Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 84 : Calon Istri


__ADS_3

Siang harinya, keluarga Tn. Raka kini berkunjung ke rumah sakit untuk melihat Elisa, kecuali Rafa yang masih ada di kampusnya. Devan yang ikut hanya diam saja dan kini tak peduli sama sekali dengan sekitarnya. Tentu dalam pikirannya kini cuma Ella yang ada. Meski Ella telah dikabarkan sudah meninggal oleh Devan, Tn. Raka tidak peduli dan tetap bersikeras melanjutkan pernikahan ini.


Elisa berdiri lalu melihat Devan, tapi Elisa nampak mencari seseorang. "Di mana gadis miskin itu?" pikir Elisa. Merasa ini cukup membuatnya heran, melihat Devan datang tanpa adanya Ella. Saat ingin mendekati Devan yang berdiri di luar ruangannya, Ny. Mira memanggilnya ingin mengobrol soal kesehatan Elisa hingga akhirnya Elisa mengurungkan niatnya.


"Tante senang kau akhirnya baik-baik saja. Tante pikir penyakit kamu makin parah, lain kali jangan terlalu banyak pikiran." Nasehat Ny. Mira hanya disenyumi Elisa saja.


"Sekarang, Tante dan Om sudah mengatur rencana pernikahan kalian. Setelah kamu keluar dari rumah sakit, Tante dan Mama kamu akan mengurus gaun pengantinmu." Jelas Ny. Mira membuat Elisa kaget. Maklum, Elisa tak menonton Tv hingga tak tahu berita ini.


"Yang benar, Tante?"


"Iya, dong. Kamu dan Devan tetap akan menikah. Jadi, mulai sekarang kamu harus serius menjaga dirimu." Sekali lagi Elisa begitu senang dan langsung memeluk Ny. Mira.


"Aduh, terima kasih Tante. Aku senang banget mendengarnya."


"Ya, sama-sama. Tante juga senang melihatmu sudah sehat."


Kedua wanita ini saling tersenyum lalu berbaur dengan yang lain. Kini tak ada yang perlu diresahkan olehnya. Hanya beberapa jam saja, keluarga Tn. Raka akhirnya pulang juga, tapi tidak untuk Devan yang sedang menghubungi Hansel di luar ruangan. Elisa yang penasaran akhirnya diam-diam menguping.


"Bagaimana? Apa kau sudah temukan buaya itu?" tanya Devan dalam panggilan itu.


"Presdir, apa kau yakin buaya yang kita lihat kemarin itu memakan Nona Ella?" Hansel malah bertanya balik.


"Ha? Ella dimakan buaya?" Elisa terkejut mendengarnya. Bukannya senang, tiba-tiba hatinya sakit kembali.


"Aku yakin buaya itu yang menculik Istriku! Kita harus dapat, sebelum dia memakannya!" pinta Devan serius.


"Baik, Presdir. Saya akan mencarinya kembali ke rawa-rawa itu."


Panggilan diakhiri, Devan pergi menyusul keluarganya. Masih percaya jika Ella pasti belum dimakan oleh buaya di sungai rawa-rawa itu. Sementara Elisa kembali duduk, memikirkan Ella.


"Harusnya aku senang dia mati, tapi kenapa hatiku gelisah?"


Elisa mengelus dadanya dan tiba-tiba dikejutkan oleh Ibunya yang keluar dari toilet.


"Loh, Elisa. Kenapa tidak istirahat, Nak?" tanya Ny. Chelsi duduk di sofa sambil melihat Elisa yang duduk di brankarnya. Elisa turun lalu duduk di dekat Ibunya yang kini sedang meneguk air minum.


"Mah, itu loh. Saingan aku ternyata sudah mati."


Byurrs


Huk .. huk ..


"Apa, mati? Maksudnya?" Ny. Chelsi kaget luar biasa hingga menyembur barusan dan terbatuk-batuk.


"Aduh, Mah. Gini loh, saingan aku tuh namanya Ella. Aradella, dia itu istri kontrak-Nya Devan. Dia meninggal dimakan buaya, Mah." Jelas Elisa membuat Ny. Chelsi terdiam. Ada rasa sakit di hatinya sudah mendengarnya.


"Kau tidak bercanda, kan?" tanya Ny. Chelsi memastikan.

__ADS_1


"Ya tidak lah, Mah. Ini malah bagus loh, dia sudah meninggal dan tak ada lagi sainganku. Tapi kok Mama panik gitu?" Elisa heran dengan Ibunya yang berkeringat dingin. Tentu Ny. Chelsi mulai tak terima. Ny. Chelsi berdiri langsung membentak Elisa.


"Tarik ucapanmu, Elisa! Jangan berkata seperti itu pada-" ucap Ny. Chelsi terhenti hampir keceplosan.


"Pada apa, Mah?" Elisa ikut berdiri, sedikit terkejut dan kecewa menerima bentakan Ibunya yang tidak jelas.


"Sudahlah, sekarang kau istirahatlah. Mama mau keluar, hari ini Mama sibuk harus menemani teman-teman Mama gara-gara mendengar gosip pernikahan kalian." Ny. Chelsi menyentuh kepala Elisa lalu keluar dengan tas mininya.


"Cih, lagi-lagi aku ditinggal! Sekali-kali temani aku lebih lama napa sih, Mah!" gerutu Elisa kesal duduk di sofa.


Tidak seperti Ella yang sedang sibuk membereskan tong sampah di dalam apartemen Rafa. Namun, tiba-tiba ada suara benda jatuh dari arah balkon. Ella segera pergi mengeceknya.


"Eh, ini kan?"


