Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 77 : Kau Cintaku


__ADS_3

"Tuan," ucap Ella perlahan masuk. Devan tersentak dan segera melepaskan Elisa yang dia peluk barusan. Devan terkejut melihat Ella datang ke rumah sakit.


"Ella, apa yang kau lakukan di sini?"


Ella berhenti, jarak dirinya dengan Devan hanyalah dua langkah. Ella tak menjawab dan hanya melihatnya sedih.


"Harusnya aku yang tanya, apa yang anda lakukan di sini? Dan Kenapa anda-"


"Ella, kamu jangan salah paham dulu." Devan segera memutuskan ucapan Ella dan mulai berjalan tapi Elisa menahannya.


"Devan, apa kau beri tahu dia?" Tunjuk Elisa pada Ella. Ada sedikit senyuman di bibir Elisa melihat Ella yang mengepal tangan.


"Devan, jangan bilang kau diam-diam ke sini tanpa beri tahu istrimu." Elisa kembali menunjuk Ella.


"Oh, atau kau tidak lagi mencintainya hingga menyembunyikan kepergianmu?"


"Stop, Elisa! Kau diamlah!" Devan membentaknya. Bukan itu maksud dirinya. Devan segera menoleh melihat Ella, namun Ella hanya diam, menahan air mata yang tadi berhenti dan kini air mata itu masih tertahan di pelupuk matanya.


"Ella, kau jangan salam paham dulu. Itu barusan-"


Ella tak mendengarnya, ia hanya bisa menggelengkan kepala. Ella dengan tangan mengepal langsung keluar dari ruangan Elisa. Devan terkejut dan segera mengejar Ella. Elisa yang melihat Ella yang tadi hampir menangis, bukan senang tapi merasa ada sesuatu yang terjadi padanya. Merasa tiba-tiba hatinya sakit.


"Ella, berhenti!" Tahan Devan berhasil meraih tangan Ella.


Ella menunduk lalu mengatur nafasnya, Ella perlahan berbalik dan langsung menerima pelukan dari Devan. Ella gemeteran dan tak berdaya. Pikirannya kacau, masih tak sangka Elisa adalah kakaknya dan itu artinya ia sudah merebut kebahagiaan kakaknya sendiri.


"Kau jangan salah paham, Ella. Itu barusan tidak seperti yang kau pikirkan." Devan kini menatapnya serius. Ella terdiam, diam menatap kedua mata Devan.

__ADS_1


"Apa kau masih mencintainya?" tanya Ella menahan tangisnya.


"Tidak, aku dan Elisa tidak punya hubungan lagi, sayang." Devan berkata sambil menyentuh pipi kanan Ella. Namun terkejut melihat Ella menepis lembut tangannya.


"Bohong, kau bohong. Jika kau tak lagi mencintainya, harusnya kau tak menemuinya diam-diam di belakangku dan memeluknya barusan." Jelas Ella mulai terisak.


"Bukan itu, aku benar-benar salah. Aku memang diam-diam menemuinya karena Dokter bilang Elisa boleh pulang dan aku kasihan padanya jadi aku hanya ingin mengantarnya, karena Ibunya dan Ayahnya sibuk dalam perkejaan mereka, lalu aku pergi tanpa memberitahumu agar kau tak memikirkannya. Jadi kau jangan salah paham Ella. Itu barusan juga aku tak sengaja memeluknya, Elisa saat ingin turun dari berangkar tak sengaja kakinya tersandung lalu jatuh ke arahku. Jadi kau jangan salah paham, aku tidak mencintainya lagi dan cuma kamu yang aku cintai sekarang," ungkap Devan serius meraih tangan Ella.


"Aku minta maaf." Devan menunduk. Ella semakin terisak, menangis kembali di depan Devan. Terharu mendengar ungkapan Devan padanya.


"Kau serius?" ucap Ella bertanya.


"Ya aku serius, sayang. Kau jangan menangis, aku tak kuat melihatmu menangis." Devan mengusap kedua mata Ella lalu dengan lembut mencium bibir istrinya.



"Kau percayalah padaku, sayang. Aku hanya mencintaimu seorang dan untuk Elisa aku hanya kasihan padanya." Sekali lagi Devan menyakinkan Ella. Ella menunduk, kini dirinya bimbang.


