
Sekarang di rumah sakit, orang tua Elisa semakin cemas. Begitupun Devan yang sedang berdiri tak jauh dari mereka dan belum berani untuk mendekati ruangan Elisa. Namun, kuatirannya terhadap Elisa semakin meningkat ketika Dokter keluar dan berbicara pada ibunya Elisa.
"Nyonya Chelsi, kondisi putri anda mulai menurun tapi masih bisa ditangani dan seharusnya anda lebih memperhatikan kesehatan putri anda. Jika seperti ini, jantungnya bisa dalam bahaya. Jantungnya cukup lemah, dan harusnya anda tahu ini." Jelas Dokter lalu pergi untuk memeriksa lebih lanjut hasil pemeriksaannya.
Wanita yang dipanggil Ny. Chelsi, ia adalah Ibu kandung Elisa. Seorang penyanyi serta aktris ternama di kota. Karena kesibukannya, Ny. Chelsi sering lupa memperhatikan kondisi Elisa sejak remaja hingga akhirnya Elisa mengidap penyakit jantung koroner selama enam bulan terakhir ini dan juga Elisa sejak kecil sudah memiliki jantung yang lemah akibat sebuah insiden 15 tahun yang lalu saat Elisa masih berumur enam tahun.
Ny. Chelsi menangis mendengar keterangan Dokter. Sang suami yang berdiri di dekatnya mulai tak tega melihatnya, dan segera memberikan sandaran untuknya.
"Vian, putri kita seharusnya sudah sembuh. Mengapa, mengapa kondisinya malah memburuk begini. Bukan kah Elisa sudah berobat ke luar negeri? Kenapa, hiks." Tangis Ny. Chelsi pecah.
Tn. Vian yang tak lain adalah suami dari Ny. Chelsi sekaligus pengusaha yang sama halnya dengan Devan. Kedua orang ini menikah mendadak dengan suatu alasan lain. Awalnya hanya dekat sebagai sahabat, tetapi karena ada masalah yang terjadi, keduanya menikah dan mulai saling mencintai satu sama lain.
Tn. Vian mengepal tangan. "Ini semua gara-gara keponakanku yang bodoh, aku sungguh kecewa padanya, berani sekali ingin batalkan pertunangannya dengan alasan yang bodoh itu!" geram Tn. Vian melihat Elisa yang terbaring sendirian di sana belum sadarkan diri juga. Meski bukan anak kandung, Tn. Vian sangat menyayangi Elisa sejak dulu.
Memang kemarin Devan memberi alasan jika ia belum siap menikah, dan karena inilah Tn. Vian marah besar sebab tahu keduanya sudah saling mencintai sejak lama, tapi Devan malah tiba-tiba ingin memutuskan pertunangannya yang akan diselenggarakan beberapa hari.
Devan kini perlahan jalan mendekati mereka. Tn. Vian dan Ny. Chelsi langsung melihatnya. Sorotan mata Tn. Vian yang tadi sedih kini berubah tajam pada keponakannya ini.
"Beraninya kau nampakkan wajahmu ini di depanku!" geram Tn. Vian langsung meraih kerah baju Devan. Devan segera menepisnya lalu melihat Ny. Chelsi dan melihat Elisa yang belum sadar di dalam ruangan.
"Aku ke sini tak ingin berdebat denganmu, Om Vian. Aku ke sini ingin melihat Elisa." Devan mengabaikan Tn. Vian dan berdiri di dekat jendela. Sifat acuh tak acuh Devan semakin membuat Tn. Vian kesal, tapi untung saja Ny. Chelsi segara menahan suaminya.
"Vian, cukup!" Tahan Ny. Chelsi.
Tn. Vian melihat istrinya. "Aku tak bisa biarkan ini, aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan dia dari kita!" Tunjuk Tn. Vian pada punggung Devan lalu segera meraih pergelangan Devan. Devan menoleh dan hampir terkena pukulan, untungnya dapat dihindari dengan cepat.
"Ada apa ini, Om?" tanya Devan menepis tangan Vian.
"Ha? Apa ini? Kau masih bertanya seperti itu! Lihatlah Elisa, ini semua gara-gara ucapan bodohmu!" Tunjuk Tn. Vian ke arah Elisa.