Senyum Ella mulai merekah, ternyata poster itu berasal dari apartemen sebelah yang tak sengaja terbang ke balkonnya. Tertulis bahwa sebuah cafe mencari karyawan.


"Syukurlah, ada penyambung hidup untukku." Ella mengelus dadanya, berhasil mendapatkan pekerjaan. Ella dengan riang langsung ingin keluar, tapi berhenti sebentar.


"Aish, bagaimana aku harus ke sana?" desis Ella murung kembali lalu berjalan ke sofa. Baru saja mau duduk, pintu apartemen terbuka, Ella terkejut dan mulai was-was. Tapi ternyata yang masuk adalah sang pemiliknya.


"Eh, Rafa. Kau dari mana saja? Kenapa kamu baru pulang?" Ella bertanya dan mendekatinya.


"Hm, apa kau merindukanku?" tanya Rafa langsung membuat Ella terdiam di tempat.


"Ahahaha, aku canda kok. Jangan diam saja, oi!" tawa Rafa meletakkan tasnya ke atas sofa lalu merebahkan punggungnya yang habis dari kuliah.


"Oh itu, dari kuliah dan aku bermalam di man-"


"Man, apa?" tanya Ella melihat Rafa menghentikan ucapannya.


"Ahaha, itu. Aku bermalam di kontrakan teman aku," jawab Rafa hampir keceplosan.


"Pfft, ternyata kau banyak teman juga ya." Ella sedikit tertawa dan mulai duduk di sofa lain masih memegang posternya. Sedangkan Rafa mengelus dadanya merasa lega.


"Oh ya, kebetulan nih. Aku tadi lewat di satu cafe, ternyata banyak banget pelanggannya," ucap Rafa nampak merogoh isi tasnya.


"Terus?" Ella lebih penasaran.


"Terus, nih aku belikan ayam dan nasi goreng untuk kita, eh ... maksudnya untukmu, hehehe ...." Sekali lagi Rafa cengengesan lalu meletakkan satu kresek putih, mengeluarkan dua kotak.


"Nih, kamu makan biar tidak kurus amat!" Rafa menyodorkan satu kotak untuk Ella.


"Nih buat aku?" Tunjuk Ella pada dirinya sendiri, sedikit tak sangka nasi gorengnya cukup lumayan lezat dengan paha ayam crispy.


"Ya iyalah, maimunah. Kan di sini cuma kita berdua."


"Ish, jangan panggil aku maimunah, lagi!" ketus Ella cemberut.

__ADS_1


"Pffft, ahahaha. Nah gini dong, kalau kayak gini kau terlihat manis, dari pada diam kek batu." Tunjuk Rafa pada Ella dan mulai makan. Ella kembali menunduk, canda tawa Rafa membuatnya semakin memberinya ketenangan, tapi tak bisa menghilangkan kerinduannya dengan Devan.


"Oh ya bentar," ucap Rafa melihat Ella yang makan belepotan.


"Hm, kenapa?" Ella melihatnya lalu terkejut tangan Rafa mengusap pinggir bibirnya.


"Nah, sudah hilang. Tadi itu ada nasi di sini," kata Rafa menunjuk bibirnya sendiri. Ella sedikit tersentak lalu menunduk merasa tindakan Rafa benar-benar berlebihan. Padahal bisa menegurnya tapi Rafa malah nekat melakukan itu.


"Oh ya, Rafa."


"Ya kenapa?" tanya Rafa belepotan juga. Apalagi sambal ayam ada di pinggir bibirnya. Ella hanya menahan tawa tak ingin menegurnya


"Itu, aku sudah dapat pekerjaan. Apa ini bagus untukku?" Ella memberikan poster itu.


"Wah, ini pas banget. Kalau kau kerja di sini, aku yakin kau dapat bayaran gaji yang besar. Ini itu cafe yang aku datangin barusan."


"Astaga, ternyata ini toh punya mereka. Kalau begitu-"


"Pengen diantar?" tebak Rafa dengan cepat.


"Hehe, iya. Boleh kan? Aku ingin mendaftar, di sini tidak ada surat-surat apapun, jadi ini cocok untukku." Ella tersenyum semanis mungkin, memohon pada Rafa agar mau diantar.


"Baiklah," Rafa berdiri langsung sudah siap.


"Sini, kita pergi ke sana. Aku akan menemanimu." Rafa segera menarik tangan Ella. Ella terperanjak tangannya digenggam kuat, tapi Ella mulai terbiasa. Rafa pun pergi dari apartemennya membawa Ella dengan motornya. Hanya beberapa menit saja, keduanya sudah sampai. Ella turun dan takjub melihat cafe yang memang ramai.


"Apa kau siap mendaftar?" tanya Rafa tersenyum.


"Mendaftar apa?"


"Eh," Rafa terkejut dengan respon Ella. Rafa pun mendekatkan wajahnya ke telinga Ella.


"Hm, bagusnya mungkin mendaftar jadi calon istriku," bisik Rafa membuat Ella terkejut.


"Apa?" kaget Ella menatapnya.


"Tidak ada apa-apa. Sekarang kau harus daftar jadi pelayan dulu." Rafa mengalihkan pembicaraan dan sedikit tertawa melihat Ella yang tersipu, benar-benar gadis yang imut bila tersipu malu.



"Hei, Nona. Apa kau sedang tidur?" Rafa melambai-lambai.


"Astaga, maaf." Ella menunduk, tak harusnya melihat Rafa terlalu lama.


"Ahahaha, tidak apa-apa. Sekarang kemarilah." Tawa Rafa menarik kembali Ella. Ella hanya menurut saja dituntun masuk ke dalam cafe.


"Kenapa aku merasa kalau Rafa mirip Devan?" pikir Ella terdiam di samping Rafa.

__ADS_1


__ADS_2