"Kau tetap istriku, kau cintaku Ella. Setiap aku bernafas, setiap aku melangkah, aku hanya memikirkanmu. Cintaku padamu asli dan aku tak main-main pada perasaanku saat ini. Jadi, maafkan aku." Ungkap Devan sekali lagi mengusap kedua mata Ella.


Ella tak bisa berkata-kata, ia sedih dan kecewa pada dirinya sendiri. Ia ingin meluapkan jika sebenarnya dirinya yang salah selama ini. Tak harusnya cinta itu tumbuh diantara keduanya. Ella meraih kedua tangan Devan. Menatapnya dalam-dalam dan sedikit terisak.


"Aku percaya, aku percaya padamu. Jadi pergilah," lirih Ella melepaskan genggamannya. Devan terkejut mendengarnya.


"Apa maksudmu, kenapa kau menyuruhku pergi?"


"Pergilah, Tuan. Dia lebih membutuhkanmu sekarang dan aku sudah tidak masalah kau dekat dengannya." Ella berbalik ingin pergi, tapi Devan menahannya kembali.

__ADS_1


"Apa maksudmu ini?" Devan tak mengerti ucapan Ella. Gadis ini kembali melihat Devan, memberinya sedikit senyuman manis.


"Aku rasa, cukup sampai di sini hubungan kita. Aku akan pergi, dan Tuan lebih baik kembalilah. Nona Elisa pasti menunggumu." Ella kembali berjalan.


Pluk!


Devan memeluknya dari belakang membuat Ella berhenti berjalan. Devan membalikkan Ella, menatapnya serius.


"Apa maksudmu ini! Kau ingin pisah dariku ketika aku benar-benar sudah mencintaimu? Apa kau sedang ingin mempermainkan aku?" ujar Devan tak sangka Ella kembali meminta hal yang dia benci. Ella terisak kembali, dan terpaksa mengangguk lalu mendorong Devan. Ella tersenyum kembali, senyuman yang juga dipaksakan.


"Pergilah, pergilah. Aku ikhlas melepaskanmu, Tuan." Kalimat Ella membuat Devan terdiam, begitu sangat terkejut. Ella berbalik dan lari menjauhi Devan. Devan mengapal tangan dan ingin mengejarnya.


"Ella, berhenti!" teriak Devan mulai berlari tapi, seseorang menahannya. Devan berbalik melihat Dokter berdiri di depannya.


"Presdir Devan, anda jangan pergi. Ikut denganku sekarang, Nona Elisa kembali pingsan," ucap Dokter itu.


"Apa? Bagaimana bisa?" Devan kaget mendengarnya.


"Aku tak tahu, tapi suster menemukannya pingsan di lantai. Sekarang kemarilah. Hanya kau yang sekarang dibutuhkan di sini." Jelas Dokter mulai pergi. Devan kini berbalik, sudah tak ada lagi Ella. Devan mengepal tangan dan terpaksa mengikuti Dokter.


"Aku tak akan biarkan itu terjadi!" gumam Devan serius tak terima ucapan Ella dan kini meninggalkan tempatnya.


Ella yang bersembunyi di balik sudut jalan ruangan hanya mengepal tangan dan menunduk saja. Akhirnya, air matanya tumpah begitu deras.


"Maafkan aku, bukan ini yang aku inginkan. Tapi aku tak tega melihat Elisa dengan wajahnya yang pucat. Aku juga mencintaimu, tapi aku tak ingin lagi egois. Sekarang cintaku saat ini tak bisa lagi memilihmu, aku ikhlas melepaskanmu."


Ella mengusap kasar wajahnya lalu pergi, langkah demi langkah begitu pelan dan kemudian berlari sejauh mungkin. Tapi, karena tak melihat sekitarnya, hingga dirinya menabrak seseorang sampai-sampai Ella jatuh ke lantai. Ella meringis kesakitan lalu mendongak melihat siapa yang sudah dia tabrak dan ternyata itu adalah Nyonya Chelsi, Ibu kandungnya yang baru datang ingin mengunjungi Elisa.

__ADS_1


"Mama?" batin Ella perlahan berdiri melihat Ny. Chelsi yang juga terkejut melihatnya.


"Kau siapa?"


__ADS_2