"Sekarang, katakan pada Om, apa yang membuatmu ingin batalkan pertuanganmu dengan Elisa!" ujar Tn. Vian masih emosi pada Devan.
"Maaf, aku sudah jawab kalau aku belum siap," ucap Devan membelakanginya dan kembali acuh. Tak bisa mengatakan yang sebenarnya jika dirinya sudah menikah. Raut wajah Tn. Vian semakin terlihat marah. Sikap Devan mengingatkannya pada sepupunya yang tak lain adalah Ayah kandung Devan yaitu Raka Alendra. Sifat cuek yang sama dengan Ayahnya sendiri.
__ADS_1
"Kau masih bilang begitu! Bukan omong kosong ini yang ingin Om dengar! Katakan dengan jujur, apa maksudmu membatalkan pertunanganmu dengan Elisa, ha!" Tn. Vian mulai mengamuk. Tak rela putri kesayangannya terbaring lemah di dalam sana.
"Karena-" ucap Devan berbalik dan berhenti ketika suara tepukan tangan memutuskannya.
"Itu karena ada perempuan lain diantara hubungan mereka, Om Vian."
Kedua pria ini dan Ny. Chelsi menoleh ke sumber suara. Mata mereka mengarah pada Viona yang berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Apa? Ada perempuan lain?" Tn. Vian kaget mendengarnya, begitupun Devan juga kaget mendengar ucapan Viona. Apalagi Ny. Chelsi sedikit shock mengetahuinya.
"Apa maksudnya ini, Devan!" ujar Tn. Vian menatapnya tajam sambil menunjuk Viona. Devan menghela nafas, merasa rahasianya pasti juga akan terungkap. Apalagi tak sangka Viona malah hadir untuk memprovokasinya. Kali ini ia harus mempertegaskan masalah soal hubungannya dengan Elisa dan Ella.
"Ya, Om. Ucapannya benar. Ada perempuan lain yang aku cintai sekarang dan aku sudah menikahinya," jelas Devan membuat Tn. Vian dan Ny. Chelsi kembali terkejut, apalagi Viona yang cuma tahu jika Ella dekat dengan Devan juga ikut terkejut mengetahuinya.
"Apa? Kau sudah menikahinya? Apa yang sudah terjadi, ha!" geram Tn. Vian mencekram kerah baju Devan lagi. Merasa sungguh tak percaya keponakannya sudah diam-diam menikah tanpa sepengetahuan orang tuanya apalagi dirinya. Pengkhianatan yang dilakukan Devan membuat Tn. Vian seakan ingin naik darah saja.
"Om, dari awal aku memang mencintai Elisa. Tapi, aku dan Elisa tak berjodoh di kehidupan ini. Aku tak pantas untuknya dan ku harap Om mengerti!" Devan menepis tangan Tn. Vian lalu melihat Viona. "Dan untuk kamu, lebih baik tidak usah ikut campur. Jika tidak, resto ayahmu akan lenyap dari kota ini!" lanjut Devan mengancam Viona agar tidak berulah. Viona seketika terdiam di tempat telah menerima ancaman dan tatapan kebencian dari Devan.
"Kau!" Tn. Vian mengepal tangan masih belum terima.
"Cukup, Om! Elisa sama sekali belum jadi tanggung jawabku. Tanggung jawab Elisa masih ada di tangan Om dan Om tak usah bahas soal ini padaku! Aku memang salah, jadi aku tak layak untuknya, dan juga aku akan pergi sekarang. Ku harap Om tidak usah memperpanjang masalah ini. Soal Elisa, lebih baik Om fokus menyembuhkannya dan carikan lelaki lain untuknya. Hubungan yang dijalin cukup lama tanpa kepastian tentunya berkahir tak indah. Jadi, jangan terlalu berharap lagi aku menikahi Elisa!" tegas Devan tak mau lagi berdebat dan mulai berjalan ingin pergi. Tapi hanya dua langkah saja, kedua kaki Devan berhenti setelah mendengar ancaman Tn. Vian.
"Dengar baik-baik, masalah ini akan Om beritahukan kepada orang tuamu sekarang juga agar mereka sendiri yang akan mengurusimu yang sudah bodoh ini! Pernikahan yang kau lakukan diam-diam ini akan membuatmu dalam masalah besar. Ibumu begitu berharap kau menikahi Elisa, apalagi Ibumu sudah menyiapkan baju pengantin untuk Elisa, tapi kau malah merusaknya!" jelas Tn. Vian membuat Devan berbalik melihatnya.
