam. Bukan karena ketampanan Devan yang menawan, melainkan nama itu yang tak asing baginya.
"Maksudnya Aradella, ya?"
"Benar, mbak. Di sini ada ya?" tanya Devan kembali.
"Oh dia temanku, dia sudah lama bekerja di sini, tapi barusan dia sudah pulang. Anda bisa-" ucapnya terhenti melihat Devan meninggalkannya. Padahal masih mau mengobrol. Devan tentu tak peduli dan segera keluar dari cafe. Mencari-cari Ella di sekitaran cafe. Berlari menerobos pengunjung yang berlalu lalang.
"Ella!" teriak Devan sudah lelah. Tak ada tanda-tanda keberadaannya. Devan menunduk, mulai berkaca-kaca.
"Ella, di mana kau sayang. Kau di mana!" pekik Devan tak peduli dengan pandangan orang lain padanya, yang berteriak ke sana sini. Kedua matanya sudah berair, ingin meneteskan air mata. Tapi percuma, Devan masih belum menemukannya hingga akhirnya jatuh ke tanah.
Devan menunduk, dia harus cepat-cepat menemukannya sebelum bawahan Ayahnya datang mencarinya. Kedua tangannya mengepal lalu kembali berdiri, mengusap kasar kedua matanya. Tapi, alangkah terkejutnya, samar-samar melihat orang yang menyenggolnya berjalan menjauh darinya. Devan segera berteriak asal-asalan berharap orang itu adalah Ella, istrinya yang dicari-cari.
"ELLA!" pekik Devan begitu keras berteriak padanya membuatnya tersentak. Bukan karena dirinya dipanggil, melainkan sangat mengenal suara itu hingga akhirnya berbalik melihat Devan. Kedua matanya sedikit melebar dan segera membuka maskernya.
"Tuan Devan?"
Hembusan angin sore langsung menerpa syall milik Ella, kedua mata Devan langsung tertuju dengan wajah Ella yang terlihat jelas di depannya. Devan mengusap matanya berharap dirinya tak salah lihat. Tapi kali ini benar-benar suatu yang mengejutkan bagi keduanya.
Devan perlahan mendekatinya dengan kedua mata yang berkaca-kaca mulai ingin menangis kembali. Sungguh lucu, hanya karena orang yang dia rindukan selama ini berhasil membuatnya amat menyedihkan. Begitupun Ella mengusap berkali-kali matanya, berharap ini suatu yang nyata baginya. Pertemuan di sore ini membuat keduanya akhirnya saling melepas kerinduan masing-masing.
"Kau-kau ternyata ada di sini?" lirih Devan terisak sebentar.
"Ya, aku selalu di sini menunggumu. Tapi tolong cubit aku, apa-apa aku sedang tidak bermimpi sekarang?" ucap Ella mulai perlahan meneteskan air mata.
Bukan cubitan yang Devan berikan, melainkan pelukan yang amat dia rindukan dari suaminya. Tangis Ella kian pecah mendengar ungkapan Devan untuknya. Ini yang dia tunggu-tunggu selama tiga minggu ini. Kesabarannya membuahkan hasil.
__ADS_1
"Kau tak lagi bermimpi, ini sungguh aku datang untukmu,"
"Aku sangat merindukanmu, Ella." Devan meluapkan tangis dan kerinduannya. Tiga minggu menahannya, akhirnya dapat juga melihat Ella kembali. Devan terisak memeluknya erat, tak mau Ella meninggalkannya lagi. Tak peduli dengan pandangan orang lain yang berlalu lalang di sekitarnya.