"He? Apa kau mulai merasa bersalah?" ucap Tn. Vian tersenyum smirk. Devan mengepal tangan dan mulai perlahan ingat akan keinginan Ibunya. Mengharapkan cucu dari pernikahannya dengan Elisa. Tapi kini, keinginan itu tak akan terjadi dan malah kini pasti akan menghasilkan kekecawaan pada dua pihak.
"Jika kau tak ingin masalah ini berlanjut, lebih baik ceraikan dia! Dan jangan lagi bertingkah bodoh sekarang!" tegas Tn. Vian sedikit kesal melihat Devan malah diam saja di depannya. Devan menunduk semakin mengepal tangan.
"Aku-aku tak bisa!" Tolak Devan mempertegaskan ucapannya lalu berbalik kembali dan meliriknya sinis.
"Tidak masalah jika Om beritahu Ibu dan Ayahku, karena aku sudah siap menanggung resikonya." lanjut Devan yakin dengan keputusannya. Tn. Vian dan Ny. Chelsi serta Viona terkejut melihat kegigihan Devan.
Saat Devan ingin pergi, pintu ruangan terbuka. Semua mata tertuju pada wanita muda berpakaian pasien sedang menangis di dekat pintu. Elisa terisak lalu perlahan jalan ke arah Devan lalu dengan lemahnya memeluk Devan.
__ADS_1
"Katakan, katakan padaku, apa kau tak mencintaiku lagi?" Tangis Elisa yang barusan bangun dan mendengar sedikit penjelasan Devan.
"Maaf, Elisa. Aku tak bisa menikahimu. Sekarang, lebih baik kau lepaskan aku dan fokus pada kondisimu saja." Devan melepaskan Elisa.
"Apa kau tak sayang lagi padaku?" Isak Elisa masih terlihat berharap pada Devan. Devan melihat Tn. Vian yang kesal lalu melihat Viona yang menunduk dalam isak tangisnya.
"Meski aku tak menikahimu, aku masih sayang padamu." Elisa langsung melihat Devan setelah mendengarnya, senyum kecil mulai terlihat di bibirnya. Sekali lagi Elisa memeluk Devan.
"Jika begitu, tetaplah di sini, Devan. Temani aku sebentar."
"Tidak! Papa tidak akan izinkan dia lama-lama di sini!" tolak Tn. Vian tak terima ucapan Elisa. Elisa melirik Ayahnya dengan mata berkaca-kaca ingin menangis lagi.
"Vian, biarkan saja. Siapa tau, bisa membuat kondisi Elisa sedikit membaik." Kata Ny. Chelsi menenangkan suaminya.
"Cih!" decak Tn. Vian kesal.
Elisa tersenyum dan memeluk Devan lagi. "Kau mau kan, Dev?" mohon Elisa. Devan melihat jam tanganya sudah 12.15 siang lalu menghela nafas.
"Baiklah, aku akan temani kau kali ini," ucap Devan terpaksa. Elisa kembali ceria lalu menarik Devan masuk ke dalam ruangannya.
"Aku akan buat kau tetap di sisiku, Devan." batin Elisa tersenyum tipis sudah berhasil menahan Devan pergi.
Tn. Vian yang melihat Devan masuk, malah semakin kesal saja. Tidak seperti Ny. Chelsi yang tersenyum melihat Elisa sudah sadar dan tak murung lagi. Terlihat Elisa berbaring di brankar sedang disuapi makan siang oleh Devan. Viona yang melihatnya sekarang, ikut kesal sendiri merasa menyesal telah datang. Berpikir jika Elisa dan Devan tak lagi berhubungan jika dirinya sudah ikut campur.
"Ck, sialan. Ternyata sekarang malah tambah 1 kecoa!" umpat Viona lalu pergi dari rumah sakit dan ucapannya tentu saja tertuju pada Ella yang tak disangka sudah menjadi wanita dari lelaki yang dia sukai sejak dulu. Apalagi juga kesal melihat Elisa berduaan dengan Devan di satu ruangan.
"Gadis ini akan ku lenyapkan duluan!"
..._______...
...Siapakah yang dimaksud Viona?...
...A. Ella...
__ADS_1
...B. Elisa...